TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 256. NAOMI IKUT MEETING


__ADS_3

“Sebagai ucapan terimakasih, bolehkah saya mengundang Nona Stefanie untuk makan siang?” tanya Wisnu dengan gaya mempesona. Dia sengaja ingin memikat Stefanie.


Stefanie melirik asistennya, seolah mengerti arti lirikan Stefanie. Asistennya pun memeriksa jadwal kerjanya lalu menganggukkan kepala.


“Baiklah. Berhubung saya tidak ada jadwal siang ini, suatu kehormatan bagi saya menerima undangan dari Tuan Dewa.” ujar Stefanie dengan gaya elegan.


“Asisten saya sudah memesan tempat. Mari kita pergi sekarang.” ucap Wisnu lagi.


*********


Verrel sedang mengikuti meeting internal, wajahnya tampak dingin seperti biasa. Saat seorang staff sedang membacakan laporan departemannya, “Cukup! Perbaiki laporanmu dan serahkan sore ini! Aku minta kenaikan 13% dalam bulan ini! Kalian tidak cukup bekerja keras!”


“Lanjut bagian keuangan! Kau tidak usah bicara, aku sudah membaca laporan keuanganmu. Apa kau mencoba merampokku?” teriak Verrel melemparkan laporan ditangannya.


“Ma—maaf Tuan!” ucap kepala departemen itu terbata-bata.


“Sudah berapa lama kau bekerja disini?”


“Lima tahun Tuan!” jawab pria itu terbata-bata.


“Apa selama ini gajimu selalu kurang? Atau sering telat?”


“Tidak, Tuan!”


“Pengawal! Bawa orang ini ke kantor polisi!” teriak Verrel marah.


“Ap—apa salah saya Tuan?” wajah pria itu pucat pasi, keringat dingin sudah membasahi keningnya.


“Kau akan tahu kesalahanmu setelah berada di kantor polisi!” ucap Verrel datar.


Semua orang yang berada diruang meeting gemetar ketakutan. Sudah sebulan ini Verrel menempatkan mata-mata di beberapa departemen untuk mengecek dan menemukan pelanggaran. Ternyata sejak tiga bulan lalu ada transaksi yang mencurigakan, kepala departemen telah menggelapkan sejumlah uang.


“Kalian dibayar gaji tinggi disini, gaji kalian jauh lebih tinggi dari tempat lain! Saya tidak akan mentolerir siapapun yang mencoba merampok perusahaan ini!” ujar Verrel menatap satu persatu peserta meeting.


Selama meeting itu Verrel membongkar satu persatu penyimpangan yang terjadi diperusahaannya dan memecat beberapa orang staff yang terbukti melakukan penyalahgunaan wewenang.

__ADS_1


“Departemen penjualan! Bagaimana persiapan peluncuran produk baru?”


“Sudah dalam tahap akhir, Tuan. Laporannya sudah saya serahkan tadi pagi.” jawab kepala departemen penjualan.


“Hem….bagus! Ingat target penjualan harus tercapai pada saat peluncuran!”


“Kami akan bekerja keras untuk itu, Tuan. Tim kami sudah mempersiapkan strategi baru untuk meningkatkan penjualan dibulan ini dan bulan-bulan berikutnya.” jawabnya dengan percaya diri.


Setelah itu Verrel sedang memberikan kritikan pada departemen produksi yang membuat kepala departemen itu menggigil ketakutan, tiba-tiba pintu ruang meeting terbuka. Semua orang menoleh tapi tidak menemukan siapapun berdiri disana. Sampai mereka mendengar suara kecil tertawa. "Hihihihi."


“Ah…..anak siapa ini? Lucu sekali?” bisik para peserta meeting saat melihat sosok anak perempuan dengan rambut dikepang dua memakai pita senada dengan bajunya.


Frans yang menunduk langsung melihat Naomi yang tertawa sambil melambaikan tangan. “Tuan, Nona Naomi yang masuk.”


Pintu itu kembali terbuka dan seorang wanita berseragam babysitter nampak terengah-engah hendak membawa Naomi keluar dari sana. “Maaf, Tuan.”


Verrel berdiri lalu berjalan menghampiri Naomi, lalu menggendongnya. “Tidak apa-apa. Pergilah.” ucap Verrel pada babysitter itu.


Dia membawa Naomi dan mendudukkan dipangkuannya dibawah tatapan semua orang. “Perkenalkan ini putriku Naomi.”


Anak perempuan cantik yang ramah itu pun melambaikan lagi tangannya sambil tersenyum. “Halo!”


