TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 134. AMRAN DIPERMALUKAN


__ADS_3

“Tuan, seperti yang sudah tuan prediksikan, Tuan Amran sudah mengirimkan email kepada semua dewan direksi untuk rapat siang ini.” kata Frans pada Verrel.


“Bagus! Dia benar-benar sangat gampang diprediksi.  Pergilah bersama istriku, tapi ingat perketat semua pengawalan. Semua harus berjalan sesuai rencana. Kita lihat bagaimana mereka akan menghadapi istriku.” senyum Verrel mengembang.


“Hai, sayang. Aku sudah siap.  Bagaimana penampilanku?” tanya Deandra yang pagi ini memakai setelan terusan berwarna hijau dan blazer hitam.  Rambut panjang hitamnya ditata, penampilannya sangat cantik.


“Hmm...kau sangat cantik sayang. Aku cemburu,”


“Sudahlah, Verrel! Aku lagi hamil, tidak akan ada yang lirik perempuan buncit begini,”


Frans hanya bisa menggigit bibir bawahnya melihat sepasang suami istri yang sibuk berdebat soal pakaian.  Verrel sudah berulang kali menyuruh Deandra tukar pakaian karena terlalu cantik.


“Secepatnya aku harus mengambil alih kepemimpinan di Ceyhan Group. Mumpung jabatan itu masih kosong, sepertinya keberuntungan memang sedang memihakku,” kata Amran berdialog dengan dirinya sendiri. Sudah tiga minggu belum ada kabar tentang Verrel.  Sebaiknya aku akan mengadakan rapat dadakan dengan dewan direksi.  Dia meraih ponselnya dan menghubungi sekretarisnya untuk mengatur jadwal pertemuan.


Sejak Verrel dinyatakan hilang tanpa ada kabar apapun hingga saat ini, belum ada diadakan rapat untuk membahas tentang kepemimpinan di Ceyhan Group.  Amran yang sudah mengirimkan email kepada semua dewan direksi untuk mengadakan rapat, justru menimbulkan tanda tanya.


Siang itu suasana didalam ruang rapat mendadak terjadi kegaduhan.  Para dewan direksi saling bertanya tentang rapat mendadak itu, bisik-bisik diantara mereka yang hadir membicarakan pertemuan itu. Pintu ruang rapat terbuka, tampak Amran dan sekretarisnya memasuki ruangan dengan membawa dokumen.  Semua yang hadir seketika terdiam menunggu sekretaris yang tak lama kemudian berdiri dengan memegang sebuah dokumen ditangannya.


...*...


Dilobi utama gedung perkantoran Ceyhan Group, mobil mewah berhenti tepat didepan pintu utama.  Frans membukakan pintu, terlihat seorang wanita cantik turun dengan elegan, semua karyawan seketika berdiri berbaris menyambut sang nyonya besar.  Mereka membungkukkan badan tanda hormat.  Iringan pengawal yang berjumlah dua puluh orang ikut menjaga Deandra. Lift khusus direktur terbuka dan mereka masuk menuju kelantai atas.


“Apakah nyonya gugup?” tanya Frans pada Deandra.


“Sedikit. It’s ok. I can handle it,” jawab Deandra.  Ini adalah misinya untuk menyelamatkan perusahaan dan keluarganya.


“Ingat ya Frans! Kau harus menjalani hukumanmu. Tinggal di paviliun selama seminggu tidak boleh bertemu Rosa dan berhubungan dengan Rosa. Kalau kutemukan kau curi-curi menghubunginya maka hukumanmu diperpanjang dan gajimu dipotong setengah.”

__ADS_1


Glek! Gawat, Nyonya Bos lebih kejam daripada Tuan, gerutunya.


...*...


“Selamat siang dan salam sejahtera kepada semua dewan direksi yang saya hormati. Terimakasih atas kehadirannya pada siang hari ini.  Agenda kita hari ini adalah mengumumkan tentang penggantian pimpinan di Ceyhan Group.  Sehubungan dengan belum adanya kabar tentang keberadaan Tuan Verrel dan kekosongan kepemimpinan di perusahaan sangat berpengaruh pada stabilitas perusahaan yang mengakibatkan harga saham turun drastis.”


Suasana riu memenuhi ruang rapat tersebut.  Kebanyakan dari mereka tampak tak senang dengan hal yang mereka dengar. Sekretaris Amran berusaha menenangkan semua yang hadir.


“Disini saya umumkan bahwa Tuan Amran Ceyhan sebagai pemegang saham kedua terbesar diperusahaan ini akan mengambil alih jabatan CEO terhitung mulai hari ini dan seterusnya, ucapnya dengan suara tegas.  Salah satu anggota dewan mengangkat tangannya.


*Nih author bagi visualnya Tuan Amran Ceyhan



“Silahkan Tuan Fajar. Apakah ada yang mau ditanyakan?”


Ucapan Tuan Fajar lagsung mendapat tanggapan baik dari para anggota dewan yang lain, hanya ada tiga orang saja yang tidak setuju dan sudah dipastikan siapa saja mereka.


“Apa maksud anda berkata begitu Tuan Fajar?” Amran menatap tak suka karena Tuan Fajar adalah orang yang paling setia pada Verrel dan Yahya.


