
Baratha mengamuk, dia membanting vas yang berada diatas meja, bahkan barang-barang yang ada didekatnya menjadi sasaran kemarahannya. Istrinya dan Iva pergi menjenguk Rico ke penjara, hal itu membuat Baratha marah besar. Baratha menatap tajam pada istrinya. Tapi kelihatannya wanita itu tak takut sedikitpun dengan kemarahan sang suami yang sudah menikahinya selama dua puluh tujuh tahun itu.
“Aku sudah tidak tahu lagi caranya untuk membuat kalian mengerti! Kalian lebih memilih untuk membangkang daripada menuruti kata-kataku!” ucap Baratha dengan nada suara tinggi. Emosinya sedang memuncak dan siap meledak bagaikan bom waktu.
“Papa harus dengarkan penjelasan mama. Aku sudah memikirkan semuanya, Pa. Ini demi anak yang di kandung Iva dan demi kejiwaannya agar tak tergoncang. Itu alasan mengapa mama mengajak Iva untuk menjenguk Rico. Apakah papa tega melihat anak kita stress dan frustasi?”
“Diam! Jangan pernah lagi kalian menyebut nama laki-laki brengsek itu dirumah ini!” Baratha memperingati istrinya tanpa menatapnya.
“Papa harus menahan emosi. Karena kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah. Toh, menantu kita akan mendekam di penjara. Dengan cara mengirim Iva untuk tinggal di Belanda bukan solusi untuk menyelesaikan masalah, Pa.” ucap istri Baratha untuk membujuk suaminya.
Dia terdiam sejenak menunggu reaksi dari suaminya, namun setelah sekian lama Baratha tak merespon sama sekali.
“Kita juga tidak bisa berpura-pura seolah-olah tidak ada yang terjadi dan membohongi diri kita sendiri juga bukan pilihan yang baik tapi hanya akan menjadi bumerang dikehidupan di masa datang. Mama juga sulit untuk menerima ini semua. Tetapi setiap kali melihat anak kita menangis dan bersedih, mama juga ikut merasakan sakit yang dialaminya, Pa.”
Diana pun terisak dan merasakan dadanya sesak, sulit dia untuk bernapas seolah tenggorokannya tercekat. Namun Baratha tampak tak peduli dengan semua ucapan istrinya. Malah Baratha semakin mengancam yang membuat istrinya malah membencinya.
__ADS_1
“Kalau mama masih kekeh juga ingin bertahan disini dan memenuhi permintaan putri kita, lebih baik kita bercerai! Jadi kalian bisa bebas menemui pria brengsek itu kapan saja kalian mau dan menunggunya sampai bebas dari penjara. Kalian juga jangan pernah meminta papa untuk membiayai hidup kalian lagi. Karena papa tidak akan sudi memberikan satu sen pun untuk kalian. Jika mama sudah siap dengan konsekuensinya, maka silahkan lakukan apa yang kau dan Iva mau. Papa tidak mau kehilangan semuanya saat ini, sekarang bisnis papa sedang guncang akibat berita di tangkapnya si brengsek itu dan ibunya. Mama tahu bukan di dunia bisnis, tak ada orang yang mau berhubungan dengan orang yang punya ikatan dengan kriminal!”
Istri Baratha menghela napas panjang, ibarat makan buah simalakama. Itulah situasinya sekarang, sangat sulit memang. Jika suaminya bangkrut maka mereka akan kehilangan semuanya. Mungkin akan menyulitkan mereka juga untuk mencari kerja atau membuka bisnis baru. Usaha dan kerja keras suaminya selama bertahun-tahun akan hancur dalam sekejap. Tapi dia juga tak bisa melihat putri semata wayangnya terus-terusan menangis dan bersedih.
...*...
Iva Adhisti Baratha dan ibunya memutuskan untuk menemui Verrel dan Deandra dirumahnya sekalian mengucapkan selamat atas kelahiran bayi mereka. Sepasang suami istri itu sedang duduk berdampingan dengan menggendong anak mereka. Iva sangat iri pada wanita didepannya yang terlihat bahagia dan diperlakukan layaknya seorang ratu. Iva dan ibunya memang saat ini berada dirumah utama kediaman Ceyhan. Ini pertama kalinya mereka masuk ke rumah itu dan takjub dengan kemewahan kediaman keluarga Ceyhan. Belum lagi sejak duduk diruang tamu, dia disuguhkan pemandangan yang tak pernah ia rasakan.
