TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 254. KUNCI PERMAINAN


__ADS_3

Kunci dari permainan ini sudah ada ditangannya jadi dia bisa membalikkan keadaan secepatnya. Pada hari itu Ceyhan group beroperasi seperti biasanya. Gedung megah milik perusahaan besar itu selalu sibuk, ribuan karyawan bekerja digedung termegah diibukota itu. Verrel baru saja tiba didepan pintu masuk, lalu keluar dari mobilnya. Hari ini dia mengenakan setelan jas pilihan istrinya, setelah sekian lama dia tidak dilayani istrinya di pagi hari pasca operasi, tapi hari ini adalah hari pertama Deandra menyiapkan keperluannya sebelum berangkat ke kantor.


Suasana hatinya sangat baik sejak istri dan ketiga anaknya sudah kembali kerumah. Dengan langkah tegas dia memasuki gedung itu dimana para karyawan sudah berdiri menyambutnya seperti biasa di lobi. Verrel menggendong kedua anaknya, didampingi Frans dan para pengawal. Babysitter mengikuti di belakang dengan membawa troli dan tas berisi kebutuhan baby N.


“Selamat pagi Tuan. Selamat pagi Tuan Muda dan Nona Muda.” sapa para karyawan serempak. Naomi tersenyum sumringah, dia sangat menyukai keramaian dan dia melambaikan tangan mungilnya.


“Haiiii…..pagi!” ujar Naomi dengan suara imutnya sambil tersenyum. Tangannya sibuk melambai sedangkan Nathan hanya diam menatap semua orang. Ekspresi wajah tampannya yang dingin persis sama dengan Verrel.


“Aihhhh lucu sekali! Menggemaskan.” bisik-bisik para karyawan.


“Tuan muda juga tampan. Kalau sudah besar pasti jadi rebutan!”


Verrel hanya mengangguk menjawab sapaan para karyawannya. Mereka masuk kedalam lift khusus menuju lantai teratas dimana ruang kerjanya berada. “Frans! Hari ini selesaikan semua tugas yang kemarin kuberikan.”


“Baik, Tuan. Saya juga sudah mendapatkan daftar proyek besar yang berpotensi yang dilelang oleh SG Group. Sudah saya letakkan diatas meja kerja Tuan.” jawab Frans.


“Hem, bagus sekali. Kita harus bergerak cepat!.”


“Kumpulkan semua manager departemen diruang meeting dalam tiga puluh menit.”


“Mendadak sekali Tuan?”


“Iya karena ada hal penting yang harus dibicarakan! Cepat lakukan.”


Verrel keluar dari lift dan berjalan menuju ruang kerjanya, sedangkan Frans langsung berkoordinasi dengan tim sekretaris membuat pengumuman meeting mendadak kepada seluruh manager departemen. Verrel meletakkan Naomi dan Nathan diatas sofa, “Kalian main disini dulu ya, papa mau kerja.” ujarnya lalu berjalan ke meja kerjanya. Tumpukan dokumen memenuhi meja kerjanya yang harus segera diselesaikan sebelum berangkat ke Swiss.

__ADS_1


Nathan lebih memilih bermain lego dan Ipad. Sedangkan Naomi yang hanya bisa diam sebentar pun bergegas turun dari sofa dan berjalan kearah meja kerja Verrel.  Pria itu sedang fokus menandatangani dokumen penting saat dia merasakan ada yang menarik celananya. Dia menoleh kebawah dan melihat Naomi sedang tersenyum menunjukkan gigi susunya. “Jangan ganggu papa mau kerja dulu. Kakak main disana ya sama suster.” Naomi menggelengkan kepalanya dan berusaha naik ke pangkuan Verrel.


Verrel mengangkatnya lalu mendudukkan dipangkuannya. “Papa kerja, jangan pegang barang-barang ini ya sayang?” ujar Verrel. Naomi memandangi meja kerja yang penuh dengan dokumen. Tangan mungilnya hendak menyentuh dokumen didepan Verrel. Tangan pria itu cepat menghentikannya, “Mau bantu papa tandatangan ini ya?”


Lalu Verrel memegang tangan mungil Naomi yang sudah memegang pena, lalu perlahan Verrel menggerakkan tangan Naomi menirukan tanda tangannya.


Selesai menandatangani satu dokumen, Naomi tertawa girang sambil bertepuk tangan. “Nanti kalau sudah besar, Naomi bisa bantuin papa dikantor.”


Wajah kecil itu mendongak menatap Verrel, dia langsung mencium pipi gembul yang menggemaskan. “Naomi mau makan es krim?” tanya Verrel.


“Mau….mau.”


Lalu Verrel membawa Naomi dan meletakkannya diatas karpet. “Tunggu sebentar ya, papa ambil es krim.” lalu dia meminta sekretarisnya membeli beberapa macam es krim dan waffle kesukaan anaknya.


