TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 234. RUANG RAHASIA


__ADS_3

Anak buah Bara yang berada dilokasi TKP menelusuri setiap sudut bangunan dan halaman ruamh tersebut. Saat mereka sedang berusaha memasuki kamar tidur utama mereka menemukan kejanggalan disana.


Kamar tidur itu tidak terlalu besar dan memiliki kamar mandi dalam. Namun, saat salah seorang anak buah Bara baru selesai buang air kecil di kamar mandi itu dan  menekan tombol kloset tiga kali, kloset itu bergerak dan dinding dibelakang kloset terbuka.


Saking kagetnya dia berteriak memanggil rekannya. “Hei kemarilah. Aku menemukan sesuatu.”


“Ada apa teriak-teriak?” tanya rekannya serempak.


“Coba kalian lihat ini.”


“Pintu rahasia?” mereka pun mendekat dan melihat sebuah anak tangga yang menuju kebawah, sepertinya itu adalah sebuah lorong rahasia. Tangganya kecil hanya bisa muat satu orang dan mereka tidak menemukan saklar untuk menyalakan lampu. Lorong itu gelap tanpa penerangan.


“Gunakan flashlight dari ponsel sebagai penerangan. Siapa yang mau turun kebawah?”


“Karena aku yang menemukan maka aku saja yang turun. Satu orang ikut denganku dan kalian tunggu disini untuk berjaga-jaga. Segera hubungi markas besar dan tanyakan tim IT apakah mereka sudah mendapatkan rekaman cctv yang hilang.”


“Tenang saja akan kami urus. Kalian turunlah segera.”


Dua orang turun ke bawah dengan penerangan dari lampu ponsel. Sangat aneh jika sebuah rumah yang berada di area padat penduduk memiliki lorong rahasia seperti itu. Saat mereka sudah tiba dibawah, tampak kondisi lorong itu bersih dan sepertinya sering dipakai dan dibersihkan.  Mereka terus berjalan lalu menemukan sebuah pintu yang terkunci. “Pintunya terkunci!”


“Ambil ini, buka pakai ini saja.” sambil menyerahkan sebuah linggis. “Pemilik rumah ini tampak seperti pria parauh baya biasa, siapa sangka dia punya ruang rahasia ya. Siapa dia sebenarnya?”


“Kita akan segera tahu. Apa dia ada hubungannya dengan pembunuhan itu!”

__ADS_1


Pintu berhasil dibuka dan mereka menemukan saklar lalu menyalakan lampu. Didalam ruangan yang terlihat seperti ruang kerja itu, tidak tampak ada yang mencurigakan. Kedua pria itupun menelusuri setiap sudut ruangan. “Heli lihat apa yang kutemukan!”


“Apa itu? Tali dan pisau? Kenapa ada disini? Eh….bukankah ini terlihat seperti darah?”


“Ya benar. Ini memang bekas noda darah, mungkin pemiliknya lupa membersihkan karena buru-buru. Amankan dulu barang bukti ini.”


Hingga saat salah seorang mencoba mendorong rak buku, rak itu bergerak terbuka dan ada pintu lain disana dengan sebuah tangga kecil sama seperti sebelumnya.


“Bro…..ada tangga lagi. Cepat kau hubungi yang diluar.” ujar seorang pria pada rekannya.


Setelah dia memberikan informasi penemuan mereka diruang bawah tanah itu, keduanya memutuskan menaiki tangga dibalik rak buku.


Tepat diatas anak tangga terakhir ada sebuah pintu kecil yang terkunci. Mereka membukanya dengan linggis, tak disangka tangga itu mengarah ke halaman belakang tepat dibawah jendela kamar mandi yang terlepas. Pintu kecil itu berada didalam bak pembuangan sampah yang berada tepat dibawah jendela kamar mandi belakang.


Jika dilihat dari luar, pintu rahasia itu tak terlihat karena terbuat dari semen sehingga siapapun yang memperhatikan tempat pembuangan sampah tidak akan menyadari ada pintu keruang rahasia disana. “Apa kau berpikir sama sepertiku? Pelakunya pasti”


Pria itupun segera menghubungi markas besar dan berbicara dengan Bara mengenai temuan mereka. Semua barang bukti yang mereka temukan sudah diamankan oleh rekannya dan mereka mengambil banyak foto diruangan rahasia itu.


