
“Bangunlah Deandra…...bangunlah sayang. Apa kau tidak merindukanku dan anak-anak kita?” lirih suara Verrel berucap sambil membelai kepala istri tercintanya dengan lembut seperti sedang membujuk. “Katakan apa yang kau mau. Apapun akan kuberikan padamu asal kau mau bangun. Aku tidak memerlukan apapun lagi, sayang. Aku hanya menginginkanmu Deandra. Bangunlah sayang…..kau sudah tidur lama. Aku merindukanmu.”
Ayu mengelus rambut putranya memberikan kekuatan, sebenarnya dia juga merasa sedih dan takut jika akan kehilangan menantu kesayangannya. Deandra adalah wanita yang telah membuat putranya berubah menjadi seorang pria yang baik.
Sejak mengenal Deandra dan menikah, Verrel telah menjadi suami dan ayah yang baik. Tidak pernah lagi dia melakukan semua hal-hal buruk yang dulu selalu dia lakukan, sudah tidak ada lagi wanita-wanita bayaran yang menemani malam-malamnya.
“Verrel sayang….kita semua disini untuk Deandra, mendoakan Deandra. Dia anak yang baik pasti Tuhan akan mendengarkan doa kita.” tak henti-hentinya Ayu dan seluruh keluarga mereka berdoa dan memberikan semangat untuk Verrel.
Anak-anak masih kecil dan belum mengerti apa yang terjadi pada ibunya. Hampir setiap hari Ayu menemani Verrel dirumah sakit sampai malam dan akan pulang kerumahnya bersama dokter Anita yang bertugas dirumah sakit itu juga.
Dalam keheningan didalam ruangan itu, Ayu memperhatikan putranya yang terlihat kusut dan sedih. “Doakan anak-anakmu dan doakan Deandra.” ucap Ayu pada Verrel. Doa seorang suami adalah ladang pahala istrinya”
Verrel hanya diam dan menjawab ucapan ibunya dengan anggukan kepala. Sekuat apapun dia tapi dia selalu lemah jika itu berhubungan dengan istri dan anak-anaknya.
Hari berganti dengan cepat. Satu hari kembali berlalu dan masih belum ada perkembangan berarti dari Deandra, ia masih belum sadar juga. Pagi ini beberapa perawat dan dokter datang hanya untuk memeriksa kondisi Deandra dan memastikan tidak ada komplikasi lagi paska operasi. Karena Deandra sama sekali belum sadar maka dokter hanya bisa melihat seperti apa perkembangannya saja.
“Sudah tidak ada pendarahan lagi dan luka bekas operasinya juga tidak ada infeksi tapi pasien masih akan memerlukan transfusi darah lagi karena sebelumnya terlalu banyak kehilangan darah untuk menurunkan resiko komplikasi.” Dokter yang menangani Deandra menjelaskan sampai sejauh mana perkembangannya.
Tampaknya Deandra akan memerlukan masa pemulihan yang sangat berat. “Baik dokter. Lakan yang terbaik untuk istriku.” ujar Verrel.
Dia duduk kembali disamping ranjang Deandra setelah dokter dan perawat meninggalkan ruangan itu. Tangannya menggenggam tangan kirinya yang kebas dan pucat. Siapapun pasti akan putus asa dalam penungguan seperti ini.
__ADS_1
Ayu beserta Yahya dan Viktor sudah tidak tahan menyaksikan Verrel yang semakin terpuruk, mereka tahu jika Verrel tidak akan sanggup jika harus kehilangan Deandra. Tidak ada siapapun yang tahu siapa yang akan pergi lebih dulu, yang muda atau yang tua, yang sehat atau yang sakit. Bahkan yang tidak terdugapun bisa pergi sewaktu-waktu.
“Verrel! Jangan seperti ini. Deandra pasti tidak mau melihatmu seperti ini terus. Kau harus kuat dan tetap semangat...ada kelima anak-anak yang membutuhkanmu.” ujar Yahya.
“Opa, aku tidak sanggup melihatnya seperti ini terus. Sudah begitu lama dia dalam kondisi ini. Kapan dia akan bangun? Apa yang harus kukatakan pada anak-anak nanti?”
“Sudah, jangan kau pikirkan yang tidak-tidak. Banyak tanggung jawab dipundakmu dan semua keluarga bergantung padamu. Sudah berapa lama kau tidak melihat anak-anak? Apa kau pikir mereka tidak merindukan papanya? Pulanglah dan bermainlah bersama Nathan dan Naomi, semoga mereka bisa menghiburmu.”
