
Pesawat pribadi milik Elias membawa kedua pria itu menuju Jakarta. Rico masih syok dan tak mau bicara. Ternyata hilangnya cincin berlian yang dia beli saat di Hongkong untuk melamar Deandra adalah sebuah pertanda. Gadis yang dicintainya hilang seperti cincin itu.
Elias yang melihat betapa terpuruknya sahabatnya itu bisa merasakan kesedihan yang dalam. Gadis yang dicintainya dibeli oleh kakak tirinya.
‘Apakah calon pengantin Kak Verrel itu adalah Deandra? Kenapa dia merahasiakan identitas pengantin wanitanya? Dari apa yang dikatakan pak surya tadi berarti Deandra sudah tinggal bersama kak Verrel selama lebih sebulan. Monolog Rico dalam hatinya.
...*...
Sementara disebuah kamar hotel, sepasang suami istri sedang bermesraan tepatnya sang istri sedang bermanja ria pada suaminya.
“Verreeellll…..pijatanmu tidak enak.” protes Deandra.
“Tidak enak kau bilang? Sudah sejam aku memijatmu, sekarang kau bilang tidak enak.” kata Verrel. Dari tadi dia menuruti semua permintaan aneh istrinya. Membuatkan teh lalu minta dimandikan sambil digosok punggungnya, selesai mandi minta dipijat.
“Tidak enak ya tidak enak. Geser ke sebelah kiri,”
“Disini?” tanya Verrel.
“Iya...iya disitu. Hmmm…..lebih keras jangan digelitik. Hmmmm….ini enak. Pijatanmu enak juga sayang,” puji Deandra. Huh...tadi bilang tidak enak sekarang bilang enak, dasar labil, Verrel menggerutu dalam hati. Meskipun sedikit kesal namun dia tidak berani bicara, takut kalau Deandra merajuk bisa-bisa berhari-hari dia harus membujuknya.
"Sekarang ke kanan."
Dengan lincah tangannya bergeser kesebelah kanan.
"Verrel! Kau tidak ikhlas memijat. Kenapa rasanya tidak enak?"
Oh, Tuhan sabarkan aku, ujar Verrel mengelus dadanya.
"Aku ikhlas sayang. Katakan apa maumu?"
Verrel pun hanya bisa menggelengkan kepala mengikuti instruksi sang Nyonya Besar yang lagi keenakan menikmati pijatan suaminya. Sekarang Verrel tak ubahnya seperti kerbau yang dicocok hidungnya, selalu menuruti kemauan deandra.
“Bagaimana, sayang. Sudah enak?”
“Ya….enak sekali sayang. Terima kasih ya. I love you,” kata Deandra dengan suara lembut dan manja. Mendengar suara itu membuat Verrel tersenyum. Tangannya berhenti memijat dan kini memeluk erat istri tercintanya.
“Mau yang lain sayang?” tanya Verrel menggoda istrinya.
“Hmmm….jangan sekarang ya. Kau tidak ada capek-capeknya,” jawab deandra.
__ADS_1
“Aku menginginkanmu,” tangannya sudah tak bisa dikondisikan lagi. Meskipun masih merasa lelah karena semalaman dia melayani Verrel. Namun dia pun tidak ingin menolak sentuhan lembut suaminya.
Untuk kesekian kalinya pasangan pengantin baru itu mengulangi lagi percintaan panas mereka.
“Bagaimana kalau jangan disini?” tanya Deandra. Tetapi Verrel tak mengindahkan perkataan istrinya, sentuhannya membuat wanita itu tak berdaya.
“Ahhkk!” pekik Deandra seraya memeluk erat tubuh suaminya. Verrel menarik salah satu sudut bibirnya, tersenyum tipis memandang wajah istrinya. Deandra melenguh, bibirnya bergetar saat gerakan pria itu semakin cepat dan akhirnya ia mengalunkan nama suaminya dengan merdu seiring dengan lonjakan pelepasan mereka.
Verrel menggendong tubuh istrinya ke kamar mandi, dengan sabar dia memandikan deandra yang lemah. Selesai adegan mandi bersama, Verrel memakaikan pakaian pada istrinya, ia memilihkan baju terusan berwarna putih. Dengan lembutnya dia mendudukan deandra dikursi dan mengeringkan rambutnya. Senyum manis tak lepas dari wajah deandra yang merasakan perlakuan lembut sang suami.
Kini deandra sudah lelap disamping Verrel yang duduk bersandar di ranjang. Sang asisten menghubunginya, melaporkan kehebohan semua media yang masih membicarakan tentang pernikahannya. Banyak yang penasaran ingin tahu siapa gadis beruntung yang bisa mendapatkannya.
