TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 51. MORNING KISS


__ADS_3

Hembusan napas ditengkuk dan aroma maskulin membangunkan Deandra pagi ini. Belum lagi perutnya yang terasa berat karena ada tangan kekar yang memeluknya semalaman. Ia menoleh kesamping dan melihat Verrel yang pulas.  Teringat kembali saat kemarin sore dia terkejut ketika bangun ternyata tubuh kekar itu berada disampingnya dan memeluknya. Dan pagi ini, kembali hal yang sama terjadi.


Tubuhnya menegang, matanya mengedar sekeliling kamar dan menyadari jika dia masih berada dikamar Verrel. ‘Kenapa sekarang aku merasa lebih nyaman tidur dikamar ini? Aku menyukai wangi maskulin kamar ini dan ranjang ini membuat rasa rinduku terobati saat dia tidak ada dirumah, gumamnya dalam hati. Deandra bahkan memakai kemeja milik Verrel.


Verrel menggumam dalam tidurnya dan mendekatkan bibirnya ditengkuk deandra dan mengecup lehernya. Anehnya pria itu seperti punya sensor seakan dia tahu apa yang dipikirkan Deandra dan saat dia menggeser tubuhnya, tangan kekar itu langsung menariknya untuk menempel padanya.


“Verrel….sayang.”


“Hmmmm,” perlahan matanya membuka dan mengecup bibir gadis itu.


“Aku mau ke kamar mandi, lepaskan aku,” pintanya. Verrel tak merespon malah tangannya meremas salah satu gundukan didada gadis itu yang tak disangga bra.


“Ahhhh…..” ia melenguh tanpa sadar, sentuhan Verrel selalu membuatnya berdesir, deandra pun lupa kalau dia harus ke kamar mandi. Dia selalu tergoda oleh sentuhan Verrel, dulu dia begitu kukuh menahan diri untuk tidak terbuai, tapi sekarang dia selalu merindukan sentuhan pria itu.


“Sayang….mana morning kiss ku,” bisik Verrel ditelinganya membuat Deandra gemetar dan sekujur tubuhnya kaku oleh godaan pria itu. Dia mampu melemahkan semua syaraf tubuh gadis itu. Deandra tak mengerti kenapa tubuhnya selalu bereaksi setiap dekat dengan Verrel.


Verrel yang tak suka diabaikan, langsung menindih tubuh Deandra. “Kau mengabaikanku, sayang, kau tahu kalau aku tidak suka menunggu,” ucapnya langsung mencium bibir gadis itu, ******* dan menggigit dengan sensual.  “Hemmmm…..” Deandra mendesah. Morning kiss versi Verrel berbeda dengan morning kiss laki-laki pada umumnya. Deandra gelagapan tidak bisa mengimbangi gerakan Verrel yang lincah dan menggebu-ngebu tanpa memberikan jeda. Deandra membalas dan itu membuat Verrel semakin liar. Tidak ada penolakan membuat Verrel puas. ‘Tak sulit untuk menaklukkanmu. Hanya dengan ciuman kau pun sudah pasrah, gumamnya dalam hati sambil tersenyum memandang wajah gadis itu.


Verrel mengingat saat pertama kali dia mencium Deandra dan kejadian pertama sekali di hotel yang membuat Deandra terbuai hanya dengan sebuah ciuman. Dia mengingat kejadian waktu di lift dia mencium deandra dan kemarahan gadis itu. Semua yang sudah terjadi kembali terlintas membuatnya tersenyum.


Tangan Verrel berpindah ke perut Deandra dan mengelusnya. Kedua mata gadis itu terbuka dan memandang wajah tampan didepannya. 'Kalau anakku nanti laki-laki pasti setampan dia, hatinya berandai-andai.


“Kenapa? Kau terpesona?”


“Huh! Kau menyebalkan. Aku benci,” ucap deandra yang langsung membuat Verrel pucat. Ya, Tuhan jangan sampai dia ngambek lagi. Bisa seharian aku membujuknya.


“Maaf, sayang. Kau mau sarapan apa?” bujuk Verrel agar Deandra tidak merajuk. Masih diam tidak mau menjawab.


