
Dengan langkah tergesa-gesa Verrel keluar dari kantornya. Semua karyawan yang melihatnya pun menatap bingung melihat sikap bos-nya yang aneh. Setelah mendengar kalau Deandra sudah siuman, membuat pria itu merasa senang dan tak sabar untuk pulang. Namun, masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya tentang Deandra dan Romeo.
Verrel tiba di kediamannya bersama sang asisten. Mobil sport miliknya ditinggal di kantor dan ia bersama Frans mengendarai mobil lainnya. Derap langkah tegas Verrel membuat para pengawal yang berjaga di pintu gerbang dan pintu utama kelabakan. Pasalnya, tak ada pemberitahuan jika sang tuan besar akan pulang cepat.
“Maafkan kami, Tuan. Kami tidak tahu jika Tuan Besar akan pulang cepat hari ini,” ucap salah satu pengawal. Verrel hanya mengibaskan tangan saja yang membuat pengawal itu tak lagi bersuara. Hal itu juga berefek pada para pelayan yang berlalu lalang dalam rumah. Merekapun melakukan hal yang sama, tapi diabaikan oleh sang tuan besar.
“Kenapa hari ini tidak ada pemberitahuan jika Tuan Besar pulang cepat?” bisik Nita yang merasakan gemetar diseluruh tubuhnya.
“Mungkin kepala pelayan Yuna terlalu sibuk dengan wanita baru itu hingga lupa memberitahu kita,” balas Mila-pelayan bagian dapur yang selalu mencari-cari perhatian Verrel dan jutek.
“Sssst…..jangan membicarakan dia, Mila. Wanita itu adalah tamu spesial dirumah ini. Dia adalah nona muda.”
“Ck, apanya yang spesial? Dengan muka yang lebam itu, kau pikir dia menarik?” Mila mencibir ketus dan terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka pada majikan barunya.
“Berhati-hatilah saat kau bicara, Mila,” peringat Nita tegas.
“Kita lihat saja…..apakah dia akan berakhir seperti wanita-wanita Tuan Besar sebelumnya.”
Nita tak lagi menanggapi karena ia cukup tahu diri. Namun, tidak dengan Mila. Pelayan itu bahkan secara terang-terangan menyamakan kehadiran Deandra dengan wanita Verrel lainnya.
“Siapa yang memberi ijin kalian menggunjingkan tamu Tuan Besar?”
Suara dingin sang kepala pelayan menyentak kedua pelayan itu dari belakang. Hal itu membuat Nita gemetaran dalam sekejap.
“Ma--maaf, Bu Yuna, kami tidak bermaksud bergunjing, tapi….”
“Kembali ke tempat kalian sebelum aku menyuruh anak buah Frans menyeret kalian untuk menerima hukuman.” Perintah Yuna bernada dingin dan menusuk itu membuat Nita gelagapan. Namun, tidak dengan Mila yang seolah meremehkan kuasa wanita yang menjadi kepala pelayan dirumah itu.
Nita segera menarik tangan Mila dan kembali ke tempat dimana mereka seharusnya berada. Mila yang tak terima menghempaskan tangan Nita dengan kasar.
“Mila, kau jangan nekat!” peringat Nita.
“Kau tidak perlu memikirkanku. Urus saja dirimu sendiri.” Mila sangat percaya diri meninggalkan Nita termangu dilorong menuju dapur.
...**...
Verrel melangkahkan kaki menuju diikuti sang asisten. Dia tidak langsung melihat kondisi Deandra, lelaki itu memilih kembali ke kamarnya terlebih dahulu.
“Ada yang Tuan butuhkan sebelum saya undur diri?” tanya Frans dengan sopan.
Verrel berhenti tepat di tengah kamarnya. Tanpa membalikkan badan, ia memberi satu perintah pada sang asisten. “Panggil Yuna kemari!”
“Baik, Tuan.”
Tak lama berselang, Yuna datang bersama dua pelayan yang mengurus semua kebutuhan sang Tuan Besar.
