
“Kalau papa tidak percaya lagi sama Andini, tidak apa-apa. Aku akan mencari sendiri jalan keluar untuk membantu putra kita.” Airmatanya berurai dan tangan Andini menghempaskan genggaman tangan suaminya. Tanpa berpamitan dia pun keluar dari situasi yang seolah mencekik dirinya hidup-hidup.
“Andini!” pekik Amran yang akhirnya ingin menyusul istri kesayangannya itu. Namun nampak Andini malah kembali keruangan itu dengan airmata yang semakin deras. Ternyata pintu depan sudah ditutup dan dikunci, dua orang pengawal berdiri disana. Diluar semua pengawal sudah siap-siap jika ada hal yang tak diinginkan terjadi didalam rumah. Verrel sudah mempersiapkan dengan matang semuanya.
Sudut bibir Yahya terangkat. Sejenak ia berpikir betapa bodohnya putranya itu.
“Opa.”
“Hmm.”
“Aku pikir, opa sudah bisa mengirimkan hasil tes DNA itu pada papa hari ini. Biar dia yang mengkonfirmasi keaslian hasil tes itu. Mungkin dengan begitu dia akan menyadari betapa bodohnya dia selama ini memelihari perempuan ular tak berguna dan anak haram itu.”
Andini kembali duduk di tempatnya semula, sungguh dia sudah tak tahan lagi kini dia malah tak bisa keluar dari rumah itu. Saat dia sudah dekat ke pintu dia melihat dua orang pengawal berdiri disana dan menatapnya tajam seolah ingin mengulitinya hidup-hidup. Ini sama saja dengan masuk ke kandang singa untuk disantap hidup-hidup.
“Kenapa balik lagi, hu?” ucap Verrel sinis. Andini hanya menundukkan wajah tak berani berkata sepatah katapun. Kedua lututnya bergetar, keringat dingin mengucur padahal pendingin ruangan itu menyala.
“Jawab pertanyaanku tadi.”
“Untuk apa lagi? Apa lagi yang papa ingin ketahui? Apa belum cukup papamu menyudutkanku dan mempermalukanku seperti itu?” Andini menggeleng berkali-kali.
“Kalau dengan cara ini mereka tak akan menggangu kehidupanku lagi, aku rela papa kembali pada ayu….dan kita bisa..”
“Cukup! Hentikan omong kosongmu Andini!” pekik Amran yang sedetik kemudian menarik wanita itu kedalam pelukannya.
“Papa bahkan tak membelaku tadi dan malah mempertanyakanku, papa termakan jebakan papamu sendiri. Apa kau lupa, Pa. Kau berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Rico dan aku seperti janjimu dulu.” wanita itu meracau sambil mencengkeram dada Amran erat.
Pria yang sudah dibutakan oleh cinta itu mengeratkan pelukannya. Sementara wanita itu menyusun rencana singkat yang akan ia lakukan pada seseorang.
Plok! Plok! Plok! Plok!
Suara tepuk tangan diiringi derap langkah memasuki ruangan itu. Bukan satu derap kaki tapi ada tiga bahkan mungkin lebih. “Luar biasa! Selamat Andini, kau pantas mendapatkan piala sebagai aktris terhebat dalam akting. Dua puluh lima tahun kau berakting sempurna sehingga tak seorangpun yang menyadarinya, bahkan suamimu itu.”
__ADS_1
Ada wajah terkejut, mata membelalak dan mulut menganga saat pria itu berbicara.
“DARMA?”
“Pa—papa?”
Amran dan Andini pun terperanjat melihat siapa yang berdiri disana, Darma Pangestu, Rian Cordino beserta beberapa orang lainnya yang sangat dikenal Amran. Pria paruh baya itu heran kenapa mereka semua ada disana.
Darma Pangestu tak kalah terkejutnya melihat Viktor dan Deandra disana. Tadi dia menerima telepon dari Ayu Prastita yang memintanya untuk datang kerumah utama keluarga Ceyhan karena ada hal penting. Saat dia tiba disana, dia sempat mendengar apa yang Andini katakan.
“Tunggu dulu. Kau memanggil Darma ‘papa’?” tanya Ayu pada Deandra. Andini pun terkejut, ada apa ini sebenarnya?
“Deandra? Deandra anakku? Apa itu kau sayang?” kata Darma menatap Deandra. Putrinya yang dia pikir sudah meninggal dunia. Mata Darma berkabut, dia memeluk Deandra seakan tak percaya apa yang dilihatnya barusan. Ini bukan mimpi, dia anakku gumamnya. Viktor meneteskan airmata, Yahya menatapnya heran dan Verrel pun berusaha menyimak kejadian didepannya.
