TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 70. JANGAN MEREBUT MILIK ORANG


__ADS_3

Andini merasa dadanya sesak. Dia menatap wajah suaminya yang menunduk dengan disangga oleh kedua tangannya.  Sejak pulang kerumah, sikap Amran terlihat sedikit berbeda, apa karena tadi dia menghabiskan waktu dengan Ayu? Pikir Andini.


Sejak Ayu sembuh dari gangguan mental akibat perbuatan Amran dan Andini, memang sekarang Ayu terlihat makin cantik.  Amran mengakui itu, sebagai laki-laki normal dia merasakan desiran aneh saat berada disisi istri pertamanya itu.  Istri yang sudah dikhianatinya dua puluh enam tahun lalu.


Andini masih ingat di pesta tadi bagaimana Ayu memeluk erat lengan Amran dan menyambut tamu. Suaminya pun terlihat selalu mengembangkan senyum tidak seperti biasanya, sepanjang pesta tadi. Sedangkan dirinya harus rela berbaur dengan tamu lain, karena keputusan suaminya. 


‘Kau menang malam ini Ayu Prastita. Aku pastikan kau tidak akan memiliki kesempatan lain berdekatan dengan Amran. Dia tetap milikku dan takkan pernah kembali padamu.’


Pikiran-pikiran kotor tersusun dikepalanya, apalagi sekarang melihat keadaan Rico yang babak belur dihajar Verrel dan pengawalnya.  Dan itu semua hanya karena seorang wanita.


“Mukamu babak belur begitu, siapa yang mukulin?” tanya Andini yang baru tiba dirumah, melihat putranya yang duduk di sofa dalam keadaan babak belur.  Pelayan sedang membantu membersihkan lukanya.  Rico langsung diantarkan pulang oleh Amran tanpa sepengetahuan Andini, bayangkan saja kalau Andini tahu sudah bisa dipastikan dia pun akan ikut bikin rusuh di pesta itu.


“Jawab Rico!” teriak Andini menangis melihat wajah putranya babak belur.  “Ini pasti perbuatan Verrel, iyakan?”


“Kalian boleh pergi,” kata Amran pada pelayan yang sudah selesai membersihkan luka Rico.


“Apa kau sudah gila Rico?” kata Amran dengan tangan terkepal.


“Pa, kenapa kau marahi anakku?” tanya andini yang tak suka anak kesayangannya dimarahi. Alih-alih menjawab pertanyaan Andini, pria paruh baya itu kembali melontarkan pertanyaan pada putranya.


“Apa wanita itu kekasihmu?”


“Maksud papa apa? Wanita mana, pa?” tanya Andini kebingungan.


“Iya. Aku mencintainya. Kami saling mencintai. Akan kurebut dia kembali.” kata Rico tanpa ragu.


“Jangan gila kau Rico!” bentak Amran.


“Apa? Istri Verrel adalah perempuan yang kau bilang kekasihmu?” tanya Andini tak percaya. "Tidak...tidak. Ini tidak mungkin."


“Kenapa kau harus menganggu lagi wanita milik kakakmu?” kata Amran.


“Kak Verrel yang merebutnya dariku, Pa.”


“Cukup! Kau akan papa jodohkan biar pikiranmu tidak pada perempuan itu lagi. Dia istri kakakmu!” kata Amran marah. Seperti de javu, kejadian lima tahun lalu terulang kembali.


“Aku tidak mau, Pa. Deandra adalah milikku. Aku akan merebutnya kembali.”


“Kau sudah gila, Rico! Kau tidak malu merebut milik orang? Apa kau tidak takut konsekuensinya? kata Amran marah.

__ADS_1


“Benar kata papamu. Jangan kau rebut milik orang lain! Dasar tidak tahu malu.” kata Andini menimpali. Tak sadar jika dia pun merebut milik orang lain.


“Apa mama bilang? Bukankah mama juga merebut milik orang lain? Apa mama lupa kalau mama yang merebut papa dari mama ayu? Lalu apa bedanya kalau aku juga merebut milik orang lain, aku akan rebut kekasihku kembali.” ucap Rico.


Deg!


Bagai tamparan yang keras kata-kata putranya itu.


“DIAM!” teriak Amran yang sudah pusing tujuh keliling. Seperti lingkaran setan, yang berputar tanpa ujung, masalah yang sama kini kembali terjadi di keluarganya.


“Mama mencintai papa, bukan?” tanya Rico lagi.


"Iya, kalau kami tidak mencintai, mana mungkin kau lahir kedunia ini." ucap Andini dengan penuh percaya diri.


