
Akhir pekan saat sepasang suami istri itu lebih memilih menghabiskan waktu dirumah saja, apalagi Yahya, Viktor dan Darma sedang melakukan perjalanan bisnis ke Amerika untuk mengecek perusahaan yang ada disana, sementara Ayu sibuk bermain dengan kedua cucunya yang semakin hari makin lincah dan mulai belajar untuk berjalan dengan bantuan Ayu dan pengasuhnya. Barang-barang pecah belah dirumah mewah itupun sudah disingkirkan sementara untuk menghindari dipecahkan lagi oleh Naomi.
“Sayang….sini guntingnya biar aku bantu.”kata Verrel mengambil gunting kecil dari tangan Deandra. Dia mulai membantu mengunting ranting kering bunga mawar yang ada di balkon kamar mereka. Hal sepele yang bisa membahagiakan pasangannya, apalagi sebuah pernikahan itu ibarat tanaman yang perlu dirawat sendiri tak ubahnya kebahagiaan pasangan dalam pernikahan yang memang harus dibangun sendiri setiap waktu, setiap hari, setiap detiknya tanpa pernah berhenti. Karena manusia akan terus berubah tidak ada yang permanen apalagi jika cuma berpegang pada sebuah hati. Bahkan pasangan yang menikah karena saing tergila-gila pun bisa berakhir dalam perceraian.
Berulang kali dan berulang kali hidup adalah sebuah pilihan maka dari itu harus selalu sadar dengan pilihan yang telah diambil, sadar konsekuensinya dan tanggung jawabnya. Jika sudah memutuskan hidup dengan seseorang maka pilihlah untuk terus bahagia bersamanya, pilihlah lagi dan lagi, maafkanlah lagi dan lagi agar terus mencintainya lagi dan lagi. Jangan pernah berhenti dijalan buntu saat ada masalah kecil selama masih ada waktu untuk membuka jalan yang baru, pasangan yang benar layak bahagia. Verrel menghampiri istrinya yang sedang duduk sambil memperhatikan Verrel menggunting ranting kering bunga mawar. Verrel bukan pecinta tanaman tapi dia mau melakukannya karena tahu hal sepele itu akan membuat Deandra senang. Demikian pula dengan hal sepele lainnya, verrel tap pernah keberatan bila itu membuat wanitanya bahagia.
“Terimakasih sayang.” Deandra berhenti menatap suaminya.
“Kita bisa mandi sekarang, sayang.” ucap Verrel.
Deandra langsung paham apa maksud suaminya yang masih sering tidak tahu malu menggodanya. Deandra menggangguk karena ternyata dia menyukai suaminya yang liar dan menggodanya karena jika dia tidak liar dan menggoda maka bukan Verrel Aditya Ceyhan namanya.
“Kau mau di bathtub atau dibawah shower, sayang?” tanya Deandra.
“Apapun asal dirimu.” Verrel mengucapkannya sambil membelai pipi Deandra dan menatapnya dengan sangat intim.
“Atau kau mau disini saja?” goda Deandra menanggapi tatapan suaminya yang sudah mulai melucuti pakaiannya.
__ADS_1
“Kita mandi saja.” Verrel sudah menyisihkan salah satu bahu pakaian Deandra kemudian menghisap kulitnya yang manis. Menghisapnya cukup kuat hingga Deandra merinding cuma karena sentuhan sepele macam itu dari suaminya. Verrel mencekal pinggang istrinya dan menggangkatnya untuk dibawa masuk ke kamar mandi. Derasnya air dingin dari shower adalah sesuatu yang tepat untuk siang hari yang panas. Verrel mendesak Deandra ke dinding mencekal dagu basahnya agar tidak bergerak ketika dia segera menyekap dan menyerang bibir istrinya yang terbuka dengan belaian lidahnya yang kasar. Verrel mengerang nikmat dan liar,napasnya panas dan membakar tenggorokan.
Deandra buru-buru melucuti pakaian suaminya yang basah melekat pada gumpalan ototnya yang meregang, gairahnya sedang sangat kuat dan liar. Mereka sama-sama basah saling menginginkan dan tidak butuh waktu lama untuk segera menyatu dalam lecutan gairah yang tetap berkobar seperti api neraka meskipun sedang berada dibawah guyur air dingin yang deras mendera. Lenguhan dan rintihan Deandra adalah irama yang Verrel inginkan, irama yang memacuna semakin keras dan liar untuk terus mencumbu wanitanya tanpa ingin berhenti. Verrel membalik tubuh Deandra dan menelungkupkannya lagi.
