TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 189. KEPANIKAN


__ADS_3

“Sakit? Kita ke dokter ya?” tanya Verrel penuh kelembutan dan mencoba tidak panik padahal dalam hati pria itu ia ingin segera berteriak memerintahkan Yuna menyiapkan mobil.  Deandra menggangguk cepat sambil memeluk perutnya sendiri.  Rasa sakitnya tak sehebat tadi, tapi ia masih ketakutan jika sesuatu terjadu dengan kehamilan keduanya.


...*...


“Bagaimana dokter?” tanya Verrel tak sabaran melihat dokter yang saat ini masih memperhatikan gambar abu-abu dilayar seraya menggerakkan alat USG memutar untuk melihat perkembangan janin didalam rahim pasien.  Dokter Anita itu mengulas satu senyuman sebelum meletakkan alat itu dan meminta perawat yang sejak tadi membantunya untuk membersihkan gel diperut Deandra.


“Mari silahkan duduk Tuan.” jawab dokter itu ramah.


Dibantu oleh perawat, Deandra memberi kode pada Verrel untuk berbicara dengan dokter sementara ia beristirahat sebentar.


“Silahkan duduk Tuan,” ucap Dokter Anita pada Verrel yang tampak cemas dan panik bahkan tidak berlebihan mengatakan pria itu mendadak pucat. Ia ingat perkataan sang kakek yang memarahinya tempo hari gara-gara Deandra hamil lagi.


“Jadi, bagaimana istri saya?”


“Nyonya Deandra mengalami kram pada rahimnya. Kalau boleh saya tahu, bagaimana aktivitas pasien beberapa hari ini? Mulai dari makan, buang air dan apakah mungkin pasien melakukan pekerjaan berat seperti mengangkat sesuatu atau berjalan lebih lama?” tanya dokter kemudian.


Verrel tampak berpikir, mengingat semua aktivitas Deandra beberapa hari ini dan semuanya normal. Bahkan ia sendiri yang menjaga istrinya selama dua puluh empat jam.


“Tidak ada dokter. Saya pastikan dia tidak melakukan semua larangan dokter yang menangani istri saya. Kedua anak kami juga dijaga oleh pengasuhnya dan saya sendiri yang menemani dia beberapa hari ini.” jawab Verrel yakin.


“Baiklah kalau begitu. Apakah semalam atau tadi, tuan dan nyonya melakukan hubungan intim?” tanya dokter anita lagi.


Verrel meneguk ludahnya kasar. Seketika wajahnya memerah, tapi beruntung ia bisa mengendalikan diri untuk tidak gugup saat menjawab pertanyaan dokter itu.

__ADS_1


“Iya, ada dok,” jawabnya “Tepatnya tadi malam.”


Dokter Anita pun tersenyum sehingga mengundang rasa penasaran Verrel untuk bertanya.


“Memangnya ada hubungannya dengan itu, dok?”


“Ada, tuan. Apalagi jika Tuan mengeluarkannya di dalam,” jawab dokter Anita.


 


Mendengar itu Verrel membulatkan mata, panik selain itu ia merasa bersalah karena semalam mereka melakukannya berkali-kali “Lalu apakah itu membahaykan calon bayi kami?”


“Iya, Tuan. Sangat berbahaya, apalagi kandungan Nyonya Deandra belum sepenuhnya kuat karena kehamilan pertamanya kembar dan kehamilan kedua ini juga kembar dan kondisi kandungannya saat ini agak lemah. Kalau bisa saat melakukannya agar hati-hati dan pelan-pelan supaya tidak menganggu kandungannya. Saya harap Nyonya Deandra bisa beristirahat yang cukup dan makan makanan bergizi, makan vitamin dan penguat kandungan.” ucap dokter Anita panjang lebar menjelaskan secara gamblang. Pria itu menggangguk cepat “Baik, Dok. Saya akan mengingat semua anjuran dokter dengan baik.”


“Ini….” Dokter Anita menyodorkan beberapa hasil foto USG yang baru saja dilakukan “Janinnya berkembang dengan baik. Sepertinya Tuan dan Nyonya sangat beruntung, kehamilan pertama dapat anak kembar dan kehamilan kedua ini malah dapat kembar tiga. Tuan, coba perhatikan disini. Ini kantung janin ada dua yang terlihat jelas dan yang ini salah satu kantung janin belum begitu jelas namun saya yakin mereka ada tiga. Bulan depan kita bisa melihat dengan jelas perkembangan lanjutan.  Saya harap Tuan bisa menjaga kesehatan Nyonya Deandra karena kehamilan kembar tiga itu sangat spesial.