"Mama bahkan tidak peduli kalau papa sudah punya istri dan anak. Karena mama mencintai papa. Aku pun sama, aku mencintai deandra, aku tidak peduli jika deandra sedang mengandung anak kak verrel. Aku akan merebutnya. Dia hanya milikku. Selamanya!”


Sama seperti lima tahun lalu, saat Rico mengencani kekasih Verrel. Dia tertarik pada kekasih Verrel yang cantik dan merayunya. Bahkan wanita itu sampai mengandung, Waktu itu Verrel mengira itu adalah anaknya. Hingga suatu hari semua terbongkar saat mereka tertangkap basah disebuah hotel berbintang.  Kini, situasinya terbalik karena Deandra mengandung anak dari Verrel.


“Cukup! Lebih baik kau masuk ke kamarmu. Mama tidak mau dengar apapun lagi.”


“Kenapa, Ma? Terlalu menyakitkan?” kata Rico dengan nada sinis.


“Aku tidak peduli, Pa. Meskipun aku dipaksa menikah, tidak akan mengurungkan niatku untuk merebut kekasihku kembali. Tidak ada yang berhak memilikinya selain aku.”


Pertengkaran itupun terus berlanjut tanpa ada yang mau berhenti bicara, hingga akhirnya Andini pingsan. Kedua ayah dan anak itupun menghentikan pertengkaran mereka lalu membawa Andini ke rumah sakit.


...*...


Setelah acara selesai, Verrel membawa istrinya ke kamar hotel yang sudah disediakan untuk mereka. “Melelahkan sekali,” gumam deandra. Kakinya terasa pegal karena lama berdiri.  Dia sudah selesai mandi dan memakai gaun tidur yang terbuat dari sutra,Verrel masih membersihkan diri di kamar mandi. 


Deandra membaringkan tubuhnya di ranjang, sesaat kemudian Verrel yang sudah selesai mandi nampak keluar dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


“Suamiku,” setelahnya Deandra langsung menutup mulutna dengan tangan. ‘Aku memanggilnya dengan sebutan itu?” wajahnya merona karena dia tahu pasti suaminya berpikir jika dia sedang merayunya.


Verrel tersenyum mendengar panggilan istrinya, “Iya, sayang. Kenapa?”


“Maukah memijat kakiku? Pegal sekali.” ujarnya.


“Hanya kaki? Yang lain mau dipijat tidak?” tanya Verrel dengan seringai nakal. "Hemmm....? Apa tubuhmu juga mau dipijat?"

__ADS_1


“Isshhhh…..dasar suami mesum.” kata Deandra langsung memalingkan wajah karena malu.?


“Tapi kau suka, bukan,” menggoda istrinya yang kini wajahnya merona. Karena sedang hamil muda dan emosinya tidak stabil. Tiba-tiba wajah itu berubah marah.


“Ya, sudah. Kalau tidak mau memijatku. Pergi sana!”


“Apa? Kau mengusirku?” Verrel yang tidak peka tersulut emosinya.


“Iya! Pergi sana! Aku dan anakku tidak mau kau disini.” kata Deandra dengan tatapan tajam penuh amarah.


Deg!


Terkejut mendengar ucapan istrinya, ini pertama kali dia melihat deandra marah. ‘Tak kusangka dia semarah itu. Ada apa dengannya? Ternyata istriku sangat mengerikan seperti singa betina kalau marah, gumamnya dalam hati.


“Kenapa kau masih disini? Aku kan sudah menyuruhmu pergi.”


“Sayang, ini malam pertama kita sebagai suami istri. Tidak mungkin kau kutinggalkan disini sendirian. Kau lagi hamil, sayang.”


“Aku memang hamil! Itu gara-gara perbuatanmu! Kau pikir aku takut? Aku berani tidur sendiri. Disini ada anakku yang temani,” ujarnya sambil menunjuk perutnya yang masih rata. “Sudah pergi sana! Jadi suami tidak peka!”


Verrel menarik napas dalam-dalam. Saat Deandra melemparkan bantal padanya, ia pun segera keluar dari kamar itu. Terpaksa dia menyewa kamar lagi untuk dirinya. 


... *...


 "Halo, sayang. Ada apa telepon mama?" kata Ayu


"Ma, bisakah membantuku?"


"Ya, memangnya ada apa? Kalian bertengkar?"


"Ehmmm.....sepertinya begitu."


Ayu memaksa putranya untuk bicara.


"Istriku mengusirku, ma."


"Apa? Kau diusir? Terus, kau ada dimana sekarang? Mana menantuku?" tanya Ayu beruntun.


"Dia ada dikamar pengantin kami. Aku ada dikamar lain, ma."

__ADS_1


"Ha....ha ..haaaaa." tawa Ayu pun pecah. Akhirnya ada yang berhasil mengusir Verrel.


__ADS_2