
“Aku mau bertemu suamiku, Opa. Tolong bawa suamiku kesini. Aku mau suamiku,” racau Deandra dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi. Ia menangis meraung-raung, tak sanggup membayangkan hidup tanpa suami yang dicintainya.
“Opa janji akan mencarinya dan membawanya pulang. Kau jangan khawatir, nak. Jaga kandunganmu dengan baik.” Dalam hatinya Yahya berdoa semoga cucunya baik-baik saja. Kabar terakhir yang diterimanya bahwa keselamatan Verrel hanya beberapa persen saja. Karena tim SAR masih meninjau lokasi jatuhnya pesawat.
“Dia menginginkan bayi ini, Opa. Dia menunggu kehadiran anak kami setiap hari. Suamiku---”
“Ssssttt...Opa tahu, sayang. Opa akan pastikan suamimu pulang dan melihat kalian.” Meskipun hatinya juga merasa sakit perih, tapi dia harus kuat. Kini hanya dia yang bisa menjaga Deandra.
“Tapi---”
“Kau harus percaya pada Opa. Berjanjilah untuk menjaga kandunganmu dengan baik, agar saat suamimu pulang nanti dia bisa melihat kalian baik-baik saja. Kalau Verrel tidak mau datang maka Opa yang akan menghukumnya.”
“Jangan...jangan Opa. Jangan menghukum suamiku, dia sangat menyayangiku dan mencintaiku. Aku mencintai Verrel.” Airmatanya mengalir semakin deras, suara raungannya terdengar sangat memilukan hati.
“Iya, sayang. Opa tahu kalian saling menyayangi. Kau harus tenang dan menjaga kehamilanmu. Anak dalam kandunganmu akan sedih kalau kau sedih, mereka bisa merasakan apa yang kau rasakan. Jangan menangis lagi, kau harus kuat demi kedua calon anakmu.”
Bibir Deandra bergetar “Tapi Dea mau suamiku, Opa. Aku ingin dipeluk suamiku, ingin dimanja suamiku seperti biasanya.” Lirihan diikuti tangis pilu itu semakin menyayat hati.
“Tolong….tolong bawa Verrel kesini. Bawa suamiku kembali, Opa. Dia berjanji akan membahagiakanku selamanya. Aku mau suamiku, Opa.”
Yahya tak mampu bertahan hingga ia mengalihkan pandangan matanya. Ini adalah pukulan terberat yang ia saksikan sepanjang hidupnya. Dulu dia merasakan sakit akibat Amran yang memilih selingkuhannya, tapi apa yang terjadi sekarang lebih menyakitkannya.
“Kemana kau Verrel? Kenapa kau meninggalkanku dan anak kita?” Deandra memejamkan mata yang terus mengalirkan airmata. “Tinggal beberapa bulan lagi aku akan melahirkan. Tapi kau malah meninggalkanku. Kau tak mau menemaniku selamanya seperti janjimu.”
Dokter dan perawat saling pandang. Satu anggukan sebagai isyarat bagi mereka untuk memberikan ruang pada pasien untuk menenangkan diri.
__ADS_1
“Panggil saya atau perawat jika Nyonya tidak terkendali. Emosinya akan mudah berubah-ubah dan jangan tinggalkan beliau sendirian, Tuan.” ucap dokter itu pada Tuan Yahya.
“Terimakasih dokter.” Yahya menggangguk singkat. Suasana diruang VVIP dimana Deandra dirawat berubah menjadi tempat yang memilukan.
Tangisannya tak henti-henti, seorang istri yang menunggu kabar suaminya dan berharap suaminya akan kembali membuat semua orang yang berada didalam sana ikut merasakan kesedihannya.
“Aku hanya mau Verrel kembali. Aku tidak mau yang lainnya. Aku hanya menginginkan suamiku,” gumam Deandra dengan mata terpejam. Dia teringat sikap aneh Verrel beberapa hari terakhir, sebenarnya dia pun sudah mendapat firasat tak enak. Berulang kali dia selalu mencegah suaminya pergi ke kantor, terlebih lagi saat suaminya mengatakan akan keluar kota Deandra pun protes seakan tak rela suaminya pergi. Firasat seorang istri memang selalu benar.
