
Wanita berusia tiga puluh dua tahun yang bekerja sebagai perawat dirumah sakit jiwa, seorang janda yang ditinggal suaminya dengan alasan tak bisa memberi keturunan. Sejak bercerai dengan suaminya, dia pindah ke jakarta dan bekerja sebagai perawat sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Risna wanita berambut sebahu, kulit sawo matang dan mulus dengan badan yang ramping dan berparas manis sering mendapat godaan dari rekan sekerja maupun pria-pria disekitar tempat tinggalnya yang mengetahui Risna adalah seorang janda.
Nasib percintaannya memang tak mulus, sejak jadi janda sudah dua kali dia menjalin asmara dengan pria yang keduanya tak mencintainya dengan tulus hanya ingin mencicipi tubuhnya yang montok. Gerah dengan situasinya, wanita itu memilih tak ingin menjalin hubungan dengan pria manapun hingga dia bertemu dengan Amran yang menjadi pasiennya. Kesulitan keuangan karena ibunya yang sakit-sakitan di kampung membuatnya terpaksa menerima tawaran Amran yang sudah haus belaian itu.
“Selamat siang Tuan. Ini saya bawakan makan siang dan obat untuk Tuan.”
“Bagaimana Risna? Apa kau benar-benar menerima tawaranku?” tanya Amran pada perawat itu.
“Saya terima Tuan tapi bagaimana dengan tempat tinggal? Karena kos-an saya jauh dari rumah Tuan.”
“Jangan pikirkan soal itu. Kau boleh tinggal dirumahku dan bekerja sebagai pelayan, jadi kau bisa merawatku dan melayaniku sekalian.”
“Hemmm…..apakah dirumah tuan ada pelayan lain?”
“Ada banyak pelayan tapi semenjak istriku meninggal, semua pelayan aku suruh pulang kampung. Tapi aku akan memanggil dua orang pelayan kembali kerumah, tukang kebun dan Bik Narsih yang akan beres-beres dirumah sekalian memasak.”
“Saya takut, tuan nanti mereka mikir yang tidak-tidak.”
“Kau ini bodoh sekali. Aku bisa atur semuanya, kau tinggal ikuti saja perintahku.”
“Ba—baiklah, Tuan.”
__ADS_1
“Lusa aku sudah diharuskan keluar dari sini. Jadi kau boleh berhenti kerja dari sini setelahnya, bilang saja kau terpaksa pulang kampung mengurus ibumu yang sakit.” kata Amran.
“Iya, Tuan. Kalau begitu saya pamit dulu mau mengecek pasien lain.”
Sepeninggal Risna, nampak Amran menyeringai licik seperti memikirkan sesuatu. ‘Kau sudah menceraikan aku saat aku sakit Ayu! Lihat saja nanti apa yang akan kulakukan padamu. Jangan pikir kau bisa bebas dan bersenang-senang dengan laki-laki lain setelah kau ceraikan aku. Tidak semudah itu Ayu! Aku sudah kehilangan istriku selamanya dan itu karena kau dan anakmu yang sialan itu!’ gumamnya lirih penuh amarah.
Amran berjalan mondar mandir seperti setrikaan didalam ruang rawatnya sambil sesekali tertawa, entah apa yang lucu hingga membuat pria paruh baya itu tertawa.
“Kau masih berstatus istriku Ayu dan aku hanya ingin kau penuhi kewajibanmu sebagai istri tapi kau malah menolakku! Kau menceraikanku setelah kejadian itu! Ha...haha...hahaha…..kau pikir hanya kau perempuan didunia ini Ayu!”
Kedua tangannya mengepal dan rahangnya mengeras. Obat penenang yang diberikan Risna belum dimakannya, kini pria itu kembali marah-marah tak jelas. “Ahhh….wanita itu akan tinggal dirumahku...hahahahaha…..begitu mudahnya mendapat wanita dengan uang….hahahaha…...aku bisa pakai perempuan itu untuk menjalankan rencanaku.” Amran kembali tertawa.
...*...
Hari yang dinantikan pun tiba, Amran keluar dari rumah sakit jiwa tempatnya dirawat akibat depresi selama beberapa bulan. Setelah melihat perkembangannya sudah membaik, pihak dokter pun mengijinkannya pulang. Lega! Itulah yang dirasakannya hari ini bisa kembali ke hidup normal seperti dulu. Supir pribadinya sudah dipanggilkembali untuk bekerja, dia sudah menunggu Amran dipintu depan. Terlihat pria paruh baya itu melangkah keluar dan langsung masuk kemobilnya yang membawanya langsung kerumah kediamannya.
