TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 172. IVA MENINGGALKAN RICO


__ADS_3

Iva yang selalu menatap kedua bayi kembar itu sambil tersenyum, membuat Deandra paham perasaan wanita itu. “Apakah kamu mau menggendong anakku? Sekalian kamu belajar cara menggendong bayi jadi saat anakmu sudah lahir nanti, kamu sudah tidak canggung lagi.” kata Deandra.  Iva memandang ibunya seolah meminta pendapat. Setelah ibunya menjawab dengan anggukan akhirnya Iva pun berkata “Bolehkah aku menggendongnya?”


“Ya, kamu boleh menggendongnya sebentar.” jawab Deandra menatap Verrel yang tersenyum.


Iva bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Deandra, seorang pelayan mengambil Nathan dari gendongan Deandra dan memberikannya pada Iva.  Saat dia menggendong bayi tampan itu, airmatanya kembali menetes. ‘Tampan sekali anak ini, dia juga dilimpahi kasih sayang dan perhatian dari seluruh keluarganya.  Sementara saat anakku lahir nanti, tidak ada sang ayah yang akan menemaninya.’


Setelah merasa cukup menggendong bayi itu, Iva pun menyerahkannya kembali pada Deandra dan mengucapkan terimakasih. “Kak, Iva mau minta maaf untuk semua kesalahan yang suami Iva lakukan pada keluarga ini.  Sekarang Rico sudah mendekam di penjara, aku tahu kesalahannya sangat berat untuk dimaafkan tapi tolong maafkan dia kak dan Iva juga. Semoga kejadian ini jadi pelajaran buat Rico dan juga Iva untuk memperbaiki diri. Semoga suatu hari nanti dia masih bisa melihat anaknya.” wanita itu kembali menangis dan tak mampu menahan isak tangisnya.


Verrel dan Deandra hanya bisa saling menatap, berbicara dengan suara hati dan tatapan mata. “Terimakasih kakak sudah meluangkan waktu untuk bertemu Iva dan mama dan sudah mendengarkan curahan hatiku. Bolehkah aku memeluk kakak untuk terakhir kalinya?” tanya Iva pada Deandra.  Tanpa banyak berpikir, Deandra menggangguk dan merentangkan kedua tangannya “Ayo kemarilah.” Dengan mata yang berkaca-kaca, Iva memeluk Deandra dengan erat  sambil menangis.


“Iva, sudah jangan menangis lagi. Kamu tahu tidak, jika kita sering menangis saat kita sedang mengandung, maka bayi kita juga ikut bersedih karena mereka bisa merasakan apa yang sedang kita rasakan. Jaga dirimu baik-baik dan selalulah gembiran dan bahagia demi anak dalam kandunganmu.” nasihat Deandra pada Iva.


Iva menggangguk “Iya, kak. Terimakasih banyak untuk semuanya.” Diana pun mengajak putrinya pulang “Ayo, sayang kita pulang.” Satu jam lamanya mereka berada disana, akhirnya mereka pun pamit dan kembali kerumah mereka. Verrel dan Deandra mengantarkan mereka sampai didepan pintu, Deandra melambaikan tangan di pelukan Verrel yang tak ingin jauh-jauh dari istri tercintanya itu.


“Verrel sayang...” gumam Deandra lirih.

__ADS_1


Pria bermanik mata hitam pekat itu lantas meremas pinggang istrinya dan tersenyum manis “Kenapa sayang? Apa yang kau inginkan.”


“Aku tidak menginginkan apa-apa. Aku hanya merasa kasihan saja padanya. Tapi untunglah dia akhirnya bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan yang tepat.”


“Ya, sayang. Setidaknya dia bisa memulai hidup baru ditempat yang baru dan melupakan semua yang sudah terjadi dan fokus pada anaknya saja. Biarkan si brengsek itu mendekam di penjara selamanya.”


“Apakah kau yakin hukumannya tidak akan diringankan dengan jaminan?” tanya Deandra.


“Kenapa? Apa kau ingin hukumannya di ringankan?” balas Verrel bertanya.


“Sudah jangan pikirkan itu sayang. Aku jamin si brengsek itu akan meringkuk di penjara seumur hidupnya.” kata Verrel menyakinkan istrinya yang merasa khawatir.