Iva terus menerus menatap ibunya yang duduk disampingnya, ia merasa sedikit tak nyaman bertemu dengan Deandra dan Verrel tapi ia harus meminta maaf pada mereka atas apa yang terjadi. Iva akhirnya memutuskan akan pergi ke Belanda dan sebelum pergi dia ingin meminta maaf pada Deandra dan Verrel. Terlihat wanita didepannya itu diperlakukan begitu spesial, Iva merasa cemburu karena wanita itu dicintai oleh dua orang pria. Dia melihat bagaimana sikap Rico dulu yang secara terang-terangan mengatakan pada Iva bahwa Deandra adalah wanita-satu-satunya yang ada didalam hatinya.
“Kedatanganku dan mama kesini ingin mengucapkan selamat atas kelahiran kedua anak kakak. Dan juga Iva mau minta maaf atas semua kesalahan Rico dan juga aku juga minta maaf jika seandainya aku ada salah baik perkataan maupun perbuatan yang menyinggung kalian berdua.”
“Oh, begitu. Ya….kami sudah maafkan, tak perlu khawatir soal itu.” kata Deandra enteng, toh dia memang tak ada masalah dengan Iva.
Iva memandang Deandra yang terlihat bahagia dengan anaknya yang tampan dan cantik. Hati Iva mendadak sedih ‘AH….mereka punya anak kembar. Mengapa dia begitu beruntung sedangkan aku sangat menderita.’ pikirnya.
__ADS_1
Karena merasa sangat sedih, tak sadar Iva meneteskan airmata, Verrel dan Deandra melihat itu. Deandra yang tak banyak bicara sedari tadi hanya melirik pada suaminya. Ia memang sebenarnya tak mau tahu dan juga tak peduli dengan kedatangan tamunya itu. Dulu dia sudah pernah bertemu Iva dan Deandra tahu betul apa yang diinginkan wanita itu.
“Iva…..lebih baik kita pulang sekarang.” bisik ibunya lirih saat melihat kondisi putrinya yang sedih melihat kemesraan suami istri didepannya. Dia merasa tak enak jika berlama-lama disana. Melihat Iva yang menangis Verrel memberikan tissu pada Iva “Ini, hapus airmatamu.”.
Bagaikan anak panah yang menghunjam dadanya, Iva merasakan hatinya tambah sakit dan tak berdaya. Ia kini malah terisak, dia diperlakukan sangat baik oleh Verrel. Saat memasuki rumah itu Iva dan ibunya sudah bisa merasakan kehangatan dirumah itu, apalagi tadi mereka sempat berpapasan dengan Yahya dan Viktor yang hendak berangkat ke kantor. Mereka melihat bagaimana interaksi antara anggota keluarga dirumah itu, sangat berbeda dengan yang dilihatnya dirumah Amran dulu.
Deandra merasa heran melihat Iva yang menangis tersedu-sedu. Verrel memberinya isyarat agar membiarkan wanita itu menangis. Setelah sekian lama menangis akhirnya Iva pun tenang. Untung saja Verrel yang sekarang adalah pribadi yang berbeda dengan Verrel yang dulu. Verrel sekarang adalah seorang pria yang sabar.
“Maafkan putri saya, Tuan.” ucap Diana.
“Tidak apa-apa. Biarkan saja dia sampai merasa tenang. Saya sangat mengerti bagaimana perasaannya.” kata Verrel seraya tersenyum pada istrinya. Kini Verrel adalah seorang suami dan ayah yang sudah peka, dia merasa jika istrinya mulai gelisah. Dia tahu jika istrinya paling tidak bisa melihat orang lain menangis didepannya. Dengan cepat hatinya akan terenyuh.
“Maaf Nyonya Verrel, kami tidak bermaksud seperti ini, tapi Iva ingin sekali bertemu dengan kalian untuk mmeinta maaf karena besok kami akan berangkat ke Belanda.” kata Diana lagi. Deandra hanya tersenyum dan tatapan mata yang meneduhkan. Diana menyadari betapa cantik dan lemah lembutnya Deandra, tak salah kenapa Rico begitu tergila-gila pada wanita itu.
Terlihat Iva sudah mulai bisa menguasai dirinya lantas mengutarakan maksud kedatangannya kerumah itu. Menceritakan tentang kondisinya sekarang dan keputusannya untuk menuruti kemauan sang ayah agar ia pindah ke Belanda dan menetap disana. Verrel dan Deandra terkejut mendengar apa yang disampaikan Iva, tapi mereka juga bersyukur pada akhrinya Iva bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya dan masa depannya.
__ADS_1