
“Kau mau kubawa ketempatku? Ayolah, kita pergi. Bukankah lebih baik berada dikamar daripada disini?” ujar pria itu lagi langsung membuat Olivia merasa senang.
“Bawalah aku kemanapun kau ingin membawaku Verrel! Aku mencintaimu.”
‘Teruslah kau sebut nama itu! Ha, perempuan tolol!’ gumamnya lalu membawa Olivia keluar meninggalkan kelab malam melalui pintu darurat yang sudah dihapalnya.
Tidak banyak orang yang tahu pintu darurat itu karena khusus untuk karyawan saja. Tidak ada kamera CCTV disana sehingga memudahkan si pria membawa Olivia. Pria itu melajukan mobilnya dengan kencang menunju daerah pinggiran kota. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Sesekali dia melirik wanita disebelahnya yang sudah pingsan sambil sesekali menggigau.
“Olivia! Malam ini akan menjadi malam yang akan kau ingat seumur hidupmu! Aku membiarkanmu terus menerus menyebut nama Verrel! Dasar bodoh! Otakmu sudah dikendalikan obat yang diberikan bartender itu. Tapi---jika kau sampai melibatkan Verrel dalam hal ini aku tidak akan membiarkanmu. Urusanku denganmu tidak ada hubungannya dengan Verrel!” ujar pria itu lirih yang hanya bisa didengarnya sendiri.
Mobil yang dikendarainya melaju memecah keheningan malam hingga akhirnya tiba disebuah rumah yang berada diatas bukit, suasana di tempat itu sangat sunyi karena jarak rumah yang cukup jauh satu dengan lainnya. Di atas bukit itu terdapat villa-villa yang pemiliknya menginginkan privasi sehingga antara satu villa dengan villa lainnya cukup jauh terpisah.
Setelah berhenti diatas bukit yang hanya ada satu villa, pria itu turun dari mobil lalu memerintahkan pengawal membawa barang didalam bagasi masuk kedalam villa. Lalu dia mengangkat tubuh Olivia dan membawanya ke sebuah kamar.
“Apa ini orangnya?” tanya pengawal itu saat dia melihat pria itu masuk kedalam kamar membawa sebuah kotak dan melihat pria itu sudah meletakkan tubuh Olivia diatas ranjang.
“Ya. Semua sudah kalian siapkan?” tanya pria itu pada pengawal.
“Sudah bos, sesuai perintah. Kamera perekam juga sudah siap. Ada lagi yang bisa kami lakukan?”
“Tidak! Kalian bisa melanjutkan pekerjaan.”
Pengawal itu keluar lalu menutup pintu kamar. Pria itu membuka kancing kemejanya lalu masuk ke kamar mandi, tak lama dia sudah keluar hanya memakai boxer.
Terdengar lenguhan dari atas ranjang, sepertinya Olivia mulai tersadar dan tampak kepanasan. Dia berusaha membuka bajunya, pria itu bergegas mendekati Olivia lalu berbisik. “Kau kenapa? Mari kubantu membuka pakaianmu.”
“Ve—Verrel? Benarkah itu kau?” Olivia mengerjapkan matanya melihat pria didepannya.
“Hem!” tangannya meraih pakaian Olivia lalu membukanya. Terpampang tubuh mulus didepannya, Olivia bergerak menggeliat merasakan sensasi aneh ditubuhnya.
“Panas! Ohhh…..” tangannya bergerak menarik tangan pria itu.
__ADS_1
“Kau sudah tidak sabar lagi rupanya. Hem?” pria itu mengangkat tubuh Olivia dan membawanya masuk ke kamar mandi lalu membaringkannya di bathtub.
“Verrel…..” suaranya melemah seiring dengan tangan pria itu yang mulai menyentuh titik sensitifnya. Gelombang air didalam bathtub tumpah ruah saat pria itu menghentak keras tubuh Olivia yang sudah dibawah pengaruh obat.
Tiba-tiba pria itu menghentikan pergerakannya saat mendapatkan pelepasannya lalu dia memberihkan tubuh dan membuang pengaman ke tempat sampah. Muncul seringai diwajahnya, “Selamat menikmati malam panjangmu Olivia.” ucapnya mengenakan bathrobe lalu keluar. Dia mencari pakaian bersih dan memakainya. Pria itu menghubungi seseorang melalui teleponnya, tak lama tiga orang pria masuk kedalam kamar itu.
“Dia ada dikamar mandi. Kalian selesaikan! Aku ke kamarku dulu.”
“Baik bos. Terimakasih untuk hadiahnya bos!”
“Jangan lupa untuk merekam semuanya! Setelah kalian selesai bersenang-senang, kabari aku.”
“Wah, bos istirahat saja! Paling kami selesainya besok pagi.” ujar seorang pria itu.
“Terserah kalian! Pokoknya begitu kalian selesai segera kabari aku sebelum wanita itu bangun. Ingat ya wajah kalian jangan terlihat direkaman itu!” ujar pria itu lalu keluar dari kamar.
