
PLAK! PLAK! PLAK!
Berulang kali Suryani menerima tamparan dan pukulan dari pengawal. Mereka tak peduli baik itu lelaki maupun perempuan, jika bersalah maka mereka akan menghukumnya dengan kejam.
“Apa kau tahu kalau temanmu atau sepupumu itu terbunuh?” bentak seorang pengawal pada Suryani dengan nada marah.
Mereka berhasil menangkap pelayan itu sebelum berhasil melarikan diri. Awalnya perempuan itu berusaha melepaskan diri tapi tenaganya tak kuat melawan para pengawal terlatih, akhirnya mereka menyeretnya dengan kasar lalu membawanya keruang bawah tanah. Kedua pelayan itu diikat saling berdampingan, mereka saling tatap dengan penuh emosi.
“Ha? A---apa maksudnya?”
“Masih pura-pura bodoh dan tak mau jujur?”
“Apa pria itu meninggal? Bagaimana mungkin? Siapa yang membunuhnya?” isak tangis Suryani pun pecah mendengar kabar duka itu.
“Mereka menemukannya terbunuh disana! Katakan apa hubunganmu dengan pria itu! Sekarang kau katakan siapa yang membayar kalian dan apa yang orang itu minta dari kalian!”
“Sa---saya tidak tahu. Pria itu adalah sepupu jauh saya, dia hanya ingin membantu saya mendapatkan uang tambahan untuk biaya berobat ibuku. Katanya ada seseorang yang membutuhkan informasi rutinitas harian dirumah utama.”
“Berapa yang kau terima?”
“Dayat memberikan saya uang tiga puluh juta rupiah.”
“Apa uang itu setara dengan nyawamu, ha? Kau hanya seorang pelayan disini dan gaji dirumah ini juga tinggi!” amarah pengawal itu meledak lalu menampar Suryani lagi untuk kesekian kalinya. Saking geramnya melihat pelayan itu, pria dengan bertubuh kekar dengan rambut plontos itupun menendang dan menginjak tubuh Suryani tanpa ampun.
“Jika kau butuh uang kenapa kau tidak bilang pada Yuna? Kau tega mengkhianati majikanmu, ha? Bahkan seekor anjingpun takkan pernah menggigit orang yang memberinya makan!” teriak pengawal itu.
Suryani tak berani mengangkat wajahnya dan hanya diam menyesali semua yang terjadi. Kini dia malah ketakutan jika dia akan dibunuh atau mungkin terbunuh seperti Dayat. Pelayan itu tidak pernah tahu siapa orang yang membayarnya, dia bahkan tidak pernah bertanya pada Dayat sebelumnya karena dia hanya memikirkan uang!
Bara memasuki ruang bawah tanah, saat melihat kedatangan pria itu Suryani makin ketakutan dan keirngat dingin mengucur saat Bara sudah berdiri dihadapannya dengan tatapan taja, Dengan suara tercekat dan memelas Suryani memberanikan diri bicara.
__ADS_1
“Pak….saya mohon ampun. Tolong maafkan saya, saya mengaku sudah berbuat salah tapi saya juga tidak tahu apa-apa.” isaknya.
“Masih bisa kau bicara panjang, hm.” suara Bara terdengar dingin.
“Saya mohon!”
“Memohonlah pada Tuan Besar dan keluarganya.” lalu Bara memberi kode dengan tangan pada anak buahnya yang langsung menyeret Suryani dan Minah keluar dari ruang bawah tanah.
Tangan dan kaki mereka diikat serta mulut disumpal kain, kedua mata mereka ditutup. Para pengawal membawa kedua pelayan itu meninggalkan rumah utama melalui pintu gerbang belakang tanpa dilihat siapapun.
******
Sementara itu dirumah sakit, tepatnya di lantai lima dimana ruang perawatan Deandra berada situasinya tampak tenang. Sesuai permintaan Verrel, dia meminta Romeo untuk memindahkan Wisnu dan korban kecelakaan ke lantai yang sama dengan istrinya untuk memudahkan penjagaan dan mengawasi orang-orang yang keluar masuk diarea tersebut.
Tampak hanya para pengawal yang berjaga-jaga disetiap ruang perawatan. Hanya ada satu lift saja dilantai tersebut karena disana hanya ada ruangan VVIP saja sehingga sulit bagi siapapun untuk naik ke area itu kecuali para staff rumah sakit yang bertugas dilantai lima.
