TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 48. MEMBAHAGIAKAN UNTUK DIBAHAGIAKAN.


__ADS_3

Pria itu tersenyum “Tidak mahal, sayang. Apapun akan kuberi untukmu.” jawabnya memeluk gadis itu. Deandra membalas pelukannya dan menyandarkan kepalanya didada bidang Verrel. Wangi maskulin dari tubuh pria itu selalu membuatnya merasa nyaman dan tenang.


Verrel menemani deandra di kamarnya, menyuapinya dengan makanan yang dimintanya. Bahkan saat dia ingin ke kamar mandipun, pria itu menggendongnya ala bridal. Sikap seorang CEO yang terkenal sadis dan kejam berubah jika sudah berhadapan dengan Deandra. Apalagi sekarang gadis itu sedang mengandung anaknya, dia ingin semua baik-baik saja.


Kepala pelayan Yuna yang melihat perlakukan sang tuan besar pun merasa bahagia. Akhirnya tuannya diluluhkan oleh seorang wanita biasa yang dulu sangat dibencinya. Sepanjang sisa hari itu dihabiskan Verrel dan Deandra di kamar karena dia masih harus bedrest. Tinggal selangkah lagi, ikatan pernikahan akan mengikat Deandra, hanya selangkah lagi.


"Aku keruang kerja sebentar," ucapnya yang dijawab Deandra dengan anggukan.


Setelah Verrel keluar dari kamarnya, Deandra duduk diranjang sambil bersandar. Matanya menatap lurus kearah balkoni. Pikirannya melayang-layang, semua yang terjadi terasa begitu cepat.


‘Kenapa kau tidak mensyukuri saja semua kejadian ini? Lihatlah semua kemewahan yang ada disekelilingmu Deandra. Kau diberikan hadiah mahal. Kau tahu berapa banyak wanita diluar sana yang rela mengantri untuk mendapatkan posisimu?


Bahkan wanita-wanita itu rela melakukan apapun demi berada diposisimu sekarang.  Dan pria itu sangat tergila-gila padamu, apalagi sekarang kau mengandung anaknya.  Bisakah kau bayangkan oh Deandra bagaimana hidupmu setelah ini? Kau dilimpahi kemewahan demi kemewahan oleh tuan besar.’


‘Apa kau tidak pernah memikirkan itu? Kenapa tidak kau manfaatkan saja keberadaanmu sekarang untuk menikmati semua kekayaannya? Mungkin takdir akan membawamu pada kebahagiaan itu, kenapa kau tidak mencoba membahagiakannya untuk mendapatkan kebahagiaanmu?


Suara hati Deandra dengan mudahnya berbicara. Sikapnya sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya. Saat kau tidak membangkang dan menuruti perintahnya bukankah kau melihat betapa lembutnya pria itu?


Namun sisi lain hatinya berkata lain ‘Jika kau masuk terlalu dalam di kehidupan Verrel, maka akan membuatmu terjerat semakin jauh dan itu berarti kau akan berada disisinya selamanya. Tidak akan ada seorangpun yang bisa membantumu, karena pria itu sudah mengatakan bahwa dia tak akan pernah melepaskanmu.  Selamanya kau hanya akan menjadi pemuas nafsunya jika kau tidak segera keluar dari tempat ini! Lari deandra....lari sejauh-jauhnya dari rumah itu.


Deandra dilema memikirkan semuanya, kini sudah tidak mungkin dia melepaskan diri dari Verrel. Ada kehidupan lain didalam dirinya sekarang, itu berarti dia akan tetap terikat pada Verrel dan pria itu tidak akan pernah membiarkannya pergi.


‘Apakah aku harus mulai belajar untuk merelakan diriku padanya? Apakah aku harus mulai belajar mencintainya? Bukankah hanya itu yang diminta oleh Verrel, memberikan hatiku, perasaanku dan cintaku padanya maka semua akan dia berikan padaku? Deandra menatap pria yang masih tertidur pulas disampingnya. Dia melirik jam dan menunjukkan pukul lima pagi.

__ADS_1


Kembali dia mengingat perkataan Verrel ‘apapun yang terjadi jangan pernah keluar dari rumah ini.’ Mungkinkah pria itu sungguh mengharapkanku bertahan untuknya? Ya, Tuhan. Kuatkan aku. Melihat wanita yang datang kemarin, sepertinya aku mulai sedikit mengerti, jika Verrel menginginkan aku untuk bertahan.