“Iya Verrel. Pulanglah! Apa kau tidak kasihan pada kedua anakmu dirumah? Mereka tidak melihat papa dan mama nya sekian lama. Jangan khawatirkan Deandra, kami berdua akan menungguinya disini. Kalau dia bangun nanti opa akan mengabarimu.” ujar Viktor. Setelah mendengar ucapan kedua kakeknya, Verrel pun tersadar beberapa hari sudah dia tidak melihat si kembar dan bermain dengan mereka.
Meskipun mereka masih kecil dan belum mengerti apa-apa tapi mereka pasti merasa rindu padanya. Verrel pun menyetujui permintaan kakeknya dan pergi meninggalkan rumah sakit meskipun dengan berat hati. Setelah kepergian Verrel, Arion dan Juan pun sampai dirumah sakit dan langsung menuju lantai dimana ruang perawatan Deandra berada.
“Selamat pagi Tuan.” sapa pengawal yang berjaga didepan pintu.
“Tuan Verrel baru saja pulang kerumah. Didalam ada Tuan Besar dan Tuan Viktor.”
“Oh baiklah. Kami masuk dulu.” ucap Arion segera masuk setelah pengawal membukakan pintu.
“Selamat pagi Opa.” sapanya pada kedua orang tua yang sedang duduk di sofa.
“Hei Arion!…….” mata Yahya terbelalak melihat seseorang yang berjalan dibelakang Arion.
__ADS_1
“Dasar anak nakal! Kemari kau! Bisa-bisanya kau tidak pernah menghubungi opa. Tiba-tiba kau sudah disini! Kenapa kau tidak meneleponku?”
“Sssttttt…..opa jangan marah-marah ini dirumah sakit.” ujar Juan terkekeh sambil menghindar dari Yahya memukulnya dengan gulungan koran.
“Bagaimana tidak marah kalau kau tidak pernah mau menuruti orang tua. Kenapa baru sekarang kau pulang, ha? Apa perempuan-perempuan itu menahanmu?” kata Yahya kesal.
“Opa….kenapa marah? Aku masih muda dan wajar menikmati masa muda. Apa opa lupa bagaimana Verrel dulu?”
“Eh….jangan kau samakan dirimu dengan Verrel! Lihatlah dia sekarang sudah banyak berubah. Kapan kau akan berubah dan menikah? Apa kau menunggu sampai aku mati?”
“Waduh jangan bicara seperti itu opa! Aku juga mau menikah kalau ada yang cocok!” canda Juan lalu dia menoleh kearah Deandra yang terbaring di ranjang rumah sakit. “Bagaimana keadaannya?”
“Keadaannya sudah semakin baik, hanya menunggu dia sadar dari koma.” ujar Yahya yang tiba-tiba merasa sedih kembali. “Juan….kenalkan ini Viktor. Opa-nya Deandra.”
“Ah….Tuan Viktor? Papa sering cerita tentang Tuan Viktor.” ujar Juan berbinar melihat pria sebaya kakeknya yang dia kenal sosoknya melalui papanya. Mereka pernah bertemu sekali dulu.
“Panggil Opa! Dia kakek kandungnya Deandra. Kau harus hormat padanya kalau tidak dia akan menghabisimu!” ujar Yahya menepuk pundak cucunya.
“He he he he….opa bisa saja.”
Juan Athaya seorang pria tampan dan humoris, dia punya hobi yang sama seperti Verrel dulu. Menghabiskan waktu mencari kepuasan dengan wanita-wanita bayaran dan tidak pernah menjalin hubungan serius dengan wanita. Sikap humoris Juan yang membuat banyak wanita jatuh cinta padanya. Verrel dan Juan adalah dua cucu keluarga Ceyhan yang punya hobi yang sama dan karakter yang sama.
__ADS_1
Yang membedakan hanyalah Juan humoris dan periang sedangkan Verrel sikapnya dingin dan terkesan kejam. Namun keduanya memiliki aura yang kuat yang membuat banyak wanita jatuh cinta dan rela menyerahkan diri meskipun hanya untuk cinta satu malam. Tapi hanya Verrel yang menjadi ahli waris keluarga Ceyhan karena dia adalah cucu laki-laki dari putra satu-satunya Yahya Magani Ceyhan.