
Ponsel Verrel tak henti berdering sejak berita viral di media sosial. Kedua kakeknya Yahya dan Viktor pun menanyakan perihal itu begitupun Ayu dan keluarga Sandjaya turut mempertanyakan berita viral yang memalukan itu.
Namun setelah mereka mendapat konfirmasi dari Verrel, semua orang menghela napas lega. Terutama Ayu yang mengenal betul anaknya, tidak mungkin melakukan hal memalukan seperti itu. “Verrel! Bagaimana reaksi menantuku mengenao berita itu?”
“Sangat marah, Ma!” jawab Verrel.
“Sudah pastilah. Mama saja marah!” geram Ayu.
“Dia sudah tenang sekarang setelah tahu kebenarannya. Hanya dia dan mama yang tahu kalau aku tidak punya tato itu ditubuhku. Tapi sekarang aku harus berangkat ke Swiss, ada hal penting yang harus ku urus.” ujar Verrel.
“Lantas, bagaimana tenta berita viral itu? Opini publik sudah merajalela, bisa merusak nama baikmu dan keluarga! Apa yang akan kau lakukan Verrel?” tanya Ayu yang sedikit mulai merasa cemas lagi memikirkan masalah itu. "Istrimu baru keluar dari rumah sakit, jangan sampai kondisinya drop karena masalah ini. Kau tahu kan betapa kejamnya opini netizen."
“Mama, tenang saja. Aku sudah meminta anak buahku untuk menangani itu. Hanya kerjaan iseng seorang perempuan gila!” ujar Verrel.
“Siapa perempuan gila yang kau maksud?” tanya Ayu penasaran karena setahunya, sejak menikah Verrel tidak pernah lagi main perempuan seperti dulu.
“Mantan rekan bisnis kita, Ma! Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Semua akan baik-baik saja yang penting istriku percaya padaku, itu yang penting.”
“Baguslah kalau begitu mama tenang. Kabari mama ya mana tahu ada yang bisa mama dan Peter bisa lakukan untuk membantumu.”
“Baik, Ma. Terimakasih buat dukungan mama. Oh iya, aku titip istri dan anak-anak selama aku pergi ya ma.” pinta Verrel.
“Ya. Mama akan sering kesana menemani Deandra dan cucuku. Mama merindukan mereka.”
Setelah percakapan dengan ibunya berakhir, Verrel memerintahkan anak buahnya untuk menangani masalah berita yang sedang viral. Jack diperintahkan untuk mencari keberadaan Olivia dan melaporkannya ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik.
Masih ada hal penting lainnya yang harus diselesaikan oleh Verrel sehingga dia tidak bisa mengadakan konferensi pers untuk meredam opini publik yang sedang berkembang mengenai foto dan video mesum yang mirip dirinya.
Waktu bergulir hingga pukul tujuh delapan malam, setelah menghabiskan waktu makan malam bersama keluarganya Verrel pun berangkat ke bandara. “Baik-baik dirumah bersama anak-anak ya sayang. Begitu urusanku di Swiss selesai, aku segera pulang.” Verrel mengecup istrinya.
“Hati-hati dijalan. Jaga dirimu baik-baik selama disana ya suamiku. Aku dan anak-anak menunggumu dirumah.” balas Deandra memeluk erat suaminya.
Verrel berangkat ke Swiss bersama Frans, Bayu dan beberapa orang kepercayaan dan pengawalnya. Mereka menuju bandara dan langsung menuju jet pribadi milik keluarga Ceyhan yang akan membawa mereka ke Swiss. “Bayu! Apa semuanya sudah diamankan disana?”
“Sudah Tuan! Saya sudah berhasil meretas sistem keamanan di tempat tujuan kita.”
__ADS_1
“Bagus! Begitu kita tiba disana, kita langsung menuju lokasi dan menyelesaikan semuanya. Pastikan tidak ada rekaman jejak keberadaan kita di lokasi nantinya.”
“Baik, Tuan.”
Mereka pun duduk diam didalam pesawat pribadi dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Setelah pesawat lepas landas, perbincangan kembali berlanjut membahas tentang langkah-langkah yang akan mereka lakukan selama di Swiss. Verrel yang memegang kunci emas untuk membuka brankas disalah satu tempat penyimpanan eksklusif untuk barang berharga menatap benda ditangannya.
