
Olivia yang sedang dalam pelarian karena kini statusnya menjadi buronan sejak rekaman CCTV dipintu depan apartemen itu menjadi bukti pembunuhan yang dia lakukan. Sejak itu dia tinggal bersama Ezha berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Olivia pun tak bisa bebas lagi keluyuran diluar sana karena wajahnya terpampang dimana-mana.
Wanita itu baru saja selesai mandi, hendak bersiap melakukan ritual perawatan tubuhnya. Bagi Olivia ritual perawatan tubuh adalah hal wajib yang tidak bisa ia lewatkan sedikitpun karena begitulah dia menjaga penampilannya selama ini sebagai seorang wanita kaya raya, putri dari seorang pengusaha terkenal. Tapi kini nasibnya berbalik seratus delapan puluh derajat, mengenaskan!
Selama ini dia sangat bangga dengan penampilannya yang selalu glamour dan seksi dengan barang-barang branded. Berkat kemolekan tubuhnya, dia selalu bisa memikat perhatian pria-pria kaya kecuali Luke dan Verrel. Dua pria yang mampu membuatnya kehilangan akal sehatnya hingga membuatnya penasaran karena sama sekali tak tertarik padanya.
Hal itulah yang menjadi obsesinya, penolakan! Dia yang sudah biasa selalu mendapatkan apapun yang di inginkannya, tak terima saat ditolak! Dia merasa hina dan direndahkan karena kedua pria itu tak peduli dan tak tertarik padanya. Bahkan saat dulu dia menjebak Luke, pria itu tetap tak peduli dan memilih wanita lain yang biasa-biasa saja.
Olivia melirik meja riasnya dengan lesu, Ezha memang berusaha memenuhi kebutuhannya, mulai dari tempat tinggal, makan, pakaian hingga kosmetik untuk perawatan kecantikannya. Tapi Olivia tidak puas dengan produk-produk perawatan yang dibelikan oleh Ezha karena tidak lengkap dan bukan merek terkenal.
Semuanya perawatan kulit, perawatan wajah, bedak, lipstik dan body lotion merek lokal yang tidak familiar di telinganya. Dan sudah pasti harganya murah dibandingkan semua produk kecantikan mahal yang biasa dia pakai. Olivia menghela napas panjang memandang miris pada produk kecantikan didepannya.
“Mau dipakai takut kulit rusak, tidak dipakai nanti kulitku malah jadi kusam. Mana body lotionnya terasa lengket lagi. Tidak nyaman dipakai. Mau beli yang biasa aku pakai tapi----uang sekarang terbatas! Aissss…...kenapa jadi begini? Ke salon tidak bisa, polisi mencariku dimana-mana. Terpaksa perawatan sendiri dirumah! Mama juga tidak bisa dihubungi, entah kemana perginya wanita itu. Giliran anaknya susah bukannya dicari!”
“Coba ada mama, pasti dia mau belikan aku kosmetik mahal yang biasa aku pakai. Kemana ya dia? Nomor teleponnya juga tidak pernah aktif, sepertinya mama sengaja mengganti nomornya supaya tidak bisa dihubungi.” Olivia mengangkat botol-botol kosmetik satu persatu lalu menjatuhkannya dengan tak semangat. Lalu dia mengambil cermin dan mengamati wajahnya lebih dekat.
Dia melihat sudah ada kerutan halus dibawah matanya, pori-porinya juga terasa lebih kasar terutama di area kening dan hidung. Olivia meraba kulit wajahnya dengan ujung jarinya, tiba-tiba dia merasakan sesuatu di area itu. ‘Ah! Apa ini? Kok keras? Apa ini…….jerawat?’
__ADS_1
“Tidaaaakkkkkkkkkkkk!” teriaknya histeris.
Ezha yang sedang menonton TV diruang tengah langsung berlari menghampiri Olivia dikamar.
“Ada apa sayang? Kenapa teriak begitu?” tanyanya cemas.
“Di hidungku ada jerawat!” rengeknya sambil menunjuk benjolan kecil di ujung hidungnya.
Ezha mendesah kasar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Astaga! Jerawat saja teriakanmu seperti melihat ular besar!” protes Ezha kesal.
Dia pun membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali ke ruang tengah melanjutkan nonton TV yang sedang menyiarkan berita. Olivia menyusul dengan gusar, “Apa kau bilang? Cuma jerawat? Wajahku ini aset sayang. Jangankan jerawat, setitik noda pun tidak boleh ada karena nilainya bisa berkurang!”