Didalam ruang rawat Deandra tidak ada seorangpun menemaninya. Pelayan pribadinya Tami dan Dena baru saja pergi kembali kekediaman Ceyhan atas perintah Yuna karena dilakukan pemeriksaan dan interogasi pada semua pekerja dirumah itu.
“Apa-apaan kalian ini? Saya kesini untuk menjenguk Nyonya Deandra.”
“Tidak boleh. Hanya keluarga saja yang diperbolehkan berkunjung.”
“Saya mengenalnya dan pernah menjenguknya juga sebelumnya. Ada apa ini, masa mau jenguk orang sakit saja tidak boleh!”
“Kami hanya mematuhi aturan yang dibuat oleh Tuan Besar. Maaf kami tidak bisa membiarkan anda menjenguk. Silahkan pergi.” usir pengawal itu.
“Berani sekali mengusir, hu? Kalian tidak tahu siapa saya? Kalau Verrel tahu pasti kalian dipecat.”
“Kami tidak peduli. Kami bekerja untuk Tuan Besar dan hanya mematuhi aturan beliau. Silahkan pergi dan jangan mempersulit pekerjaan kami atau kami terpaksa menyeret anda dari sini.”
__ADS_1
“Kurang ajar. Aku telepon Verrel dulu.”
Para pengawal itu mengacuhkan Olivia karena mereka juga tidak mengenal wanita itu dan mereka hanya mematuhi peraturan dari Tuan Besar Yahya Ceyhan yang melarang orang luar menjenguk Deandra dan pasien lain di lantai lima itu. Hanya keluarga dekat saja yang diperbolehkan tapi Olivia tidak tahu soal itu. Dia marah mendapatkan perlakuan seperti itu.
“Halo.” terdengar suara Verrel dari seberang.
“Maaf mengganggumu,Tuan. Aku sedang berada dirumah sakit tapi para pengawal melarangku masuk. Aku hanya datang berkunjung saja.”
“Oh….memang itu aturan yang dibuat oleh Opa ku dan Opa Deandra.”
“Aaah….begitu rupanya.”
“Ya. Ada lagi?” tanya Verrel seakan enggan meladeni wanita itu.
“Tidak ada. Kalau begitu aku pulang saja, akan kutitipkan bunganya saja pada mereka. Oh iya, apakah anda ada dikantor?”
“Saya sedang diluar, masalah proyek kan kau sudah tahu kalau sepupuku Arion yang bertanggung jawab. Silahkan berurusan langsung dengannya. Kalau tidak ada hal lain, saya tutup teleponnya.” Verrel langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Olivia. Sedangkan wanita itu mendecak kesal setelah teleponnya terputus.
‘Sial! Kenapa jadi begini sih semuanya? Seharusnya melalui proyek kerjasama ini aku semakin dekat dengannya dan belajar banyak tentang bisnis. Sekarang aku malah harus berurusan terus dengan sepupunya itu. Arion tampan sih, tak kalah dengan Verrel tapi dia bukanlah Verrel.’ gerutunya sambil menendang-nendangkan kakinya.
Olivia membuang bunga yang dibawanya ketempat sampah diluar rumah sakit. Dia duduk diam didalam mobil membuat sang supir pun bingung. “Nona, saya harus antar kemana setelah ini?”
“Balik ke kantor, bapak saja yang naik keatas minta berkas dari asistenku lalu kita langsung ke proyek.”
******
Di TKP, empat orang anak buah Bara yang ditugaskan memeriksa rumah itu kembali menemukan bukti. "Coba lihat itu! Sepertinya itu terbuka atau tidak tertutup rapat atau....." ujar seorang pengawal sambil menunjuk kearah jendela kecil di kamar mandi.
Saat mereka menyentuh bagian sisi jendela, seperti tidak diplester dan jendela hanya dilekatkan begitu saja hingga kalsu didorong langsung terlepas. Sepertinya sengaja dilepas dan diletakkan seperti itu saja. Karena kamar mandi itu terletak di belakang rumah dan tidak terlalu diperhatikan.
__ADS_1
Ukuran jendela itu cukup dilalui orang bertubuh kurus. Di bagian jendela itu mereka menemukan sobekan kain dan juga rambut.