
Berita pernikahan sang CEO Ceyhan Corp ternyata menghebohkan jagat raya. Selain karena ada sensasi dimana identitas pengantin wanitanya dirahasiakan. Saat berita itu mencuat dimedia, kehebohan lain terjadi, banyak wanita patah hati. Di jalan tol luar kota dilaporkan sudah 10 orang wanita yang nekat bunuh diri di tol. Cinta memang luar biasa.
"Verrel....kami mencintaimu!" begitulah teriakan-teriakan para wanita yang mengidolakan sang CEO tampan itu.
Hari ini di pusat kota, ribuan wanita yang mengidolakan Verrel pun berdemo karena patah hati, semua berpakaian hitam dengan gambar hati terbelah dibagian depan sebagai tanda kesedihan mereka.
Stasiun TV menayangkan situasi heboh diberbagai tempat. Gila. Benar-benar gila. Berita pernikahan sang CEO yang dikenal sebagai sang penguasa ranjang membuat kericuhan dimana-mana. Tidak saja di ibukota bahkan sampai ke daerah dan luar negri. Banyak wanita menyampaikan kekecewaan mereka.
Keadaan dirumah utama pun tak kalah hebohnya ketika Yuna si kepala pelayan mengumumkan tentang pernikahan sang tuan besar dengan nyonya besar yang sudah diperkenalkan dirumah ini. Meskipun para pelayan sudah menduga tanpa menunggu berita ini. Kegembiraan terpancar dari wajah semua pelayan dirumah itu. Mereka melihat bagaimana si tuan besar memperlakukan Deandra selama ini dan gadis itupun sedang hamil. Jadi, tidak ada yang heran bila akhirnya mereka akan menikah.
Dari sekian orang yang berbahagia, termasuk Yuna seorang kepala pelayan dirumah utama, mengucap terimakasih kepada Tuhan, karena kehadiran nyonya yang akan disahkan posisinya, akan menjadi alasan untuk bertahan.
Sesuai perintah Verrel, hari ini para pelayan akan menyiapkan makan malam spesial untuk semua orang. Para pelayan pun diijinkan bersantai sore nanti, mereka akan mengadakan barbeque dihalaman belakang. Kemeriahan dirumah utama sebagai ucapan syukur. Nampak para pelayan sudah sibuk didapur mempersiapkan makanan.
Termasuk pelayan pribadi Deandra yang selama ini melayani majikannya dan merasakan kebaikan hati sang nyonya besar. Tak henti mengucap syukur atas berita bahagia itu.
“Benarkah Alya? Kau tidak berbohong?” tanyanya dengan raut wajah yang syok, seolah-olah ia masih berada di dalam mimpi. Memang siapa yang akan mudah percaya dengan pernikahan sang tuan besar jika tidak ada undangan sebagai bukti?
Alya menggeleng cepat seraya menampilkan sorot kebahagiaan. “Aku tidak berbohong Tami. Kepala Pelayan Yuna sendiri yang mengumumkan secara resmi.”
__ADS_1
“Astaga, Alya. Aku benar-benar bahagia mendengar ini”, gumam Tami dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sebagai bukti bahwa ia benar-benar bersyukur. Tami baru kembali dari mengunjungi ibunya yang sedang sakit didesa, jadi dia tidak ada dirumah itu saat Yuna mengumumkan pernikahan sang tuan besar.
Alya mengangguk dan berhambur memeluk Tami yang mulai terisak. “Kita punya pelindung, Tami. Selama kita mengikuti nyonya, maka keselamatan kita akan terjamin.”
Tami membalas pelukan Alya erat. “Aku ingin sesegera mungkin bisa melayani nyonya besar, Alya.” Tak berlebihan mengatakan ia begitu senang dan ingin mulai bekerja, melayani sang nyonya besar yang mau melindunginya tanpa syarat.
Bahkan, wanita yang hanya berselisih tiga tahun dengannya itu sudah menganggap ia sebagai seorang adik. Deandra lah yang memberi ijin Tami untuk cuti menjenguk ibunya yang sakit, bahkan sang nyonya besar memberi uang untuk biaya pengobatan dan hadiah-hadiah lainnya untuk keluarga Tami.
“Nyonya menitipkan pesan agar kau bisa kembali bekerja sebelum pernikahan ini digelar.”
“Aku bersyukur bisa kembali kesini hari ini, jadi aku bisa bekerja lagi.” ucap Tami.
“Waktunya makan siang, nyonya.” Wanita yang masih termenung diatas ranjang itu enggan menoleh. Ia masih memikirkan pernikahannya. Entah mengapa, perasaannya tiba-tiba menjadi gelisah. “Nyonya”, pelayan itu kembali memanggil Deandra. Terdengar helaan nafas kasar. Kalau bisa memilih, ia tidak ingin makan. Tapi, jika ia melakukan itu, akan ada kemarahan yang membuat semua orang akan terkena imbasnya. Ia tidak bisa melewatkan makannya, karena ia sedang hamil.
