
Pak waluyo di tempatkan di bangunan belakang markas besar itu untuk keamanannya. Setelah semua barang bukti berada ditangan Verrel, dia membagi tugas pada masing-masing anak buahnya. Dengan kesaksian dari pengawal dan pelayan yang selamat dari kecelakaan, semuanya semakin jelas. Putri pak Waluyo sempat merekam pembicaraan yang tak sengaja dia dengar dan untungnya ponsel miliknya disembunyikannya diruang rahasia itu.
“Periksa truk yang menabrak mobil tempo hari. Telusuri semuanya jangan sampai ada yang terlewatkan. Siapapun orang ini, tampaknya dia sudah merencanakan sejak lama dan cara kerjanya sangat rapi.” ujar Verrel.
“Tuan, ini data yang berhasil diretas oleh tim IT dan tadi Hengky juga menghubungi saya katanya dia ingin bicara dengan Tuan.” ujar Bayu.
“Suruh dia menemuiku besok pagi di kantor. Minta dia membawa semua dokumen yang aku minta. Jangan sampai ada informasi yang bocor.”
“Baik, Tuan.” ucap Bayu. “Bagaimana dengan SG Group? Apakah Tuan ingin saya melakukan sesuatu pada mereka?”
“Kau tahu apa yang harus dilakukan, pastikan besok pagi harga saham mereka anjlok!” kata,Verrel. "Periksa semua proyek-proyek yang pernah mereka kerjakan dan juga yang masih berjalan."
“Oke, itu hal gampang. Akan segera saya lakukan!”
“Pastikan operasinya lancar dan tidak ada yang bisa melacak.” ucap Verrel lagi. “Aku mempercayakan tugas ini padamu karena istriku mempercayaimu.”
“Terimakasih,Tuan. Saya tidak akan mengecewakan Tuan.” kata Bayu.
“Bara….kembalilah kerumah dan periksa kembali keadaan dirumah. Pastikan semua aman karena tak lama lagi istri dan anakku akan kembali kerumah.” Verrel diam sejenak. "Minta Yuna untuk menyiapkan semua kebutuhan mereka, oh iya katakan padanya agar tidak merekrut pelayan baru untuk sementara waktu."
“Siap. Kami laksanakan sesuai perintah!” ucap Bara lalu beranjak pergi bersama anak buahnya. Di markas besar itu selalu ramai dengan anak buah Verrel yang bertugas menjaga keamanan keluarga dan perusahaannya, mereka selalu siap sedia dua puluh empat jam.
Di salah satu ruangan yang merupakan ruangan Tim IT dilengkapi peralatan canggih yang berfungsi untuk mengawasi semua kamera CCTV di perusahaan dan rumah keluarga Ceyhan. Tim IT itu juga memiliki kemampuan hebat yang mampu meretas sistem internet di manapun.
Verrel kembali ke rumah sakit pada sore hari setelah sebelumnya dia menemui anaknya dirumah. Sudah sedikit waktu yang dia punya untuk kedua anaknya sejak masalah beruntun menimpa keluarganya. “Hai sayang, maaf kalau hari ini aku agak sibuk. Bagaimana keadaanmu?” Tangannya membelai surai istrinya dengan penuh kasih sayang.
“Aku baik-baik saja. Aku mau lihat anakku.” ujar Deandra.
“Sabarlah. Kau baru saja sadar dari koma, besok kalau kondisimu sudah membaik aku akan membawamu melihat mereka. Bagaimana kalau kau lihat foto mereka dulu?” ujar Verrel mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto-foto ketiga bayinya.
“Ah…..mereka lucu sekali.” mata Deandra berbinar. "Mereka mirip denganmu."
__ADS_1
“Ya. Rumah kita akan semakin ramai nanti.”
“Kapan aku akan pulang kerumah? Aku bosan disini.” ujar Deandra lagi.
“Tunggu sampai kau membaik dan mendapat ijin dari dokter. Sabarlah sedikit, sayang.”
******
Dua hari kemudian.
“Tuan, kami sudah mendapatkan semua informasi yang Tuan inginkan.” ujar Jack memberikan dokumen dan flasdisk pada Verrel.
“Bagaimana keadaan Wisnu? Apa dia sudah membaik?”