Ketiga pria itu pun masuk ke kamar mandi dan melihat Olivia yang setengah sadar terbaring didalam bathtub. “Ayo angkat dia dan pindahkan ke ranjang.” ujar salah seorang pria itu.
“Tumben si boss memberi kita hadiah wanita kaya dan cantik seperti ini.” ujar pria lain.
“Ah aku tidak peduli siapa dia. Yang penting malam ini kita senang-senang. Kalau bukan karena si boss mana mungkin kita bisa menikmati wanita kaya raya seperti ini, iyakan?”
Dua orang pria mengangkat tubuh Olivia lalu membaringkannya diatas ranjang setelah mengeringkan tubuhnya terlebih dahulu. “Kameranya sudah siap?”
“Ready! Kita bisa mulai!” wajah ketiga pria itu memandangi Olivia yang tangannya sudah diikat keatas . Dengan seringai diwajah mereka, ketiga pria itu menghampiri Olivia yang masih belum menyadari bahaya apa yang menghampirinya.
Pandangan matanya masih kabur, otaknya masih dikendalikan oleh obat bius sehingga dia masih mengira kalau Verrel lah yang bersamanya. Saat dia merasakan ada yang memasuki tubuhnya, dia mendesah dengan senyum diwajahnya. Dalam bayangannya malam itu dia kembali mengulangi percintaan bersama Verrel yang tidak seperti biasanya. Dia merasakan kesakitan dan perlakuan kasar, dia tidak menyadari jika ada tiga pria yang mencicipi tubuhnya sepanjang malam hingga pagi.
...******...
Udara dingin membuat Olivia menggigil kedinginan, tubuhnya gemetaran. Jam sepuluh pagi dan dia merasakan seluruh tubuhnya sakit sekali. Tangannya memijat kepalanya yang pusing, perlahan dia membuka matanya dan tangannya meraba tempat tidur. Dia berusaha bangun tapi tubuhnya seperti baru ditimpa reruntuhan bangunan dan tulang-tulangnya patah. “Apakah ini rumah Verrel?”
__ADS_1
Suara pintu terbuka dan tampa seorang pelayan wanita separuh baya masuk membawakan makanan.
“Selamat pagi Nona. Anda sudah bangun? Ini saya bawakan sarapan untukmu.”
“Ini dimana? Dimana dia?”
“Maaf Nona. Tuan sudah berangkat ke kantor tadi, katanya akan kembali nanti malam karena dia banyak urusan pekerjaan.”
“Oh begitu. Ini dimana sih?”
“Ini di villa milik Tuan! Nona mau saya bantu memandikan? Sekalian saya mau bersih-bersih kamar.”
“Badanku sakit semua.”
“Tunggu sebentar nona. Saya siapkan air hangat dulu.” ujar pelayan itu masuk kekamar mandi.
Olivia memandangi menyingkapkan selimut dan melihat tubuhnya yang dipenuhi bercak dan lebam yang sudah membiru. Belum lagi saat tangannya menyentuh kasur yang basah dan lengket sisa pertempuran semalam. Sudut bibirnya terangkat, seringai muncul di wajahnya.
“Sepertinya kau tidak memakai pengaman Verrel! Aku harus menemuinya saat dia kembali nanti. Aku akan menuntut pertanggungjawabannya!”
Si pelayan baru saja keluar dari kamar mandi saat dia melihat Olivia kesulitan turun dari tempat tidur. Dia menghampiri dan membantunya, dia memapah Olivia ke kamar mandi. “Nona, airnya sudah saya bubuhi aromatherapy biar tubuh nona segar. Tuan, suka wangi-wangi.” ujarnya lagi tersenyum.
“Sudah sana! Biarkan saya sendiri disini.” nada suaranya arogan seperti biasa membuat pelayan itu mencibir lalu pergi sambil mendengus.
“Huh! Rasain loe kalau nanti ditinggal sama Tuan! Belum apa-apa sudah sombong.” ujarnya sambil membersihkan kamar dengan cepar seolah dia enggan berada disana lebih lama.
Olivia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe dan berjalan tertatih. Dia tidak mempunyai pakaian ganti dan dia juga sudah tidak melihat pakaian yang dia kenakan tadi malam.
‘Mungkin pelayan itu mengambilnya! Lalu aku pakai apa? Matanya melihat sebuah paperbag diatas sofa, dia berjalan menuju sofa dan melihat isi paperbag itu adalah pakaian baru lengkap dengan pakaian dalamnya. Setelah bertukar pakaian dan merias wajahnya sedikit, dia hendak keluar kamar tapi dia mendapati pintu itu dikunci dari luar.
“Hei! Buka pintunya!” teriaknya menggedor pintu berulang-ulang tapi tak ada siapapun yang menyahut. “Kemana pelayan itu? Kenapa aku dikurung disini?” ujarnya mulai ada rasa takut muncul dihatinya mengingat ancaman yang pernah diberikan Verrel padanya waktu di kantornya. “Ah! Kalau dia mau melenyapkanku, kenapa dia membawaku kesini dan bercinta denganku?” dia kembali menggedor pintu sambil berteriak.
__ADS_1
*******