
“Rian! Rian! Bangun….ayo bangun.” Andini merangkak menghampiri Rian yang terikat. Tubuhnya begitu lemah tak bertenaga, namun dia harus membantu Rian yang babak belur. Andini melepaskan ikatan di tangan dan kaki Rian lalu menggoyangkan bahu pria itu untuk menyadarkannya.
“Eughh...” pria itu melenguh pelan sambil mengangkat wajahnya. “A—andini. Kau kenapa?”
“Maafkan aku Rian! Mereka memperkosaku….huaaa….” tangis Andini pecah, bahunya tergoncang, sakit! Rasa sakit yang dia alami bukan cuma di tubuh tapi juga hatinya. Untuk kesekian kalinya harga dirinya diinjak-injak, dia diperlakukan layaknya seorang j*lang.
“Apa? Siapa yang lakukan itu padamu? “ tanya Rian dengan mata berkabut sedih. “Ini semua salahku, aku tak mampu melindungimu Andini.”
“Ini bukan salahmu. Semua ini ulah bajingan itu. Mereka malah mengancamku.” ucap Andini masih terus menangis di pelukan Rian.
“Mengancammu? Tapi kenapa? Apa hubunganmu dengan mereka sehingga mereka melakukan ini semua padamu?” tanya Rian panik.
“Iya. Mereka meminta sepuluh milyar padaku. Katanya uang sepuluh milyar tempo hari aku berikan pada orang yang salah. Bukan pada mereka. Jika aku tak memberikan uang itu, mereka akan mengirimku kerumah bordil dan menjualku sampai hutangku lunas.”
“Ya, ampun Andini. Kasihan sekali kamu sayang. Apa yang bisa kulakukan?”
“Aku tidak tahu Rian. Dimana aku bisa dapat uang sebanyak itu?”
“Apakah kau akan memberikan uang yang mereka minta?” tanya Rian lagi.
“Tak ada pilihan lain. Aku harus memberinya, aku tidak mau rumah tanggaku hancur.”
“Tapi kau sudah hancur Andini! Sudah berapa kali mereka menggilirmu! Apa reaksi suamimu jika dia tahu semua ini? Tentang kau dan aku, hu?”
“Dia tidak boleh tahu. Kau selalu mampu memuaskanku Rian, tapi sekarang aku merasa kotor. Pasti kau jijik melihatku,” lirih Andini menangis.
‘Dari dulupun aku jijik melihatmu dan perbuatanmu. Tapi sekarang lebih jijik lagi, karena laki-laki yang menggilirmu semua orang-orang rendahan, cihhh.’ monolog Rian dalam hatinya.
“Tidak Andini! Jangan bicara seperti itu. Aku menerimamu apa adanya karena aku mencintaimu tapi kau justru lebih memilih Amran ketimbang aku dulu.”
“Jangan berkata begitu, Rian.”
“Lantas apa rencanamu sekarang. Apa kau punya uang?” tanya Rian mulai beraksi.
__ADS_1
“Aku hanya punya lima milyar uang tunai, sisa dari jual rumah dan tanah kemarin serta perhiasan.”
“Berati kau harus mencari lima milyar lagi. Apakah ada barang berharga lainnya yang bisa kau jual?”
“Tidak ada. Aku masih ada satu sertifikat villa di Bali tapi itupun tak cukup karena villa itu tak besar dan harganya paling tiga setengah milyar.”
“Kau jual saja villa mu! Aku akan bantu mencari pembelinya tapi karena kau butuh mendesak, mungkin harganya akan lebih rendah.”
“Apa kau bisa membantuku Rian? Tapi bagaimana dengan sisanya? Aku masih harus mencari sisanya.”
“Baiklah. Aku mungkin bisa pinjamkan kau satu milyar karena cuma itu yang bisa kukeluarkan sekarang. Bisnisku sedang tak baik.”
“Oh, Rian. Kau selalu menolongku. Terimakasih.” Andini hendak mencium pria itu yang langsung menolaknya secara halus. Bagaimana mungkin Rian sudi dicium olehnya, dia melihat semua yang tadi terjadi didalam kamar itu, jijik hanya rasa jijik yang dirasakan Rian melihat Andini.
“Sudahlah. Sekarang kita cari orang yang mau membeli villamu.”
Andini membersihkan tubuhnya sambil menahan rasa sakit, bagamanapun dia tak ingin hidupnya hancur dan rumah tangganya porak poranda jika Amram tahu semuanya. Andini rela menjual villa dan perhiasannya demi membayar sepuluh milyar pada orang yang sudah meengancamnya.
“Wajahku nampak berantakan. Bagaimana aku bisa keluar seperti ini,” ucap Andini.
“Sekarang kau pulang, ambil sertifikat villa dan uang. Aku akan meminjamkanmu satu milyar tapi harus kau kembalikan dalam waktu dua minggu karena aku butuh uang itu untuk bisnisku.”
