TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 62. MENIKAH


__ADS_3

Sempurna! Itulah kata yang tepat untuk kedua calon pengantin itu. Balutan gaun pengantin berwarna putih dengan ekor memanjang yang terbuat dari bahan sutra dengan hiasan berlian dibagian depan, polesan makeup diwajah cantik itu membuatnya terlihat seperti seorang putri.  Sepatu hak tinggi lima senti dengan hiasan berlian dibagian depan menyempurnakan penampilan Deandra. Perhiasan berlian yang tadi diberikan Verrel membuat gadis itu terpana, pasalnya ini perhiasan berlian bernilai miliaran rupiah yang ketiga yang diberikan Verrel padanya.


"Kenapa membeli perhiasan lagi? Yang kemarin belum kupakai." kata Deandra.


"Ini perhiasan didesain khusus untuk pernikahan. Yang kemarin bisa kau pakai kapanpun kau mau, sayang."


Rambut panjang disanggul dengan hiasan penjepit dibagian atas yang juga dihiasi berlian.  Verrel terkesima menatap keindahan didepannya, matanya tak berkedip hingga Yuna menyadarkannya dari pandangannya yang penuh gairah. 


“Apa kalian mau pandang-pandangan sampai pagi atau mau menikah?” tanya Yahya menyadarkan kedua pengantin yang saling terpesona pada pasangannya itu. Acara pemberkatan pernikahan pun dilaksanakan dengan hikmah.


Verrel mengenakan setelan tuksedo berwarna putih dengan dasi kecil berwarna hitam. Mata keduanya saling terkesima memandang kearah netra mata mereka.  Beberapa menit yang lalu mereka telah resmi menjadi suami istri.


Seharusnya acara pemberkatan dilakukan besok tapi sengaja dipercepat hari ini karena Verrel tidak mau kecolongan miliknya diambil orang. Verrel yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi meminta sang asisten mempercepat prosesi pemberkatan pernikahannya. Kini Deandra resmi menjadi istri Verrel Aditya Ceyhan.


Istri?


Verrel masih memandang wajah istrinya dengan tatapan penuh hasrat hingga sang kakek menggodanya. “Apa kau mau memakan istrimu? Kami masih disini. Tidak sabaran sekali kau.”


Alya membawakan sebuah kotak kecil dan membukanya, sepasang cincin berlian dengan ukuran berbeda. Verrel mengulurkan tangannya mengambil satu cincin berlian yang didesain khusus untuk Deandra dan menyematkan cincin itu dijari manis Deandra.


Verrel mengecup tangan itu, membuat tubuh Deandra bergetar dan jantungnya berdebar kencang.  Deandra berdiri tertegun dan membisu memandang wajah tampan dengan mata hitam pekat didepannya. Dulu pria itu sangat kasar dan suka menyiksanya, kini berubah menjadi lebih lembut.


Kini ia benar-benar terpesona oleh ketampanan dan sikap lembut pria yang dulu sangat dibencinya dan bahkan dia pernah bersumpah akan melepaskan diri dari cengkeraman pria itu, yang terjadi justru sebaliknya, ia terjerat semakin dalam dan tak mampu berada jauh dari pria yang kini membuatnya terikat sebagai istri dan ibu dari calon anaknya.


Lama ia menatap cincin itu, tak pernah terbersit jika dia akan menjadi istri dari pria ini tapi takdir membawanya pada hari ini, resmi menjadi istri sang CEO tampan dan kaya. “Nyonya,” ucap Alya menyadarkannya dari lamunan.


“Nyonya Verrel.” suara berat itu menyadarkannya dan membuatnya tersenyum pada suaminya. Tangannya mengambil cincin dan memasangkan dijari Verrel. Bersamaan dengan itu airmatanya mengalir membasahi pipi.


Terharu dan sedih. Terharu karena kini dia resmi berstatus istri dan sedih karena dia menikah tanpa kedua orangtuanya yang sudah meninggal.  Seandainya mereka ada disini melihat kebahagiaanku, mereka pasti juga bahagia.


Alih-alih membawa deandra pulang kerumah, Verrel justru membawanya ke sebuah hotel mewah.  Kini mereka berada dikamar presidential suite yang sudah ditata dengan hiasan indah layaknya kamar pengantin. Kamar tipe ini membuat Deandra teringat saat Verrel merenggut kehormatannya dengan paksa, malam yang takkan ia lupakan. Tapi kini, mereka datang ke hotel sebagai suami istri. Jika dulu dia harus melayani Verrel karena sebuah perjanjian, sekarang dia harus melakukannya sebagai kewajiban seorang istri dan tidak boleh menolak.

__ADS_1


Suasana didalam kamar menjadi panas saat tangan kekar milik suaminya membelai wajahnya. “Kenapa, sayang? Kau diam saja dari tadi.”


“Hmmm….” dia tak mampu berkata-kata. Deandra terlalu terpesona oleh ketampanan suaminya. Bersyukur? Haruskah aku bersyukur menjadi istri pria tampan dan kaya ini? Tak pernah aku bermimpi akan menikah dengan pria tampan dan terkaya sepertinya.