Perlahan ia membuka kedua matanya, mengerjapkannya berulang kali lalu mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Kembali ia merasa kecewa tak mendapati sosok pria tampan yang dirindukannya. Deandra pun memejamkam matanya, berusaha untuk tidur dengan harapan saat ia membuka matanya nanti, suami yang ia rindukan ada disana dan memeluknya dengan hangat seperti biasanya. Dia merindukan pelukan suaminya, dia ingin menghirup aroma maskulin dari tubuh pria yang sangat dicintainya itu. Meskipun sudah berusaha keras untuk tidur, namun airmatanya tak berhenti mengalir membasahi pipinya. Ia bisa merasakan jika bantal penyanggah kepalanya pun sudah terasa basah oleh airmatan yang menetes.
‘Kuat Deandra. Harus kuat, berdoalah semoga suamimu selamat dan kembali padamu,’ ujarnya dalam hati untuk menenangkannya. Dia berusaha menemukan rasa yang muncul dihatinya, dia ingin merasakan bahwa suaminya selamat dan baik-baik saja. Tapi dia tak merasakan apapun, satu tangannya menyentuh dadanya berusaha menyelami rasa yang timbul disana, seperti firasat namun masih sama. Tidak ada apapun, dadanya terasa kosong, hanya rasa perih yang menyayat yang dirasakannya. Yuna dan kedua pelayan tak bisa berbuat apapun selain berusaha menenangkan majikannya yang terus menangis.
Yahya yang kini sedang berada diluar ruangan berusaha menenangkan dirinya. Beberapa saat tadi Ayu menantunya menghubunginya, ia ingin kembali ke tanah air untuk menjaga menantunya namun Yahya melarang karena khawatir Ayu juga bisa jadi sasaran berikutnya. Yahya harus fokus pada keselamatan Deandra dan kandungannya. Yahya meminta Ayu untuk tetap tinggal di Amerika mengurusi perusahaan disana, sementara Yahya yang akan menjaga Deandra. Untuk sementara dia akan meminta William dan Frans mengurus perusahaan disini.
Yahya meraih ponsel dari sakunya dan menghubungi seseorang. Terlihat wajahnya sangat serius saat berbicara dengan orang tersebut. Nada suaranya terdengar tegas dan penuh penekanan, dia harus turun tangan untuk menyelesaikan semua masalah ini.
Sekian lama ia memanjatkan doa untuk keselamatan Verrel. Meskipun kecil harapan untuk menemukan keberadaannya, namun Deandra yakin jika suaminya pasti akan kembali padanya. Dia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa pria yang sangat dicintainya itu.
“Bibi Yuna. Bisa bawakan baju suamiku yang belum dicuci? Aku merindukannya.” ucap Deandra lirih. Yuna pun menggangguk lalu menyuruh Alya untuk pulang dan mengambil kemeja Verrel yang belum dicuci. Hati Yuna sangat terluka melihat majikannya yang sudah dianggap sebagai anaknya itu bersedih. Perasaannya sebagai seorang ibu turut merasakan kepedihan Deandra.
...*...
"Halo."
"Ada apa menghubungiku?" kata Frans yang sedang tak baik moodnya.
__ADS_1
"Yaelah, om mesum! Ketus amat jawabnya kayak mau makan orang aja."
"Pfff....kau mau apa? Aku lagi sibuk."
"Ma--maaf kalau mengganggu. Aku cuma mau tanya kabar Dea."
"Ehmmm....kenapa tidak jenguk langsung kerumah sakit?"
"Boleh ya? Aku menghubungimu juga mau minta ijin menjeguk Dea."
"Ya. Kapan?"
"Hufff....bisa tidak kalau bicara itu jangan ketus? Bukan anda saja yang sedih, saya juga sedih." ucap Rosa yang daritadi sudah merasa kesal dengan nada bicara Frans yang dingin dan datar.
"Kenapa kau jadi marah?"
"Ya, iyalah. Ihhhh....yebelin. Niat baik nelepon malah jadi nambah dosa."
"Dosa? Maksudnya Dorong Saja? Memangnya kau sudah siap kudorong?"
"Dorong.....dorong....memangnya gerobak? Dasar gak jelas!"
"Kau yang tidak jelas. Saya bertanya baik-baik, kau sudah siap belum didorong?"
"Dasar mesum gila! Dorong saja kelaut. Ehhh...om mesum dengar ya...anda itu bukan tipe saya. Okay! Bye"
__ADS_1
Ha...ha...ha....dasar manusia aneh. Dia yang bilang dosa, ya dosa\=dorong saja. Dikasih enak malah nolak. Upsss kenapa aku lama-lama jadi gila seperti dia, gumam Frans dalam hati.