
Matahari condong ke barat saat Verrel menuju kerumahnya. Dia duduk di jok belakang dengan raut wajah berseri-seri, senyumpun tak lepas dari sepasang bibir maskulin yang seksi miliknya. Verrel sangat bahagia atas semua kabar baik yang dia dengar hari ini. Berkat bukti-bukti yang diberikan oleh Ezha, dia tidak hanya mengantongi semua bukti kejahatan Olivia tetapi Verrel juga sudah tahu dimana Olivia berada saat ini.
Sekarang semua berkas sudah dia serahkan pada polisi dan juga sudah mengabari Luke tentang itu. Verrel sangat yakin tidak lama lagi Olivia dan komplotannya akan segera ditangkap. Dari bukti-bukti juga verrel mengetahui semua dalang yang bertanggung jawab dalam peristiwa kebakaran di pabrik semen miliknya dan kelab malam milik Luke.
Hasil penyelidikan dan juga bukti yang dimiliki oleh Verrel semuanya benar mengarah pada Olivia dan komplotannya. Hal itu membuat Verrel benar-benar merasa lega, semua beban yang mengelayut di pundaknya selama beberapa waktu ini telah terangkat semua. Kini yang terbayang dimatanya adalah saat-saat bahagia bersama Deandra dan kelima anaknya.
Ah, menyebut nama Deandra saja sudah menimbulkan gelenyar dihatinya. Dia sangat merindukan istrinya itu dan juga kelima anaknya. Rasanya sangat bahagia setiap kali pulang kerumah disambut oleh senyum manis istri dan anak-anaknya. Hidupnya terasa sempurna dengan kehadiran mereka. Tak berapa lam mobilnya memasuki gerbang rumah mewah miliknya.
Sebelumnya dia sudah menelepon kerumah memberitahukan kalau dia pulang cepat, sesampainya di depan pintu masuk utama tampak Naomi dan Nathan sudah menyambutnya. Sedangkan istrinya sedang menggendong Caesar dan dua babysitter menggendong Carlos dan Chloe. Senyum diwajah Verrel sumringah disambut oleh orang-orang tersayangnya didepan pintu.
“Halo sayang!” Verrel yang hendak mendekati istrinya tapi kakinya sudah dirangkul Naomi sehingga dia berhenti lalu menunduk menatap senyum putri kesayangannya itu.
“Papa,”
Verrel langsung menggendong Nathan dan Naomi di kedua lengannya lalu mendaratkan ciuman dikedua pipi anak kembarnya itu.
“Aku tidak dicium?” goda Deandra tersenyum mengedipkan sebelah matanya.
“No papa!” protes Naomi yang langsung memegang wajah ayahnya dengan kedua tangan mungilnya.
“Kenapa sayang? Papa tidak boleh cium mama? Hanya cium Naomi aja?” tanya Verrel tersenyum.
“Heeh….” jawabnya menganggukkan kepala sambil meengerucutkan bibirnya.
“Maaf ya sayang, nanti dikamar saja.” ujar Verrel pada Deandra memberi kode pada istrinya.
“Ya sudah. Nih yang tiga tidak dicium papa-nya?” ujar Deandra menggoda Verrel.
“Oh iya,” ujar Verrel lalu mengecup pipi ke tiga Baby C.
__ADS_1
Keluarga itu pun masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamar. Setelah mandi dan bertukar pakaian Verrel duduk di tepi ranjang.
Sedangkan Naomi sudah dibawa Yahya pergi berenang di kolam renang disamping rumah bersama Nathan dan Viktor.
“Maaf ya sayang. Aku sibuk terus akhir-akhir ini jadi sering pulang telat, bahkan tadi malam aku tidak pulang kerumah.” ujar Verrel mencium bibir istrinya yang sudah dirindukannya.
Deandra membalas ciuman suaminya, keduanya saling berpelukan erat melepaskan segala rasa rindu.
“Bagaimana urusannya?”
“Sebelum kesini tadi aku sempat singgah ke kantor polisi menyerahkan semua bukti-bukti kejahatan Olivia. Tidak lama lagi dia pasti akan tertangkap dan dipenjara.”
Deandra sangat senang mendengarnya, akhirnya keluarga mereka akan kembali tenang dari semua gangguan dan berharap tidak akan ada lagi pengganggu.