__ADS_1
“Yuna menghadap, Tuan.”
Lelaki yang kini sedang bersantai di kursi mini bar didalam kamarnya itu menyesap sampanye di gelasnya sebelum bertanya pada Yuna.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Verrel dengan suara memberat.
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Yuna bingung. Karena ia tahu siapa yang dimaksud sang tuan besar. “Nona muda sudah membaik, Tuan. Tadi dokter Romeo mengatakan sudah kembali normal,” jawab Yuna dengan sopan.
“Aku punya satu tugas penting untukmu, Yuna.”
“Ya, Tuan.”
Tak langsung berbicara, Verrel menghabiskan sisa sampanye di gelasnya sebelum ia membalikkan badan.
“Aku ingin kau merawatnya dengan baik. Khususnya untuk beberapa hari kedepan,” kata Verrel. “Berikan dia makanan yang bergizi, buat hatinya senang, dan jangan lupa untuk membuat penampilannya menarik pada sabtu nanti.”
Yuna begitu terkejut, bingung dan heran. Tentu saja perintah itu terdengar aneh. Sejak kapan sang tuan besar peduli dengan seorang wanita asing? Apalagi meminta dirinya secara langsung untuk memberikan pelayanan spesial? Ini benar-benar tidak masuk akal.
“Kau mendengarkanku, Yuna?” suara bariton Verrel menggema dengan aura yang menakutkan. Yuna tersentak. “Maaf, Tuan. Saya bersalah tidak mendengarkan perintah Tuan dengan baik.” Ia membungkukkan badan saat mengatakannya.
Verrel mendengus kesal. Ia pun mengulangi perintahnya dengan nada lebih tegas dan tak melepaskan tatapannya pada Yuna. “Apa kau sudah mendengar dengan baik Yuna? Kalau tidak, kau akan menerima hukuman sebelum bertugas.”
Yuna cukup tahu arti hukuman yang diucapkan sang tuan besar. Ia segera menjawab dengan sopan. “Saya paham, Tuan. Saya akan melaksanakan tugas dari Tuan dengan sebaik-baiknya.”
Namun, Verrel juga tak segan-segan memberikan hadiah bagi siapa saja yang menurutnya pantas dan perlu diberikan imbalan. “Jika kau sudah mengerti, kau bisa keluar.”
“Baik, Tuan,” jawab Yuna. “Tapi apakah ada permintaan khusus yang perlu saya siapkan untuk makan malam, Tuan?” tanya Yuna kemudian.
“Siapkan wanita itu untuk makan malam bersamaku.” kata Verrel.
Yuna terkejut dan mengangkat pandangannya. “Maaf, Tuan. Maksud anda?”
“Aku ingin makan malam bersama wanita itu.”
...**...
Deandra bingung dengan dua orang pelayan yang berada dikamarnya. Salah stau dari mereka tampak sibuk dengan beberapa dress malam yang berkialaun dan satunya keluar masuk kamar mandi seperti menyiapkan sesuatu. Tak bisa menahan rasa penasarannya, ia memanggil salah satu diantara mereka. “Tami, bisakah kau kesini sebentar?”
Pelayan yang disebut namanya melangkah mendekat, setelah meletakkan beberapa dress di gantungan. “Saya, Nona Muda.”
“Kenapa kau mengeluarkan banyak pakaian?” tanya deandra seraya menunjuk dimana ada beberapa dress digantungan.
“Ah, itu. Bu Yuna mengatakan jika Tuan Besar meminta Nona keluar kamar,” jawab Tami dengan sopan. Deandra mengerjap bingung.
“Maksud saya, Tuan mengajak Nona makan malam.”
__ADS_1
Kali ini bukan saja mengerjap tapi mebelalakkan mata. “M-makan malam?”
Tami mengangguk antusias. “Iya, Nona. Tadi Bu Yuna berkata seperti itu.”