“Apa bedanya? Kau pikir bisa kau menyelamatkan diri kalau aku sampai tertangkap? Jangan lupa ya, kau yang membunuh pria itu, bukan aku!” balas Olivia sengit.
“Jaga mulutmu! Memangnya gara-gara siapa aku sampai melakukannya? Ohhh atau jangan-jangan kau memang sangat menikmati miliknya yang besar itu ya?” hardik Ezha seraya bangkit dari duduknya.
Lama-lama dia merasa bosan juga dengan sikap Olivia yang manja dan ingin menang sendiri.
__ADS_1
“Aku tidak menyuruhmu mem…..” kata-katanya terputus karena dia menangkap sosok yang familiar di layar kaca.
“Breaking News : Konferensi pers Luke Malorri terkait skandal yang tertera di layar. Olivia langsung mendorong tubuh Ezha ke samping lalu meraih remote dan menaikkan volume TV.
Di layar kaca dia melihat Luke duduk didampingi pengacara dan asisten pribadinya. Ada juga pihak berwajib duduk disebelahnya. Kilatan lampu blitz silih berganti menerangi wajah Luke yang terlihat semakin tampan dan mempesona. Disebelah Luke ada Verrel yang juga didampingi pengacara dan asistennya Frans. Kedua pria terlihat mendominasi dengan penampilan mereka, Olivia hanya bisa menahan napas menatap dua pria yang di idolakannya tapi sulit untuk dia gapai.
“Selamat sore semuanya. Saya dan Tuan Luke meminta sedikit waktu anda untuk memberi pernyataan dan juga beberapa informasi atas pemberitaan yang viral di media sosial akhir-akhir ini.” ucap Verrel membuka konferensi pers itu.
Verrel dan Luke terlihat menatap kamera dengan lurus, seolah sedang berbicara dengan seseorang. Layar TV pun memperlihatkan wajah Verrel dengan jarak dekat.
“Pertama saya ingin membantah tentang foto dan video tak senonoh yang sempat beredar dan viral di media. Orang yang berada di foto dan video itu bukan saya! Pihak berwajib juga sudah mengantongi bukti identitas orang yang ada didalam video itu. Wanita itu bernama Olivia, mantan rekan bisnis perusahaan yang dengan terpaksa saya putuskan kerjasama jauh sebelum berita di media beredar.”
“Mungkin anda masih bertanya-tanya saat itu kenapa saya diam dan tak memberikan tanggapan apapun perihal berita yang bereda. Itu karena saya tidak ada hubungan apapun, wanita di video itu sengaja memfitnah saya karena putusnya kerjasama bisnis. Dan, anda semua mungkin juga masih ingat soal penculikan istri dan anak saya belum lama ini.Pelakunya adalah orang yang sama, yaitu wanita yang ada di video itu. Bernama Olivia Lee yang saat ini resmi menjadi buronan polisi!”
Suara gaduh terdengar memenuhi ruangan, para wartawan berebut ingin mengajukan pertanyaan tapi pihak keamanan langsung mengantisipasi dan menenangkan mereka karena belum tiba waktunya untuk sesi tanya jawab. “Kedua, saya sendiri yang menyelamatkan istri dan anak saya yang disekap oleh orang-orang bayaran Olivia dan sekarang mereka sudah ditangkap oleh pihak berwajib.”
“Bagaimana anda bisa mengetahui siapa dalang dibalik penculikan istri dan anak anda, Tuan Verrel?” Salah satu wartawan tak sabar untuk bertanya, ia pun nekad mengajukan pertanyaan disela-sela pernyataan Verrel. Verrel mengangkat satu tangannya sebagai isyarat agar wartawan itu bisa bersabar.
__ADS_1
“Ketiga, memang benar saya telah melaporkan saudari Olivia Lee atas tindakan pencemaran nama baik, penculikan dan perencanaan pembunuhan.” ujar Verrel menyelesaikan pernyataannya.
Setelah Verrel selesai membuat pernyataan, giliran Luke Malorri yang memberikan pernyataan. Pernyataan yang diberikan Luke lebih panjang dan lengkap dimulai dari pembunuhan istri dan bayinya, penipuan dan pencemaran nama baik serta yang terakhir adalah pembunuhan terhadap Danu yang terjadi kemarin disalah satu apartemen.