Pelayannya seorang wanita berumur yang sudah bekerja lama pun sudah menyambut didepan pintu. “Selamat datang kembali Tuan.”
“Terimakasih bik. Oh iya…..lusa mungkin perawat saya akan kesini. Tolong siapkan kamar tamu untuknya, dia akan tinggal disini sambil merawat saya dan membantu bibik juga mengurus rumah.”
“Baik, Tuan.” ucap wanita bernama Bik Narsih. “Kalau Tuan mau makan saya sudah siapkan semua makanan kesukaan Tuan dimeja makan.”
__ADS_1
“Baiklah. Saya mandi dahulu baru makan.” Amran mengedarkan pandangan keseluruh rumahnya yang sudah dia tinggalkan beberapa bulan. Rumah penuh kenangan bersama Andini dan Rico selama dua puluh lima tahun. Kini rumah itu sepi hanya ada dia dan pelayan saja. Selesai mandi, pria itu menuju meja makan yang sudah dipenuhi berbagai hidangan kesukaannya. Dengan lahap dia makan seakan tak ada pikiran lain, hanya fokus dengan makanan didepannya.
...*...
Hari yang ditunggu pun tiba, Amran menjemput Risna di kos-an dan membawanya kesuatu tempat. “Kita mau kemana Tuan?” tanya Risna dengan dada berdebar kencang, gugup sudah pasti karena wajah Amran diam tanpa kata dan bahkan sampai pertanyaan ke lima, pria itu masih juga membisu. Risna sadar akan keputusannya menerima tawaran mantan pasiennya itu, mengingat Amran pernah mengalami gangguan kejiwaan membuat sudut hatinya ada merasa ketakutan jika pria paruh baya itu akan mencelakainya. Lama mobil yang dikemudikan Amran memasuki jalanan pinggiran kota tepatnya daerah terpencil, kedua mata wanita itu seketika membulat melihat pemandangan indah yang terpampang didepannya. Mobil berhenti didepan sebuah villa dipuncak bukit, dan mereka masuk kedalam.
Menikmati waktu sendirian setelah Amran pergi ke dapur. Entah apa yang dilakukan pria itu disana, Risna tak peduli. Tak terasa matahari terbenam, sinar semula yang terang benderang menjadi sirna digantikan taburan bintang dan cahaya bulan yang tak seberapa. Tiba-tiba Amran datang dari arah belakang memeluk tubuh Risna dengan erat. Hidung pria itu menghirup aroma tubuh perawatnya membuat tubuh Risna bergetar hebat. Dengan debaran yang semakin merajalela Risna menunggu menahan napas sejenak dan bersiap untuk segala kemungkinan.
“Aku mau,” ucap Amran singkat. Risna meneguk pudahnya masih menunggu andai saja ada kalimat lain yang keluar dari mulut Amran. Namun hingga beberapa menit lamanya hanya deru napas pria itu yang semakin memburu.
Gerakan tangan Amran menyelinap kebalik blouse yang Risna kenakan “Ahhh….Tuan...”
“Ya...mendesahlah….setelah ini aku akan membuatmu menjerit.” Amran membalikkan tubuh Risna dengan cepat, bibir pria itu menyerbu bibir Risna yang tipis dan lembut memagut bagian kenyal itu sesuak hatinya dengan kasar. Dengan entengnya Amran menarik tubuh wanita itu dan membaringkannya diatas meja yang berada dibalkon. Saat merasakan kehabisan napas, Amran menarik diri kemudian melucuti pakaian Risna dengan kasar sambil satu tangannya sibuk *******-***** bagian tubuh wanita itu. Pria itu menarik diri dan tertegun tubuh polos didepannya, Risna memejamkan matanya, jakun pria itu naik turun. Tanpa basa basi pria dengan gairah liar yang berkobar itu melahap tubuh didepannya, tanpa aba-aba ia menghunjam kasar dan liar tak peduli jeritan Risna yang merasa nyeri dan sakit akibat ulah kasar dan liar Amran.
“Arggg….sial….sial!” umpat Amran dengan gerakan yang memacu cepat dan kasar membuat Risna melengkungkan punggung merasakan kenimatan dan siksaan dari kekasaran pria itu. Bersamaan dengan jeritan kepuasan Amran yang mendapat pelepasan setelah satu setengah jam mendera wanita itu sekuat tenaga. Deru napasnya terengah-engah sementara Risna sudah tak sadarkan diri akibat perbuatan kasar Amran yang menghajarnya tak kenal lelah.
... ...
__ADS_1