
Verrel membuka mata saat dia mendengar suara wanita yang sedang berdendang. Dengan susah payah dia bangun, turun dari ranjang dan mencoba melihat sekeliling kamar namun tak ada siapapun selain dirinya. Rasa penasaran, Verrel berjalan ke balkon dan suara dendang itu semakin jelas terdengar, dia melihat seorang wanita cantik berambut panjang sedang membelai perutnya yang buncit sambil bernyanyi. Verrel tersenyum melihat istri tercintanya yang sedang memanjakan calon anak mereka.
“Suaramu bagus, sayang. Kenapa tidak pernah meninabobokkan ku sebelum tidur?” tanya Verrel mencium kening istrinya. Tangannya merangkul bahu istri tercintanya.
“Memangnya kau anak kecil harus di nina bobokkan? Kau cukup kusentuh saja, sayang langsung pulas,” ujar Deandra mengedipkan mata membuat Verrel menelan ludahnya. ‘Kenapa istriku sering menggodaku? Lebih parahnya, sudah menggoda tak mau tanggung jawab, langsung pergi begitu saja….hufff sabar Verrel….sabar.”
“Aku bayi besar, iyakan. Aku juga mau didendangkan,” merebahkan kepalanya dibahu Deandra. Menghirup wangi segar dari tubuh istrinya, Verrel mengecup leher mulus itu.
“Hmmm….mulai lagi. Kau harus belajar menahan diri dari sekarang, sayang. Begitu anak kita lahir, perhatianku akan fokus untuk mereka, jadi kau harus rela berbagi dengan anak kita.”
“Maksudnya?” tanya Verrel mengeryitkan kening.
“Kita bakal punya dua anak, butuh perhatian ekstra, jadi kau jangan terlalu manja karena waktuku akan habis untuk mengurus anak.”
“Aku akan menyiapkan empat orang pelayan untuk mengurus anak-anak kita,”
“Tidak bisa! Aku ibunya, anakku akan membutuhkanku dua puluh empat jam. Biasakan untuk menahan diri dan sabar okay?”
“Lalu, bagaimana dengan----”
“Setelah melahirkan, kau harus menunggu empat puluh hari. Setelah itu baru aku bisa melayanimu, sayangku,” Deandra terkekeh melihat wajah Verrel yang sontak kaget dan cemberut membayangkan masa-masa penyiksaan tanpa sentuhan sang istri. Tangannya mengacak-acak rambutnya kasar.
“Kenapa lama? Apa tidak bisa dipercepat?”
“Tidak bisa! Kadang bisa lebih lama, ada yang sampai dua bulan bahkan tiga bulan, ya begitu kata dokter,” sahut Deandra asal. "Masih syukur empat puluh hari. Coba bayangkan kalau nanti dokter bilang harus puasa tiga bulan,hm" ucap Deandra menggoda suaminya.
__ADS_1
“Apa? Dua bulan, tiga bulan? Gila….itu gila. Masa aku harus puasa dua bulan?” kata Verrel kesal. Bagaimana mungkin seorang penguasa ranjang bisa puasa dua bulan, tangannya menggaruk kepalanya kasar. Memandang istrinya yang tertawa sambil menunjuk wajah Verrel, entah apa yang lucu hingga membuat Deandra tertawa terpingkal-pingkal.
“Ya sudah. Tidak apa-apa.” jawab Verrel tenang membuat Deandra gundah.
“Eh..ingat ya! Kalau sampai kau berulah seperti dulu, aku akan---” Deandra mempraktekkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk seperti gunting dan menggerakkan seolah memotong. Mengarahkan jarinya ke bagian bawah perut suaminya. “Ingat! Aku buat begini!” ancamnya membuat wajah Verrel pucat. ‘Kejam amat mau main potong segala’
“Kau yakin mau buat begitu? Nanti menyesal?” canda Verrel. "Yakin mau dipotong?"
“Tidak menyesal! Daripada berbagi dengan perempuan lain, lebih baik potong saja!” Deandra bangkit sambil mendengus, masih menggerakkan jarinya didepan wajah Verrel. Dia meninggalkan Verrel yang terpaku di balkon. Diam-diam Deandra terkekeh melihat ekspresi suaminya yang menggemaskan. Dia berjalan keluar kamar, namun tubuhnya melayang karena Verrel sudah menggendongnya dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
“Kenapa istriku kejam sekali, hmm?” sambil mengendus leher mulus istrinya yang menggeliat geli.
“Makanya jangan coba-coba melirik perempuan lain. Awas ya!" ancamnya.
“Tapi—sayang harus bantu aku, masa harus puasa dua bulan?” protesnya tak terima.