Tak lama Ferdy kembali dengan beberapa paperbag berisi es krim dan waffle coklat dan strawberry. Lalu meletakkan diatas meja, “Tuan, sebentar lagi meeting dimulai.”


“Baik, Tuan.” Ferdy bergegas keluar ruangan.


“Suster, bantu anak-anak makan es krim dan wafflenya. Saya mau meeting dulu, pastikan mereka tidak menyentuh apapun selama saya pergi. Kalau mereka bosan, bawa saja mereka jalan-jalan keliling perusahaan tapi jangan bawa keluar, paham?”


“Paham Tuan.”


Verrel memberikan beberapa intruksi pada babysitter baby N dan pengawal. “Kalau mereka bosan, kalian boleh membawa Nathan dan Naomi jalan-jalan keliling kantor tapi jangan membuat keributan. Ruang meeting satu lantai dibawah. Kalau ada apa-apa bawa saja mereka ke aula dekat ruang meeting. Paham?” Lalu dia pun pergi ke ruang meeting. Nathan dan Naomi tinggal diruang kerja Verrel menikmati es krim bersama babysitter dan dua pengawalnya.


Di waktu yang bersamaan di Singapura.

__ADS_1


Wisnu yang wajahnya sudah berubah, pagi itu bersiap-siap bersama beberapa orang tim-nya untuk menghadiri lelang proyek SG Group. Dia sedang menerima telepon dari Verrel, “Selamat pagi Tuan.”


“Wisnu! Apa semuanya sudah siap?” tanya Verrel.


“Sudah Tuan. Sebentar lagi kami akan berangkat ke lokasi lelang. Apa ada perintah baru, Tuan?”


“Karena hanya kau yang mengenali wajah wanita itu, pastikan kau bisa mendapatkan fotonya yang jelas untukku! Biar aku sendiri yang akan berurusan dengannya. Ingat! Dapatkan proyek sesuai daftar yang sudah kuberikan padamu.”


“Baik, Tuan. Saya sudah memakai kamera di kancing baju sesuai perintah Tuan. Orang-orang yang ikut menghadiri lelang juga sudah memasang kamera. Saya pastikan akan memberikan semua informasi yang Tuan butuhkan dan segera saya kirimkan nanti.”


“Bagus! Kalian berhati-hatilah disana. Saya sudah mengirimkan beberapa pengawal tambahan untuk mengawasi kalian dari jauh agar tidak mencurigakan.”


“Baik. Terimakasih Tuan.” ujar Wisnu lalu sambungan telepon pun putus. Wisnu dan anggota tim-nya yang sudah bersiap pun bergegas meninggalkan hotel menuju lokasi lelang.


“Wisnu! Apa ada perintah baru dari Tuan Verrel?” tanya Hengky.


“Tidak ada. Jangan panggil aku Wisnu agar tidak ada yang curiga.”


“Oh maaf, aku lupa.”


Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di Gedung SG Group. Sebelum turun dari mobil, mereka memeriksa kembali semua perlengkapan lalu turun dan memasuki gedung itu. Seorang staff segera menyambut dan membawa rombongan itu menuju ruang meeting.


Didalam ruangan itu sudah ada beberapa orang dari perusahaan lain yang ikut lelang proyek. Wisnu mengedarkan pandangan dan mengenali dua orang yang berdiri di depan. Kedua pria itu adalah orang yang ikut bersama Stefanie malam itu memukulinya di apartemennya. Mata Wisnu memicing, mengingat kejadian keji malam itu.


Suara ketukan sepatu high heels terdengar memasuki ruangan, seorang wanita cantik mengenakan setelan jas dengan riasan tipis menghiasi wajahnya. Wisnu mengenali wanita bernama Stefanie itu namun rekannya yang lain tidak mengenali. Wisnu pun menekan satu kancing bajunya untuk memberi kode pada rekannya bahwa itulah wanita yang mereka incar.

__ADS_1


Rekan Wisnu lainnya meliriknya lalu menganggukkan kepala tanda mengerti, mereka mengarahkan kamera di kancing baju mereka kearah wanita itu sesuai perintah Verrel. Untuk menghindari kecurigaan, mereka pun mulai membuka dokumen didepan mereka yang berisi daftar proyek yang dilelang.


Setelah rapat dibuka dan seorang staf SG Group menerangkan peraturan untuk lelang proyek serta presentasi singkat tentang prospek proyek yang dilelang. Selanjutnya acara penawaran pun dibuka, tampak Stefanie duduk dengan punggung tegak mengedarkan pandangannya kesekeliling, memperhatikan setiap orang yang hadir disana. Matanya sejenak berhenti pada Wisnu namun dia tidak mengenali pria itu yang sudah merubah wajahnya dan identitasnya..


__ADS_2