
“Aku harus membantu Kak Rico agar bisa keluar dari penjara. Aku tidak mungkin membiarkannya mendekam disana untuk jangka waktu lama. Bagaimana nasib anakku saat dia lahir nanti tanpa kehadiran papanya?” ujar Iva dengan wajah sedih.
Wanita itu duduk di sofa rumahnya sambil berpikir keras. ‘Mungkin pengacara bisa membantuku mencari solusi.’ Tuan Baratha yang baru saja masuk rumah heran melihat putrinya yang melamun dan tak tahu kehadirannya. “Apa yang sedang kau pikirkan? Jangan terlalu banyak berpikir nanti stress bisa menganggu kandunganmu. Papa kira kau peduli dengan kandunganmu.”
“Ha! Papa baru pulang?” tanya Iva yang tersadar dari lamunannya.
“Iya. Dari tadi papa panggil tidak disahut. Ada apa lagi?”
“Begini pa. Ini soal kak Rico, bagaimana caranya supaya dia bisa keluar dari sana secepatnya?”
“Ehm...Papa sudah tidak tahu. Jujur saja papa masih tidak setuju jika kau tetap mempertahankannya. Tapi mau bagaimana lagi, kau sedang mengandung anaknya.”
“Apa yang harus Iva lakukan, pa?”
“Kau bisa tanyakan pada pengacaranya. Mungkin dia bisa carikan solusi.” kata Baratha.
“Oh begitu. Baiklah aku akan hubungi.” lalu Iva mengambil ponselnya dan menghubungi pengacara Rico. Setelah berbincang cukup lama dengan pengacara tersebut akhirnya Iva menutup panggilan dan menghela napas panjang.
“Apa katanya?”
“Kata beliau ada solusi tapi mungkin akan membutuhkan banyak uang.”
“Maksudnya? Jangan bilang kalau solusinya dengan cara tak baik atau sogok.”
“Bukan, Pa. Tadi katanya bisa diusahakan agar Kak Rico jadi tahanan rumah dengan uang jaminan ta—tapi.”
“Tapi apa?”
“Iva harus menemui Tuan Verrel dan istrinya. Hanya dengan persetujuan mereka semua akan mudah prosesnya.”
“Hm….sepertinya akan sangat sulit, kau tahu jika Verrel itu sangat kejam dan sadis. Dia tidak akan mengampuni siapapun yang mengganggu hidupnya ataupun keluarganya.”
“Lalu apa yang harus Iva lakukan?”
“Tidak salah untuk mencoba, mungkin lebih baik kau temui mereka. Siapa tahu mereka kasihan padamu dan mau meringankan hukuman suamimu.”
__ADS_1
“Dimana Iva bisa menemui mereka, Pa?”
“Kau bisa temui di kantornya atau kantor istrinya. Kalau untuk mendatangi rumahnya tidak mungkin. Tidak sembarang orang bisa masuk kesana.” ucap Baratha lagi.
Iva terdiam sejenak lalu dia menggangguk pelan, bagaimanapun dia akan mencoba untuk menemui sepasang suami istri itu untuk meminta belas kasihan. Apapun akan dia lakukan.
“Papa janji akan membantu Iva, iyakan? Demi Iva dan calon cucu papa, tolonglah.”
“Temui saja dulu mereka, papa hanya bisa membantu membayar uang jaminan jika jumlahnya tak terlalu besar.”
“Terimakasih, Pa.” kata Iva memeluk papanya sambil terisak bahagia. Dia bertekad akan menemui Verrel dan Deandra hari itu juga, apapun resikonya dia siap menanggung.
...*...
“Ada apa pengantin baru telepon? Bagaimana honeymoon nya?” tanya Deandra.
“Dea..hiks..hiks.”
“Kenapa menangis? Loe diapain sama Frans?”
“Apa yang sakit?” tanya Deandra masih belum mengerti.
“Dea, memang seperti itu ya? Sakit saat melakukannya? Tapi kenapa waktu yang pertama tidak terasa apa-apa?” tanya Rosa dengan polosnya.
“Ha...ha….ha….ha.” Oh jadi itu? Ya memang sakitlah yang pertama, tapi setelah itu ehem...ehem.” kata Deandra tertawa “Emangnya seperkasa itukah Frans? Tidak mungkin ada yang lebih perkasa dari suamiku.” goda Deandra.
“Dea! Gue serius nanya eh loe malah ketawain gue. Loe kan udah pengalaman, gue belum pernah.”gerutu Rosa kesal.
“Nah, terus kenapa loe bilang yang tempo hari tidak merasa sakit malah yang pas malam pertama sakit?” tanya Deandra senyum karena dia tahu kalau Frans tidak melakukannya saat di kantor.
“Itu dia yang gue heran.” ujar Rosa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Oh mungkin waktu itu belum totalitas jadi tidak terasa sakit. Kalau yang pas malam pertama sudah semua masuk iyakan….iyakan….tapi sakit sakit nikmat, iyakan?” goda Deandra lagi.