“Ya, ampung Verrel…...apalagi ini.” Deandra masih dalam cengkeram gelombang klimaksnya yang belum usai dan sudah ditusuk lagi dari arah berbeda. “Oh!” pekik Deandra meraih besi wastafel untuk berpegangan ketika tubuhnya kembali didera. Semakin Deandra tertekan semakin gembira pula Verrel untuk memberi istrinya lebih lagi dan lagi. Verrel tahu jika Deandra juga menyukai perbuatannya, karena sekujur tubuhnya juga dirakit untuk memberi kesenangan. Rasanya semakin panas terbakar dimana-mana, Deandra sudah pernah dia buat terentang, tertelungkup bahkan merangkak untuknya dengan tubuh berguncang-guncang. Deandra akan merintih, menjerit dengan ledakan pelepasan yang luar biasa menggetarkan bagi Verrel karena telah menjadi pria yang telah memberikan kepuasan dan kenikmatan itu pada istrinya. Seperti sumpah yang pernah diucapkan Verrel bahwa tidak akan ada pria manapun yang mampu memenuhi Deandra sebanyak dirinya.
Deandra masih tertelungkup diatas ranjang seusai mereka kembali bercinta seperti mutan. Verrel merangkak naik menciumi tulang punggung istrinya yang melembut setelah membawanya mengerang hebat dalam ledakan kepuasan. Hanya Deandra yang mampu meredakan gairah liarnya, mengobati Verrel dari berbagai luka yang sudah dia seret sepanjang jalan hidupnya.
“Verrel…..” panggil Deandra dengan nada lirih.
“Beri aku aba-aba ya, tolong jangan menyerangku tiba-tiba dulu.”
Napas Verrel seketika bergetar diatas punggung Deandra. Sebenarnya tidak ada yang lucu untuk ditertawakan tapi posisi Verrel sedang diatas tubuh Deandra dengan kedua lutut terbuka mengapit pinggulnya. Jadi wajar jika deandra was-was mengingat perangai suaminya.
“Tidak, sayang. Aku tidak akan mengigitmu sekarang.”
Deandra tahu selera humor suaminya juga tidak lucu jadi ia malah ngeri membayangkan Verrel benar-benar punya taring yang bisa menghisap darahnya sampai kering,
__ADS_1
“Aku harus memeriksa anak-anak sebentar lagi, jadi biarkan aku beristirahat sebentar dulu.”
“Baiklah, nyonya.” bisik Verrel didekat daun telinganya.
Deandra merinding merasakan sapuan kulit kasar suaminya ketika merunduk diatas punggungnya yang masih polos. Verrel mengecup bahu belakang Deandra kemudian berguling memeluknya. Verrel sudah memutuskan untuk bahagia bersama wanita itu seumur hidupnya dan tidak mau menoleh lagi ke belakang. Sore harinya Verrel mengajak Deandra benar-benar kencan ala anak remaja biasa, tidak ada restoran mewah maupun dekorasi mewah. Semuanya adalah tempat-tempat sederhana yang dulu disukai oleh Deandra sebelum dia menjadi Nyonya Verrel.
“Sudah cukup hidup kita seperti ini, aku tidak butuh apapun lagi.” kata Verrel.
Deandra hanya menggangguk setuju dan menarik tangan Verrel menuju gerobak makanan di taman kota itu. Sate sapi kegemaran Deandra, dia memesan satu porsi untuk makan bersama. Benar-benar kencan ala rakyat biasa yang tak pernah dirasakan oleh Verrel sebelumnya. Hidupnya selama ini yang selalu dipenuhi dengan kemewahan tapi demi kebahagiaan istrinya diapun rela makan pinggir jalan seperti sore ini. Banyak orang yang memperhatikan pasangan itu karena mereka mengenali Verrel adalah orang paling kaya di negeri ini. Setelah selesai makan sate, deandra mengajak Verrel ke pasar malam. Melihat ada permainan di pasar malam, Deandra mengajak Verrel menaiki komedi putar. Setelah itu mereka membeli kembang gula dan bercanda menghabiskan malam bersama ala rakyat biasa. Puas mencoba berbagai makanan yang dijual di pasar malam dan melihat jika Deandra mulai terlihat lelah dan mengantuk, Verrel mengajak istrinya pulang.
Saat memasuki rumah, mereka melihat semua keluarga sedang berkumpul dan ada si kembar yang membuat ricuh karena semua barang-barang berantakan. Prang! Bunyi pecahan gelas yang dilempar oleh Nathan, buru-buru Ayu memanggil pelayan untuk membersihkan.
“Aduh anak daddy…...kenapa semua berantakan.” ujar Verrel.
“Biarin saja diberantakin. Dari tadi dirapikan malah di berantakin lagi sama mereka. Nanti saja dirapikan lagi kalau mereka sudah capek dan berhenti sendiri.” kata Yahya tersenyum. Dia mengingat Verrel masih kecil juga sama aktifnya seperti si kembar yang tak bisa diam dan semua barang-barang dibongkar.
“Tuh Naom tadi keluarin semua pampersnya dari laci, begitu dirapikan lagi sama pelayan malah diberantakin lagi sama dia.” kata Ayu “Sama persis kayak Verrel waktu kecil, tidak bisa diam dan selalu bikin ulah. Jadi biarkan saja, nanti dirapikan kalau mereka sudah tidur.”
__ADS_1