TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 138. SIDANG PERTAMA RICO


__ADS_3

“Kau yakin mau datang ke persidangan, sayang?” tanya Verrel menatap istrinya yang sudah bersiap.  Hari ini adalah persidangan pertama kasus Rico.  Deandra bertekad untuk hadir meskipun sebenarnya dia merasa jijik untuk bertemu Rico disana.  Tapi bukan Deandra namanya jika dia tidak punya rencana.


“Yakin! Seribu persen yakin! Tidak usah khawatir, sayang. Aku akan baik-baik saja.”


“Baiklah. Aku tidak mau kamu merasa tertekan, tidak baik untukmu dan anak kita,” ucap Verrel sambil memegang perut buncit istrinya.


“Tenanglah. Percayakan padaku, jika aku tidak hadir di persidangan bagaimana aku bisa bersaksi atas perbuatannya.” ucap Deandra penuh keyakinan.  Verrel menggangguk.


Frans memasuki ruangan diikuti Yuna dan dua pelayan setia Deandra.  Setelah pamit pada Verrel dan memberinya morning kiss, mereka pun berangkat menuju pengadilan.


Persidangan akan dimulai pada pukul sembilan, jarak antara villa Viktor ke pengadilan akan menempuh waktu satu setengah jam.  Frans menatap Deandra sekejap lalu menunduk.  Senyum terukir di wajah wanita itu, tiba-tiba Deandra menangis tersedu-sedu membuat Frans dan Yuna khawatir.  “Nyonya, kenapa? Apa sebaiknya kita pulang saja?”


“Aku hanya akting Bibi Yuna! Bagaimana aktingku bagus tidak?” tanya Deandra.


“Wah, bagus sekali nyonya. Saya pikir nyonya benar-benar menangis. Tapi kenapa harus menangis?” tanya Yuna lagi.


“Supaya mataku sembab dan wajahku terlihat sedih. Aku harus terlihat tertekan Bibi Yuna. Tidak mungkin aku senyum saat masuk ke ruangan itu nanti.” ucapnya mengedipkan mata. Semua yang ada didalam mobil pun tertawa dengan tingkah sang nyonya besar.


“Banyak wartawan yang sudah menunggu disana, nyonya.” kata Frans menimpali.

__ADS_1


“Aku tahu. Makanya aku latihan menangis, supaya semua orang akan bersimpati pada wanita hamil ini. Kasihan sekali wanita muda yang lagi hamil ini,” mulai lagi menangis tersedu-sedu.  Entah kenapa dia begitu gampangnya meneteskan airmata. Frans hanya geleng-geleng kepala, dia tidak mau berkomentar lagi.  Takut jika kena hukuman dari nyonya besar seperti kemarin-kemarin. Tak lama mereka sampai di depan pengadilan, melihat mobil mewah itu memasuki halaman gedung pengadilan, sontak semua wartawan langsung mendekat.  Sepuluh orang pengawal yang bertugas mengikuti Deandra berusaha menjauhkan para wartawan.  Deandra turun dari mobil dengan wajah penuh kesedihan, saputangannya beberapa kali mengusap airmata yang jatuh dipipinya.  Para wartawan pun mulai mengajukan pertanyaan pada Deandra yang dijawabnya dengan bibir bergetar dan tangis sedih membuat para wartawan ikut meneteskan airmata. Frans ikut membantu Deandra menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. 


Mereka memasuki ruangan sidang, terlihat Rico duduk disebelah pengacaranya.  Iva istrinya duduk di bangku tepat dibelakang Rico.  Saat Deandra masuk, matanya dan Iva bertemu.  Sengaja Deandra memasang wajah depresi sambil menahan tangis membuat Iva yang melihatnya merasa kasihan dan bersalah atas perbuatan suaminya.  Sidang dimulai dengan pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum. Setelah pembacaan dakwaan dilanjutkan dengan Eksepsi atau nota keberatan oleh Terdakwa/Penasihat Hukumnya. Deandra berbisik pada pengacaranya.


Selanjutnya terdengar tanggapan atas eksepsi oleh Jaksa Penuntut Umum.  Lalu pemeriksaan barang bukti, setelah pemeriksaan barang bukti yang dilengkapi dengan rekaman cctv didalam ruang perawatan dan diluar ruang perawatan. Deandra yang tampil didepan saat memberikan pernyataan terlihat tertekan dan menangis dengan suara bergetar membuat semua yang hadir merasakan kesedihannya.  Seorang wanita hamil yang mempertahankan harga dirinya.


Jaksa Penuntut Umum lantas membacakan tuntutannya atas Rico Davion Ceyhan yang dinyatakan bersalah telah melanggar Pasal 53, Pasal 55 Jo pasal 285 ayat (1) tentang percobaan pemerkosaan, pengancaman dan tindakan kekerasan, dengan ancaman penjara minimal lima tahun dan maksimal duabelas tahun. Membuat Rico terkejut dan protes namun langsung dihentikan oleh pengacaranya.  Iva menangis saat mendengar tuntutan jaksa pada suaminya. Posisi Rico sulit karena catatan hitam yang dimiliki sebelumnya. 