Kepalanya berdenyut, merasakan nyeri luar biasa yang menyerang. Ia berkutat memikirkan baik dan buruknya pilihannya. Mau tak mau Deandra memang harus memilih. Ia memilih untuk membahagiakan Verrel semoga kelak aku pun akan dibahagiakan, gumamnya.


Tak lama pria itu kembali dengan membawa laptopnya dan naik keranjang. Duduk menyandar disamping deandra.


"Kau tidak keberatan, bukan?" tanyanya.


"Tidak. Aku malah tidak enak hati kalau pekerjaanmu terganggu karena harus menemaniku."


"Tidak apa. Aku tidak akan meninggalkanmu." jawab Verrel dengan suara tenang. "Kalau kau butuh sesuatu, katakan saja."


Deandra membaringkan tubuhnya, tak butuh waktu lama, diapun terlelap.


... *...


Pagi ini Verrel memandikan Deandra meskipun gadis itu menolak karena malu dan takut jika pria itu meminta untuk melayaninya. Namun dengan sabar Verrel memandikan dan memilih pakaian untuk deandra.  Dia bahkan tidak mengijinkan pelayan sang nyonya besar melakukannya. Baru setelah berpakaian, Alya dan Tami dipanggil masuk untuk mendandani majikannya itu.


“Terimakasih, sayang,” ucap Deandra melirik kearah Verrel yang belum berpakaian hanya melilitkan handuk di pinggangnya. ‘Pantas saja banyak wanita mengejarmu karena kau tampan sekali, gumamnya. Tak henti-hentinya Deandra memuji ketampanan pria yang sebentar lagi jadi suaminya itu, mungkin bawaan orok.


“Jangan menatapku seperti itu.” kata Verrel yang membuat Deandra malu ketahuan sedang mengagumi pahatan indah didepannya yang sedang bersiap-siap. Verrel memilihkan setelan berwarna hijau muda untuk Deandra. Rambutnya diikat kepang kuda memperlihatkan leher jenjangnya. Riasan warna natural diwajahnya membuatnya terlihat segar dan cantik seperti gadis belia. Verrel terpaksa menahan hasratnya yang bergejolak setiap kali memandang gadis itu.  Kali ini pria itu benar-benar diuji kesabarannya.


...*...

__ADS_1


“Makan buburnya, ya.” ucap Verrel menyodorkan sesendok bubur pada Deandra.


“Aku bisa makan sendiri,” kata Deandra yang merasa canggung karena terlalu dimanja.


“Jangan membantah! Buka mulutmu,” perintah Verrel. Suapan demi suapan pun masuk kemulutnya hingga bubur ludes. Pagi ini Verrel yang akan menemani Deandra untuk checkup kerumah sakit.


Kehamilan Deandra yang sudah memasuki minggu keempat masih rentan dan harus dijaga baik-baik. Saat Dokter Romeo mengatakan pada Verrel untuk menghentikan aktifitas ranjang untuk sementara, terlihat wajahnya terkejut membuat Deandra menahan tawa, dia memang sengaja meminta Romeo untuk mengatakan itu pada Verrel.


Sehabis menemani Deandra checkup kehamilannya ke rumah sakit pagi ini. Verrel pergi ke kantor karena dia ada meeting dengan klien, tadi dia sudah meminta Yuna untuk mencatat semua yang dikatakan oleh dokter Romeo.


...*...


"Ros, bagaimana kabar Dea?" tanya ibunya.


"Sepertinya baik-baik saja, bu," jawabnya karena Rosa pun tidak tahu keadaan Deandra. Ponselnya tidak bisa dihubungi. Sebenarnya diapun merasa khawatir kalau terjadi sesuatu.


"Apa kamu tidak pernah menghubunginya?"


"Ponselnya tidak aktif, bu." kata Rosa.


"Kamu harus cari tahu, Ros. Bagaimana kalau Dea sampai kenapa-napa." kata ibunya dengan nada khawatir. Biasanya Deandra datang kerumahnya atau menelepon Rosa tapi sudah beberapa hari tidak ada kabarnya.


"Dea pasti aman, bu. Dia tinggal dirumah Tuan Verrel, jadi ibu jangan khawatir."

__ADS_1


"Gimana tidak khawatir?"


"Ya, sudah bu. Nanti aku coba hubungin dia nih,"


__ADS_2