“Wah, putri Tuan Verrel cantik dan pintar, kelak dia akan memimpin perusahaan ini.” bisik seorang staff.


“Lihatlah gayanya seperti orang dewasa, menggemaskan.”


“Bukankah dia terlihat persis sama seperti Tuan Verrel?”


Bisik-bisik para peserta meeting yang baru pertama kalinya melihat Verrel bersikap lembut dan tenang layaknya seorang ayah idaman. Kedatangan Naomi diruang meeting mengubah mood pria itu, dia tidak lagi marah-marah sampai meeting selesai.


*********


“Maafkan saya Tuan, sudah lalai menjaga Nona Naomi.” ujar babysitter Naomi ketakutan.


“Apa yang terjadi?” tanya Verrel.

__ADS_1


“Tadi saya ke toilet sebentar. Babysitter yang satunya sedang mengganti popok Nathan. Saat saya kembali, saya tidak melihat Nona Naomi lagi. Saya mencarinya sampai saat saya keluar lift melihatnya masuk keruangan itu. Saya mohon, ampuni saya Tuan.”


“Bagaimana bisa kau seteledor itu? Kalau dia jatuh atau diculik orang bagaimana?” Verrel mengeryitkan dahi.


Babysitter itu terdiam tak mampu berkata-kata, dia tidak menyangka kalau Naomi akan pergi saat dia sedang berada di toilet. “Saya janji tidak akan mengulangi kesalahan saya, Tuan.”


“Baiklah. Kali ini kau kumaafkan, lain kalai kau harus lebih berhati-hati. Untung tadi pengawal melihatnya dan membawanya turun.” ujar Verrel. “Jangan pernah tinggalkan dia sendirian, kau bisa titipkan pada babysitter Nathan atau pada pengawal.”


“Ba-baik, Tuan.”


“Kemasi barang-barang mereka. Aku mau makan siang diluar bersama anak-anak.”


“Baik Tuan.”


Kelompok orang itupun pergi meninggalkan kantor, Verrel menggendong Nathan dan Naomi dikedua tangannya sedangkan babysitter dan pengawal mengikuti disamping dan belakang.


Verrel membawa kedua anaknya menuju sebuah restoran yang berada disalah satu hotel berbintang milik Ceyhan Group. “Selamat datang Tuan Besar!”


“Selamat datang Tuan Muda dan Nona Muda.”


Verrel memilih meja yang berada didekat jendela sehingga bisa melihat pemandangan indah diluar. Beberapa makanan langsung dihidangkan begitu mereka duduk karena Frans sudah lebih dulu menghubungi restoran untuk reservasi.


Babysitter dan pengawal duduk dimeja berbeda dan menikmati hidangan mewah. Frans duduk disebelah Nathan dan Verrel duduk bersebelahan dengan Naomi.


“Aa….buka mulutnya. Papa suapi.” ucap Verrel. Naomi melihat sendok ditangan ayahnya namun belum membuka mulutnya.


“Ini sup kepiting kesukaanmu.” kata Verrel Naomi langsung bersemangat mendengar makanan kesukaannya, dia membuka mulut dan menerima suapan dari Verrel.


“Enak, sayang?”


“Enak.” Naomi mengangguk.


“Tuan, benar-benar ayah yang baik.” ujar Frans melihat interaksi Verrel dan Naomi. Nathan makan sendiri meskipun belepotan karena anak itu tidak suka disuapi kecuali oleh ibunya.


Satu mangkuk sup kepiting ludes, Naomi mengambil chocolate lava cake kesukaannya sedangkan Nathan menyantap puding.

__ADS_1


Sementara itu, disalah satu sudut restoran tampak seseorang yang memperhatikan mereka sejak awal masuk ke restoran itu. “Argg…..brengsek kau Verrel! Setelah kau puas menikmati tubuhku kau menyuruh orang-orangmu membuangku dipinggir jalan! Aku tidak akan diam saja. Aku pasti akan membalasmu nanti.”


Tatapan matanya tajam, dia memakai kaca mata hitam dan topi agar tidak dikenali. Olivia yang dibuang dipinggir jalan oleh pria misterius berhasil kembali kerumahnya setelah berjalan jauh hingga menemukan jalan besar dan kembali kerumahnya dengan menaiki taksi. Siang ini dia memang sengaja datang ke restoran itu untuk makan siang dan menunggu seseorang tapi tak disangka dia malah melihat Verrel dan kedua anaknya disana. Rasa sakit, sedih, iri, cemburu dan amarah menguasai Olivia.


__ADS_2