“Aku dan Frans serta seorang pengawal akan masuk ketempat itu. Bayu dan yang lainnya berjaga-jaga diluar, kami tidak akan memakan waktu lama didalam jadi kalian harus memastikan semua berjalan lancar. Sistem pengaman dan cctv harus sudah dikendalikan saat kami masuk kedalam.”
“Semua sudah diatur oleh orang kita disana, Tuan.” jawab Frans.
“Bagus! Setelah ini selesai, kita bisa menjalankan rencana selanjutnya.” ucap Verrel.
“Tuan akan menjadi orang paling berkuasa jika benda itu sudah ada ditangan.” ujar Bayu.
“Hem…..benda itu sangat penting. Tidak boleh jatuh ketangan orang lain apalagi orang yang salah. Akan sangat berbahaya. Setidaknya, aku mendapatkan kembali sesuatu yang memang milikku. Aku akan mengembangkannya untuk kepentingan banyak orang.”
Beberapa jam kemudian, pesawat yang ditumpangi Verrel baru saja mendarat mulus. Dia menyeret koper kecil menuju mobil jemputan diikuti oleh Frans dan yang lainnya. Dia baru saja menerima email dari Wisnu yang melaporkan semua berjalan lancar di Singapura lalu dia mengeluarkan ponselnya menghubungi Wisnu.
“Halo, Tuan. Baru saja saya ingin menghubungi anda.” kata Wisnu begitu telepon tersambung.
“Sepertinya SG Group masih kekurangan banyak dana meskipun semua proyek berpotensial mereka sudah dijual.”
“Bagaimana dengan perempuan itu?” tanya Verrel pada Wisnu. Dia penasaran dengan suara Wisnu yang terdengar lelah.
“Dia baru saja meninggalkan kamar hotel saya, Tuan.” jawab Wisnu.
“Wisnu! Kau gila! Jangan bermain api!” teriak Verrel terkejut mendengar kenekatan pria itu.
“Maaf Tuan. Hanya dengan cara ini saya bisa mendekatinya, dia bahkan tidak menolak. Saya sudah memasukkan alat penyadap di ponsel dan beberapa barang pribadinya.”
“Bagus! Kerja bagus Wisnu! Dasar gila kau!” Verrel menggelengkan kepalanya.
“He he he….well hanya itu ide terbaik saat ini, Tuan.”
“Lacak terus! Laporkan setiap percakapan yang mencurigakan.”
__ADS_1
“Baik,Tuan. Apakah ada hal lain yang harus saya lakukan selama disini?” tanya Wisnu lagi.
“Bagaimana dengan tim lainnya? Hasilnya?”
“Mereka sudah mendapatkan bukti pencucian uang yang dilakukan SG Group. Saya sudah kirimkan ke email anda, Tuan. Apa belum melihatny?”
“Kami baru mendarat. Akan saya cek setelah ini.”
“Baik, Tuan. Untuk bukti-bukti lain akan segera kami dapatkan.”
“Bagus! Minta seseorang untuk menyerahkan bukti yang ada ke pihak berwajib di Singapura. Kita tidak boleh terlibat langsung.”
“Mengerti! Akan saya lakukan sesuai perintah.”
“Baiklah.” ucap Verrel memutuskan sambungan telepon dengan hati puas. Tidak lama lagi satu urusan akan selesai dan tidak akan ada lagi pengganggu.
Tak lama teleponnya kembali berdering. “Ya ada apa Jack?”
“Tuan, saat kami mau meredam berita viralnya. Tapi sepertinya sudah didahului orang lain. Berita itu hilang begitu saja.” kata Jack melaporkan.
“Oh ya? Siapa yang melakukannya? Tidak mungkin perempuan gila itu.”
“Sepertinya ada orang lain yang tidak menyukai berita itu lalu menghapusnya. Setelah berita itu terhapus muncul video lain yang berhubungan dengan Olivia.
“Apa masih tentang aku?” tangan Verrel mengepal.
“Bukan Tuan.Video di Sky Lounge. Saya sudah kirimkan videonya pada Tuan.”
“Hem. Lalu apa lagi?”
“Seseorang tampaknya membantu Olivia menyebarkan berita dan foto itu tapi kami belum dapat menemukan identitas orangnya. Tapi kami mendapat rekaman CCTV dia bertemu seseorang kemarin.”
“Cari terus!” perintah Verrel.
__ADS_1