TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 263. AYAH OLIVIA BANGKRUT


__ADS_3

“Lalu bagaimana dengan Olivia? Apa perlu kami menangkapnya dan membawanya ke markas?”


“Laporkan ke pihak berwajib jika semua bukti sudah terkumpul!”


“Baik, Tuan.”


“Jangan gegabah. Perempuan itu licik dan ayahnya akan melakukan apapun untuk putri kesayangannya. Awasi terus pergerakan perempuan itu dan pantau perusahaan William Lee.”


“Siap, Tuan. Bara sudah melakukannya, mungkin segera menghubungi Tuan.”


Verrel mengepalkan tangannya menahan emosi, ia berusaha tenang karena tak ingin membuat staf hotel dan supir yang menjemput mereka menjadi curiga. Dia pun berkata dengan suara datar, “Tenang saja dulu, jangan bertindak gegabah. Tunggu intruksi dariku.” katanya lalu memutuskan sambungan telepon itu. Verrel kembali ke versi dirinya yang memancarkan aura dingin.


Sepanjang perjalanan menuju hotel, ia hanya diam dengan sorot mata tajam menatap supir dan petugas hotel yang duduk dikursi depan. Ia mengenal staf hotel itu karena sudah beberapa kali bertemu saat dia ke Swiss dan menginap di hotel yang sama, tapi ia tidak mengenal supir yang saat ini terlihat fokus mengemudi.


Verrel memicingkan matanya, dia mencurigai supir itu karena selama Verrel menelepon tadi, supir itu kedapatan beberapa kali mencuri pandang ke arahnya lewat kaca spion. Hal ini membuat Verrel meningkatkan kewaspadaannya.


Dia tak mengatakan apapun pada Frans yang duduk disebelahnya. Semenjak masalah dengan SG Group muncul, dia memang selalu bersikap waspada dan tidak mau gegabah memeprcayai orang-orang disekitarnya. Menurut informasi yang diberikan anak buahnya tentang SG Group yang banyak melakukan bisnis gelap dan berhubungan dengan dunia bawah, mereka bisa saja melakukan banyak hal untuk mengumpulkan segala sesuatu yang bisa digunakan untuk menjatuhkan Verrel.


Verrel dan yang lainnya sampai di hotel dengan selamat, setelah turun dari mobil dia mengirimkan pesan pada Frans dan yang lainnya untuk memeriksa kamar mereka terlebih dahulu. Verrel pun langsung menuju kamarnya yang berada dilantai teratas, kamar presidential suite itu sudah disiapkan untuknya selama berada di Swiss.


Seperti yang sudah-sudah, Verrel langsung memeriksa seisi ruangan dengan teliti. Hal yang melelahkan itu harus ia lakukan agar melindungi dirinya dan benar saja, ia menemukan benda kecil itu menempel dibawah ranjang. Verrel mengambil benda itu lalu membuangnya kedalam WC. Setelah memastikan kamar itu bersih, Verrel menghubungi yang lainnya. Mereka pun menemukan benda kecil yang sama di kamar mereka dan sudah membuangnya.


Verrel kemudian menghubungi Bara, meminta kepala pengawal itu meningkatkan pengamanan dirumahnya dan menambah pengawalan untuk istri dan anak-anaknya. Lalu dia menghubungi seseorang, “Kirimkan seseorang untuk mengawasi William Lee dan juga awasi markas SG Group.”


**********


“Bagaimana bisa semua berita itu hilang begitu saja?” teriak Olivia yang sejak tadi berusaha mencari berita viral yang dibuatnya di media sosial. Namun setelah sekian lama mencari tak ada satupun jejak berita itu, hilang begitu saja. Dia pun langsung memaki pria bernama Devan yang membantunya.

__ADS_1


“Apa-apaan ini Devan? Kau tidak becus bekerja!”


“Hei! Jangan seenaknya bicara! Mungkin pihak Verrel yang meredam berita itu! Bukan salahku, aku sudah melakukan sesuai keinginanmu. Bukankah kau lihat bagaimana berita itu langsung viral sejak diterbitkan?”


“Arrrgggg……….” Olivia melemparkan vas bunga hingga pecah, melampiaskan emosinya karena rencananya gagal dan tak berpengaruh pada Verrel.


“Sebarkan lagi berita itu, kalau bisa lebih banyak lagi!”


“Tidak mungkin kita menggunakan foto dan video yang sama! Kau punya ide lebih baik lagi?”


“Sebarkan berita aku hamil!”


“Gila kau Olivia! Memangnya kau punya bukti?”


“Belum punya saat ini. Mungkin aku harus menunggu dua minggu lagi untuk melakukan tes.”


“Kenapa harus aku yang mikir? Aku sudah membayarmu!”