“Untuk apa-”
Pertanyaan deandra terputus karena terlihat Yuna masuk dan mendekatinya.
“Selamat sore, nona muda.”
Deandra mengalihkan pandangannya pada Yuna, Deandra lantas bertanya,”Apa benar kata Tami jika Tuan kalian ingin makan malam beersamaku?”
“Benar, Nona.”
“Tapi untuk apa?”
Yuna mendadak bingung harus menjawab pertanyaan deandra.
“Mungkin tuan besar ingin menyambut kedatangan nona dirumah ini,” celetuk Tami asal. Dan perkataan itu mendapat respon mengejutkan bagi Deandra dan Yuna.
“Maaf ata kelancangan saya, Nona Muda," ujar Tami sambil menundukkan wajah karena salh tingkah. Deandra yang mengerti langsung mengubah raut wajahnya “Ah mungkin kau benar, Tami.”
Namun, deandra tak juga tersenyum dan hal itu tak luput dari pengamatan Yuna. Sang kepala pelayan itu kemudian memerintahkan pada Alya dan Nita untuk membantu Deandra bersiap.
Deandra menurut saja ketika alya mebantunya bersiap setelah selesai mandi dan keramas. Ia tak protes lagi, mengingat tak ingin Nita mendapat hukuman. Dress berwarna merah muda berbahan sutra melekat ditubuhnya, meskipun awalnya ia menolak karena menurutnya terlalu berlebihan. Tapi ia tak menolak saat Alya merias wajahnya sedemikian rupa.
“Sudah, Nona.”
“Terima kasih, Alya.”
Deandra menatap ke cermin yang menampilkan pantulan dirinya yang terlihat semakin cantik, ia tersenyum manis. “Sudah siap, Nona?” tanya Yuna yang berdiri dibelakang Deandra sambil menatap kagum pada penampilan gadis itu yang terlihat sangat berbeda.
“Iya, seperti yang kamu lihat. Aku siap menemui tuan kalian,” jawab deandra.
Tak ada yang berani mengomnetari cara bicara Deandra karena dia adalah tamu spesial dan perlakuan Tuan Besar pada gadis itu sangat istimewa. “Mari, Nona."
Deandra teersenyum dan mengikuti kepala pelayan itu. Sepanjang perjalanan keruang makan, ia sangat terkejut melihat keindahan dan kemewahan yang bahkan orang lain belum pernah lihat. Mansion milik Verrel sangat mewah dan megah dengan desain yang berkelas. Untuk masuk keruang makan saja ia melewati sebuah pintu besar menjulang berwarna keemasan.
“Silahkan duduk, Nona. Tuan akan datang sebentar lagi.” Yuna menarik satu kursi untuk Deandra. Sambil menunggu pemilik rumah datang, ia mengedarkan pandangannya pada lukisan-lukisan yang terpampang di setiap dinding. Dia kagum melihat keindahan ruangan itu hingga lupa akan rasa tidak nyamannya yang sempat menganggunya.
Tak lama kemudian, suara Yuna terdengar menyambut seseorang yang Deandra yakini sebagai pemilik rumah. Ia merasa tegang dan secara refleks langsung berdiri. Deandra tiba-tiba membalikkan badan dan membelalakkan matanya, terkejut dan detak jantungnya snagat kencang. Dia tercekat dalam emosi yang memburu memandang pria yang berdiri tidak jauh darinya. Ingin ia teriak mengumpat pria itu, namun tenggorokannya terasa tercekat dan ucapannya hanya terdengar seperti desisan saja.
Pria itu mendekat dengan seringai diwajahnya, suara deandra terdengar bergetar “K—kau”
Ucapan gadis itu teredam karena dengan gerakan cepat tangan kekar itu dengan lincah menarik pinggangnya dan memeluknya. Melihat itu membuat Yuna sangat terkejut dan memilih meninggalkan mereka. Kepala pelayan itu sangat kaget melihat sang tuan besar dan wanita itu berciuman.
__ADS_1