“Sudah Tuan, dia ingin bertemu denganmu. Dia bilang kalau dia ingat wajah perempuan yang datang ke apartemennya di Singapura.”
“Bagus. Aku akan menemuinya nanti. Bagaimana dengan Zizi dan Kim? Apa mereka aman?”
“Ya. Tambah pengawalan untuk istri dan anak-anakku saat mereka keluar.”
“Baik. Tuan.”
Jack pergi meninggalkan gedung Ceyhan Group bersama beberapa anak buahnya yang tadi menunggunya di lobi kantor. Pria itu melajukan mobilnya kearah luar kota menuju suatu tempat yang harus dia selidiki sesuai perintah Verrel.
Verrel menyambungkan flashdisk ke laptopnya dan memeriksa semua file dan beberapa video rekaman cctv didalamnya. Keningnya mengeryit, rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal. Kemarahan tampak diwajah tampannya, “Sialan!” dia menggebrak meja dengan kuat.
Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Jack.
“Halo.”
“Kumpulkan semua di markas besar sore ini jam 6. Suruh Bara juga kesana!”
__ADS_1
“Baik, Tuan. Apakah anda sudah melihat isi flashdisknya?” tanya Jack.
“Sudah. Kita bicarakan nanti markas.”
“Baiklah.”
Klik….Verrel memutuskan sambungan telepon. Tak lama ketukan dipintu ruangannya, setelah dia mempersilahkan masuk, pintu terbuka. Tampak Olivia berjalan masuk bersama dengan asistennya. “Selamat siang.”
“Hem….” Verrel hanya melirik sebentar. “Ada masalah?”
“Ehem, begini ini soal proyek kerjasama perusahaan kita. Kapan jadwal kunjungan ke proyek?” tanya Olivia pura-pura tidak tahu jika Arion sudah memberitahu sebelumnya.
“Oh itu. Bukankah seharusnya akhir pekan? Aku akan suruh supir kantor membawamu kesana.”
“Oh begitu. Baiklah, lagipula aku memang tidak tahu jalan kesana. Ini dokumen yang harus kau periksa kembali. Maaf baru memberikannya sekarang karena kau sibuk dan aku tidak mau mengganggumu.” ujar Olivia lagi.
“Jika itu urusan pekerjaan sebaiknya kau jangan pernah menunda. Kau bisa titipkan pada Frans atau sekretarisku.” kata Verrel dingin.
“Baiklah, lain kali aku tidak akan mengulangi lagi. Dan soal penyediaan bahan, semua sudah kami atur dengan pemasok. Mereka akan tetap mengirimkan sesuai jadwal.” kata Olivia menjelaskan. Verrel hanya menganggukkan kepalanya.
“Kalau sudah tidak ada lagi, aku akan meeting sekarang.” ujar Verrel enggan berbicara lebih lama dengan wanita itu. Jika bukan karena pekerjaan yang sudah ditandatangani sebenarnya dia enggan berurusan dengan wanita dalam pekerjaan atau bisnis.
Asisten Olivia mengeryitkan keningnya menatap Verrel yang terlihat begitu acuh tak acuh, tapi dia hanya diam saja. Lalu mereka berdua meninggalkan ruangan itu.
Didalam lift, sang asisten bernama Siska itu sudah tidak tahan lagi pun berkata, “Apa pria itu memang seangkuh itu? Kalian adalah rekan bisnis tapi dia mengacuhkanmu.”
“Ya memang dia seperti itu, dia hanya akan tersenyum pada istrinya.” jawab Olivia.
“Dan pria seperti itu yang kau gilai...ckckck…..aku tidak paham cara pikir wanita kaya seperti kalian.” ucap sang asisten lagi.
“Sikap acuh dan dinginnya itulah yang membuat para wanita semakin tergila-gila. Apa kau masih normal? Tidakkah kau pikir dia sangat mempesona?” canda Olivia menggoda asistennya sekaligus teman dekatnya itu. "Dia itu pria sempurna. Tampan, kaya, pintar, sukses lagi. Apalagi yang kurang?
__ADS_1
“Ya dia sangat tampan dengan tubuh sempurna. Tak bisa disangkal kenapa dia dijuluki si penguasa ranjang. Aku cuma bingung bagaimana istrinya bisa tahan menghadapi pria itu?” ujar Siska itu. "Aku memilih tidak punya suami seperti itu yang punya banyak wanita."