TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 11. SERANJANG BERDUA


__ADS_3

Verrel yang berbaring di atas ranjang dikamar tidur utama di apartemen mewahnya tak bisa memejamkan mata. Dia memikirkan penawaran Surya. ‘Kenapa harus Deandra yang jadi keponakan si brengsek itu? Bagaimana jika wanita itu memang bukan wanita baik-baik? Tapi, jika aku menolak penawaran Surya, bisa dipastikan gadis itu akan ditawarkan ke orang lain.’ Kepalanya terasa pusing memikirkan semuanya, baru kali ini dia merasa terjebak dalam situasi seperti ini.


Tepat pukul 2 pagi, Verrel beranjak masuk ke kamar tidur dimana ada seorang gadis terbaring diatas ranjang dan tidur pulas. Sudah sejak tadi Verrel berusaha keras menahan hasrat yang bergejolak, Gadis itu tertidur sangat pulas hingga terdengar dengkuran lembutnya. Pelan-pelan verrel naik keatas ranjang itu agar tidak membangunkan deandra, berbaring menyamping diranjang hingga dia bisa melihat wajah deandra yang tidur menyamping menghadapnya.


Perlahan dia letakkan tangannya dipinggang gadis itu, setelah beberapa saat tidak ada pergerakan apapun dia memejamkan mata dan tertidur. Sepasang anak manusia berbeda jenis itupun terlelap dalam tidur.  Dalam mimpinya, deandra merasa ada seseorang pria tampan yang memeluknya erat. Dia merasakan hangatnya hembusan napas pria itu, ia merasa nyaman dan merapatkan tubuhnya membuat si pria pun mengeratkan pelukannya.


Kepala gadis itu merapat kedada bidang yang polos, aroma maskulin tubuh pria itu membuat jantungnya berdebar kencang dan merasakan tubuhnya bergejolak. Pergerakan kecil dari gadis yang berada dipelukannya, membuat pria itu membuka mata, tersenyum melihat tubuh gadis itu merapat dan dia bisa merasakan hembusan napas gadis itu didadanya.


Perlahan dia mencium puncak kepala dan kening si gadis, tangannya membelai punggung deandra, helaan napas yang dalam terdengar diiringi sentuhan tangan lembut didadanya, ya tanpa sadar tangan gadis itu pindah kedada bidang Verrel, membuat kepalanya tiba-tiba sakit, sesuatu mengencang dibagian bawah tubuhnya.


Sial! Gumamnya pelan, rahangnya mengeras, helaan napasnya panjang berusaha meredam gairah yang kini menguasainya. Tidak!Tidak! Jangan sekarang.  Aneh, biasanya seorang penguasa ranjang sepertinya tak pernah menolak keinginan tubuhnya.


Dia menatap wajah deandra yang nampak begitu damai. Ia melepaskan pelukannya dengan sangat hati-hati dan bergerak pelan menjauh lalu turun dari ranjang.  Entah berada dilangit keberapa deandra berada sehingga dia tidak merasakan kehadiran orang lain bersamanya.  Lega, melihat gadis itu tidak terbangun, hanya bergerak sedikit saat tubuh Verrel menjauh.

__ADS_1


Verrel melangkah ke kamar mandi, Verrel berdiri dibawah guyuran air dingin, berusaha meredam gairah yang sejak tadi menderanya. Argggg….suara teriakannya terdengar menggema. Setelah dia merasa gairahnya mereda, meraih handuk dan mengeringkan badan dan rambutnya. Melemparkan handuk di atas meja lalu memakai boxer.


Melangkah menuju kamar, lantas membaringkan tubuh diatas ranjang pelan-pelan dan menarik selimut.  Matanya terpejam, setelah beberapa saat dia pun terlelap dan bermimpi. Mimpi bersama gadis yang terbaring disebelahnya, yang kini juga sedang memimpikannya.


Pukul enam pagi, Deandra menggeliatkan tubuh karena merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuhnya. Membuka mata perlahan, “Ahhhhh…..”matanya melotot dan mulutnya menganga terkejut melihat seorang pria disampingnya yang tertidur pulas sambil memeluknya, sebuah kaki  mengapit tubuh deandra. Teriakan deandra membangunkan verrel namun kembali memejamkam mata, mengeratkan pelukannya.  “Ssst...jangan berisik. Masih terlalu pagi!”