Deandra trauma karena kejadian pesawat hilang itu, dia takut jika hal itu akan terulang lagi jika Rico sampai keluar dari penjara. Dia merasakan sakitnya saat kejadian itu apalagi kejadian pemerkosaan saat itu, Deandra tak bisa membayangkan betapa berbahayanya Rico.


Gara-gara ulah Rico, hampir saja Deandra jadi janda dan bayinya nyaris kehilangan sosok ayah.  Dada Deandra berdebar kencang hanya membayangkan hal itu. Kehilangan suami? Oh tidak. Jangan kan kehilangan suami, sekarang saja wanita itu tak sanggup jauh-jauh dari suaminya. Untung Verrel sekarang cuti selama enam bulan dan menemaninya dirumah, Deandra merasa senang namun dia sudah berencana saat masanya tiba dia sudah bisa menitipkan anaknya bersama pengasuh, dia akan ikut Verrel ke kantor. Ia merasa tak kuat jauh-jauh dari suami tercintanya itu.

__ADS_1


...*...


“Apakah semua keperluan kalian sudah dibawa? Tidak ada lagi yang ketinggalan?” tanya Baratha pada istrinya.  Hari ini istri dan anaknya akan berangkat ke Belanda dan menetap disana.


Iva sudah tak menangis lagi seperti kemarin-kemarin, kini hatinya sudah sedikit lebih tegar setelah bertemu dan bicara dengan Deandra dan Verrel kemarin. Pikirannya pun mulai jernih dan waras, kini hatinya mantap untuk pergi meninggalkan Rico selamanya dan memulai hidup baru di luar negeri. Supir sudah memasukkan koper yang akan mereka bawa kedalam mobil, Iva menoleh menatap rumah yang penuh kenangan manis dan pahit untuk terakhir kalinya.  Entah kapan dia akan kembali lagi kerumah itu, mungkin akan lama lagi atau mungkin dia takkan pernah kembali. Sang ayah akan mengunjungi mereka setiap tiga bulan.


“Iva, mama tahu perasaanmu saat ini. Pasti sulit bagimu untuk pergi dan berpisah dengan Rico.”


Iva menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya, menyunggingkan senyum dibibir dan menatap sang ibu lalu berkata “Iva sudah siap, Ma. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Kak Deandra kemarin, awalnya akan sulit dan berat tapi Iva yakin akan mampu melalui ini semua asalkan ada mama dan papa yang mendukung Iva. Doakan Iva ya Pa supaya selalu kuat dan tabah menjalaninya.” kata Iva memeluk sang ayah.


Dia sudah tak lagi meneteskan airmata. Keputusannya sudah bulat, dan dengan penuh keyakinan. Diana meneteskan airmata bahagia, karena putrinya akhirnya mulai sadar dan menyadari semuanya. Mereka pun naik ke mobil dan pergi menuju bandara. Sepanjang perjalanan Iva fokus memandang keluar jendela mobil, memperhatikan pemandangan sepanjang jalan menuju bandara.  Senyum tipis menghiasi wajahnya ‘Selamat tinggal cinta, Selamat tinggal kenangan, terimakasih untuk semuanya. Aku pergi untuk waktu yang lama. Semoga suatu saat jika takdir membawaku kembali ke kota ini, aku bukan lagi Iva yang lemah dan bodoh karena cinta.’


Diana yang duduk disamping putrinya meraih tangan Iva dan menggenggamnya seolah memberikan kekuatan pada putrinya untuk tegar dan sabar dalam menghadapi ujian kehidupan yang sedang dia lalui. Semoga kejadian ini jadi pelajaran untuk Iva. Sesampainya di bandara, mereka langsung check in lalu mengucapkan selamat tinggal pada Baratha.


“Kami berangkat ya, Pa. Jaga diri baik-baik ya Pa.” kata Diana pada suaminya dan memeluknya. Iva pun memeluk erat ayahnya dan mengucapkan selamat tinggal. Sudah tak ada lagi tangisan diantara mereka. Setelah Iva dan ibunya memasuki ruang tunggu keberangkatan, Baratha pun pulang dengan hati lega. Semuanya berjalan dengan baik dan dia bisa merasa tenang sekarang, semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


Jika melepaskan adalah jalan terbaik untuk meraih kebahagiaan, maka biarkan saja dia pergi. Hidup memang tak selamanya indah, namun jangan sampai buta oleh perasaan.


__ADS_2