Setelah menutup kembali pintu rahasia seperti semula, mereka pun meninggalkan lokasi TKP dan kembali ke markas. Sesampainya disana Bara sudah menunggu bersama anak buahnya yang lain.


“Bos! Ini semua barang bukti yang kami temukan diruang rahasia itu.”


“Ada hal lain yang ingin kalian sampaikan mengenai temuan kalian?”

__ADS_1


“Menurut pengamatan kami, pelakunya pasti si pemilik rumah tidak mungkin orang lain.”


“Aku juga berpikir seperti itu setelah melihat rekaman cctv yang berhasil diretas, pria itu masuk ke kamarnya pukul 2.45pm dan berada didalam kamar selama setengah jam lalu bergabung dengan para tenaga servis ac sambil memeriksa pekerjaan mereka. Pukul empat mayat ditemukan dan tidak ada orang lain yang keluar masuk rumah selama kurun waktu itu. Kerja bagus! Jika kalian tidak menemukan ruang rahasia itu maka kita tidak bisa menemukan pelakunya.”


“Tapi pria itu terlihat seperti orang normal Pak Bara! Bagaimana caranya dia membunuh Dayat sesadis itu? Hanya dengan seutas tali dan pisau ini? Kalau dilihat-lihat Dayat itu tubuhnya lebih kekar dan kuat dibandingkan pria paruh baya itu.”


“Apa menurutmu dia yang membunuh atau ada orang lain dikamar itu? Bukankah dikamar itu tidak ada cctv? Begitu juga dibagian belakang kamar mandi belakang. Siapapun akan bebas keluar masuk dari sana, bukan?”


“Kalau begitu kami akan mencari si pemilik rumah itu untuk ditanyai!”


“Bagus! Aku suka kalian selalu ebrinisiatif tanpa menunggu perintahku.” ujar Bara. “Pergilah dan kalau bisa bawa pria itu kesini.”


“Baik.” beberapa anak buah Bara pun segera meninggalkan markas besar itu. Semakin menemukan titik terang dalang pembunuhan itu maka semakin dekat mereka pada pelaku utama dibalik semua kekacauan yang sedang menimpa keluarga Verrel.


Sementara itu dirumah sakit, sudah lebih seminggu Deandra mengalami koma paska operasi caesar, Verrel pun tidak pergi dari sisinya hanya sang mama Ayu yang berulang kali mengingatkan putranya itu untuk tetap menjaga kesehatan, memaksanya makan dan tidak pergi kemanapun untuk tetap bersamanya.


Ayu tidak hanya mengkhawatirkan Deandra tapi wanita itu juga mengkhawatirkan putranya. “Ma….aku mau keluar sebentar. Mama tunggu disini ya, kalau istriku bangun segera kabari aku.”


“Kau mau kemana Verrel?”


“Tidak kemana-mana ma, hanya duduk diluar sebentar menghirup udara segar.” ucapnya dengan suara lirih. Sudah lebih seminggu istri tercintanya belum juga sadarkan diri, Verrel merasakan dadanya sesak dan sangat merindukan istrinya. Dia duduk dilorong rumah sakit merasakan dinginnya dinding yang sunyi.


Saat dia berjalan keluar dari lift di lantai dasar menyusuri lorong rumah sakit,dia mendengar suara tangis dari keluarga yang baru saja kehilangan anggota keluarganya. Verrel merasakan kesedihan yang sama, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika nanti gilirannya yang menangis seperti itu.

__ADS_1


Dia juga melihat seorang istri yang menjerit histeris dan pingsan dilorong rumah sakit setelah mendengar kabar suaminya meninggal dunia meninggalkannya dan anak-anaknya yang masih kecil. Sudut mata Verrel meneteskan airmata mengingatkannya pada anak-anaknya yang juga masih kecil.


Verrel sampai dihalaman belakang rumah sakit mewah itu yang dipenuhi pepohonan dan bunga. Dia menghela napas menghirup oksigen untuk mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Hanya sebentar dia berada disana lalu kembali lagi keruang perawatan Deandra. Dia kembali duduk disamping ranjang istrinya sambil memegang tangannya, menatap selang-selang dan mesin yang terhubung ketubuh istri tercintanya.


__ADS_2