
Sepulang kerja Rosa singgah dirumah utama untuk menjemput Lily. Saat dia tiba disana Deandra sedang duduk di sofa menonton kartun bersama anak-anak dan pengasuhnya.
“Kenapa mukamu cemberut gitu?” tanya deandra saat melihat Rosa menghempaskan diri di sofa dengan wajah kusut.
“Tadi si perempuan gila itu datang ke kantor.”
“Ha? Siapa maksudmu?” tanya Deandra.
“Siapa lagi kalau bukan Melissa!”
“Apa yang dilakukannya di kantor? Wijaya Property tidak punya hubungan bisnis dengannya ataupun dengan perusahaan tempatnya bekerja.”
“Dia datang mencari suamiku. Gila ya? Cuma alasan saja datang pura-pura cari Frans padahal suamiku ada dikantornya. Memang mau cari ribut tuh perempuan gila.”
“Apa kubilang? Tidak mungkin dia tiba-tiba berubah gitu, pasti ada yang sedang direncanakannya. Terus gimana tadi di kantor?”
“Ya kuusirlah! Emangnya itu kantor nenek moyangnya?”
“Hahahahaha…….hahahaha tunggu tunggu….pasti seru tuh tadi. Aku bisa membayangkan wajahmu lagi marah-marah sama dia.” kata Deandra tertawa. “Eh udah….jangan cemberut. Tuh anakmu diurus, datang-datang manyun bukannya lihat anak.”
Rosa memangku Lily tapi ditahan oleh Nathan yang sedang asyik memainkan boneka panda dengan Lily. Wajah Nathan cemberut dan terlihat marah.
“Nathan…..jangan gitu sayang. Lily rindu sama mamanya. Besok main lagi sama Lily ya.” ujar Deandra sambil menarik Nathan dan memangkunya lalu menciumi wajah tampan bocah laki-laki itu, tawanya pecah karena geli.
Sedangkan Naomi melirik kearah pintu, belum tampak Verrel muncul. Biasanya Verrel pulang cepat disambut Naomi.
“Mbak…..tolong mandiin anak-anak ya. Sudah sore bentar lagi makan malam,” ucap Deandra pada pengasuh anaknya.
“Baik, Nyonya.”
Ring Ring Ring….
“Ya, sayang? Lagi dimana? Kenapa jam segini belum pulang? Naomi yariin dari tadi daddynya belum pulang. Kemana?” tanya Deandra yang menerima telepon dari Verrel.
__ADS_1
“Maaf ya sayang. Mungkin aku dan Frans pulang telat hari karena akan ada meeting dengan Tuan Anggara jam delapan nanti.”
“Ha? Meeting jam delapan malam? Meeting dimana dan sampai jam berapa meetingnya?”
“Biasalah, ini klien lama, dulu perusahaan itu dipegang ayahnya tapi kini dialihkan pada anak sulungnya, dia akan investasi besar diperusahaan dan dia minta bertemu di Xpose Club.” kata Verrel menjelaskan.
“Apa? Meeting di club? Verreeeeeeellllllll…...jangan aneh-aneh ya!” teriak Deandra kencang.
“Sayang…...ini hanya meeting biasa bukan mau aneh-aneh, kau harus percaya padaku. Mungkin aku akan selesai jam sepuluh.”
“Tidak! Meeting di club selama dua jam itu kelamaan, aku tidak setuju. Dua jam itu segala sesuatu bisa saja terjadi.” kata Deandra ketus.
“Aduh sayang, tidak akan ada apa-apa. Aku janji dan percayalah padaku, ok? Aku tidak akan minum-minum ataupun melirik perempuan di club. Aku pergi dengan Frans bukan sendirian.”
“Hmmm…...jadi cuma berdua dengan Frans? Harus bawa bodyguard ya.”
“Disana aman karena penjagaan juga ketat, tidak perlu khawatir.”
“Tuan Verrel yang terhormat, dengar ya. Aku sebagai istrimu bukan tidak percaya padamu tapi aku khawatir pada suamiku yang tampan dan kaya raya. Bisa saja ada orang yang berniat mencelakaimu, aku sedang hamil dan tolong jangan membantahku. Atau, tidak usah pulang sekalian!” Deandra langsung mematikan ponselnya dan mendengus kesal.
“Suami kita akan pulang telat karena ada meeting dengan klien di club.”
“Apa? Meeting di club?”
“Kaget? Makanya aku marah…..sudah sana, telepon Frans dan ancam dia supaya cepat pulang.”
