
“Siapkan pernikahanku dengan gadis itu secepatnya dan suruh anak buahmu untuk mengawasi Rico. Pernikahanku harus dilaksanakan secepatnya, lebih cepat lebih baik."
"A--apa, Tuan?" mata sang asisten melotot tak percaya apa yang baru saja didengarnya.
"Kenapa? Kau tidak dengar ucapanku? Aku ingin menikah dan harus secepatnya," ulang Verrel sembari menatap wajah sang asisten.
Frans tersentak dibalik wajah datar yang berhasil ia pertahankan. Namun, perintah yang baru saja ia dengar dan harus ia lakukan adalah satu hal yang cukup membuatnya terkesiap. Apa itu artinya sang tuan besar akan menikah? Apa tadi dia bilang? Menikah dengan wanita itu? Bukankah sama saja dengan menyulut api yang tidak pernah padam menjadi berkobar? Ini sungguh-sungguh akan membuat suasana memanas.' pikir Frans.
"Aku ingin menikah. Ya, menikah!" teriak Verrel.
"Secepatnya!" ucapnya lagi. Harus kumiliki kau secepatnya dan tidak ada yang bisa mengambilmu dariku, gumam Verrel pelan yang hanya dia bisa mendengarnya.
Tidak seharusnya ini terjadi. Menggelar pernikahan ini sama, saja akan membuka pertikaian di dalam keluarga besar Ceyhan. Selain itu pemberitaan di media akan semakin mengggila membicarakan kabar burung seperti sepuluh tahun yang lalu. Bibir Frans terasa gatal untuk bertanya, tapi melihat raut wajah sang tuan berubah-ubah, ia mengurungkan niat. Ia tidak ingin perkataannya justru membuat spekulasi buruk bagi verrel.
Kenapa semuanya terjadi begitu saja? Sejak kehadiran gadis itu, Tuan Besar sangat berubah. Nah, ini malah ingin menikah! Dia memaksa ingin menikahi gadis itu! Waduh, ini benar-benar gawat. Perang dunia akan terjadi di keluarga Ceyhan, bakalan seru dan panas, gumam Frans dalam hati.
Satu hal yang ia tahu jika verrel tidak akan bertindak jika tidak tahu sebab dan akibat. Apabila sang penguasa itu sudah mengambil keputusan, maka ia tidak perlu merasa khawatir. Meskipun, pada satu waktu ia akan menjadi orang pertama yang menjadi tameng.
“Baik, tuan. Saya akan mempersiapkan semuanya.” jawab frans tanpa mengabaikan etika kesopanan.
“Apa tuan punya permintaan khusus yang harus saya persiapkan?” tanya frans setelah menimbang beberapa konsep yang terlintas dibenaknya. Verrel menyeringai. Menatap pada manik mata milik Frans yang masih berdiri tegap dihadapannya. “Buat semegah mungkin dan jangan lupa untuk mengundang wanita simpanan Amran Ceyhan. Aku ingin acara pernikahanku menjadi pernikahan termegah dan paling mewah. Semuanya harus sempurna!"
...**...
__ADS_1
Sementara di mansion utama milik Tuan Verrel. Kepala pelayan Yuna dan dua orang pelayan sedang berada didalam kamar Deandra. “Apakah ada tanda-tanda nona muda akan bangun dalam waktu dekat, Alya?” tanya Yuna-kepala pelayan di mansion mewah milik verrel.
Ia bertugas mengatur semua yang berhubungan dengan kebutuhan rumah, gaji pelayan dan bertanggung jawab dengan semua yang terjadi didalamnya. “Belum, Bu Yuna,” jawab Alya yang ditugaskan untuk menjaga deandra. Yuna mendekat kearah ranjang dimana deandra terbaring dengan jarum infus ditangan kanannya. Ia mengamati luka lebam yang mulai memudar.
“Bantu aku menyiapkan air hangat dan pakaian yang baru,” perintah Yuna tegas.
“Baik, Bu Yuna. Saya akan menyiapkannya.”
Yuna kembali menatap dalam pada wajah deandra. Namun setelah beberapa saat ia belum bisa mengingat dimana pernah bertemu dengan gadis itu. Dia merasa mengenal gadis itu, entah dimana tapi ia sangat yakin pernah bertemu. Pikirannya berkecamuk mengenai gadis itu dan sang tuan besar.
Alya dengan cepat mempersiapkan semua kebutuhan deandra. Ia sangat bisa diandalkan untuk melayani semua kebutuhan deandra. Ia juga bekerja dengan gesit dan cekatan.