Dia bisa melihat keletihan diwajah suaminya sedangkan Verrel masih menatap bibir merah Deandra yang sudah jadi candu memabukkan bagi Verrel. Jari tangannya mengelus permukaan bibir Deandra, gairahnya bergelora seketika.
“Bagaimana bisa aku melupakanmu, wajahmu selalu saja mengikutiku kemanapun aku pergi.”
“Hahahaha…...memangnya wanita mana yang mau aku lihat? Memangnya ada yang mau sama pria beristri dan beranak lima?” tawa Verrel pun pecah.
“Ada! Mereka kan tidak peduli statusmu punya istri dan anak. Sampai sekarang saja masih banyak tuh yang mengidolakanmu! Kadang aku lihat pas pergi ke mall atau kemanapun bagaimana reaksi para wanita melihatmu. Melihat fotomu saja mereka sudah senang! Awas ya kalau sampai macam-macam.” ancam Deandra dengan wajah serius.
Tanpa mau mempedulikan ucapan istrinya, Verrel pun melabuhkan ciuman dibibir Deandra kembali. Melepaskan semua kerinduan pada bibir ranum milik istrinya itu. Keduanya saling menyesap dan mengulum penuh gairah, tautan mereka baru terlepas setelah udara terasa menipis dirongga dada.
“Kita lanjut ya sesi berikutnya,” ujar Verrel tersenyum.
“Oke sayang. Kunci pintunya dulu. Nanti aku servis sampai puas,” kata Deandra dengan tatapan menggoda.
...*******...
__ADS_1
Sementara itu disebuah villa yang berada diatas puncak bukit kecil kelap kelip lampu mobil polisi tampak menerangi halaman. Suara sirine membahana memecah kesunyian malam. Ada lima mobil polisi terlihat mengepung villa itu dari berbagai sisi. Seorang petugas mengumumkan perihal pengepungan lewat pengeras suara yang ada ditangannya.
Sedangkan didalam villa, Olivia, Edo dan Dirga berdiri saling berhadapan terpaku dengan wajah pucat tidak menyangka jika polisi akan menemukan tempat persembunyian mereka.
“Tadi polisi itu menyebut nama Olivia kan? Bagaimana bisa? Bukankah kita sudah mengirimkan Olivia palsu untuk menyerahkan diri?” kata Dirga heran.
“Jangan-jangan perempuan itu buka mulut,” kata Edo.
“Tidak mungkin!” sanggah Olivia, “Dia tidak akan berani melakukannya karena dia tahu nyawa ibunya ada dalam genggaman kita,” sambungnya.
“Tetapi ibunya sudah meninggal dua hari lalu. Apa mungkin dia sudah tahu?” tanya Edo.
“Ahh…..aku lupa memberitahu kalian. Kemarin ada berita di media sosial yang menyebutkan Olivia bunuh diri didalam selnya,” ucap Dirga seraya memperlihatkan layar ponselnya.
PLAK!
Olivia menampar Dirga dengan keras.
“Bagaimana bisa kau lupa memberitahuku berita sepenting itu, bodoh!” maki Olivia.
Dirga mengusap pipinya yang terasa panas. “Aku tidak sengaja melupakannya. Kemarin kita minum-minum sampai mabuk. Saat sadar aku sudah tidak ingat lagi berita itu,” jelas Dirga.
“Sial!” umpat edo. “Penyamarannya pasti terbuka saat itu.” katanya panik.
Olivia berjalan mondar mandi dengan gelisah. “Tidak! Tidak! Aku tidak mau ditangkap. Kalian harus membantuku meloloskan diri apapun caranya.” kata Olivia.
Edo dan Dirga saling berpandangan dengan bingung. Mereka juga tidak tahu harus bebruat apa karena polisi sudah mengepung villa itu.
“Hei! Kalian berdua kenapa malah bengong? Itu polisi sudah mulai menghitung, lakukan sesuatu!” perintah Olivia penuh amarah. Ketakutannya semakin memuncak karena dia tidak ingin berakhir dipenjara. Sudah sejauh ini dia melangkah dan hampir berhasil tapi kini kembali gagal.
__ADS_1
“Maaf Nona! Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan. Kita benar-benar tidak punya jalan lain lagi untuk melarikan diri.” kata Edo.