
Verrel dan Deandra tiba dibandara bersama Frans dan dua puluh bodyguard. Hari ini Tuan Yahya dan Nyonya Ayu tiba di tanah air. Kakek dan mamanya Verrel tiba dari New York. Mereka naik pesawat pribadi milik keluarga Ceyhan.
"Kau baik-baik saja?" Verrel bertanya karena melihat Deandra gelisah.
"Hmmm...ya, aku baik," jawabnya singkat.
"Itu opa dan mama. Ayo kita sambut." tangannya menggenggam tangan gadis itu.
'Apakah aku akan diterima dengan baik oleh keluarga ini? Kerisauannya muncul sejak kemarin.
Tampak seorang pria tua berperawakan tinggi, raut wajahnya persis sama seperti Verrel. Kini ia tahu darimana Verrel mendapatkan wajah dan sikap dinginnya.
Disebelahnya berdiri seorang wanita paruh baya yang sangat cantik. Meskipun usia sudah setengah abad, tidak terlihat ada keriput diwajahnya. Benar-benar cantik, dialah Nyonya Ayu Prastita Ceyhan ibunya Verrel. Istri pertama dari Amran Ceyhan.
"Halo, Opa." sapa Verrel memeluk dan mencium pipi kakeknya.
"Jadi begini ulahmu, lupa sama opa dan mama mu?" kata pria itu melirik kearah Deandra.
Deg!
Tatapan itu persis sama seperti Verrel. Tajam mencabik-cabik.
"Maaf opa. Aku sibuk mengurus perusahaan dan pernikahan."
"Halo, ma. Apa kabar?" memeluk wanita cantik itu dan mencium pipinya. Verrel terlihat berbeda saat ini.
"Perkenalkan ini calon istriku Deandra,"
Dengan sopan Deandra menjabat tangan Yahya yang terus menatapnya tajam. Dia bahkan tak berani mengangkat wajahnya, pria tua itu mengingatkannya pada Verrel saat awal pertemuan.
"Halo, ma. Selamat datang," memeluk mama Verrel. Sikap hangat ibunya Verrel membuatnya sedikit tenang.
"Anak siapa yang kau hamili? Kau berhutang penjelasan padaku, opa tidak mendidikmu seperti ini," ujar Yahya.
"Aduh, opa. Jangan salah paham. Semua tidak seperti yang opa pikirkan."
Rombongan itupun pergi meninggalkan bandara menuju rumah utama. Yuna sudah perintahkan pelayan untuk menyo
Tidak ada seorangpun dari mereka berniat untuk bicara. Hingga sampai dirumah, para pelayan berdiri menyambut barulah Deandra tersadar.
...**...
__ADS_1
Waktu sudah beranjak berganti hari, sinar matahari menyusup masuk melalaui celah kain jendela di kamar dimana sepasang anak manusia saling berpelukan. Keduanya berbagi kehangatan dibawah selimut dalam keadaan polos. Tubuh Deandra menggeliat dalam rengkuhan pria kekar, deandra menenguk ludahnya, ia selalu saja jantungan setiap bangun. Dia selalu bangun dalam keadaan polos, tanpa sadar ia yang tertidur pulas selalu ditelanjangi oleh Verrel.
Ia merasa nyaman dalam pelukan pria itu. Cukup sulit sebenarnya bagi gadis itu menerima takdir yang mempermainkannya, namun keyakinan membuatnya menjadi wanita kuat. Ini adalah pilihannya, pilihan untuk bertahan demi kebaikan orang lain dengan mengorbankan dirinya. Bisa saja ia lari dari sana tanpa mempedulikan nasib para pelayannya. Tapi ia tidak sanggup melakukannya.
“Takdir akan selalu membawa kebahagiaan. Tidak semua yang kita inginkan harus tercapai tanpa perjuangan dan pengorbanan. Kadang kita harus berusaha sendiri untuk menjemput masa depan yang lebih baik.
Ia memejamkan matanya kembali. ‘Setidaknya aku merasa nyaman dengan kelembutan Verrel dan sikapnya yang sudah mulai sedikit berubah. Meskipun aku harus melayani nafsu liarnya yang tak terkendali setiap saat.
Kenyamanan yang didapatnya dari Verrel sangat berbeda dengan yang ia dapatkan dari kekasihnya. Bahkan pelukan dan aroma maskulin pria itu sangat menenangkan hatinya. Dia hanya ingin bahagia dan hidup tenang, kini impian itu seakan mendekatinya. Buah cinta Verrel kini berada dalam tubuhnya. Semua kemewahan diberikan pria itu padanya.
“Sayang,” ucap Verrel sembari menciumi kepala dan wajah gadis itu. Sentuhan Verrel selalu meluluhlantakkan pertahanannya, ada desiran aneh ditubuhnya.
“Kau sudah bangun? Jangan banyak bergerak, sayang. Gerakanmu membangunkan gairahku.” bisik pria itu tanpa rasa malu sambil menarik tubuh Deandra.
Wajahnya menempel didada berotot yang ditumbuhi bulu halus, wajah deandra merona.