“Bagaimana jika tiga minggu? Please Rian. Aku mohon, dalam waktu tiga minggu aku akan kembalikan uangmu berikut bunganya.”
“Baiklah. Aku beri waktu tiga minggu. Sebentar aku hubungi temanku, moga dia mau membeli villamu.” ucap Rian smebari menekan nomor kontak di ponselnya.
“Halo Pak Bagas. Ini Rian Cordino.”
“Oh iya. Pak Rian apa kabar? Tumben menhubungi saya?”
“Kabar saya baik, Pak. Iya pak bagas, ini ada keperluan mendadak.”
“Iya. Apa yang bisa saya bantu pak Rian?”
__ADS_1
“Begini pak, teman saya lagi butuh dana hari ini. Dia punya villa di Bali dan ingin menjualnya.”
“Oh begitu ya. Coba kirimkan detailnya pada saya ya.”ucap Bagas tersenyum.
Selesai mengirimkan detail yang diminta oleh Bagas, Andini bergegas pulang kerumahnya untuk mengambil sertifikat dan barang berharga miliknya untuk dijual. Dua kali dia menerima pesan chat dari orang yang mengancamnya. Andini sudah tak sabar lepas dari semua ini dan hidup tenang seperti dulu. Ting! Ada notifikasi pesan masuk dari Rian.
Temui aku jam empat sore di restoran LaSole. Orang yang mau membeli villa mu akan menemui kita disana nanti. Jika masih ada tanah atau properti lain yang mau kau jual, bawa saja sekalian sertifikatnya.
Andini dengan cepat membalas pesan Rian dengan tersenyum lega. Akhirnya dia bisa mendapatkan uang sepuluh milyar hari ini. Andini membawa sertifikat villa miliknya dan sertifikat tanah di puncak milik Amran suaminya. Setelah dia pikir-pikir dia akan menggadaikan sertifikat itu pada Rian. Wanita itu pergi ke toko perhiasan dan menjual semua perhiasan miliknya, kini dia punya uang lima milyar rupiah.
“Bagaimana,apa semua lancar?” tanya Darma pada Rian melalui sambungan telepon.
“Sesuai prediksi, Andini akan kehilangan semuanya dan dia akan berhutang padaku.Hutang tanpa uang...ha….ha….ha. Bodoh sekali wanita itu! Dia akan meminjam satu setengah milyar padaku.”
“Nikmatilah uang itu. Dia tak sadar semua uang itu dia berikan pada kita.”ucap Darma puas.
“Segera temui Bagas. Aku akan menemui kalian ditepat biasa setelah Andini menyerahkan uang dan sertifikat.”
...*...
Andini dan Rian sudah berada di restoran yang dituju, duduk di sudut ruangan yang tertutup oleh rimbunnya bunga. Mereka menunggu kedatangan Bagas yang berniat membeli villa milik Andini. Tak berapa lama Bagas datang, pria berpenampilan necis dengan kepala botak berjalan kearah meja yang ditempati Rian dan Andini. “Maaf saya terlambat, maklum jalanan macet.”
“Tidak apa-apa Pak Bagas.”
Ketiganya berbincang sejenak dan Bagas terlihat memperhatikan sertifikat yang diberikan oleh Andini lalu berkata “Saat ini saya hanya punya dana dua setengah milyar. Jika anda mau menjual villa ini seharga tiga setengah milyar, saya tidak bisa karena dana saya tidak mencukupi. Mungkin anda bisa menjualnya pada orang lain.” ucapnya pada Andini.
“Apa tidak bisa dinaikkan sedikit harganya pak? Saya menjualnya karena lagi terdesak. Bagaimana kalau tiga milyar rupiah?” tawar Andini pada Bagas yang nampak mengeryitkan dahinya seolah sedang berpikir.
“Tidak bisa. Seperti saya sudah bilang tadi. Jika anda mau menerima penawaran saya, maka uangnya saya berikan sekarang.”
Setelah berpikir agak lama akhirnya Andini setuju menjual dengan harga dua setengah milyar rupiah. Karena terdesak oleh ancaman dan tekanan yang diterimanya sejak tadi membuatnya tak bisa berpikir tenang. Setelah Bagas menyerahkan uang tunai senilai dua milyar sesuai permintaan Andini, diapun pergi sembari memberi isyarat pada Rian yang tersenyum puas.
“Sekarang kau hubungi orang itu. Serahkan uangnya sekarang agar kau bisa tenang.” ucap Rian tak sabar. Andini lalu menghubungi nomor telepon yang diberikan oleh si pengancam sebelumnya. Dia diminta menemuinya disuatu tempat yang agak sepi. Andini dan Rian berangkat dengan membawa uang sejumlah sepuluh milyar rupiah.
__ADS_1
*Halo semuanya....Terimakasih masih setia dengan novel ini. Mohon like, vote, komen dan sarannya ya biar author tambah smangat. 🙏🙏😘😘 Author doain semua pembaca dilimpahi kesehatan, rejeki & sukses selalu. Amin 🙏🙏