
“Nah begitu kan enak dipandang! Tambah ganteng suamiku!” kata Deandra tersenyum. Verrel mencium kening istrinya dan duduk disampingnya. Kini giliran Carlos yang disusui sedangkan Chloe sudah berpindah ke gendongan Verrel.
“Bagaimana anak-anak? Kapan jadwal ke dokternya?” tanya Verrel.
“Baik-baik saja. Seminggu lagi jadwal periksa. Bekas luka operasi juga sudah baik, salep yang dari Anita itu bagus sekali!” kata Deandra.
“Oh ya? Itu kan produksi perusahaan obat milik keluarga Sandjaya. Kalau sudah habis minta lagi sama Anita. Atau besok aku suruh dia antar kerumah.” kata Verrel.
“Isss….jangan sayang. Dokter Anita sibuk banyak pasiennya. Biar saja nanti pas mama mau kesini aku minta mama bawakan.” Deandra berusaha menolak karena dia tahu kesibukan Anita akhir-akhir ini.
“Ya sudah, nanti aku beritahu mama. Tadi kata mama mau datang kerumah besok, Liam bawa oleh-oleh dari luar negeri untuk anak-anak.” ujar Verrel menatap wajah istrinya yang tampak padat dan kenyal.
“Wah! Pasti anak-anak senang dapat hadiah lagi.”
“Hem….banyak hadiah sampai tidak ada tempat buat simpan.”ujar Verrel mencium wajah mungil Chloe. “Adek Chloe bobok ya sayang?” ujar Verrel mencium gemas wajah putri bungsunya.
“Sayang…...” panggil Deandra pelan.
“Hem? Ada apa?”
“Benar ya rumah mau direnovasi lagi?” Deandra bertanya karena dia melihat Yahya memanggil orang untuk membuat desain kamar anak.
“Kata Opa begitu, mau buat kamar tambahan buat anak-anak.” jawab Verrel.
“Mereka masih kecil, Nanti kalau Chloe sudah agak besar dia bisa sekamar dengan Naomi.”
“Terus anak laki-laki bagaimana? Sekamar semua?” tanya Verrel.
“Ya tidak apa-apa. Mereka kan masih kecil, masih bisalah tidur sekamar. Kamar ini dibuat pintu sambung saja ke kamar Nathan. Untuk kamar anak laki.” Deandra memberikan usulannya.
__ADS_1
“Tanah kosong masih luas, buat tiga kamar lagi untuk mereka bertiga nanti.”
“Yah, rumah ini besar sekali. Kalau di bangun tiga kamar lagi jadi tambah luas rumahnya.”
“Ha ha ha….kenapa sampai mikir kesana sampai cemberut begitu? Kan bukan kamu yang bersihin!" kata Verrel gemas melihat wajah cemberut istrinya.
******
Jauh dari rumah sakit yang megah tempat dimana ibunya Olivia dirawat. Di sebuah desa dekat perbatasan provinsi, sebuah becak motor melintas dijalan tanah yang berdebu, diatasnya Olivia duduk masih mengenakan pakaian serba putih dengan masker menutupi wajahnya. Becak motor itu berhenti disebuah rumah permanen berpagar hitam. Aneka bunga tumbuh dihalamannya tetapi sayangnya tidak terawat dengan baik.
Daun-daunnya meranggas karena tidak pernah disirami oleh si empunya rumah. Olivia turun dari becak setelah membayar ongkos dia pun masuk kedalam rumah. Jemarinya menarik masker dengan kasar lalu melemparnya ke sembarang tempat.
“Sial! Sial! Siaaaalllll!” umpatnya. Kakinya bergerak menendang ke segala arah, tanpa sengaja mengenai guci yang berdiri disamping pintu kamar.
PRANNNGGG!
Guci itu jatuh dan pecah berserakan dilantai. Suaranya yang bising membuat Ezha terlonjak, bangun dari tidurnya. Dengan langkah besar dia bergegas ke luar kamar untuk mencari tahu apa yang terjadi disana.
Ezha tidak tahan untuk tidak mengumpat saat kakinya menginjak pecahan guci itu.
“Apa yang kau lakukan Olivia?” bentaknya dengan tatapan yang menyala-nyala saat melihat pecahan guci ebrserakan didepan pintu kamar.
“Sorry, aku tidak sengaja!” sahutnya tanpa merasa bersalah.
Olivia berlalu menuju kekamar belakang dengan kepala tertunduk menahan kekesalan.