“Sayang?” sambil mengecup bibir istrinya yang diam melamun.


Deandra tercekat, lidahnya kelu.


“Kau kenapa, sayang? Kau takut atau mau lari?”


Dia tidak merasa takut apalagi mau lari. Dia sudah tidak pernah ingin lari dari Verrel bahkan dia tak lagi takut pada suaminya itu. Tapi ia merasa tiba-tiba gugup yang membuatnya diam dan kaku menatap wajah tampan itu, ia seperti terhipnotis dan tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah pria itu.


Tak sabar menunggu jawaban istrinya, Verrel meraih dagu itu “Dengarkan aku baik-baik Nyonya Verrel. Sekarang kau milikku, apapun yang terjadi kau sudah milikku. Apapun yang akan terjadi nanti kau tetap milikku. Selamanya milikku.” ucapnya sambil mengelus perut istrinya membuat Deandra menundukkan kepala memandang perutnya. Ya, selamanya aku miliknya, ada anak yang mengikat kami erat.


Kemanapun pergi dan apapun yang terjadi, anak ini yang mengikat kami. “Dan ingat sayang, tak ada laki-laki lain yang boleh menyentuhmu, kecuali aku suamimu. Kau paham?” Dengan kaku dan tersenyum Deandra mengangguk.


“Jaga anak kita baik-baik.” kembali Deandra tersenyum manis mendengar kata ‘anak.’ Dia sangat berharap jika anaknya laki-laki dan mirip dengan Verrel, entah kenapa dia sangat menginginkan itu. Agar dia bisa menatap wajah tampan anaknya jika Verrel sedang tidak bersamanya.


“Iya, terimakasih sayang.” kata deandra manja menggenggam tangan suaminya.


“Tidak perlu berterimakasih. Aku ingin kau bahagia bersamaku,”


Bahagia?


Apakah aku tidak salah dengar? Dia bilang dia ingin aku bahagia dan dia akan membahagiakanku? Oh, Tuhan. Mimpi apa aku?


“Katakan apa yang kau mau, aku akan memenuhinya,” ucap pria itu. Mendadak wajah Deandra berbinar. “Kecuali melepaskanmu. Jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu atau kau meninggalkanku. Aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi.”


Mendengar kalimat panjang yang terdengar seperti sebuah ikrar itu, entah mengapa membuat hatinya begitu nyaman dan tenang. Ah, apakah dia benar-benar mencintaiku?


“Sayang, aku mencintaimu,” tiba-tiba kalimat itu meluncur dari bibirnya membuat Verrel terperangah tak percaya. Apa aku tidak salah dengar? Dia bilang apa?

__ADS_1


“Apa?” tanya Verrel.


“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.” seraya memeluk Verrel.


“Benarkah, sayang?” tanyanya masih tidak percaya.


“Iya,”


“Kau yakin?” tanya Verrel ingin menyakinkan dirinya karena inilah yang dia harapkan dari gadis itu, hati, perasaan dan cintanya untuk Verrel maka pria itu akan memberikan semua padanya.


“Yakin! 1000 persen yakin. Aku sangat mencintaimu Verrel Aditya Ceyhan. Suamiku yang tampan dan buas,”


“Apa kau bilang? Buas! Tapi kau suka kan sayang?”


Wajahnya langsung merona, tak mungkin dia pungkiri jika ia menyukai pria yang liar dan buas diatas ranjang itu. Tak salah jika suaminya itu idola para wanita, kini ia pun merasa gelisah memikirkan hal itu.


“Sejak kapan kau mencintaiku?” tanya Verrel yang masih penasaran.


“Hmm….aku tidak tahu. Ta—tapi jantungku berdebar kencang jika didekatmu, aku sering merindukanmu.” ujarnya tanpa rasa malu karena itu yang selalu dirasakannya. Saat Verrel berada di kantor sering kali dia ingin meminta Yuna untuk menelepon Verrel tapi ia malu dan tak berani. Hatinya resah jika pria itu belum pulang kerumah, pikirannya tak tenang membayangkan jika Verrel bersama wanita lain. Kini dia merasa dirinya tergila-gila pada pria tampan yang kini resmi jadi suaminya.


“Apa kau selalu menyuruhku cepat pulang---.”


“Ya, karena aku rindu,” ucapnya membenamkan kepalanya kedada suaminya. Lagi-lagi aroma maskulin tubuh itu begitu menenangkannya.


“Hanya itu? Rindu?” Verrel bukan tak tahu apa yang ada dipikiran istrinya.


“A—aku. Aku tidak mau kau bersama wanita lain,”


Deg!


Jantungnya berdebar kencang. Pengakuan itu! Kini dia tersenyum, yakin beribu-ribu persen kalau Deandra benar mencintainya. ‘Kau sudah utuh milikku, istriku. Tubuhmu, hati dan cintamu utuh milikku selamanya.’

__ADS_1


__ADS_2