“Yahya, itu Darma Pangestu suami putriku. Dia yang membawa lari putriku dulu.” ucap Viktor lirih meneteskan airmata. Setelah bertahun-tahun ternyata takdir lagi-lagi berpihak padanya, mempertemukannya dengan pria yang tak direstuinya dulu, sehingga pria itu membawa lari putrinya dan menikah. Sejak itu, Viktor tak tahu lagi kabar beritanya, hingga suatu hari dia menerima surat tanpa pengirim yang berisi foto cucunya berumur tiga tahun.
“Ja—jadi Deandra menantuku adalah anak Mas Darma?” tanya Ayu pada Viktor.
“Oh, Tuhan. Kebetulan sekali. Ayu tadi meminta Mas Darma untuk datang kesini buat sarapan bersama sekalian mau memperkenalkan pada kalian.”
“Papa Viktor.” lirih Darma mendekati pria tua itu.
“Maafkan aku, pa….aku mohon maafkan aku.” memeluk papa mertuanya itu.
“Kau tak bersalah Darma. Semua salahku, tak merestui hubunganmu dan putriku dulu. Maafkan papa.” kata Viktor terharu. Kejutan demi kejutan diterimanya membuatnya bahagia.
Verrel memeluk istri tercintanya “Sayang, apakah benar itu papamu?”
“Iya. Tapi kenapa papa masih hidup? Paman Surya bilang kalau papa sudah meninggal.”
Darma yang mendengar Deandra menyebut nama Surya, wajahnya langsung memerah marah.
__ADS_1
“Siapa? Kau bilang tadi paman Surya?”
“Iya, pa. Paman Surya bilang kalau papa sudah meninggal.”
“Kurang ajar kau Surya! Surya bukan pamanmu. Dia hanyalah seorang penipu.”
“Sudah tenang semua. Nanti kita bahas soal itu semua. Sekarang, mari kita selesaikan dulu masalah yang satu ini.” kata Ayu menenangkan. Bagaimanapun akan ada pembicaraan panjang nanti untuk membahas semua kekacauan ini. Verrel langsung menyalami Darma “Selamat datang, pa. Aku Verrel suami Deandra.” ujarnya. Darma memberikan pelukan hangat pada menantunya itu.
“Baiklah! Kurasa saatnya aku yang bicara.” kata Darma. Sementara Andini makin ketakutan melihat Rian juga ada disana bersama tiga pria lain yang pernah ditemui Andini dulu.
“Tuan Amran….eh lebih tepatnya Amran Ceyhan. Tak disangka kini kita besanan. Aku ingin memberitahumu hal yang sangat penting tentang istrimu tercinta itu. Setelah kau mendengar semua, maka kuharap kau segera siapkan pengacara terhebat untuk menyelamatkan wanita itu. Karena dia akan mendekam di penjara seumur hidupnya bersama dengan anaknya.”
“A—apa maksudmu? Kau pikir aku percaya dengan omongan seorang penipu dan koruptor sepertimu, ha? Kau yang menggelapkan semua uang proyek di masa lalu dan kau mendekam di penjara untuk perbuatanmu.”
“Mas Darma menjalani hukuman yang tak seharusnya dia terima. Karena dia sama sekali tak bersalah.” kata Ayu membela Darma.
“Oh….jadi kalian berdua ternyata punya hubungan khusus, iya. Ha…..kalian memang serasi, untung dulu aku meninggalkanmu, ternyata laki-laki seperti dia lebih pantas untukmu.” kata Amran mengejek Ayu dan Darma.
“Cukup!” Teriak Yahya. “Jaga mulutmu baik-baik bangsat! Kau akan lihat semua buktinya dan kau akan menjilat ludahmu sendiri.” kata Yahya marah.
“Andini, kau meminjam uangku dua milyar rupiah, bukan? Hari ini jatuh tempo, tapi kau tak menjawab teleponku sejak kemarin. Aku datang kesini untuk menagih hutangmu.” kata Rian menimpali, membuat Amran menatap tajam pada Andini.
“Apa? Dua milyar? Kau meminjam uang sebanyak itu, ma? Untuk apa?” tanya Amran marah.
“Untuk membayar pengacara buat Rico.”
“Ha….ha….ha….istri macam apa kau Andini, membohongi suami sendiri. Bahkan kau selingkuh denganku pun tanpa sepengetahuan suamimu, iyakan?” kata Rian mengejek Andini.
“Apa maksud perkataanmu? Jangan bicara kurang ajar pada istriku.” kata Amran.
__ADS_1