Rosa pun mengambil ponselnya dari tas namun sudah ada panggilan masuk dari Frans.
“Ya, halo!”
“Kenapa ketus?”
“Apa kau juga mau bilang kalau telat pulang karena meeting?”
__ADS_1
“Iya mama Lily. Tuan Verrel pasti sudah menghubungi istrinya, bukan?”
“Jangan pulang telat! Jam sembilan harus sudah dirumah atau jangan pulang sekalian!” Rosa pun mematikan ponselnya. Kedua wanita itu langsung tertawa terbahak-bahak.
“Eh….bagaimana kalau kita kerjain saja suami kita.”
“Bagaimana caranya? Apa kita susul saja mereka ke club?” tanya Rosa.
“Jangan! Aku sedang hamil masa pergi ke club.”
“Aku tahu, bagaimana kalau kita merajuk dan jangan bukain pintu.”
“Terlalu kejam! Kasihan mereka nanti tidur diteras.” jawab Deandra. “ Ahaaaa…...bagaimana kalau kau kirim pesan pada Frans dan bilang kalau kau akan menginap disini karena Lily sudah tidur. Nah…..kita jangan bukain pintu kamar buat mereka kalau mereka pulang lewat jam sembilan malam. Biarkan mereka tidur di sofa, ok?”
“Nah, kalau itu aku setuju. Mending tidur di sofa daripada di teras ha..he...ha...ha….”
Sementara di kantor Verrel memijit hidungnya, dia mencoba menelpon kembali istrinya tapi tidak dijawab.
“Tuan, saya dapat pesan chat dari istriku. Katanya kita harus pulang jam sembilan malam.”
“Ya sudah. Kau hubungi Tuan Anggara dan minta agar meeting kita waktunya dipercepat supaya kita bisa sampai dirumah jam sembilan. Bisa gawat kalau sampai istriku mengamuk.”
Frans pun segera menghubungi Anggara dan mengubah jadwal meeting mereka menjadi jam tujuh tiga puluh malam, tetap ditempat yang sama.
Jika dirumah utama semua keluarga berkumpul makan malam termasuk Peter dan kedua anaknya. Sedangkan Verrel dan Frans dalam perjalanan menuju club. Sesampainya di area parkir club, Verrel dan Frans turun dari mobil dan melangkah memasuki club mewah itu. Suara musik DJ menggema di club malam yang mewah. Tampak para pria dan wanita meliuk-liuk di lantai dansa sesuai dengan iringan musik yang mengalun. Dua pria yang baru saja masuk itupun langsung diarahkan keruan VVIP yang sudah dipesan oleh Anggara. Saat memasuki ruang VVIP itu terlihat Anggara yang seusia dengan Verrel itu sedang duduk di sofa empuk ditemani dua wanita cantik berpakaian seksi.
“Silahkan duduk Tuan Verrel!” kata Anggara.
Tak lama pintu terbuka dan seorang wanita mendorong troli berisikan beberapa botol minuman alkohol, diikuti beberapa perempuan muda yang cantik dengan pakaian seksi.
“Apakah anda perlu hiburan malam ini?” tanya Anggara sambil memberi isyarat pada gadis-gadis itu untuk melayani Verrel dan Frans.
“Tidak perlu!” jawab Verrel datar. Gadis-gadis itupun menuangkan minuman ke gelas lalu memberikannya pada Verrel. Pria itu tak mengindahkan dan fokus pada ponselnya. Gadis itu lalu meletakkan gelas diatas meja didepan Verrel.
__ADS_1
“Selamat bersantai, Tuan.” ucap pelayan yang membawa troli berisi minuman. Saat salah seorang gadis itu ingin duduk disebelah Verrel, pria itu langsung menatap gadis itu tajam dan mengibaskan tangan sebagai isyarat agar menjauh. Verrel yang dulu mungkin suka berada di club malam ditemani beberapa wanita, tapi Verrel yang sekarang sangat berbeda. Dia tak suka tempat itu dan jika bukan karena urusan bisnis dia pun enggan pergi kesana. Xpose club adalah salah satu club malam mewah dan hanya kalangan pebisnis dan kalangan atas saja yang bisa masuk kesana karena harus memiliki kartu member untuk bisa menikmati layanan yang disediakan oleh club itu. Para wanita malam yang bekerja disanapun bukan wanita sembarangan, mereka berpendidikan dan memiliki wajah cantik diatas rata-rata.