TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 91. HANCURNYA KARINA


__ADS_3

“Bagaimana persiapannya?” tanya Verrel pada William yang pagi itu menemuinya di kantor.


“Malam ini anak buahku bergerak. Sepertinya dia sudah merencanakan akan bertemu kakak. Apa yang kakak mau lakukan padanya?”


“Dia pikir aku sudi melihat mukanya?” jawab Verrel. “Selesaikan malam ini, aku sendiri yang akan menghajar perempuan laknat itu!”


“Tidak usah kak. Kakak punya keluarga, aku masih  jomblo. Biar aku selesaikan sendiri.”


“Baiklah. Kalau ada apa-apa hubungi aku,”


“Siap, kak. Hanya menghadapi seorang perempuan bukan hal sulit.”


“Ya, aku tahu. Tapi Karina adalah wanita nekat dan gila.”


“Dia tidak punya siapa-siapa lagi jadi kalau lenyap tidak akan ada yang mencarinya.” kata William tersenyum. Lalu dia bangkit dari duduknya dan melangkah pergi lalu berhenti didepan pintu. “Bagaimana dengan si brengsek itu?”


“Masih menikmati bulan madu. Belum ada pergerakan.” jawab Verrel tak semangat jika membahas Rico.


“Oh..” hanya itu yang keluar dari bibir William.


...*...


“CUKUP! Aku tidak mau makan lagi, Yuna,” teriak Deandra untuk kesekian kalinya.  Ia selalu kesal saat disuruh makan.


“Tapi, nyonya--”


“STOP! STOP!” pekik Deandra sembari mengarahkan telapak tangannya kedepan dan napasnya terengah-engah.

__ADS_1


“Kalau kau tetap memaksaku makan, maka aku akan memukulmu,” desis Deandra kemudian sambil meraih bantal dan hendak melemparnya pada Yuna.  Melihat tingkahnya membuat Yuna dan kedua pelayan lainnya tak bisa menahan tawa.


“Kau! Berani tertawa?” bersamaan dengan suara pintu kamar terbuka membuat Deandra menghentikan ucapannya. Melihat Yahya datang membawa paperbag yang langsung menarik perhatiannya. “Opa? Apakah itu--?” sorot matanya berbinar.


“Opa, bawakan pesananmu.” jawab Yahya.


Deandra berteriak mengepalkan tangan lalu membuang bantal kearah Yuna dan meraih paperbag dari tangan Yahya. Melihat rujak dengan sambal yang banyak membuat lidahnya menjilat tepi bibibrnya. Alya langsung memindahkan rujak itu ke piring dan memberikannya pada Deandra. “Ini Nyonya.”


...*...


“Sepertinya perempuan itu masih didalam, kalian masuk sekarang,” perintah William pada anak buahnya yang sudah mengepung villa dipuncak bukit itu.


Empat orang penjaga digerbang depan berhasil dilumpuhkan. Dua pria berpakaian hitam melesat menuju pintu utama villa sedangkan yang lainnya berpencar karena ada beberapa pria yang menyerang mereka tiba-tiba. Semua cctv sudah berhasil mereka matikan.


Tiba-tiba pintu terbuka dor dor dor...tiga orang pria langsung terkapar bersimbah darah terkena timah panas milik anak buah William.  Mereka langsung menerobos masuk dan mendapati sekitar dua puluh orang sudah menghunuskan samurai.


Kemudian mereka berpencar memeriksa seluruh ruangan untuk memastikan semua pengawal sudah dilumpuhkan. Pintu kamar terbuka, kamar yang kedap suara itu membuat seorang wanita yang berada didalam tidak tahu apa yang sedang terjadi diluar. Ia baru keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat kehadiran seorang pria tampan dengan tatapan tajam berdiri dihadapannya.


“Si-siapa kau?”


“Kenapa kau bertanya huh? Apa kau lupa siapa aku?”


Tangan wanita itu langsung meraih pistol yang berada di nakas. “Bagaimana kau bisa masuk kesini?” tanyanya mengingat banyak pengawal di villa itu. Seakan mengetahui apa yang dipikirkan oleh wanita itu, William menyeringai.


“Oh, pengawalmu sudah mati semua. KARINA!”


“Aku tidak mengenalmu dan tidak ada urusan denganmu!” ucapnya namun matanya menatap nanar ke wajah tampan itu, seakan dia ingat pernah melihat wajah itu.