“Beri aku waktu sebentar lagi, Alya”, jawab Deandra kemudian. Ia kembali memandang ke arah lantai. Seolah-olah disana ada takdir yang akan mengeluarkan dirinya dari kamar ini.
“Tapi nyonya nanti….”
Ucapan pelayan itu terputus saat suara berat seorang pria yang tak lain adalah Verrel menggema. “Kenapa masih disini? Bukankah ini waktunya makan siang?”
__ADS_1
Baik Alya maupun Deandra tersentak. Mereka sama sama menegang dan meneguk ludahnya. Langkah lebar, tegas dan mengintimidasi itu semakin mendekat dimana Deandra sedang membeku. “Makan siang bersamaku, Nyonya Verrel,” ucap Verrel dengan nada datar khas dirinya. Mendaratkan kecupan dikening gadis itu sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Sepasang bola mata bening Deandra menatap pada kedua kaki Verrel yang berdiri menjulang di depannya. Ia menata hati dan perasaannya dengan cepat, sebelum menengadah. Memandang pria itu dan melempar senyum manisnya. Melihat senyuman manis itu cukup membuat wajah Verrel yang mengeras menjadi lebih rileks.
“Kau pulang?” celetuk Deandra asal. Ia bingung mau bertanya apa. Karena sejujurnya, bertemu dengan Verrel setelah kemarahan pria itu tadi pagi membuatnya canggung. Laki-laki yang terkesima dengan senyuman itupun mengulurkan tangannya. Meraih dagu Deandra, menahan wanita itu untuk menatap padanya seorang.
“Ya, aku pulang.” Jawaban terkesan datar. Namun tersirat makna tegas yang membuat Deandra menahan napas. “Kudengar kau belum makan siang.” Ini bukan pertanyaan, tapi sebuah kenyataan yang memang benar adanya.
“Ya, aku tadi belum lapar. Tapi….melihatmu disini, aku menjadi lapar,” ucap Deandra sangat hati-hati. Sorot matanya pun berhasil bekerja sama dengan ucapan yang keluar dari bibirnya. Tidak salah bagi Deandra melihat senyum tipis yang tersungging dibibir Verrel. Membuat laki-laki itu tampak seperti manusia biasa, bukan seperti iblis kejam yang tak punya perasaan.
“Kau semakin pintar, nyonya, Ingat! Kau sedang hamil. Kau harus jaga anakku.” ucap Verrel tanpa sadar. Sedetik kemudian pria itu menunduk dan melabuhkan kecupan di bibir Deandra. Semula hanya ingin mengecup, tapi tetap saja seperti sebelumnya, bibir ranum itu seolah mengundang Verrel untuk menjelajah lebih dalam.
Dan tak perlu diragukan lagi kemampuan sang penguasa ranjang yang sering gonta ganti wanita. Pria itu adalah rajanya yang mampu meluluh lantakkan semua wanita. Ciuman yang semula berlangsung lembut, berubah menjadi liar dan bergairah kala Deandra membalas. Tanpa sadar, bibir yang memberikannya kenikmatan hampir setiap waktu itu memiliki daya tarik tersendiri bagi Deandra. Semakin lama Verrel menuntun Deandra untuk berbaring, tanpa melepaskan ciumannya. Dengan posisi seperti ini, mustahil bagi mereka tidak terbuai melakukan hal yang lebih intip, lebih dari sekedar ciuman.
Benar saja, ketika bibir Verrel turun ke leher Deandra, ******* wanita itu mengalun. Membuat Verrel semakin tertarik untuk menciptakan ******* yang lain. Tidak hanya bibir, lidah pun bekerja sama untuk meninggalkan sensasi basah disana. Tangannya yang meremas salah satu aset berharga Deandra, tangan besar Verrel menangkup bagian itu, meremas dengan sensual. Membuat Deandra mendesah dan menggeliat dibawah tubuh besar itu dan terus mendesah mesra sambil mengumamkan namanya “Verrel”.
Kepala Verrel mendadak pening saat mengalami kendala dengan dress pendek yang melekat di tubuh Deandra. Dress yang memiliki ritsleting dibagian belakang itu menyulitkan pria itu untuk melepaskannya. Verrel mengeram. Terdesak oleh hasrat yang melonjak seiring waktu.
Sepasang mata hitam diselimuti kabut gairah itu menatap manik bening Deandra yang mengalami hal serupa. Tampaknya pergulatan panas akan menjadi hidangan pembuka, sebelum mereka memutuskan untuk makan siang. “Lepaskan dressmu, sayang. Aku akan memberimu kenikmatan,” ucap Verrel tanpa mengalihkan tatapan matanya dan masih menindih tubuh Deandra.
__ADS_1
Deandra tampak meneguk ludah. Namun, akal sehatnya masih bekerja dengan baik meskipun ada keinginan untuk menerima permintaan Verrel. “T-tapi aku lapar.” Hening. Verrel belum menjawab. Tapi ia pun juga tidak memaksa Deandra untuk menanggalkan pakaiannya. Dan sedetik kemudian ia mengecup bibir Deandra sambil berkata “Aku akan membiarkanmu makan lebih dulu, setelah itu…..aku yang akan memakanmu.”