
Amran mencengkeram erat kemudi mobilnya, Wajahnya memerah menahan emosi yang ingin dia lampiaskan entah pada siapa. Amarahnya menguasai kewarasannya hingga dia harus meninggalkan ruangan rapat dengan rasa malu. Hari ini dia sangat dipermalukan didepan semua dewan direksi. Jelas saja, bagaimana bisa seorang ayah tidak mengetahui jika anaknya masih hidup dan sedang dalam perawatan. Harga dirinya pun dicabik-cabik oleh istri anaknya didepan semua orang. Semakin kehilangan muka dia hari ini.
“Sialan kau Verrel! Kenapa kau masih hidup! Lebih baik kau mati saja....arrgggg....perempuan itu juga sama saja. Tidak ada sopannya padaku. Aku ini mertuanya tapi dia sama sekali tidak menghormatiku,” desisnya kesal. Bagaimana tidak kesal bila semua orang menatapnya dengan tatapan tajam menghunjam. Apalagi pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan tak satupun bisa dia jawab.
“Sial! Sial! Istrinya malah lebih menakutkan dari Verrel! Perempuan itu betul-betul tangguh dan tak punya rasa takut. Huh…..aku harus hati-hati, berurusan dengan Om Viktor dan keluarga Hutama sangat beresiko. Kenapa Verrel bisa berjodoh dengan cucunya Viktor? Sedangkan nasib Rico apes,” benak Amran dipenuhi pikiran yang kacau setelah kejadian diruang rapat tadi.
Masih dipenuhi amarah, dia memilih pulang untuk menenangkan diri, ada Andini dirumah yang mampu menenangkannya, setidaknya begitulah pikirannya. Sesampainya dirumah, ia disambut oleh pelayan. Tak nampak Andini “Bik kemana istriku?”
“Saya juga tidak tahu tuan. Tadi Nyonya pergi tidak pesan apa-apa.” jawabnya.
“Ehm...buatkan saya kopi,”
“Baik, Tuan.” tak lama si pelayan kembali dengan secangkir kopi dan cemilan ringan.
Amran duduk dibangku di taman kecil depan rumahnya, sambil menyesap kopi hitam. Dia berpikir keras dan mengingat semua perkataan Deandra yang tajam padanya tadi. Perempuan itu sangat pandai berkata-kata, lidahnya tajam seperti pisau.
Amran meraih ponselnya mencoba menghubungi Andini namun tak tersambung, setelah sekian lama dia pun menyerah. Langkahnya gontai masuk ke kamar tidur, setelah mandi dan ganti baju dering ponsel ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal. “Siapa yang nelepon?”
“Halo.”
“Papa, ini aku. Ponselku jatuh dan rusak, Pa. Ini aku pinjam hp orang.” suara Andini terdengar lembut dan memelas.
“Mama dimana? Seperti suara air atau pantai gitu?”
“Iya, pa. Lagi di Bali. Mama sudah bilang ke Papa kemarin kalau hari ini mama ke Bali sama teman-teman sosialita, ingat kan?” ucapnya. Andini yang saat ini berada ditepi kolam ikan yang memiliki pancuran, sengaja dia memilih lokasi itu untuk menyakinkan Amran.
“Oh iya iya. Berapa hari disana?”
Seminggu, Pa. Oh iya bagaimana hasil meeting tadi, berhasil?” bertanya penasaran.
Amran menghela napas panjang, Andini mengeryitkan dahi mendengar helaan napas suaminya. “Ada masalah apa, pa? Papa sudah berhasil mengambil alih perusahaan?”
“Belum. Anak sialan itu masih hidup,”
“Apa? Masih hidup? Papa yakin?” tanya Andini terkejut.
“Iya, tadi istrinya ikut meeting dan mempermalukan papa dihadapan semua orang,”
“Kurang ajar! Mama akan beri pelajaran pada perempuan itu,”
__ADS_1
“Jangan, Ma. Tidak perlu menambah masalah. Berurusan dengan Keluarga Hutama itu sama saja menggali kubur sendiri, Mama tidak tahu siapa Om Viktor dan keluarganya.”
“Lantas? Apakah kita harus diam saja, Pa? Mereka selalu saja menganiaya kita. Bahkan Rico pun tak pernah merekai akui sebagai cucu keluarga Ceyhan. Hati mama sakit, Pa." ucapnya lagi sembari menangis terisak-isak menyemputnakan aktingnya.
“Papa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Istri Verrel memiliki saham besar di perusahaan, jika digabung dengan milik suaminya maka salah satu dari mereka yang jadi CEO. Perempuan itu lebih berhak jadi CEO dibandingkan papa. Kini perempuan itu juga menguasai seluruh harta kekayaan keluarga Ceyhan. Dia tadi mengancam papa soal Rico, Ternyata istrinya malah lebih menakutkan dan lebih kejam daripada anak sialan itu,” kata Amran panjang lebar menjelaskan pada Andini.
