TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 57. VERREL BERUBAH ROMANTIS


__ADS_3

“Kau mau apa, sayang?” tanya Deandra menepis tangan Verrel. Kalau dulu, jika Deandra melakukan itu sudah bisa dipastikan Verrel akan menghukumnya, namun kini berbeda.


“Aku mau menggendongmu, nanti kau capek, sayang.”


“Tidak usah, nanti jatuh. Aku bisa jalan sendiri,” ujar Deandra mengerucutkan bibirnya.


“Baiklah, Nyonya Verrel.” Tangan kekar itu meraih tangan Deandra. Menggenggam lembut tangannya menuruni tangga.  Perlakuan tak biasa itu menarik perhatian para pelayan yang tak sengaja melihat kemesraan mereka.  Alya dan Tami pelayan yang bertugas mengikuti kemanapun Deandra pergi, mengekor dibelakang majikannya itu dan diam-diam tersenyum senang.  Tak berbeda dengan Yuna yang menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya didepan pintu.


Satu buket bunga diberikan Verrel pada Deandra. Baginya suatu kewajiban memberi bunga pada gadis itu setiap hari.


"Ahhh....cantik sekali bunganya. Terimakasih, sayang." ucap Deandra langsung memeluk Verrel. Momen seperti inilah yang paling disukai pria itu.


"Secantik wajahmu kan?" kata Verrel membuat wajah gadis itu merona setiap kali Verrel memujinya.


“Silahkan, Tuan, Nyonya.”


“Terima kasih, Yuna.”  Deandra menjawab. Sedangkan Verrel terus melangkah dan tak melepaskan genggaman tangannya.  Layaknya pria yang romantis, pengertian dan penuh kasih sayang, Verrel menarik satu kursi untuk Deandra.  Memastikan wanitanya itu duduk dengan benar, sebelum ia mengambil tempat di sebelahnya.


Para pelayan mulai menghidangkan semua makanan di meja. Menuang air minum, membuka piring dan memastikan semuanya siap sebelum keluar dari ruangan itu.  “Makanlah,” perintah Verrel. “Aku tidak ingin di pesta pernikahan nanti kau terlihat kurus.”


“Tentu saja.  Aku tidak mungkin mempermalukanmu dihadapan semua orang, aku akan membuatmu bahagia.” ucapnya yang membuat senyum terpancar diwajah pria itu.


Verrel menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengambil sendok.  Mencoba mencerna baik-baik jawaban yang diberikan Deandra.  “Menarik,” pikir Verrel.  Salah satu sudut bibirnyaa terangkat,  Membentuk seringai yang sulit diartikan.  “Bagus kalau kau sudah mengerti.  Itu berarti, kau harus bisa menempatkan diri dimana pun kau berada,” balas Verrel.  “Terutama, ketika nanti aku membawamu ke pesta besar perusahaan, aku ingin kau bisa tampil memukau semua orang. Nyonya Verrel.”


Ucapan penuh penekanan itu cukup membuat Deandra menahan napas.  Mau tidak mau ia harus menjaga sikap untuk terus fokus.  “Aku tau.  Kau tidak perlu khawatir,” jawab Deandra.


“Aku janji, akan membuatmu bangga.” ucapnya. Deandra sudah bertekad, sebagai istri Verrel, dia akan menunjukkan pada dunia bahwa dia pantas sebagai pendamping pria itu.


Setelah percakapan singkat itu suasana kembali hening.  Hanya dentingan dari alat makan yang menjadi pengisi kesunyian diantara mereka.  Verrel sesekali melirik pada Deandra yang tampak lahap dengan makanan dipiringnya. ‘Hanya sedikit lagi aku akan memastikan kau akan menjadi milikku seutuhnya dan selamanya.’


Ucapan Verrel memang bukan isapan jempol belaka.  Terbukti, sepuluh menit setelah mereka selesai menikmati makan siang, ia sudah menyerang Deandra tanpa memberi ruang pada wanita itu untuk menghela napas.  Keinginan dalam pria itu tak bisa dikendalikan.  Gairahnya membabi buta dan terus melonjak seiring waktu. Apalagi ketika sentuhannya disambut baik oleh Deandra.

__ADS_1


Kepala pria itu mendadak pening akibat serangan gairah bertubi-tubi.  Menjadikan ia seperti perjaka yang baru pertama kali menyentuh perempuan. Bereaksi hanya karena sebuah ciuman panas.


Sambutan hasrat dari Deandra menjadi pemicu paling dasyat.  Pria itu bahkan tidak tahan, dengan posisi Deandra berada didalam gendongannya. Verrel membawa Deandra kekamar, setelah wanita itu mengeluh tak leluasa bergerak.  Di sanalah permainan mereka akan berlangsung untuk kesekian kalinya.


Verrel melepaskan semua gairah liarnya tanpa melupakan hal utama, memuja Deandra terlebih dahulu sebelum ia menuntut kepuasannya sendiri.  Sejak kapan Verrel peduli dengan kepuasan wanita? Tapi sekarang, Verrel harus bersusah payah memberikan pemanasan pada Deandra.  Ia harus membuat wanita itu merasakan pelepasan setidaknya satu kali sebelum menuju hidangan inti.  Maka dengan itu Verrel bisa mendapat sentuhan balasan dari jemari lentik deandra dan permainan bibirnya. 


