
Wanita itu semakin ketakutan, bibirnya bergetar. Ia mengingat bagaimana Rico memperlakukannya seperti wanita sewaan yang hanya dibutuhkan untuk memuaskan gairahnya saja. Tapi semalam Iva mendapatkan sesuatu yang diharapkannya selama ini, sesuatu yang indah, saat dia memutuskan bertekuk lutut dihadapan pria itu. Rico justru memberikan kenikmatan padanya.
“Jika kau masih tidak mengerti, maka aku bisa---”
“Mengerti, kak. Iva mengerti,” sahutnya cepat memotong ancaman Rico. “Iva tidak akan memina apa-apa lagi, asalkan kakak tidak menghukumku seperti waktu itu. Aku akan menurut apapun yang kakak inginkan.” Wanita itu kembali menundukkan wajahnya.
“Termasuk, jika wanita itu kembali kepelukan kakak. Aku akan dengan rela menerimanya, meskipun jadi yang kedua. Iva ikhlas kak, akan selalu menuruti perintah kakak.”
Rico menyeringai jahat, dia merasa puas. “Bagus! Itu baru namanya istri yang baik. Sebagai bonus untukmu pagi ini, aku akan memberikanmu sensasi bercinta yang tak akan kau lupakan seumur hidupmu, bagaimana? Mau?”
Seketika wajah Iva bersemu dan dadanya berdebar kencang. Ia tak lagi menunggu untuk membuka kedua kakinya yang menggantung dan membawa kakinya naik keatas meja.
“Bagus. Kau sudah pintar sekarang.” desis Rico. Akan kupuaskan bermain-main denganmu, begitu waktunya tiba kau akan kucampakkan, gumamnya dalam hati.
...*...
“Bagaimana? Apakah semua sudah beres?”
“Sudah selesai. Kau tidak perlu lagi khawatir.”
“Apakah sudah kau pastikan jika tak ada seorangpun yang tahu? Aku tak mau ada jejak sedikitpun. Jangan sampai ada bukti yang mengarah padaku, Paham?” kata Rico.
“Ck...ck….Beres. Aku bukan cuma sekali ini bekerja untukmu, Tuan. Satu lagi, wanita itu sekarang sedang berada dirumah sakit. Kau bisa langsung melihatnya kesana.”
“Aku tahu,” sahutnya cepat. “Pergilah dari negara ini. Uang yang kau terima dariu sudah cukup untukmu memulai hidup baru diluar negeri. Ingat! Jangan pernah kau kembali lagi ke Indonesia!”
Pria berpakaian hitam itupun bangkit dari duduknya. “Terimakasih. Senang berbisnis denganmu.” Lalu ia pun pergi meninggalkan Rico yang masih menikmati secangkir kopi. Terlihat senyum lebar diwajahnya tanda kemenangan. Seringai dibibirnya muncul “Sebentar lagi. Tinggal selangkah lagi aku akan memilikimu sayang.” ujarnya seraya tertawa.
Tak disadarinya dari kejauhan tepatnya dari balik sebuah pilar ada sepasang mata warna kecoklatan yang sedang mengintainya. “Ternyata dia dalang dari semua ini.”
Rico menyesap kopinya lalu tersenyum, matanya berbinar mengetahui semua berjalan sesuai dengan rencananya. Sebentar lagi...tinggal sebentar lagi kau akan menjadi milikku, Sayang. Gumamnya terkekeh. ‘Hmmm…..semuanya akan ada digenggamanku. Ini semua salahmu kak. Aku sudah memberimu pilihan untuk menyerahkan kekasihku padaku tapi kau lebih memilih perang saudara ini. Kini, aku mengambil semuanya darimu. Bukan cuma darimu tapi aku juga akan mengambil alih semua kekayaan keluarga Baratha.’
__ADS_1
Pria itu menghabiskan kopi dicangkirnya, lalu beranjak pergi. Melajukan mobilnya menuju kerumah sakit dimana Deandra sedang dirawat. Setelah menempuh padatnya jalanan ibukota hari ini, setelah berkendara selama tiga puluh menit, akhirnya Rico sampai dihalaman rumah sakit. Ia menghentikan mobilnya diarea parkir dan mengedarkan pandangan untuk melihat jika ada yang mencurigakan. Setelah merasa aman, ia pun turun dari mobilnya dan melangkah masuk. Namun baru saja ia berada didepan pintu masuk, Rico melihat dua orang pengawal pribadi Deandra keluar dari lift, ia pun memutar badan kembali ke mobilnya dan pergi dari rumah sakit itu.
