
Pagi ini diruang kerja Verrel ada sang asisten dan kedua sekretarisnya. “Selamat pagi, Tuan Frans.”
“Mana dokumen dari Tuan Alpian, David.”
Frans menghentikan langkahnya, kemudian memutar tubuhnya menatap kedua sekretaris Verrel itu tajam. “Dan kau. Lihat bagaimana perkembangan desain produk terbaru yang diminta oleh Tuan Verrel minggu lalu. Aku minta kau berikan laporannya padaku siang ini.”
Setelah mengatakan itu, Frans pun hendak berbalik namun tangannya ditahan oleh david yang menanyakan kabar tentang keadaan sang tuan. Frans pun tak tahu harus menjawab apa. “Bekerjalah dengan baik. Jika sewaktu-waktu beliau kembali, kalian tidak mendapatkan amarahnya.” Padahal dia sendiripun tak tahu bahkan tak yakin dengan kalimat yang baru saja dia ucapkan. Tetapi, Frans yang sudah bekerja bertahun-tahun dengan Verrel selalu yakin jika semua akan baik-baik saja seperti pesan yang disampaikan Verrel sebelum berangkat.
Frans masuk keruangan Verrel, pria bersetelan jas hitam itu duduk dikursi kebesaran sang CEO lalu membuka laptop dan membuka dokumen yang ada dilaptop milik Verrel itu. “Tuan memang selalu punya insting yang sangat kuat dan seolah tahu apa yang akan terjadi sehingga hal-hal seperti ini menjadi sangat mudah untuk diatasi.”
Jari jemarinya menari diatas keyboard, ia mencari dokumen yang ia butuhkan dan menyalin isi ponselnya kedalam sana. Termasuk beberapa bukti penting yang telah ia dapatkan sejak kemarin. Tak lama kemudian ponselnya berdering. Satu nama yang sangat ia kenal terpampang nyata membuatnya tercekat dan tanpa basa-basi ia menjawab panggilan itu “Halo.”
...*...
“Nyonya, sarapan dulu.”
Deandra tak bergeming dan malah memejamkan matanya saat Yuna datang membawakan sarapan. Mereka berdua disalah satu bangku yang ada di area rumah sakit itu. Calon ibu muda itu seharusnya sudah boleh pulang, tetapai karena kejadian tadi malam Deandra histeris dan hampir melukai dirinya sendiri. Maka mau tak mau Yahya pun menyarankan agar Deandra menginap dulu dirumah sakit untuk beberapa hari ke denapn.
“Nyonya…..jangan seperti ini. Nyonya harus makan.”
__ADS_1
Yuna menyentuh bahu majikannya yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Ia menyentuh bahu Deandra dengan lembut untuk menyadarkannya dari lamunan, tapi tetap saja Deandra tak merespon.
“Nyonya, ingat kalau bayi anda juga butuh nutrisi. Kalau nyonya tidak makan maka kedua bayi nyonya akan kelaparan.. Apakah nyonya tidak kasihan pada mereka?” kata Yuna berusaha berbicara dengan lembut dengan harapan Deandra akan merespon. Yuna pun merasa dadanya sesak dan ia hampir kehilangan kesabarannya untuk membujuk Deandra.
“Jika nyonya tidak makan, bagaimana bisa kedua bayimu bisa berkembang dengan baik didalam sana?” tetap tak ada respon juga. Sampai pada akhirnya, Yuna menghela napas dalam-dalam.
“Kalau saja Tuan tahu kalau nyonya seperti ini----” Yuna tercekat dan berusaha untuk tenang. “Tu—tuan pasti akan marah.” Mendengar kata ‘Tuan’ ternyata mampu membuat Deandra berpaling. Kedua matanya mengerjap berkali-kali meskipun masih terlihat sembab dan sayu.
“Verrel? Verrel suamiku?” Deandra melirihkan nama itu dengan intonasi yang sangat menyedihkan dan menyayat hati yang bisa dirasakan orang lain.
“Iya nyonya. Tuan Verrel tidak suka jika Nyonya seperti ini. Apalagi ada kedua bayi didalam perut nyonya. Nyonya menyayanyi mereka bukan?” ucap Yuna penuh kelembutan. “Bukankah Nyonya dan Tuan sudah menantikan kehadiran bayi ini?”