“Begini, maksud sa---”


Bertepatan pintu ruang rapat terbuka kasar membuat semua orang menoleh dan langsung berdiri melihat kedatangan sang Nyonya Besar.  Wanita bersetelan terusan warna hijau dengan blazer hitam berjalan memasuki ruangan dengan tatapan tajam menghunjam kearah Amran.  Deandra berdiri dengan angkuh dan menatap semua yang hadir disana.  “Saya nyatakan bahwa rapat ini tidak sah tanpa kehadiran saya dan juga suami saya yang CEO di perusahaan ini.  Suami saya sedang dalam perawatan.  Hebat sekali orang yang berani mengadakan meeting dewan direksi tanpa ijin dari saya!” ucap deandra tegas sembari menatap Amran yang kini terbelalak menghadapi menantunya yang terlihat menakutkan. Wanita ini ternyata lebih menakutkan daripada anak sialan itu, gerutu Amran.


Mendadak suasana riuh kembali karena semua orang terkejut mendengar kabar itu.  Amran membeku dan tak bisa bergerak di tempatnya.  Matanya bertemu dengan mata Deandra yang menatapnya tajam bak pedang yang siap memotong-motong tubuhnya. Tangan wanita itu mengelus perutnya dengan wajah mendongak angkuh pada Amran.  Deandra menunjukkan posisinya di perusahaan dan juga sebagai Nyonya Besar di keluarga Ceyhan.


“Tuan Verrel masih hidup?”

__ADS_1


“Benar. Suami saya Verrel Aditya Ceyhan masih hidup dan sedang menjalani perawatan. Jadi untuk sementara saya dan Frans yang akan menjalankan perusahaan sampai suami saya sembuh dan kembali ke perusahaan,” ucap Deandra menjelaskan. “Saya akan putarkan video rekaman pernyataan suami saya yang direkam sebelum saya berangkat.”  Frans langsung menyalakan TV Led Interaktif Android yang kini menampilkan Verrel yang sedang terbaring di tempat tidur dengan selang infus dan alat medis lainnya disekitarnya.


Para anggota dewan direksi yang hadir pun tersenyum bahagia dan berbisik-bisik seraya menatap Amran dengan sinis.  Salah seorang anggota mengangkat tangan.


“Apa ada yang ingin ditanyakan, Pak?”


“Maaf, Nyonya. Mengingat kondisi nyonya yang sedang hamil besar, apakah nyonya yakin bisa mengurus perusahaan sebesar ini? Saya hanya mengkhawatirkan Nyonya saja.”


“Terimakasih Pak. Saya akan dibantu oleh Tuan Frans karena tidak lama lagi saya akan melahirkan. Saya dan suami bisa memantau perusahaan dari rumah. Saya mohon kerjasama dari bapak dan ibu sekalian demi perusahaan ini.” kata Deandra tersenyum manis.


Semua yang hadir diruangan itupun menggangguk.  Mereka tak menyukai Amran apalagi tentang perselingkuhannya dua puluh enam tahun lalu. Dan kasus putranya Rico yang memalukan.


“Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan. Hanya sekedar mengingatkan bahwa Hutama Group milik kakek saya memiliki saham besar di Ceyhan Group. Jika saham saya dan saham suamiku digabung, saya rasa sangat tidak pantas jika ada orang yang seenaknya ingin mengambil alih tampuk kepemimpinan perusahaan ini tanpa ijin saya.” kata Deandra melirik tajam kearah Amran.  Semua orangpun ikut memandang Amran dengan tajam seakan menghakimi sikap arogan dan serakah pria itu.


“Betul. Saya setuju.” bisik-bisik itu terdengar jelas memihak Deandra. “Apalagi jika orang tersebut bahkan tidak tahu apa-apa tentang anaknya.  Lebih tepatnya tidak peduli, tanpa berusaha mencari anaknya ataupun mengkhawatirkannya, dia lebih memikirkan mengambil alih perusahaan.” Dengan angkuhnya Deandra mencabik-cabik harga diri Amran didepan semua orang yang kini menatap Amran dengan penuh amarah dan kebencian.  Saat rapat sudah dibubarkan, tanpa sengaja Amran berada satu lift dengan Deandra yang sengaja mengejarnya. Lift itu terasa pengap dan panas, Amran merasa tak nyaman dengan keberadaan Deandra disana.


“Saya peringatkan pada Anda, Tuan. Jangan pernah coba-coba mengganggu keluarga saya. Saya Deandra Ailsie Hutama Ceyhan, istri sah dari Verrel Aditya Ceyhan punya kedudukan yang setara dengan suamiku. Jangan pernah berpikir bisa menyentuh harta keluarga Ceyhan! Anakku adalah pewaris dan penerus keluarga Ceyhan yang sah,” ucapnya tegas sambil mengelus perut buncitnya.  Seketika lutut Amran bergetar, entah mengapa dia merasakan aura kuat wanita didepannya itu yang membuatnya sesak napas. “Lebih baik anda mengurus putra brengsekmu itu! Urusan saya dengannya belum selesai! Dia sudah berani menyentuh saya, maka saya akan hancurkan dia!”


*Hai para pembaca terkasih....terimakasih sudah sampai di bab ini. Ayo berikan dukunganmu buat author biar tambah semangat lagi.


*Pagi dan siang boleh dong dikasi bunga dan kopi biar mata makin jreng 😂😂😂😂


*Jangan lupa vote, like dan komen ya. Author doain smua pembaca sehat sejahtera, sukses dan rejekinya berlimpah. Amin.


Terimakasih 🙏🙏🙏


 

__ADS_1


__ADS_2