...*...
“Sudah ada informasi yang kau dapatkan?” tanya seorang pria pada seseorang.
“Belum, Tuan. Kami sudah mencari kealamat terakhir, tapi tidak ada seorangpun yang mengenali.”
“Sebarkan anak buahmu untuk mencarinya. Temukan keberadaannya secepatnya.” perintahnya dengan nada dingin dan datar. Bertahun-tahun dia mencari tapi tak menemukan keberadaan orang yang dicarinya. Dengan isyarat tangan, dia menyuruh orang suruhannya keluar.
Dia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang kerja yang terkesan kelam dengan aura yang kuat. Pria itu berjalan memasuki sebuah ruangan, disana ada beberapa orang yang terlihat sedang sibuk.
“Bagaimana keadaannya? Apa sudah ada perkembangan, dokter?”
“Kita harus menunggu pasien sadar untuk memastikan diagnosis selanjutnya.”
“Hmmm….” pria itu memandang keatas ranjang, seorang pria terbujur tak sadarkan diri dengan selang infus dan monitor komputer yang menunjukkan detak jantung.
Dokter itupun tampak berpikir. “Bisa secepatnya, mungkin juga akan membutuhkan waktu yang lama, Tuan.”
“Lalu, kira-kira apa yang akan terjadi saat dia bangun nanti?”
“Pasien bisa saja kehilangan fungsi kedua kakinya untuk sementara.” kata dokter menjelaskan.
Mendengar penjelasan itu membuat pria tua itu diam. Dia menatap tajam pria yang terbaring itu, kilatan matanya sulit untuk dijelaskan, ada kemarahan, kebencian bercampur aduk. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal. Dia bergumam menyebutkan sebuah nama, namun tak jelas nama siapa yang disebutkannya.
Tanpa mengalihkan tatapan matanya pada pria yang terbaring diatas ranjang itu, ia bergumam dalam hati. “Kau harus tetap hidup agar aku bisa membalaskan dendamku.”
“Kalian lakukan yang terbaik. Kalau dia sudah sadar, segera beritahukan padaku.”
“Baik, Tuan.” ucap dokter dan perawat yang berada diruangan itu.
__ADS_1
Pria tua itu melangkah keluar, menyusuri lorong panjang dirumah besar yang memiliki kesan kelam dan menakutkan karena aura yang terpancar.
Dia kembali keruang kerjanya. Membuka laptop dan melihat berita viral tentang kecelakaan pesawat yang menimpa sang CEO pemilik Ceyhan Group. Seringai muncul disudut bibirnya. Tangan kanannya menarik laci meja kerjanya, mengeluarkan sebuah foto. Memandang foto tersebut dengan tangan yang bergetar.
Mata pria itu berkabut, tangannya mengusap foto yang terlihat sudah lama itu. “Dimana kau, sayang? Papa sudah mencarimu sekian lama.” Tak terasa airmatanya menetes, ada kerinduan yang menyesakkan dadanya. Penyesalan akan masa lalu yang membuat pria itu harus kehilangan harta paling berharga karena egonya. Bertahun-tahun dia mencari, karena dia tinggal diluar negeri menyebabkan sulit untuk meneruskan pencarian, dia hanya bergantung pada orang suruhannya di Indonesia.
“Aku sudah tua, semoga Tuhan mengampuni semua kesalahanku. Semoga aku masih diberi kesempatan bertemu dengan anakku sebelum ajal menjemputku.” ucapnya dengan lirih. Perlahan dia masukkan kembali foto itu kedalam laci, bersama dengan beberapa foto lainnya.
Tak lama ponselnya berbunyi. Panggilan masuk dari salah satu orang kepercayaannya.
"Halo, Tuan."
"Saya mendapatkan informasi terbaru, Tuan. Akan segera saya kirimkan kepada, Tuan."
"Baiklah."
"Ada lagi, tuan." kata pria itu.
"Apa! Cepat katakan."
"..............."
Wajah pria itu seketika berubah saat mendengarkan laporan dari anak buahnya. Muncul seringai diwajahnya.
"..............."
"Bagus. Kerja bagus. Segera kau cari dimana dia, kalau bisa kau harus dapatkan fotonya."
"Baik, Tuan. Saya akan laksanakan perintah, Tuan."
Pria itupun memutuskan sambungan telepon berbarengan dengan suara ketukan dipintu ruang kerjanya. Seorang perempuan paruh baya yang bekerja disana sebagai pelayan melangkah masuk membawakan secangkir kopi untuk majikannya.
__ADS_1