“Dokter bilang kalau nyonya harus menjaga kehamilan ini dengan baik, karena sudah memasuki bulan kelima. Berarti tinggal empat bulan lagi nyonya akan melihat malaikat kecilmu.” ucap Yuna dengan penuh semangat. “Nyonya pasti tidak menginginkan ada sesuatu yang terjadi pada bayi ini?”
Deandra kembali mengerjapkan matanya. Airmatanya seketika luruh membasahi pipinya, ia membayangkan bagaimana rasanya kehilangan. Sampai sekarang dia belum mendapatkan kabar tentang keberadaan suaminya, bagaimana jika dia juga harus kehilangan kedua bayiny?
“Menangislah nyonya, jika itu bisa membuatmu tenang, tapi saya mohon, nyonya harus memikirkan nasib janin yang ada dalam kandungan nyonya. Mereka membutuhkan perhatian dan kasih sayangmu.”
Yuna pun tak dapat menahan airmatanya lagi, Deandra menghamburkan dirinya kedalam pelukan Yuna. Dia sangat merindukan suaminya, dia tak sanggup kehilangan cintanya.
__ADS_1
“Aku ingin Verrrel, suamiku kembali. Aku ingin suamiku.” lirihnya dengan pilu. “Kenapa Verrel belum kembali juga Bibi Yuna? Kenapa mereka belum menemukannya? Kenapa? Dimana suamiku?” tangannya mencengkeram erat Yuna yang kini balik memeluknya.
Semua orang yang melihat dan mendengar pasti akan sangat sedih dan menangis. Lirihan dan rasa sakit yang dirasakan oleh Deandra kehilangan pria yang disayangi dan dicintainya, tempatnya bertumpu diatas kebahagiaan pasti akan membuat siapa saja akan sulit untuk melewatinya. Pasti sulit untuk bangkit saat kesedihan ketika sebagian dari diri kita hilang.
Deandra, wanita muda berusia dua puluh dua tahun itu yang kini menyandang gelar Nyonya Verrel, dia tetaplah manusia biasa. Wajar jika dia merasa sangat sedih dan sakit ketika pria yang selalu menyayanginya, memujanya dan memberikan cinta akhir-akhir ini, tiba-tiba hilang begitu saja. Apalagi ada hal yang mengikat mereka berdua dalam satu ikatan kuat.
Kehadiran janin yang kini sudah berusia lima bulan itu adalah salah satunya. Bukti dari percintaan yang mereka lalui dengan sukarela dan memang sengaja dilakukan untuk meneruskan keturunan, selain mengikat diri mereka dalam satu janji suci pernikahan.
“Kapan suamiku kembali, Bibi Yuna? Apakah dia akan kembali secepatnya? Dia akan mendampingiku saat melahirkan nanti, bukan?” Lagi dan lagi hanya pertanyaan itu yang terucap saat Deandra menangis.
Yuna sudah tak mampu memastikan apa-apa, karena dia sendiri tak tahu apakah sang tuan masih selamat mengingat tim SAR melaporkan bahwa tak ada kehidupan yang tersisa.
“Kalau Tuan dan Nyonya memang ditakdirkan ebrsama, pasti akan ada waktu dimana Tuan Verrel akan kembali, Nyonya.” Yuna tak yakin, namun kata-kata itu meluncur begitu saja dan bersamaan dengan itu ada doa yang terselip. “Semoga ada sebuah keajaiban yang membawa Tuan kembali dan berbahagia dengan Nyonya.”
Puas menumpahkan airmatanya, Deandra menurut saja ketika Yuna menyuapkan nasi kedalam mulutnya. Yuna pun mulai bercerita tentang masa kecil Verrel yang menggemaskan. Deandra membayangkan akan seperti apa bayi yang didalam kandungannya itu.
“Dia pasti mirip Verrel, iyakan Bibi Yuna?” tanya Deandra seraya mengusap perut buncitnya. Dia tersenyum tipis dengan harapan yang tersirat dalam tatapan matanya.
“Tentu saja, Nyonya. Kedua anak itu pasti akan suka ngambek seperti Tuan dan baik hati seperti Nyonya,” sahut Yuna tanpa pikir panjang. Bahkan nada bicara wanita itu tampak alami seperti seorang ibu yang berbicara pada anaknya sendiri.
__ADS_1
“Verrel suka mengambek?” tanya Deandra sambil tersenyum, dia tak bisa membayangkan bagaimana wajah suaminya kalau sedang mengambek.