TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 145. ANDINI PULANG


__ADS_3

“Papa! Aku pulang, papa ada dimana?” teriak Andini yang pulang kerumahnya setelah dua minggu disekap dan disiksa oleh Darma.  Pelayan yang berlari menyambut kepulangan sang nyonya pun terkejut melihat penampakan Andini yang kusut dan bercak merah dilehernya.


“Tuan Amran sedang keluar,nyonya.” kata pelayan itu.


“Apakah suamiku pergi ke kantor?”


“Saya kurang tahu karena Tuan tidak bilang apa-apa.”


“Baiklah. Buatkan saya the dan bawakan makan siang saya ke kamar,” ucap Andini sambil menyeret kopernya menuju kamarnya.  Setibanya di kamar dia hempaskan tubuhnya di ranjang dan mulai memikirkan ancaman Darma. “Aku tidak mau kembali ketempat itu.  Apa yang terjadi kalau suamiku sampai tahu, selama dua minggu aku tidak ada di Turki tapi di daerah puncak melayani bajingan-bajingan itu? Kurang ajar kau Darma, beraninya kau menjual tubuhku!”


Terdengar ketukan dari luar “Masuk.” ucapnya. Seorang pelayan masuk membawa nampan berisi the dan makan siang.  “Ini makan siangnya nyonya. Oh iya, barusan ada ojol yang mengantarkan paket ini untuk nyonya.” kata pelayan itu sambil menyerahkan sebuah amplop warna coklat berukuran besar.


“Paket? Dari siapa bik?”


“Tidak tahu nyonya.  Tidak ada nama pengirimnya, hanya nama penerima atas nama nyonya.”


“Ya, Ya. Pergilah.” usir Andini yang penasaran isi paket itu.  Setelah pelayan pergi dan menutup pintu, wanita itu langsung membuka amplop besar itu dan matanya membulat saking terkejut.  Ada beberapa lembar foto-foto dirinya sedang bersama pria lain, pria yang berbeda ditempat berbeda.  Tangannya merogoh kedalam amplop dan menemukan ada CD, dengan tangan gemetar dia membaca tulisan dicarik kertas


“Sediakan uang sepuluh milyar atau videomu akan kukirimkan pada suamimu. Aku berikan batas waktu tiga hari! Jika kau coba-coba lapor polisi atau melanggar perintahku, maka kau akan kubawa ke neraka paling menakutkan! Ingat, jangan berusaha lari karena anak buahku ada didepan rumahmu mengawasi!”


“Apa? Sepuluh milyar dalam tiga hari? Kurang ajar kau Darma! Selama dua minggu kau menjual tubuhku dan menikmati semua uangnya! Apa yang harus kulakukan?” tangannya mengibaskan rambutnya.  Tak bisa berpikir jernih, Andini memilih untuk makan siang terlebih dahulu.


Selesai makan, dia membongkar semua kotak perhiasannya “Kalau kujual perhiasanku pasti cukup untuk membayar Darma. Tapi suamiku pasti curiga kalau tidak melihat perhiasanku lagi.” Wanita itupun mondar mandir seerti setrikaan didalam kamar.  Dia memutuskan untuk pergi kesuatu tempat sambil membawa amplop warna coklat itu beserta sebuah sertifikat tanah.


Sesampainya Andini disebuah rumah yang dibelinya secara diam-diam dari hasil mencuri uang dari perusahaan Darma dulu, dia membakar semua barang bukti yang dikirimkan oleh Darma.


“Bagaimana? Kau bawa uangnya?”


“Iya. Mana sertifikatnya?” tanya pria berbadan gendut.


“Ini semua sertifikat.” Andini menyerahkan sertifikat rumah dan tanah yang semuanya total duabelas milyar rupiah.  Pria itupun menyerahkan satu tas berisi uang dan seelmbar cek untuk sisa pembayaran sesuai permintaan Andini. “Baiklah. Terimakasih atas kebaikan Anda.”


Andini berlalu menaiki mobilnya dan melaju menuju bank.


“Akhirnya aku punya uang...ha….ha….ha...Darma….Darma….uang ini hasil aku menjual rumah yang aku beli dari uang perusahaanmu dulu...ha...ha….ha. Lumayanlah aku masih punya dua milyar bisa ku belanjakan.”

__ADS_1


Ring! Ring! Ring!


Ponsel Andini berdering kencang. Wanita itu menghela napas panjang. “Halo.”


“Mana uangku! Aku tahu kalau kau baru saja menerima uang!”


Glek!


‘Sial! Darimana dia tahu? Apa dia mengikutiku terus? Tapi tadi tidak ada siapa-siapa disana.’


“Ya, aku sudah ada uangnya. Tapi serahkan semua rekaman video dan dokumen itu baru kuserahkan uangmu.” kata Andini berdalih.