“Hem….tapi masih perih sampai sekarang. Gila aja si Frans semalaman gue di gempur ama dia. Nikmat sih...tapi badan gue sakit semua,” ucap Rosa.
__ADS_1
“Sekarang suami loe dimana? Loe bongkar rahasia malam pertama sama gue, tidak malu!”
“Frans masih tidur, kecapean. Loe sahabat gue makanya gue cerita.”
“Ya sudah. Nikmati saja indahnya punya suami..he...he….he. Paling besok-besok elu yang nyosor duluan minta jatah...he...he...he.”
“Idih amit-amit.” seru Rosa.
Tawa Deandra menggema mendengar curhatan sahabatnya yang sudah melewati malam pertama tanpa dia sadari Verrel sedari tadi berada dibelakangnya dan mendnegarkan pembicaraan istrinya. Kesal karena istrinya yang asyik bicara di telepon dan tak mengindahkan kehadirannya, Verrel mengendus leher jenjang istrinya membuat wanita itu seketika menahan napas lalu menutup teleponnya.
“Hem….jangan menggodaku Tuan Verrel.”
“Aku tidak menggodamu sayang. Aku suka aroma tubuhmu, bagaimana kabar si kembar? Daddy belum menyapa mereka.”
“Bilang saja kalau mau! Tidak usah cari alasan! Ayo ke kamar sekarang!” ajak Deandra menarik tangan suaminya. Verrel pun tersenyum, kali ini tak perlu membujuk lama-lama justru istrinya lansgung mengajaknya masuk kamar. Apa karena tadi dia baru dengarin curhatan pengantin baru? Pikir Verrel.
Verrel menebar kecupan-kecupan basah di tengkuk istrinya lalu turun ke leher dan meninggalkan tanda kepemilikan. “Verrel,” desah deandra tertahan saat tangan kekar suaminya meremas kedua gundukan lembut didadanya dengan ritme yang tak pernah gagal membuatnya tak berdaya, Tidak ada yang bersuara hanya deru napas yang semakin lama semakin menggebu. Atmosfer ruangan itupun makin panas. Rintihan, lirihan dan ******* dari bibir ranum istrinya memancing gairah liar sang CEO melonjak.
Tubuh Deandra menggeliat diatas ranjang sementara Verrel dalam posisi berdiri, ******* itu membuat gerakan Verrel semakin cepat menghunjam dan meremas. Tak berselang lama, ledakan dasyat keduanya membuat sepasang suami istri itu mendesah panjang bersamaan menyebabkan tubuh wanita hamil itu bergetar hebat. Tangan Verrel mengusap perut istrinya lalu mengecup bibir istrinya setelah melepaskan diri.
Deandra masih memejamkan mata dengan sudut bibirnya terangkat, puas. Itulah yang dirasakannya saat ini meskipun dia dalam keadaan hamil besar, tak sekalipun suaminya gagal untuk memberikannya kenikmatan itu. Verrel yang baru keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, tersenyum melihat wajah cantik istrinya yang selalu membuatnya kacau dengan godaan dan tingkahnya.
“Sayang, bangun. Mandi sana lalu kita ke kantor. Apa kau mau dirumah saja hari ini, hm?”
“Ehm…..aku mau ke kantor. Rosa masih cuti.” ucapnya lalu bangkit dan masuk ke kamar mandi.
Satu jam kemudian mereka sudah sampai di kantor Verrel. Untuk sementara Deandra akan bekerja dari kantor suaminya, Verrel mengkhawatirkan istri tercintanya dan memintanya untuk bekerja dari kantornya saja. Staff dari Wijaya Property, Tbk sudah menunggu dengan setumpuk dokumen ditangannya saat melihat sang Tuan Besar dan Nyonya keluar dari lift dilantai teratas gedung Ceyhan Group. “Sudah lama menunggu?” tanya Deandra.
“Belum nyonya, baru sepuluh menit.” jawab Amelia sekretaris Deandra. Lalu wanita itu ikut masuk keruang kerja Verrel dan duduk di sofa bersama Deandra. Memperhatikan Deandra yang memeriksa dokumen yang dibawa oleh sekretarisnya. Amelia mendongakkan wajahnya lalu beralih menatap kearah Verrel.
Tanpa sadar mulutnya menganga ‘Ya, Tuhan. Tampan sekali Tuan Verrel! Beruntung sekali Nyonya Deandra jadi istrinya. Ah….tubuhnya juga kekar pasti nyaman sekali berada dalam dekapan Tuan Verrel,’ gumam gadis itu dalam hati sementara hayalannya melambung jauh. Wanita mana yang tak tergoda melihat Verrel.
“Hei! Kenapa kau memandang suamiku seperti itu, ha?” bentak Deandra yang melihat Amelia menatap Verrel tanpa berkedip. Seketika gadis itu menundukkan kepala malu dan pipi merona. Verrel pun menatap kearah istrinya saat mendengar suara bentakan.
“Ada apa, sayang?” tanya Verrel namun tak dipedulikan Deandra yang terlihat marah.
__ADS_1