“Kau mau makan apa?” tangan Verrel mengelus perut istrinya, tiba-tiba dia merasakan tendangan kencang “Ah...dia nendang sayang!” pekiknya kegirangan. “Dia rindu daddy nya….bolehkah aku menjenguk baby kita, sayang? Sebentar saja...please.” tanpa menunggu persetujuan istrinya, bibirnya mengecup Deandra. Kecupan lembut yang menyenangkan istrinya membuat Deandra tersenyum manis. Verrel selalu membuatnya melambung.
Perlahan Verrel menggerakkan tubuhnya mencari posisi yang tepat agar tidak menyakiti istri dan janinnya. Lenguhan lembut keluar dari bibir Deandra, satu tangan pria itu mengelus perut istrinya. Gerakannya perlahan, suara ******* menggema dikamar itu.
Verrel mencium perut istrinya yang buncit sambil membelai “Hai baby...baik-baik didalam ya, sayang.” ucap Verrel. Sejak menikahi Deandra, pria itu semakin bisa mengkontrol lebih tepatnya Deandra mampu meredam hasrat suaminya. Reaksi Verrel pun tidak seperti dulu, kini dia adalah suami yang penyayang dan penyabar. Tak sekalipun dia menolak permintaan istrinya.
Kehidupannya sempurna, dia tak pernah membayangkan akan menikah dan punya anak. Dulu dia sangat menentang pernikahan. Lihatlah sekarang, bagaimana dia memanjakan istrinya yang sedang hamil. Dua bulan lagi anaknya akan lahir, tugas dan tanggung jawabnya makin besar.
Dia berjanji akan jadi ayah dan suami yang baik. Keduanya berendam bersama, hal yang paling disenangi Deandra akhir-akhir ini. Verrel memijat punggungnya dengan lembut dan sesekali mencium tubuh istrinya. Selesai berendam, Verrel dan Deandra turun ke ruang keluarga, sudah ada Frans dan Yahya yang terlihat sedang berdiskusi.
__ADS_1
“Kau mau makan apa, sayang?” tanya Verrel.
“Aku mau makan pizza, meatballs soup, iga bakar, rujak dan jus pokat. Keripik juga ya buat cemilan.” kata Deandra manja.
“Baiklah, Nyonya Verrel. Aku suruh pengawal pergi membelinya.” Verrel menghubungi pengawal dan menyuruh membeli semua makanan pesanan istrinya.
...*...
“Tuan Besar, apakah di acara besok Tuan Verrel akan muncul?” tanya Frans pada Yahya yang sedang fokus dengan ipadnya.
“Iya. Sesuai rencana, besok semua orang akan melihat Verrel selamat dan dalam keadaan baik-baik saja. Tingkatkan pengamanan di seluruh hotel selama acara berlangsung,” perintah Yahya.
“Baik, Tuan. Saya akan menempatkan pengawal disekeliling podium untuk keamanan Tuan dan Nyonya.”
“Apakah kau sudah kirimkan undangan pada Amran?”
“Sudah Tuan, sesuai perintah Tuan. Tapi Tuan Amran tidak mengatakan apapun pada saat jika dia akan datang atau tidak.”
“Tidak masalah. Aku juga tidak mengharapkan kedatangannya. Tapi kalau sampai dia datang, itu lebih bagus, dia bisa melihat kemewahan acara tujuh bulanan cucu mantuku.”
“Oh, iya. Dimana Viktor? Aku tidak melihatnya sejak tadi pagi.”
“Tuan Viktor tadi pergi diantar supir. Katanya ada urusan penting Tuan. Beliau bilang akan pulang sebelum makan malam.”
“Untuk makanan besok, pastikan untuk mengecek semuanya sebelum dihidangkan. Jangan sampai kecolongan!” lalu Yahya bangkit dari duduknya dan pergi. Frans meraih ponselnya dan menghubungi Event Organizer yang mengurus acara tujuh bulanan besok yang akan berlangsung di salah satu hotel milik keluarga Ceyhan.
__ADS_1
Berita tentang acara tersebut sudah menyebar di semua media, ramai orang yang penasaran ingin tahu karena kabarnya acara itu akan diadakan secara mewah. Sesuai permintaan Deandra, mereka juga berbagi sembako dan uang pada masyarakat kurang mampu yang total keseluruhannya mencapai milyaran rupiah. Sejak kemarin Frans dan para anak buahnya sudah mengunjungi panti asuhan dan panti jompo untuk berbagi kasih sebagai ucapan syukur. Aktivitas itupun tak luput dari incaran para wartawan.
*Hai para pembaca setia 👋👋 semoga kalian suka dengan alur ceritanya.....mohon bantu vote, like dan komen ya biar author tambah smangat. Terimakasih 🙏🙏😘😋