TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 107. HUKUMAN DARI RICO


__ADS_3

Tiba-tiba Rico dengan buasnya menarik paksa pakaian Iva dan menyiksanya inci demi inci kulit putih mulus wanita itu, Rico menggigitnya dengan brutal dan liar mengakibatkan seluruh tubuh Iva merah.  Jeritan kesakitan dari mulut Iva tak dipedulikannya lagi, meskipun wanita itu meronta sekuat tenaga ingin melepaskan diri dari Rico namun ia semakin menenrjang wanita itu dengan sangat kasar dan menghajarnya.


Rico menyerang dengan kasar dan bertubi-tubi, menggigit bibir sang istri dengan buasnya dan menyentuh area sensitif wanita itu dengan tanggung dan hanya bermain-main saja. Dia tidak ingin wanita itu bisa merasakan kenikmatan, dengan sengaja Rico menghunjam dengan kasar dan tanggung tanpa membiarkan Iva merasakan klimaksnya. “Kalau kau ingin merasakannya, nikmati saja apa yang kulakukan padamu. Mendesahlah, jangan menjerit!” ucap Rico dengan kejam tanpa rasa iba sedikitpun melihat Iva merasa kesakitan.


Tanpa membutuhkan persetujuan dari istrinya, Rico malah membalikkan tubuh Iva yang polos dan dipenuhi gigitan liarnya.  Rico kalap dan menumpahkan semua kekesalan dan emosinya dengan menghunjam sesuka hatinya tanpa memberi ampun pada Iva yang kesakitan dan memohon pada Rico.  Saat hunjaman itu memberikan sedikit efek kenikmatan pada Iva, Rico pun langsung menarik diri, dia betul-betul ingin memberikan pelajaran pada wanita itu.


“Aku mau lihat, sampai kapan kau akan bertahan denga semua perlakuanku padamu.” Ucap Rico dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Iva.


Dia menarik rambut Iva dengan kasar hingga wanita itu menjerit kesakitan. “Apakah kau masih menginginkanku hmm?” tanya Rico tanpa merasa iba sedikitpun.  Iva menangis tersedu-sedu merasakan hati dan tubuhnya yang tersiksa oleh Rico. Sakit, sangat sakit itu yang dirasakan oleh Iva namun rasa cintanya membutakannya hingga ia pun mengganggukan kepala.


“Ternyata kau keras kepala.” Rico menyeringai. Membuat Rico semakin gila dan memikirkan untuk menyiksa istrinnya lebih kasar lagi. “Buka mulutmu!”


Dengan patuh mulut Iva terbuka perlahan seraya menahan rasa sakit yang menjalar disekujur tubuhnya.  Rico dengan cepat melesakkan miliknya kedalam mulut Iva dan menghunjam dengan kasar sesuka hatinya.  Ia tak mempedulikan airmata istrinya mengalir menahan sesak dan sakit, hingga akhirnya ledakan kenikmatan itu ia dapatkan. “Kau jangan pernah berharap aku akan menghamburkan benihku didalam tubuhmu! Aku tidak sudi. Hanya wanita itu saja yang akan mendapatkannya, bukan kau!” ujar Rico lalu melangkah masuk ke kamar mandi.


...*...


“Mau nambah lagi, sayang?”


Pria tampa yang mengenakan jas itu menggeleng.

__ADS_1


“Mau kopi?” tanya Deandra lagi.


“Tidak, sayang. Air putih saja.”


Deandra tak bisa menyembunyikan senyumannya setiap kali Verrel menatapnya dengan penuh cinta.  Hari-harinya selalu diwarnai dengan cinta dan perhatian dari sang suami.  Sudah beberapa kali Verrel rela tak pergi ke kantor hanya karena istrinya mau bermanja-manja.  Mengingat semua nasihat Opa dan mamanya yang selalu mengatakan untuk menuruti keinginan istrinya yang sedang hamil, ia pun selalu menurut.


Meskipun dalam keadaan sedang salah paham yang selalunya tanpa alasan tatapan penuh cinta itu tak pernah luntur.  Deandra semakin melambung tinggi atas sikap dan perhatian Verrel padanya. “Ingat ya jangan terlalu capek dikantor. Segera pulang kerumah secepatnya,” ucap Verrel yang tak ingin dibantah dan deandra cukup paham sifat suaminya itu.