“Mau kemana kamu? Siapa yang akan membereskan kekacauan ini?” sergah Ezha.
“Aku lelah! Tolong kau bereskan ya, aku mau istirahat.” jawab Olivia seenaknya lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar.
__ADS_1
“Hei ******! Kau pikir kau itu siapa dirumah ini?” teriak Ezha marah merasa direndahkan oleh Olivia.
Sontak langkah Olivia terhenti, dia balas menatap Ezha dengan sorot mata tajam bagaikan belati.
“Jaga kata-katamu! Jangan keterlaluan kau Ezha! Kita setara dirumah ini,”sahut Olivia.
“Ha ha ha ha…...” Ezha tertawa terbahak-bahak dengan tatapan mencemooh pada Olivia. “Hei, jangan membuat lelucon yang tidak lucu Olivia! Kau bilang setara? Berapa uang yang kau keluarkan untuk menyewa tempat ini ha?” tanya Ezha dengan nada merendahkan.
Olivia langsung melemparkan tasnya dengan gusar. Sayangnya tas itu mengenai vas bunga diatas meja. Dalam hitungan detik as itu pun jatuh dan pecah berkeping-keping.
Wajah Ezha semakin menegang karena amarah tetapi Olivia tidak peduli. Dengan wajah angkuh dia justru berkacak pinggang sambil mendongakkan dagunya.
“Selalu saja uang uang uang uang! Apa tidak ada lagi yang bisa kau bahas selain itu? Kau meremehkanku Ezha! Mentang-mentang kondisiku sekarang sedang terpojok, kau tega menginjak-injak harga diriku!”
“Memangnya berapa uang yang sudah kau habiskan untuk membiayaiku? Aku akan ganti sepuluh kali lipatnya. Bahkan lebih!” jawab Olivia dengan suara tinggi. Dia lupa kalau dia tidak bisa pergi ke ATM mengambil uang dan tidak bisa menjual rumahnya karena dia berstatus sebagai buronan.
“Harga diri kau bilang? Cih! Kata-katamu benar-benar membuatku mual. Sejak kapan kau punya harga diri Olivia?” ejek Ezha.
“Sepertinya aku harus kembali mengingatkanmu Olivia! Saat ini kau bukan siapa-siapa lagi, tanpaku kau itu pasti sudah membusuk di penjara yang kotor dan dingin itu. Kau selalu saja menyombongkan uang keluargamu. Kau pikir keluargamu masih berkuasa seperti dulu? Mana ayahmu yang lari membawa banyak uang itu? Apa dia ingat bahwa putrimu sedang susah? Bahkan ibumu pun tak bisa membantumu!” lanjut Ezha masih dengan nada yang merendahkan.
“A---apa maksudmu? Tentu saja keluargaku baik-baik saja. Kalau keadaan sudah stabil, semua akan kembali seperti dulu. Kau mana mengerti soal bisnis, hal biasa jika perusahaan mengalami pasang surut dan saat ini memang perusahaan papaku sedang ada masalah.” jawab Olivia terbata.
“Sinilah, ikut aku. Otakmu itu memang perlu diluruskan dulu biar tidak terlalu jauh tersesatnya.” kata Ezha. Dia pun berjalan menuju sofa lalu menyalakan ponselnya. Ezha mengertikkan kata kunci lalu menunjukkan hasilnya pada Olivia.
“Lihat! Inikah yang kau sebut baik-baik saja?’ sindir Ezha memperlihatkan layar ponselnya pada Olivia.
Olivia mendekat, dia penasaran ingin mengetahui apa yang sedang diperlihatkan oleh Ezha padanya. ‘William Lee dipenjara, sang putri buron dan perusahaan bangkrut. Apa yang tersisa dari keluarga Lee yang terkenal itu?’
Tepat dibawah judul yang bombastis itu terpampang nyata kediaman keluarga Lee yang disegel dan berita lengkap William Lee yang berhasil ditangkap di sebuah rumah didaerah Sichuan,China. Sang putri bernama Olivia Lee tersangka penculikan dan pembunuhan buronan dan perusahaan yang dibangun oleh Keluarga Lee selama beberapa generasi bangkrut.
__ADS_1
Bukan itu saja, gedung kantor megah milik William Lee dikabarkan telah diambil alih oleh Luke Mallori dan gedung megah yang berada di pusat bisnis di Singapura pun sudah berganti nama dan kini terpampang logo dan nama perusahaan baru milik Luke.