“Berhenti bergerak-gerak, Nyonya Verrel. Aku tidak bisa janji akan mengurungmu seharian jika kau terus menggodaku,”
Deandra tak mempedulikan ucapan Verrel, ia mengelus dada polos Verrel dan mendaratkan kecupan ringan disana. Sentuhan tangan lembut dan kecupan didadanya membuat gairah Verrel bangkit kembali. Deandra semakin berani meraba tubuh pria itu.
“Kau tidak akan kuampuni, sayang. Kau mulai berani sekarang,” Verrel bangkit dan menindih tubuhnya. Tanpa sadar deandra berdecak kagum memandang pahatan indah didepannya. “Aku peringatkan Nyonya Verrel. Jangan sekali-kali membangunkan singa yang sedang tidur. Karena kalau ia bangun, dia takkan berhenti sebelum puas.”
Mata indah itu hanya menatap Verrel sambil menyunggingkan senyum. Deandra malah penasaran, ia kehilangan akal warasnya. Satu jam lebih percintaan panas itu akhirnya mencapai puncaknya.
...**...
“Selamat pagi, Opa.” sapa Deandra pada Yahya yang sedang membaca koran.
“Selamat pagi, Ma.”
“Selamat pagi,sayang.” sambil memeluk dan mencium kedua pipi menantunya. “Ayo,duduklah.”
Verrel yang sudah duduk segera berdiri saat Deandra menghampiri dan menarik kursi untuknya, ia mengecup puncak kepala gadis kesayangannya itu. Sikap manisnya itu terpantau oleh Yahya yang dari tadi memperhatikan Deandra.
“Nia.”
Pelayan bernama Nia pun langsung masuk membawa troli berisi makanan dan mulai menghidangkannya dimeja dibantu oleh Rita. “Selamat menikmati Tuan Besar, Nyonya Besar, Tuan Verrel dan….” pelayan itu diam cukup lama.
“Nyonya Verrel! Ingat itu, Nyonya Verrel!” bentaknya.
“Ma-maafkan saya, Tuan.”
__ADS_1
“Sudah pergi dari sini,”
Melihat Verrel yang marah, Deandra menggenggam tangannya dan mengelusnya. Dengan suara lembut dia berkata “Sayang, makan ya. Jangan marah-marah.”
Yahya yang selalu memperhatikan interaksi keduanya pun bisa melihat bagaimana perlakuan istimewa Verrel pada istrinya, dan bagaimana Deandra meredakan emosi suaminya. Pria tua yang tidak tahu menahu tentang cerita awal pernikahan itupun memberikan restu.
“Kau mau makan apa, sayang?” tanya Verrel pada deandra. Yahya dan Ayu yang saling menatap melihat sikap manis Verrel pada deandra. Ini pemandangan aneh dan langka, seorang Verrel melayani seorang wanita.
“Aku suka semua, sayang.”
“Ya udah aku ambilkan ya.” ucap Verrel langsung menaruh makanan di piring gadis itu.
“Apa kau mau kusuapi?” tanyanya lagi yang dijawab dengan anggukan. Dengan sabarnya Verrel menyuapi Deandra. Yahya tak henti memperhatikan semua itu. Dia semakin yakin akan pernikahan cucunya, gadis itu ternyata hebat bisa merubah Verrel, pikirnya.
“Nia,”
“Ya, Tuan.” sahut pelayan itu yang bergegas masuk keruang makan.
“Ambilkan susu hamil untuk Nyonya,”
“Baik, Tuan.” sebelum kena semprot lagi, pelayan itu dengan cepat membuatkan susu untuk Deandra dan memberikannya.
“Lama sekali kau,” kata Verrel marah pada Nia.
“Kalau kau marah-marah terus aku tidak mau minum,” ujar Deandra, mulai merajuk. Wajahnya cemberut membuat Ayu menahan tawa, melihat bagaimana Verrel membujuk Deandra.
“Ayo sayang. Minum ya. Anak kita haus, kamu gak kasihan? Sayang...cup cup.”
“Hmmm….kau jahat. Tidak sayang padaku. Kau marah-marah terus.”
“Maafin aku ya sayang. Aku janji tidak akan marah-marah lagi.”
“Apa jaminannya kalau kau tidak begitu lagi?”
“Sayang mau apa? Aku akan turuti, tapi minum susunya,” rayu Verrel.
Pria tua yang duduk diseberang meja hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Verrel. ‘Kesambet apa cucuku ini kenapa dia bisa selembut itu? Aneh, bisa juga dia merayu membujuk istrinya yang merajuk. Biasanya dia tidak seperti itu pada siapapun.
“Aku mau jalan-jalan. Aku juga mau makan nasi goreng kampung tapi harus kau yang masak”
“Baiklah, Nyonya Verrel. Kita jalan-jalan setelah pernikahan ya?”
__ADS_1
Sontak Yahya dan Ayu mendelik terkejut mendengar permintaan Deandra yang diiyakan oleh Verrel. Bagaimana ceritanya seorang CEO sadis dan kejam masak nasi goreng kampung. Sunguh aneh tapi nyata kalau sampai Verrel bisa melakukannya tanpa membuat Deandra tambah merajuk.