Gadis beruntung itu kini sedang terlelap disampingnya. Kesal mendengar berita yang disampaikan Frans, dia pun memutuskan panggilannya. Dia memandang wajah damai nan cantik disampingnya. “Sayang, semua orang bilang kau gadis yang beruntung. Tapi justru aku yang beruntung mendapatkanmu.”
“Kau sangat cantik, sayang, Kau pantas bersanding denganku, Nyonya Verrel.” gumamnya. Permainan yang dulu dirancangnya untuk menjerat Deandra sebagai pemuas nafsu dan balas dendam tapi berubah. Dia mencintai wanita itu, sangat mencintainya bahkan dia semakin bersikap lembut dan tak pernah marah-marah lagi.
...*...
“Pa, dimana Rico?”
“Tidak tahu, Ma. Nanti juga dia pulang.” jawab Amran.
Suara ponselnya berdering kencang membuatnya tersentak karena pikirannya sedang mengembara.
“Kau dimana? Jangan bilang padaku kalau kau lagi bersama perempuan rendahan itu.” ucap seorang pria dengan nada dingin menusuk.
Mendengar suara yang sangat dikenalnya membuat mata Amran membeliak. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Tuan Yahya Magani Ceyhan, ayahnya. Terkejut? Ya, dia sangat terkejut menerima telepon dari ayahnya karena sudah sekian lama mereka tak bertegur sapa.
“Ada apa papa meneleponku?”
“He..he...he. Ternyata kau tidak bisa berbasa basi.”
“Apa yang papa inginkan dariku?” tanya Amran ketus dan tak sabaran, ia tahu betul jika ayahnya hanya akan menghubunginya jika dia membutuhkan sesuatu.
“Kau jangan lupa datang ke pernikahan cucuku nanti malam. Datanglah lebih awal.”
“Oh...ternyata papa menginginkan kedatanganku?”
“Kalau kau tidak mau datang juga tidak apa-apa.” kata Yahya semakin ketus.
“Baiklah. Aku akan datang awal,” jawab Amran. Mana mungkin dia tidak datang ke pernikahan putranya, yang ada dia akan jadi bahan tertawaan semua orang.
__ADS_1
“Satu hal lagi. Jangan kau bawa wanita simpananmu itu!”
Glek!
Amran menelan salivanya. Rahangnya mengeras, wajahnya memerah menahan emosi. Ini pasti ulahnya Ayu, gumamnya pelan hampir tak terdengar.
“Maaf Pa. Kalau itu tidak bisa.”
“Terserah! Kalau kau bawa wanita itu, maka kau akan menyesal seumur hidupmu. Anak wanita murahan itu akan kehilangan posisinya di kantor. Aku sudah siapkan penggantinya.” Yahya pun langsung memutuskan sambungan telepon.
Mendengar ancaman ayahnya, Amran emosi tapi dia tidak peduli karena dia sudah punya rencana lain. “Sialan anak itu!”
“Kenapa, Pa? Koq papa marah?” tanya Andini.
Amran tak menjawab pertanyaan istrinya. Andini bisa melihat ada yang berbeda pada suaminya, ia mengeryitkan dahi. Akhirnya dia memberanikan diri bertanya lagi.
“Papa, kenapa?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Jangan bohong, Pa. Pasti ada yang papa sembunyikan. Ayo cerita.”
“Hmmm….kau tahu kalau aku sangat mencintaimu? Bahkan aku meninggalkan istriku demi mama.” kata Amran penuh kelembutan sambil membelai rambut istrinya.
“Mama pergilah bersama Rico ke pesta pernikahan Verrel nanti malam,”
Tubuh Andini membeku mendengar itu, emosinya memuncak. “Apa karena Ayu ada disana?”
“Aku ini istrimu, Pa. Kenapa aku tak pernah bisa ikut bersamamu kesetiap acara keluarga Ceyhan? Apakah aku memalukan?” tangisnya pun pecah.
“Tidak, Ma. Bukan begitu.”
“Kenyataannya begitu, bukan? Untuk kesekian kalinya aku tidak bisa pergi dengan papa. Sampai kapan? Kapan aku akan diakui sebagai istrimu, Pa? Aku ini juga istri sahmu?” mencecar suaminya dengan pertanyaan bertubi-tubi.
Amran tidak bisa menjawab, dia merasa bersalah.
“Lebih baik aku mati saja kalau aku tidak bisa pergi ke pesta itu bersamamu,”
“Baiklah. Jangan menangis lagi. Kita pergi sama-sama.”
Andini tersenyum manja, untuk kesekian kalinya dia merasa menang. Aku akan tampil cantik agar semua orang bisa memandangku sebagai nyonya amran ceyhan.
__ADS_1