Deandra meronta berusaha melepaskan diri dari kungkungan pria itu “Lepaskan, Tuan.” tangannya mendorong dada polos didepannya namun usahanya sia-sia, Verrel justru makin mempererat pelukannya dan kakinya menekan tubuh gadis itu, menguncinya hingga tak bisa bergerak.  Wajah gadis itu tepat berada didada bidang yang polos itu,dia merasakan bulu-bulu halus yang menggelitik hidungnya “Hacihhh...hacihhhh,”


Verrel yang merasa tidurnya terganggu karena ulah gadis itu, membuka mata dan satu tangannya diletakkan dibelakang kepala gadis itu yang membuatnya mendongak, dan bibir hangat milik verrel mendarat di bibirnya. 


Deandra menarik napas dalam-dalam menghirup oksigen sebanyak mungkin. Dadanya berdebar sangat kencang dan keringat dingin mulai mengucur.  “Berani sekali kau menggigit bibirku!” teriak verrel marah yang merasa perih disudut bibirnya.  Tak terima dengan perbuatan gadis itu, ia pun mendaratkan bibirnya mencium bibir deandra lebih buas dan ******* bibir itu dengan ganas. 


Napas deandra terengah-engah, merasakan pria itu bermain-main didalam mulutnya. Deandra merasakan gairah hebat yang belum pernah dirasakan sebelumnya, ia membalas ciuman Verrel dan menikmati sentuhan tangan kekar itu dipuncak dadanya, tangan kekar itu meremas.

__ADS_1


Dia mendesah tanpa sadar hanyut dalam cumbuan Verrel yang membuat gadis polos tak berpengalaman itu tak henti mendesah. Tiba-tiba Verrel melepaskan ciuman dan menghentikan aktifitas tangannya, menggerakkan tubuhnya turun dari ranjang sambil berkata “Bersiaplah! Kita sudah telat ke kantor!”


Deandra yang sedang berada dipuncak gairah, terkejut, pipinya merona merah karena gairah dan rasa malu.  Verrel tahu itu, berjalan mendekati deandra “Kelihatannya kau sangat menikmati," sambil tersenyum membuat deandra tambah malu dan marah. “Kenapa tuan lakukan itu?”


“Itu masih pemanasan. Lain waktu kau akan rasakan kenikmatan sesungguhnya,” sambil berjalan meninggalkan kamar itu.  Saat berada didepan pintu dia berpaling dan menatap Deandra.


“Pakai itu!” katanya sembari menunjuk ke paper bag yang terletak diatas sofa. Sebelumnya, saat masih berada di kantor dia menyuruh bodyguardnya untuk membeli pakaian disalah satu butik dan membawanya ke apartemen.  Sepertinya Verrel sudah merencanakan semuanya.


Kesal dan marah, itu yang dirasakan deandra saat ini, dia merasa dipermainkan oleh Verrel. Sial! Apa-apaan sih manusia galak itu? Aduh kenapa aku harus terjebak sih? Pasti dia sengaja melakukan itu.


Tunggu—tunggu---apa tadi dia bilang? Lain waktu? Ya, Tuhan. Aku tidak ada pilihan selain memilihnya! Mengacak-acak rambutnya sambil berjalan masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dibawah pancuran. Selesai mandi, dia meraih handuk dari salah satu laci kabinet yang terletak disamping wastafel.  Melilitkan handuk dikepala dan satu handuk melilit tubuhnya.  Perlahan berjalan keluar kearah sofa dan mengambil paperbag.


Deandra membuka paper bag dan melihat isi didalamnya ada baju terusan formal warna abu-abu garis kombinasi putih dan sepasang pakaian dalam. Hah? Darimana dia tahu ukuranku? Tanya deandra dalam hati saat melihat pakaian dalam yang dibelikan oleh Verrel. Selesai mengenakan pakaiannya, dia berdiri didepan cermin, mengeringkan rambut dan menggerainya, memoleskan lipgloss di bibir. 

__ADS_1


Pipinya dipoles blush on warna merah muda membuat wajahnya terlihat segar dan makin cantik.  Terkesima memandang dirinya yang terlihat berbeda, mungkin karena mengenakan pakaian mahal yang tak pernah mampu dia beli.  Meraih tas yang terletak diatas nakas dan melangkah keluar setelah terdengar ketukan dipintu.


“Iya, tuan.” kata Deandra membuka pintu. Wajah tampan itu mengamati deandra yang terlihat berbeda hari ini. “Hmmm…..bagus,” ujar Verrel.  “Ayo kita berangkat sekarang. Kita sudah telat gara-gara kamu!”


__ADS_2