“Ya, ampun papa. Lalu kita harus buat apa? Kalau papa tidak jadi CEO berarti menunggu nasib kapan saja didepak dari perusahaan. Kita harus lakukan sesuatu, papa." rengeknya.
“Jangan khawatir. Papa akan memikirkan sesuatu, mungkin buka perusahaan baru atas nama Papa,”
“Memangnya modal darimana , Papa?”
“Terpaksa papa jual saham milikku di Ceyhan Group dan uangnya papa buka perusahaan baru,”
“Ha…..bagus itu pa. Mama setuju, secepatnya papa jual. Tawarkan dengan harga tertinggi,” ucap Andini menyemangati suaminya. ‘Kalau saham dijual dan papa buka perusahaan baru, itu berarti papa jadi CEO nya. Statusku naik level.’
“Setelah kau pulang baru kita bahas lagi.”
“Okay Papa. Jaga diri baik-baik ya.”
...*...
“Pertunjukan yang hebat Nyonya Verrel!” seru Verrel bertepuk tangan setelah melihat aksi istrinya melalui sambungan cctv. Tak dia sangka jika istrinya berani berhadapan dengan Amran dan menjatuhkan harga diri pria itu. Tangan Verrel melebar menyambut kepulangan istri tercintanya.
“Kau kenapa, sayang? Mukamu cemberut….cup...cup...istriku sayang,” dia mengecup pipi istrinya yang tembem macam bakpau.
“Aku kesal, aku marah. Kenapa papamu tidak pernah menghargaimu? Aku lebih punya hak atas perusahaan itu daripada dia,”
“Itulah sifat aslinya. Sama seperti perempuan j*lang istrinya itu,”
“Aku mengancamnya tadi.”
“Apa? Kau mengancamnya? Kau bilang apa, sayang?” senyum Verrel melebar. Wah...ini baru asyik, bagaimana reaksi pria itu diancam sama istriku? Aku saja suaminya takut sama dia, gumamnya terkekeh.
“Ya, kubilang jangan menganggu keluargaku, atau kuhabisi mereka semua apalagi putranya yang brengsek itu, urusanku belum selesai dengannya,” ucapnya penuh emosi. Bumil dilawan.
Verrel terkejut mendengar perkataan istrinya. “Apa reaksinya?”
“Tuan Amran ketakutan, Tuan. Bahkan dia tidak berani menatap wajah Nyonya,” jawab Frans cepat, dia terkekeh mengingat reaksi Amran setelah diancam oleh Deandra.
__ADS_1
“Apakah sangat menakutkan?” tanyanya pada Frans.
“Bukankah Nyonya jauh lebih menakutkan dibanding anda, Tuan,” kata Frans.
Keduanya tertawa terbahak-bahak. Deandra menyipitkan kedua matanya memandang kedua orang itu “Apa yang kalian tertawakan? Kalian menertawakan aku ya”
Sontak keduanya terdiam. Deandra berlalu pergi ke halaman belakang, berbaring ditepi kolam renang menikmati udara segar.
“Bagaimana perkembangannya?”
Semua sudah aman, Tuan.”
“Bagus. Kau bisa kembali bekerja menggantikan posisiku. Ada William yang akan membantumu. Kau tidak perlu takut.” Frans membungkukkan badan
“Saya mengerti, Tuan. Saya akan kembali besok. Mengenai bukti-bukti semua sudah saya dapatkan dan lengkap. Sudah saya kirim ke email Tuan.”
Verrel tersenyum puas “Aku tahu. Mereka tidak tahu, badai apa yang akan datang,”
Frans melihat betapa bahagianya sang tuan akhir-akhir ini.
“Kalau begitu---.”
“Apa yang kau lakukan disana? Aku sudah menyuruhmu beristirahat, Tuan Verrel yang terhormat.” terdengar suara Deandra dan tatapan tajam pada Verrel. Frans yang tahu diri langsung pamit. “Saya pamit undur diri, Nyonya.” ucapnya sopan.
“Ya, cepatlah pergi. Jangan beritahukan suamiku tentang pekerjaan lagi. Dia masih sakit, Frans! Apa kau mau kuhukum lagi?”
Frans menghela napas dalam-dalam mengisi paru-paru dengan oksigen, mendadak dia merasa sesak napas. Wanita dihadapannya itu lebih berbahaya ketimbang Verrel. “Maafkan saya, nyonya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi.”
“Janji….janji tinggal janji. Pergi sana! Tidak usah janji janji.”
Verrel tak mampu menahan tawanya melihat Frans yang berlari terbirit-birit, lebih baik cepat keluar sebelum sang nyonya besar berubah pikiran dan menghukumnya lagi.
*Hai para pembaca terkasih....terimakasih sudah sampai di bab ini. Ayo berikan dukunganmu buat author biar tambah semangat lagi.
*Pagi dan siang boleh dong dikasi bunga dan kopi biar mata makin jreng 😂😂😂😂
*Jangan lupa vote, like dan komen ya. Author doain smua pembaca sehat sejahtera, sukses dan rejekinya berlimpah. Amin.
Terimakasih 🙏🙏🙏
__ADS_1