“Biarkan aku saja yang melakukannya untuk sementara waktu. Jika nona muda sudah sadar, semua yang berhubungan dengan nona muda akan aku serahkan padamu.” kata Yuna.
Pelayan itu berdiri tak jauh dari ranjang dan menyaksikan secara langsung bagaimana Yuna mengelap tubuh deandra, mengganti pakaian dan mengoleskan krim diseluruh wajahnya. Anehnya, nona muda tak kunjung terbangun. Dia masih pingsan, belum ada tanda-tanda akan siuman. Yuna merasa khawatir dan takut jika sesuatu yang buruk terjadi.
“Bu Yuna, kenapa nona muda tak juga membuka mata?” tanya alya setelah selesai membereskan semua peralatan yang dipakai untuk menyeka tubuh deandra. Yuna tak segera menjawab, ia harus merahasiakan keadaan nona muda kepada siapapun seperti perintah tuan besar Verrel.
‘Tapi tidak mungkin tuan yang melakukan penganiayaan ini kepada nona muda. Meskipun tuan suka bermain kasar dengan perempuan, tapi tidak mungkin ia menghajar seorang wanita hingga seperti ini.’
'Kondisinya sangat buruk dan mengenaskan. Tuan Frans yang membawanya kesini, tapi darimana ia membawa gadis ini? Apa dia memiliki keluarga? Benaknya dipenuhi pertanyaan.
“Bu Yuna? Anda baik-baik saja bukan?” tanya Alya yang menatap wajah Yuna yang pucat dan tegang.
__ADS_1
Yuna tersentak. “Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”
Alya mengerutkan dahi melihat raut wajah Yuna yang berubah-ubah, tapi ia tak bisa bertanya banyak dengan keingintahuannya tentang keadaan sang majikan.
“Aku akan memeriksa keadaan dapur. Kalau ada apa-apa dengan nona, cepat kau menyuruh pelayan lain untuk memanggilku,” pesan Yuna yang dijawab anggukan oleh Alya.
“Satu lagi, jangan sampai kau meninggalkan nona muda seorang diri.”
“Saya mengerti, Bu Yuna.”
Setelah kepala pelayan itu keluar, alya kembali pada posisinya. Duduk di kursi yang berada didekat ranjang, menunggu jika ada pergerakan kecil dari deandra. Alya memandang wajah sang majikan dengan kagum, wajahnya sangat cantik alami, pasti nona muda orang baik, gumamnya.
Dialam bawah sadarnya Deandra seperti mendengar suara samar-samar berada disekitarnya. Akan tetapi ia merasakan matanya terlalu berat untuk membuka. Bahkan deandra juga merasakan remuk disetiap sendi tulang dan nyeri dibeberapa bagian tubuh. Sekuat tenaga deandra menghimpun kekuatan yang ia miliki. Perlahan ia mencoba membuka mata dan menggerakkan jari-jarinya secara bergantian.
Berkat kegigihannya, mata deandra mulai terbuka dan mengerjap. Mencoba menyesuaikan pupilnya yang bergerak mencoba mengingat dimana ia berada. Saat pandangannya semakin jelas, ia melihat seorang perempuan disamping ranjang sedang menutup mulut dengan raut wajah terkejut dan menghilang dengan cepat dari kamar itu. Siapa wanita itu? tanya deandra dalam hati.
Deandra menutup mata kembali saat rasa sakit mendera kepalanya. Kepalanya berdenyut dan matanya berkunang-kunang. Ia mengerang kesakitan dengan tangan yang berada dipelipisnya, mencoba mengurangi rasa sakit itu dengan memberikan sentuhan ringan. “Arrggg,”
Tak butuh waktu lama untuk deandra mendengar dengan jelas, derap langkah kaki yang ia yakini lebih dari satu orang mendekati. Disusul suara panggilan yang tak deandra mengerti dan tentu saja membuatnya bigung. Dimana aku? Apa yang terjadi?
“Nona muda, apa anda bisa mendengar saya?” tanya Yuna yang kini sudah duduk disebelah ranjang sambil memegang tangan deandra. Meletakkan punggung tangannya dikening gadis itu.
Deandra mengangguk pelan. Rasa pusing itu kembali menyerang dan membuatnya mengerang. Argggg.....arrgggggg.
__ADS_1
“Tenang, noda muda. Jangan paksakan diri mengingat sesuatu,” ucap Yuna dengan lembut khas keibuan. Dokter akan segera datang untuk memeriksa anda sebentar lagi.” Lewat tatapan mata rapuh itu, deandra bertanya dengan sorot lemah, “Kau siapa? Kenapa kau memanggilku nona muda?"