__ADS_1


“Sudah pasti kau ada urusan denganku. Kau sudah melukai istri kakakku!”


“Ha! Aku harap perempuan itu mati!”


“Wow, sayang sekali. Kakak iparku baik-baik saja. Kau yang akan mati! Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kita bermain-main dulu? Bukankah kau sangat merindukan sentuhan kakakku?”


DOR!


Dia menembakkan pistolnya namun mengenai bahu kanan William. Pria itu seakan tak merasa sakit sedikitpun karena dibalik bajunya dia memakai pelapis anti peluru, ia semakin marah. Dengan gerakan cepat William merebut pistol ditangan wanita itu dan membuang pelurunya dilantai.  Tangannya mengunci tubuh wanita itu hingga tak bisa bergerak.


“Bagaimana kalau kita bermain-main dulu, huh? Bukankah kau merindukan sentuhan pria keluarga Ceyhan?”


Satu tangan William mengeluarkan sesuatu dari saku celana lalu menusukkannya ke lengan Karina. Mata wanita itu membelalak terkejut, tak lama tubuhnya mulai mengejang dan merasa panas. William menyuntikkan obat perangsang dosis tinggi pada Karina. William mendorong tubuh wanita itu ke ranjang, lalu dia memanggil anak buahnya. Tiga orang pria berperawakan tinggi besar masuk menyeret Oscar yang terkejut saat melihat Karina menggeliat diatas ranjang. “Apa yang kau lakukan padanya?”


“Aku berikan apa yang dia mau! Kenikmatan, tapi bukan dariku melainkan dari anak buahku.”


“Lepaskan karina! Aku akan membunuhmu jika melukai kekasihku!”


“Ha...ha...ha...dasar laki-laki bodoh! Kau pikir Karina mencintaimu, ha? Dia hanya memperalatmu Selalu begitu...memperalat pria bodoh sepertimu.” dengus William sambil merobek pakaian karina menampakkan tubuh polosnya.


“Kau dan perempuan murahan itu mencelakai istri kakakku Verel! Kalian sudah membunuh enam orang yang tak bersalah di gudang milik keluargaku. Maka kalian harus membayarnya. Kau tahu, siapa yang menyentuh keluargaku pasti akan mati!”


“Aku tidak takut mati! Aku rela berkorban demi Karina!” teriak Oscar yang mendelik saat William memberi isyarat pada anak buahnya.  Tiga pria naik ke ranjang dan mencumbu karina yang sudah dibawah kendali obat perangsang. 


Oscar yang berteriak tak diacuhkan William. Dia tak bisa berbuat apapun karena kedua tangannya terikat dan dua orang anak buah William memeganginya.  Dia meronta berusaha melepaskan ikatan tangannya melihat tubuh kekasihnya ditindih oleh pria-pria itu. Hatinya terasa sakit melihat kekasihya digilir oleh anak buah William. “Jangan kau tangisi perempuan murahan itu. Bukankah dia sudah biasa digilir, huh?” sindir William. “Ck ck wanita murahan itu masih juga bermimpi ingin bersanding dengan kakakku setelah selingkuh dengan Rico!”


Oscar yang berusaha melepaskan diri dan dihajar anak buah William, William pun berkata “Lenyapkan semua jangan ada yang tersisa kalau kalian sudah puas dengan wanita itu! ” perintahnya pada anak buahnya. Perintah William membuat Oscar membelalakkan mata tak percaya. Hidupnya berakhir malam ini, berkorban demi wanita yang tak pernah mencintainya hanya memanfaatkan Oscar untuk melakukan semua rencana jahatnya pada orang lain. William pergi meninggalkan villa itu. Satu jam kemudian terlihat api berkobar dari villa itu, ledakan keras menghancurkan bangunan dan semua yang ada didalamnya termasuk Oscar dan Karina.

__ADS_1


"Satu masalah selesai. Seharusnya dari dulu wanita itu lenyap agar tak menganggu lagi." gumam William. Melajukan mobilnya memecah malam menuruni jalanan perbukitan kembali ke ibukota. Sekalipun besok ada berita tentang ledakan di villa, semua teratasi karena tak ada satupun barang bukti semua hancur lebur bagaikan debu.


__ADS_2