Pengacaranya melakukan pembelaan, suasana sidang jadi alot karena kedua pengacara saling melemparkan pembelaan.  Rico melirik Deandra berkali-kali, rasa cinta dan kerinduan yang mendalam tak membuatnya takut pada konsekuensi yang diterimanya. ‘Aku sudah berjuang mendapatkanmu, kau sudah menolakku Deandra.  Setidaknya aku sudah berjuang dan jika aku kalah aku puas karena aku sudah mencoba.’ monolog dalam hatinya. Pengacara Rico mengajukan permohonan agar Rico jadi tahanan rumah dengan jaminan sejumlah uang, dengan alasan istrinya sedang mengandung dan membutuhkan dukungannya. Iva yang memohon pada orangtuanya untuk membantu memberikan jaminan, Baratha luluh atas permintaan putrinya yang sedang hamil muda.  “Papa akan membantu tapi dengan syarat, jika Rico jadi tahanan rumah.  Maka kalian harus tinggal dirumah ini, supaya papa bisa mengawasinya. Jika dia berani coba-coba buat ulah dan mengganggu istri Verrel lagi, papa pastikan papa sendiri yang akan mengirimnya ke penjara.” ucap Baratha dua hari yang lalu saat Iva menemuinya untuk minta tolong.


“Nyonya, bagaimana jika permohonan Rico dikabulkan oleh hakim?” tanya Frans berbisik.


Persidangan yang berjalan selama hampir dua jam itupun berakhir dengan putusan sidang kedua akan dilaksanakan pada minggu depan.  Deandra berdiri tanpa melihat kearah Rico sedikitpun, Iva berjalan mendekati Deandra namun wanita itu tak mempedulikan saat Iva memanggilnya ingin bicara.


Pengawal Deandra mengusir Iva agar tak mengganggu nyonya mereka. Rico menatap punggung Deandra yang meninggalkan ruang sidang. Iva meminta ijin untuk bertemu Rico pada petugas yang hendak membawa Rico kembali ke sel,


“Untuk apa kau masih ingin bertemu denganku?” tanya Rico lirih. Wajahnya terlihat murung setelah melihat Deandra yang sama sekali tak melirik sedikitpun selama masa persidangan. Iva sudah memutuskan, dia bersikeras memilih tetap bersama suaminya.  Ia bahkan rela bersimpuh dihadapan orangtuanya untuk meminta pengampunan dan memohon agar mereka mengijinkannya tetap bersama Rico yang teramat berarti baginya.


Sangat sulit, karena Baratha murka dan Amran yang mendatanginya untuk meminta maaf waktu itu akhirnya Baratha mengijinkan namun bukan berarti dia melepaskan begitu saja. Baratha memberikan satu syarat diberikannya pada putrinya yang memohon dengan sangat menyedihkan.  Meskipun hatinya berontak namun pria paruh baya itu tak pernah bisa menolak.

__ADS_1


“Pergilah.  Kau berhak bahagia. Kau tahu siapa wanita yang kuinginkan.” kata Rico lagi. Iva seolah tak mendengarkan kalimat Rico, buliran airmatanya menetes.  Rico meraih tangan Iva karena tak mendapat tanggapan “Apakah kau tak mendengar yang kukatakan?”


Manik mata Iva mengerjap. “Kau sudah kuberi pilihan sejak awal tapi kau tidak mau mendengar.” Rico menjeda ucapannya.  “Aku memberimu kebebasan untuk pergi.  Carilah kebahagiaanmu sendiri. Bertahan denganku bukan pilihan bagus.”


“Untuk apa kau bertahan dengan orang yang tak mencintaimu? Untuk apa hidup dalam kepura-puraan. Apakah itu pantas? Aku takkan pernah mencintaimu.”


“Apakah kau sedang berbicara tentang dirimu sendiri, kak?’ tanya Iva seketika membuat Rico terpaku. “Apakah kakak masih belum sadar jika dia mencintai suaminya dan kakak masih berusaha keras untuk merebutnya kembali?”


Rico menggangguk, karena dia masih belum menyerah apapun hasil putusan sidang nantinya.


“Aku pun sama kak. Aku akan berjuang untuk mendapatkan cinta kakak. Kalau kakak masih ingin berjuang untuk mendapatkannya, aku tidak akan menghalangi. Tapi tak ada seorangpun yang bisa menghalangiku untuk berjuang mendapatkan cintamu.” kata Iva penuh keyakinan.


“Kakak jangan pernah memintaku pergi. Berikan sedikit perhatian kakak padaku, sedikit saja dan itu cukup bagiku. Supaya kakak tahu, dihatiku hanya terisi namamu sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengisi hatiku dengan nama laki-laki lain.”


Rico terdiam mendengar kata-kata istrinya, lidahnya mendadak kelu.  Dia menatap Iva dengan sendu, mulutnya terkunci rapat. “Berikan sedikit saja cinta itu padaku kak.” kata Iva lagi.


Melihat Rico yang tak bergeming, Iva memberanikan diri mencondongkan wajahnya dan bibirnya menyentuh bibir Rico.  Tak ada penolakan dari Rico, membuat Iva melanjutkan mengecup bibir suaminya lalu ********** perlahan.


“Mungkin tidak sekarang, tapi aku yakin akan ada masanya kakak akan menyatakan cinta padaku.” ucap Iva.  Namun hal yang tak disangkanya terjadi, tangan Rico meraih pinggangnya dan mencium bibir Iva dan **********.  Ciuman itu terhenti setelah keduanya kehabisan napas. 

__ADS_1


... ...


__ADS_2