
Di dalam kamar itu ada brankas untuk menyimpan uangnya. Dengan wajah sumringah Ezha mengeluarkan uang dari kantong celananya lalu memasukkan uang itu kedalam brankas. Dia menghitung jumlah ikatan uang dengan senyum lebar diwajahnya.
‘Ternyata perempuan itu bisa juga mendatangkan uang dan jadi tambang emasku!’ gumam Ezha sambil mencium uang itu sebelum meletakkannya kembali didalam brankas. Ezha tidak tahu jika Olivia sudah berdiri di belakangnya sambil menghunus pisau panjang di tangannya.
Dengan tatapan penuh kebencian, Olivia mendekati Ezha yang sedang fokus dengan uang yang ada dihadapannya. ‘Disini rupanya kau sembunyikan semua uang hasil menjual tubuhku,’ kata Olivia didalam hatinya. Dia kembali mengingat bagaimana Ezha mengancamnya waktu itu agar menghasilkan uang jika dia mau terus hidup karena pria itu sudah tidak mau menanggung biaya hidupnya lagi.
Tatapan Olivia semakin gelap. Didalam kepalanya saat ini hanya ada satu, bagaimana caranya melenyapkan pria itu secepat mungkin. Olivia sudah muak diperlakukan sebagai objek pemuas nafsu pria-pria yang tidak ia kenal. Namun sayang, Ezha terlanjur menoleh sebelum dia sempat menggerakkan tangannya.
“Ada apa kesini? Bukankah aku menyuruhmu mandi dan bersiap-siap? Sebentar lagi tamu itu akan datang,”ujar Ezha ketus. Dengan sigap dia memasukkan uang-uang itu kedalam brankas lalu menguncinya.
“Aku sudah mandi, tinggal berias saja,” jawab Olivia sambil menyembunyikan pisau dibelakang punggungnya. Tidak mungkin dia melakukan itu sekarang, dia akan menemukan waktu yang tepat untuk melenyapkan pria itu.
“Ya sudah pergi sana! Tunggu apalagi? Berhias sana, jangan sampai mereka membatalkan saat melihat tampangmu yang seperti monster itu,” bentak Ezha.
Olivia tak bergeming dari tempatnya berdiri, “Aku minta maaf atas sikapku tadi.” ucapnya.
Dia kembali menelan semua harga dirinya yang tersisa sambil menguatkan diri, ‘Sabar Olivia! Sekarang bukan waktu yang tepat menyingkirkannya. Kau tidak boleh gegabah,’ bisiknya dalam hati.
“Aku salah karena telah membantahmu. Maafkan aku Ezha,” lanjut Olivia dengan suara bergetar. Dia cukup pandai berakting, bagi Olivia tidak ada yang tidak bisa dia lakukan untuk mewujudkan keinginannya. Hati Ezha pun melunak mendengar permintaan maaf Olivia. Rasa bersalahpun menyelimuti hatinya.
__ADS_1
‘Apakah aku sudah keterlaluan padanya? Apakah sikapku terlalu keras? Kalau dipikir-pikir melayani sepuluh pria dalam sehari memang terlalu berlebihan.’ batinnya.
“Ehm, kembalilah ke kamarmu. Kau bisa istirahat malam ini,’ ujar Ezha dengan suara yang lembut.
“Tapi…..bagaimana dengan tamunya? Tadi kau bilang masih ada dua tamu lagi yang harus kulayani?” tanya Olivia.
“Akan kupindahkan jadwalnya untuk besok. Pergilah sebelum aku berubah pikiran,” lalu dia mendorong Olivia keluar dari kamar itu.
“Apa kau yakin tidak akan menjadi masalah? Bagaimana jika mereka memnita ganti rugi dua kali lipat karena membatalkan jadwal sepihak?” tanya Olivia lagi. Sejujurnya dia merasa bersyukur karena tidak harus melayani tamu lagi dan dia bisa istirahat, tapi dia pura-pura bersikap bersalah untuk menarik simpati Ezha.
“Sudahlah tak perlu kau pusingkan masalah itu. Aku akan buat alasan yang bisa mereka terima. Kau tidak perlu memikirkannya, nikmati saja waktu istirahatmu dengan baik,” ujar Ezha.