“Kau bahkan tidak percaya ya dengan para pengawal yang kau tugaskan untuk menjagaku?” kata Deandra mengerucutkan bibirnya karena merasa jika Verrel terlalu over protektif . Awalnya Deandra tidak keberatan dengan sikap suaminya itu, namun akhir-akhir ini pria itu semakin membatasi pergerakannya.  Verrel menghabiskan minuman digelasnya llau terdengar ia menghela napas.  Mengambil tisu llau mengelap sudut bibirnya dan melemparkan tisu keatas piring yang telah kosong.  Tangannya meraih tangan istrinya dan mendaratkan kecupan.  Inilah kelemahan Deandra, sentuhan dan ciuman Verrel selalu membuatnya tak berdaya.  Apalagi hal-hal kecil seperti kecupan lembut seperti itu membuatnya tersipu dan langsung melupakan kekesalannya.


“Semua kulakukan untuk kebaikanmu. Hanya untuk menjagamu, Nyonya Verrel,” ucap Verrel sungguh-sungguh karena dia memang sangat mengkhawatirkan keselamatan istri tercintanya. “Satu hal yang kau harus tahu, sayang. Posisimu sebagai Nyonya Verrel sangat rawan dari tindak kejahatan.  Aku hanya ingin memastikan keselamatan dan kenyamananmu saat aku tidak berada disampingmu.  Kuharap kau bisa memahami itu. Maaf jika membuatmu merasa terkekang. Aku hanya tak ingin sesuatu terjadi padamu dan calon anak kita.”


 


Kata-kata yang sama yang selalu diucapkan Verrel sebagai alasan.  Namun deandra tak pernah bisa berkutik saat Verrel mengucapkannya dengan nada lembut yang meruntuhkan kewarasannya. “Baiklah.” Deandra merasa lesu dan ia tak bisa membantah, tapi benar apa yang dikatakan oleh suaminya. “Aku akan langsung pulang dan duduk manis dirumah.”


 


Verrel menggenggam tangan Deandra dengan tersenyum penuh kemenangan, ia meraih tangan istrinya dan mengecupnya “Terimakasih, sayang.”

__ADS_1


Deandra mengeryitkan dahinya karena merasa sikap suaminya sangat aneh pagi ini. Dari nada bicara maupun sikap pria itu berbeda dari biasanya.  Deandra merasakan suatu firasat namun langsung lenyap tatkala Verrel mendekat dan mencium bibirnya dengan lembut dan lama seakan enggan melepasnya.  Deandra semakin merasakan keanehan, meskipun dia tahu betul sikap suaminya namun ciuman suaminya kali ini sangat jauh berbeda dari sebelumnya.  Hatinya berdesir, merasakan sesuatu yang tidak dia pahami.


Verrel mengantarkan istrinya ke kantor.  Setelah itu dia menuju ke landasan pesawat pribadinya.  Beberapa orang yang akan melayani sang tuan besar sudah bersiap berikut dengan pilot pribadinya.  “Awasi keamanan istriku Frans.  Jika ada apa-apa yang terjadi pada istriku maka kau yang akan bertanggung jawab.” kata Verrel pada asisten pribadinya sebelum menaiki pesawat.


“Baik, Tuan.  Saya akan melakukan pekerjaan dan tanggung jawab yang Tuan berikan dengan baik.” kata Frans sambil membungkukkan kepala tanda hormat.  Tak lama pesawat pribadi milik keluarga Ceyhan itupun lepas landas membawa Verrel dan beberapa pengawal.  Frans pun meninggalkan tempat itu dan melajukan mobilnya kembali ke kantor.


 


Ditengah perjalanan dia teringat sesuatu dan meraih ponsel dari saku jasnya.  Mencari nama seseorang lalu menghubunginya.


“Ya. Halo! Mau apa?” terdengar suara jutek seorang gadis dari seberang.  Frans tak bisa menahan senyum membayangkan seperti apa raut wajah gadis itu saat ini, pastinya kesal.


“Kau dimana sekarang?” tanya Frans yang kemudian tersadar dengan pertanyaannya yang bodoh. Ya, memangnya mau dimana lagi.  Pastinya gadis itu sedang berada dikantor Deandra.


"Memangnya kenapa om mesum? Gak jelas ni orang, kalau tidak ada yang penting tidak usah tanya-tanya!"


"Karena ada hal penting makanya aku tanya kanu lagi ada dimana sekarang?" kata Frans lagi. Dia tahu kalau Rosa pasti sudah sangat jengkel.


“Aku lagi di antariksa! Maaf sinyal putus-putus.” jawab Rosa asal. Entah mengapa dia selalu merasa kesal mendengar suara Frans tapi jika sekian hari tak mendengar suara pria itu, ia justru merindukannya namun gengsi untuk menghubungi Frans.

__ADS_1


“Sedang apa kau di antariksa? Apakah mencari planet untuk kita tempati berdua, gitu?” balas Frans terkekeh.


“Issss...tak jelas.” ujar Rosa memutuskan sambungan telepon. “Hah? Kenapa gue tutup teleponnya? Belum juga puas maki itu om mesum….ihhhhh.” teriaknya.


__ADS_2