“Oh, Sayang.  Aku tidak akan bisa berpaling darimu,”gumam Verrel disela-sela aktifitas siang mereka.  Pria itu seolah tak memiliki kata lelah didalam kamusnya.  Yang ia pikirkan hanya bekerja dan memuaskan hasratnya.  Dan saat ini, mencumbu Deandra adalah satu hal yang wajib ia lakukan setiap hari.  Tepatnya setiap ia menginginkan.  Seperti siang ini. 


“Argh!” Verrel mengeram kencang.  Pertanda ia mendapatkan klimaksnya.  Deandra melenguh setelah kesadarannya kembali.  Ia merapatkan selimut yang menutupi tubuh polosnya.  Sudah pasti setelah bercinta wanita itu akan tertidur.  Dan seperti biasanya pula, Deandra mendapati dirinya yang ada diatas ranjang.  Sedangkan Verrel entah pergi kemana pria itu.


Dulu, Verrel dalam pandangan seorang Deandra adalah iblis kejam punya setumpuk sifat buruk dan tak memberikan kesempatan kedua bagi orang lain. Bukan itu saja, Verrel juga bisa berubah menjadi mengerikan saat apa yang diinginkan tidak sesuai dengan kenyataan. Namun, meskipun begitu, Deandra belajar banyak hal dari Verrel.  Tak hanya kenikmatan di atas ranjang, tapi juga bagaimana ia bersikap, dan menggunakan kekuasaan yang ada ditangannya. 


Kini Verrel yang dikenalnya adalah manusia tampan yang memujanya dan tergila-gila padanya. Apalagi setelah ia hamil, pria itu lebih sabar menghadapi Deandra yang suka merajuk dan memang keras kepala.  Dia pun pulang lebih cepat dari kantor, hanya untuk menghabiskan waktu menjaga wanitanya. Setiap hari dia melimpahi Deandra dengan hadiah-hadiah mahal, sebuket bunga tak pernah lupa.


...*...


Tok! Tok! Tok


“Maaf, apa benar ini rumah nona Rosa?” tanya seorang pria bersetelan jas.


‘Sepertinya bukan tukang tagih hutang, pikir gadis itu yang melihat kedua pria dihadapannya dari kepala sampai ke kaki.’


“Mas ini siapa ya?”


“Kami disuruh Nyonya Besar mengantarkan ini pada nona, mau diletakkan dimana?” bertanya pada rosa yang masih kebingungan.


“Nyonya Besar? Maksudnya apa ya, mas?”


“Nyonya Verrel minta kami mengantar ini,” menunjukkan beberapa kotak dan paperbag.


“Maksudnya, Nyonya Verrel? Nyonya Deandra?” masih bingung ingin memastikan.

__ADS_1


“Iya, benar. Itu Nyonya Verrel.” sahut kedua pria itu serentak.


“Tapi ini apa mas? Kenapa banyak sekali?”  Ibunya Rosa yang keluar dari kamar pun dibikin terkejut melihat banyaknya barang-barang didepan pintu rumahnya. Ada sepuluh kotak yang semuanya berisi sembako, bahan makanan beku, susu, obat-obatan dan vitamin, ada juga makanan yang dipesan dari salah satu restoran milik keluarga Ceyhan.


“Kata Nyonya, ini semua untuk nona Rosa dan ibu. Mohon diterima.”


“Bawa masuk aja semua mas.  Letak disini.” sahut Rosa menunjukan kearah ruang tamu.  Ia pun membantu mengangkat kotak yang lebih ringan.  Ibunya yang kebingungan hanya diam memandang.


“Oh iya nona. Ini ada pesanan khusus dari Nyonya Besar. Mohon dipakai untuk hari sabtu nanti. Nyonya akan mengirim supir untuk menjemput nona Rosa dan Ibu.”


“Mau kemana ya mas?”


“Acara pernikahan Tuan Besar dan Nyonya, Ini undangannya.  Mohon untuk tidak menyebarkan identitas Nyonya Besar pada siapapun.”


“Hah? Pernikahan?” Rosa dan ibunya sama terkejutnya. “Jangan khawatir soal itu, saya tidak akan membocorkan nama sahabat saya,”


“Kalau begitu kami pamit.”


“Sampaikan terimakasih pada nyonya kalian ya,” ucap Rosa yang dijawab dengan anggukan oleh kedua pria yang tak lain adalah pengawal sang nyonya besar.


“Dea menikah?”


“Iya bu, ini undangannya. Ya ampun. Bu coba lihat ini!” teriaknya dengan mata berbinar saat mengeluarkan baju dari paperbag.  Paperbag berisi gaun mahal, sepatu dan clutch untuk Rosa dan ibunya. Mata rosa dan ibunya membelalak setelah mengeluarkan isi dari paperbag.


“Dea….dea...benar-benar gila ya hidup loe. Nyonya besar? Wah, hebat sahabat gue.” teriaknya.


“Makanya kamu juga cepetan cari pacar,” ucap ibunya yang dibalas Rosa dengan mendengus. “Memangnya kamu tidak mau seperti Dea?”


“Jodoh takkan kemana bu, nanti juga bakal ada,”


...*...

__ADS_1


__ADS_2