Didalam hatinya Olivia memekik kegirangan karena berhasil meluluhkan hati Ezha. ‘Kita lihat saja nanti Ezha! Tak lama lagi aku akan mengirimku kembali ketempatmu semula! Sampai kapanpun aku tetap Olivia Lee. Dia melangkah masuk ke kamarnya sambil memikirkan siasat. Setelah memikirkan dengan matang, dia pun memutuskan untuk mengikuti permainan Ezha untuk sementara.
Dia akan mencari peluang untuk melancarkan balas dendamnya pada Luke Malorri dan Verrel yang menurutnya sudah menghancurkan hidupnya. Kesialan demi kesialan selalu merundungnya sejak kedua pria yang disukainya itu masuk kedalam hidupnya. Wajahnya kembali berseri, lalu dia mematikan lampu dan menyusup kedalam selimut.
Untuk pertama kalinya semasa dalam pelariannya Olivia bisa kembali tersenyum sebelum tidur. Rencana yang ia susun mampu mengembalikan semangatnya yang dulu hilang.
**********
__ADS_1
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, untuk beberapa lama Deandra tidak bisa beraktifitas normal sejak operasi cesar, untungnya dia memiliki suami yang luar biasa sabar mengurusnya.
Selama menjalani masa pemulihan paska operasi, Verrel banyak menghabiskan waktu bersama istrinya. Dia yang menyuapi Deandra makan, menyeka tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Kedua pelayan pribadi Deandra hanya bertugas menemaninya dan menyiapkan makanan sehat untuknya.
Hampir semuanya dilakukan oleh Verrel sendiri dan melarang siapapun membantunya kecuali saat dia harus ke kantor. Inilah balasan cinta yang Verrel berikan pada istrinya yang telah memberinya lima orang anak yang lucu-lucu. Deandra sangat beruntung karena memiliki pria yang bisa menerima dan mengurusnya dengan baik di saat ia sedang tak berdaya.
Verrel pun sudah memutuskan agar Deandra tidak hamil lagi di masa depan. Setelah apa yang mereka lalui, dia tidak ingin kejadian serupa terulang kembali. Lagipun mereka sudah memiliki lima orang anak yang meramaikan rumah besarnya, mengurus lima anak bukan hal yang mudah meskipun dibantu oleh babysitter.
“Sayang, aku baik-baik saja dirumah. Ada banyak pelayan disini yang bisa mengurusku, apa tidak lebih baik kau fokus mengurus perusahaan saja?” tanya Deandra yang duduk bersandar diatas ranjang sambil disuapi oleh Verrel.
“Aku sudah janji akan mengurusmu sampai kondisimu pulih sepenuhnya. Aku yang membuatmu jadi seperti ini, soal perusahaan jangan khawatir ada Arion, Juan dan Opa disana.”
“Jangan bebani Opa dengan urusan perusahaan, dia juga harus banyak istirahat dan menikmati hari tua, bukan mikir pekerjaan lagi.”
“Hanya sementara saja. Begitu kamu sudah bisa beraktifitas lagi, aku akan kembali ke kantor.”
Waktu berjalan dengan cepat, kini Deandra sudah pulih dan bisa beraktifitas kembali. Hari-harinya disibukkan dengan mengurus kelima anaknya. Verrel kembali mengurus perusahaan dan hari-harinya kembali disibukkan seperti dulu. Yahya dan Viktor kembali ke aktifitas sehari-hari mereka bermain golf ataupun sekedar mengunjungi perusahaan cabang di luar kota.
Kehadiran lima orang cicit dimasa tua mereka membuat mereka lebih banyak menghabiskan waktu dirumah bersama lima cicit kesayangannya. Deandra sedang berbaring disamping suaminya, dia merasa kelelahan setelah digempur habis-habisan oleh Verrel yang sering puasa gara-gara ulah Naomi. Entah kenapa gadis kecil itu selalu saja menempel pada ayahnya dan bahkan malam hari pun maunya tidur bersama ayahnya.
__ADS_1
Akibatnya, waktu kebersamaan untuk Verrel dan Deandra pun sering terganggu dengan keberadaan si monster kecil, sedangkan Nathan lebih suka bermain dengan robot-robotan ataupun menemani kedua kakek buyutnya pergi main golf ataupun pergi memancing. Sedangkan ketiga Baby C tumbuh sehat dan bertubuh gemuk dan menggemaskan.