“Oho...kau sudah mulai mengaturku Andini! Baiklah….kutemui kau di parkiran bank sekarang.”


“Apa? Bagaimana kau tahu aku sedang menuju ke bank?”


“Ha..ha...ha...kau pikir aku bodoh? Semua gerak gerikmu ada dalam pengawasanku. Serahkan uangnya sekarang atau dengan satu kali klik semua videomu tersebar di media!”


“Ja—jangan. A-aku sudah hampir sampai.”


“Aku harus kedalam dulu untuk mencairkan cek ini. Uang tunainya tidak cukup.”


“Tinggalkan saja uang tunai disini, sisanya kau berikan nanti setelah cek kau cairkan.  Aku tunggu disini.”


“Lalu bagaimana dengan video dan dokumen-dokumennya?”


“Tenang saja Andini. Aku bukan penipu sepertimu, aku pasti tepati janjiku begitu semua uangnya sudah ditanganku maka semua dokumen dan videomu aku serahkan.”


“Ba—baiklah. Tunggu disini, aku masuk kedalam dulu.” dengan langkah tergesa-gesa Andini masuk ke bank dan mencairkan cek hasil penjualan tanah.  Dua puluh menit kemudian terlihat dia keluar dari bank berjalan menuju mobil Darma dan masuk kedalam.


“Serahkan semua! Ini sisa uangmu.” ucap Andini menyerahkan sisa uang.  Darma menyodorkan sebuah laptop dan amplop warna coklat berisi dokumen akta kelahiran asli milik Rico dan beberapa dokumen lainnya yang diminta Andini.


“Apa ini semuanya? Kau tidak membohongiku Darma?” tanya Andini lagi.


“Semuanya ada didalam laptop itu. Dan ini salinannya, urusan hari ini selesai. Keluar dari mobilku!” bentak Darma seraya mendorong Andini keluar dari mobilnya.

__ADS_1


“Ah...kasar sekali kau!” teriak Andini namun Darma langsung menutup pintu mobilnya dan melaju pergi dengan seringai yang sulit diartikan.


“Kau pikir semua selesai sampai disini Andini? Aku masih punya salinan video itu. Dokumen-dokumen bukti kejahatanmu juga...ha….ha…..ha. Aku akan mendapatkan lebih banyak uang darimu.” Darma tertawa puas, semua sesuai rencananya.


“Apa rencana selanjutnya?” tanya supir pribadi Darma.


“Amran Ceyhan! Mengatur pertemuan tak sengaja antara aku dengan Amran Ceyhan dan Andini. Permainan akan semakin seru, aku sangat ingin melihat wajah bodoh Amran saat mengetahui jika dia telah dibohongi selama dua puluh lima tahun.”


“Pasti menyenangkan, bos. Punya istri cantik dan kaya serta terhormat tapi malah memilih perempuan murahan penipu.” ujar supir itu.


Darma meraih ponselnya dan menekan nomor kontak “Halo. Apa kabarmu?”


“Kabar baik, mas. Apa semua baik-baik saja?” tanya wanita dari seberang.


“Ya. Semua berjalan sesuai rencana. Aku sudah mendapatkan uang sepuluh milyar dari perempuan murahan itu.  Akan lebih banyak uang yang akan kudapat darinya, sampai tubuhnya tinggal tulang berlapis kulit...ha...ha...ha.”


“Apa dia merasa curiga akan sesuatu?” tanya wanita itu lagi.


“Tidak! Dia bukan wanita pintar sepertimu. Tenanglah. Dendam kita akan terbalaskan pada Andini dan juga Amran Ceyhan setelah sekian lama.”


“Bagus. Pakailah uang itu untukmu mas. Kau berhak mendapatkan kembali semua yang hilang.”


“Kau tidak mau kuberi sebagian uang ini?”


“Tidak usah, mas. Aku cukup senang jika semua bisa terbalaskan.”


“Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Akan kukabari lagi nanti jika aku sudah mulai rencana berikutnya. Ku pastikan kau akan puas hati melihatnya. Saat waktunya tiba, kau pulang kesini dengan kemenangan.”


“Iya. Aku akan segera pulang sebelum kelahiran cucuku. Aku hanya ingin hidup tenang bersama anak, menantu dan cucuku dengan tenang.”


“Ya, sudah. Biar aku selesaikan semua disini. Aku berhutang budi padamu dan hanya ini yang bisa kulakukan untuk membalas semua kebaikanmu selama ini.”


*Hai para pembaca setia 👋👋 semoga kalian sehat2 & suka dengan alur ceritanya.....mohon bantu vote, like dan komen ya biar author tambah smangat. Terimakasih 🙏🙏😘😋


 

__ADS_1


 


__ADS_2