“Bayaranku hanya sebatas satu pekerjaan! Jika kau memintaku melakukan lebih maka kau harus membayar lebih karena aku tidak bekerja sendirian!”


“Brengsek kau Devan! Kau sudah gagal tapi masih minta uang lagi, ha?”


“Aku hanya minta jika kau menyuruhku melakukan pekerjaan lain. Urusan pekerjaan kemarin sudah selesai dan aku tidak bertanggung jawab lagi!” ujar Devan lalu bergegas pergi meninggalkan Olivia.


Wanita itu semakin merasa tertekan karena tujuannya tidak tercapai.


“Ahhh sialan! Lebih baik aku pergi spa! Otakku panas kalau mikir terus!” Lalu dia berkemas dan pergi mengendarai mobilnya menuju sebuah salon kecantikan high class.

__ADS_1


Sesampainya disana Olivia memilih paket yang biasa dipesannya. Staff salon itu mengarahkan Olivia kesebuah kamar. Olivia menanggalkan pakaiannya lalu merebahkan tubuh dengan posisi menelungkup. Tak lama seseorang masuk dan mulai melakukan perawatan pada Olivia.


Dia sangat menikmati pijatan dari terapis spa, otot-otot kepalanya yang tegang pun berangsur rileks. Seorang pria muda dengan otot tangan yang kekar, kedua tangannya bergerak lincah melumuri tubuh Olivia dengan minyak khusus.


Aroma wangi dan lembut menguar memenuhi ruangan itu, pijatan tangan pria muda itu terus bergerak ditubuh Olivia sementara matanya memindai setiap inci tubuh Olivia yang nampak sintal. “Tubuh anda bagus sekali, Nona.” puji terapis pria itu. Ia terlihat menelan ludah berkali-kali saat ujung jarinya menyentuh bagian bawah tubuh Olivia.


“Benarkah?” jawab Olivia asal.


“Benar Nona. Beruntung sekali pria yang memiliki anda.”


Dari nada bicaranya, Olivia tahu pria muda itu terpesona dengan tubuhnya yang indah. Olivia pun melirik pria itu dan langsung tersenyum. “Kau mau memilikiku?” tanya Olivia.


“Ahhh…..” pemuda itu refleks berseru saat tangan Olivia menyentuh bagian bawah tubuhnya.


Olivia semakin bersemangat, ia bnagkit dari tidurnya lalu duduk menatap pria itu. Dari tempatnya berdiri pemuda itu bisa melihat dengan jelas sepasang benda kembar yang putih mulus bergoyang menantangnya. Ia pun menelan salivanya.


“Bagaimana? Kau mau?” tanya Olivia dengan tangan bergerak lembut dipermukaan celana pria itu. Meski terlihat menikmati sentuhan Olivia tapi pria muda itu masih terlihat ragu untuk memberi jawaban. Bagaimanapun juga dia tahu siapa Olivia, anak seorang pengusaha kaya raya di Singapura. Namun tawaran Olivia terlalu menggiurkan untuk ditolak. Bagaimana mungkin dia melewatkan pemandangan menggoda iman yang ada dihadapannya.


Sambil menahan hasrat yang mulai bergejolak, pemuda itu mengangguk dengan semangat. “Dengan senang hati Nona. Saya bersedia melakukan apa saja agar bisa anda miliki.” jawabnya dengan pandangan tak lepas dari dada olivia yang membusung indah.


“Tetapi ada syaratnya.” kata Olivia dengan suara berbisik, sementara tangannya tidak beranjak dari permukaan denim pemuda itu.


“Katakan saja...apapun syaratnya….akan saya turuti.” jawab pemuda itu terbata menahan hasrat yang terus menjalar diseluruh tubuhnya.


“Kau harus menuruti semua keinginanku, tanpa terkecuali!” kata Olivia.


“Aahh….ya. Pasti….akan saya lakukan, Nona.” jawabnya dengan ******* tetrahan menahan gempuran hasrat karena ulah tangan Olivia yang merajalela.

__ADS_1


Olivia tertawa, dirinya puas karena bisa mendapatkan pemuda tampan untuk berada dibawah kendalinya. “Good boy!” pujinya dengan senyum menggoda, seraya melayangkan cubitan kecil pada milik pemuda itu. Senyum nakal muncul diwajah Olivia, entah rencana apa yang muncul dikepalanya saat itu. Dia lalu merengkuh tubuh pemuda itu lalu melabuhkan ciuman dibibir maskulin miliknya. Pemuda itu kaget untuk beberapa saat karena tidak menyangka akan mendapatkan tangkapan besar, tetapi dia pun langsung membalas ciuman Olivia sesudahnya.


__ADS_2