Dokter Anita mencatat semua hasil pemeriksaan hari ini dalam buku khusus ibu dan anak sebelum menyerahkan kembali pada Verrel.  Berikut dengan hasil foto USG yang diambil sewaktu pemeriksaan tadi.


“Ini ada resep vitamin dan obat penguat kandungan. Jangan lupa diberikan secara teratur.”


“Baik dokter, terimakasih.”


Setelah rasa kram dan nyeri dipinggang berkurang, Deandra dibantu Verrel dan perawat duduk di kursi roda.

__ADS_1


“Mari saya antar ke depan,” ucap perawat itu, namun Verrel segera menolak.


“Tidak perlu, suster. Saya ada pengawal didepan pintu, biar mereka yang membantu saya. Terimakasih atas tawarannya.” ucap Verrel sopan.


Perawat yang sejak tadi mencuri pandang pada Verrel pun tersenyum ramah. Dalam hati ia berpikir, ternyata sang penguasa yang selalu diberitakan memiliki sikap angkuh dan kejam ternyata tak seburuk itu. Sesampainya dalam mobil, Verrel merengkuh pinggang sang istri erat.  Membiarkan kepala wanita itu bersandar didadanya.  Sebenarnya Verrel ingin memangku istrinta namun Deandra menolak dengan alasan tidak nyaman.


“Maafkan aku Verrel,” gumam Deandra yang kembali terisak.  Setelah mendengar secara langsung penjelasan dokter tadi, ibu hamil itu merasa bersalah karena dirinya begitu ceroboh tadi malam.  Astaga! Deandra mengingat betul jika semalam ia sangat liar saat menyatu dengan suaminya, karena dirinya juga yang terus memaksa suaminya itu memasukinya lagi dan lagi bahkan ketika ia sudah tak berdaya karena terllau lelah.


“Sssstttt,” desis Verrel menenangkan seraya mengelus lembut punggung sang istri. “Maaf untuk apa hmm? Kau tidak bersalah, sayang.”


Deandra mengeratkan cengkeraman tangannya didada suaminya yang memeluknya erat. “Aku yang salah sudah meminta lebih sejak semalam. Aku mengikuti keinginan dalam benakku. Aku….”


“Jangan menangis ya sayang. Dokter bilang, menangis juga tidak baik untuk bayi kita.” bujuk Verrel sedikit berbohong.


Perlahan tangisan Deandra mereda, masih sesenggukan ia menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Verrel. “Aku tidak akan menangis lagi,” ucapnya dengan cara yang menggemaskan dimata Verrel sehingga pria itu tak tahan untuk mengecup bibir membengkak karena ulahnya semalam.


Entah Deandra sendiri yang naik ke pangkuan Verrel atau pria itu yang menarik Deandra naik keatas pahanya, saat ini wanita hamil itu berada ditempat aman dan nyaman dan mendapat perlakuan sebaik ini membuat Deandra tidak tahan untuk kembali menjatuhkan diri kedalam pelukan Verrel, suaminya. “Berada dipangkuanmu adalah tempat paling nyaman untuk aku dan triple twins,” gumam Deandra mencari posisi ternyaman. Tubuhnya menggeliat dan tangannya mengalung indah di leher sang suami.


“Kalian bisa meminta kapan saja. Ingat ya sayang, jangan terlalu lelah dengan Nathan dan Naomi. Maafkan aku karena sudah membuatmu hamil lagi.” jawab Verrel tanpabasa basi, karena yang ada dibenaknya sekarang hanya Deandra dan calon ketiga bayi mereka.


“Hari ini dan satu bulan kedepan kau tak boleh ke kantor,”ucap Deandra lirih.


“Ehm, kalau aku tidak boleh ke kantor bagaimana aku bisa memberikan kalian masa depan yang lebih baik? Aku--”

__ADS_1


“Kau lebih mencintai pekerjaanmu daripada kami?” tukas Deandra yang dengan cepat memotong ucapan suaminya padahal pria itu belum selesai bicara.


“Jangan marah-marah mommy. Apa kau lupa aku menjagamu dan sikembar selama enam bulan sejak kau melahirkan? Selama itu pula aku tidak ke kantor.” ucap Verrel lembut. Mendengar sebutan ‘Mommy’ yang diucapkan Verrel membuat sudut hatinya menghangat. Ya, benar apa yang diucapkan suamiku kalau selama berbulan-bulan dia menjagaku dan kedua anak kami. Rasanya tak adil jika aku memintanya lagi untuk tidak ke kantor, pasti dia bosan dirumah lagi. Toh, ada opa, papa dan mama dirumah bisa menemaniku tapi mereka juga sebentar lagi pergi ke Amerika untuk urusan bisnis, pikirnya.


__ADS_2