"Kau tahu kalau aku paling tidak suka didiamkan. Kalau kau tidak menjawab, kau akan kuhukum."

__ADS_1


“Buah saja,” jawabnya cepat saat mendengar kata dihukum. Hukuman versi Verrel berbeda jika itu menyangkut Deandra.


“Baiklah Nyonya Verrel, akan kuambilkan.” ucapnya mengecup kening gadis itu lalu turun dari ranjang dan lenyap dibalik pintu. Deandra tersenyum sendiri melihat si manusia galak, begitu dulu dia memanggilnya namun kini pria itu tak lagi segalak dulu. Mungkin karena kondisi deandra saat ini, Verrel pun semakin hati-hati sebelum bicara pada Deandra karena tak ingin wanitanya mengambek lagi.


Verrel kembali kekamar membawa piring berisi buah, didapur para pelayan heboh saat sang tuan besar masuk ke dapur meminta buah, dia bahkan memotong sendiri buah itu untuk Deandra.  Kejadian aneh dan langka dirumah itu yang tidak pernah terjadi sebellumnya.


Perihal berita kehamilan nyonya besar yang membuat perubahan pada sang tuan besar disyukuri oleh para pelayannya. Sekarang tuan besar sudah jarang marah dan membentak pelayan dirumahnya.


...*...


Verrel keluar dari kamar dengan pakaian rapi hendak berangkat ke kantor. Yuna yang sudah berdiri menunggunya didepan pintu menyambutnya “Selamat pagi, Tuan.”


“Jangan ada yang menganggunya. Biarkan dia istirahat,” ucap Verrel pada Yuna.  “Nanti ada pemilik butik yang datang, kalau dia belum bangun biarkan saja, jangan ada yang membangunkannya.” ucap Verrel tegas memberi perintah.  Setelah makan buah tadi di menyuruh deandra istirahat lagi.


“Baik, Tuan. Kami akan menjaga Nyonya dengan baik,” jawab Yuna dengan sopan.


“Satu lagi. Perintahkan kedua pelayan itu untuk selalu menanyakan Nyonya jika dia membutuhkan sesuatu, jangan lupa berikan susu hamil dan vitaminnya, Suruh Nyonya hubungi aku saat makan siang nanti. Aku mau kondisinya baik untuk sabtu nanti,” kata Verrel pergi meninggalkan Yuna yang terkejut.


...*...


“Halo, sayang. Kau sedang apa?” tanya Verrel melalui ponselnya, Sesuai perintahnya pada Yuna untuk menghubunginya saat makan siang.


“Hoaammmm…..a.-aku baru bangun,” jawab Deandra sambil menguap lebar.


“Ya, ampun sayang. Kau mau makan siang pakai apa?” tanya Verrel.


“Tidak tahu. Aku tidak selera makan, aku makan nanti saja kalau kau sudah pulang,” ucap deandra manja membuat Verrel diujung telepon tersenyum. Deandra selalu menyuruh Verrel cepat pulang. “Bolehkah Rosa datang mengunjungiku? Aku merindukannya.”


“Baiklah. Tapi tidak hari ini.” kata Verrel.

__ADS_1


“Aku mau meneleponnya, bolehkan?”


“Ya, boleh. Katakan pada Yuna.” Verrel pun menutup sambungan telepon.


...*...


Tami dan Alya membantu majikannya membersihkan diri dan meriasnya. “Nyonya, ada tamu yang sudah menunggu,”


“Siapa?” tanya Deandra heran.


“Pemilik butik, Nyonya. Tadi Tuan yang memerintahkan,” jawab Yuna. Kepala pelayan itupun tidak tahu untuk apa pemilik butik datang. Baru kemarin dia membawakan beberapa baju model terbaru untuk sang nyonya.


“Untuk apa? Pakaianku masih banyak, kemarin Tuan juga baru membelikanku baju baru,”


“Saya juga tidak tahu, Nyonya.”


“Hem...aku malu keluar,” ucapnya seraya memandangi stempel kepemilikan yang memenuhi lehernya. Yuna pun paham akan hal itu.


“Jangan khawatir, Nyonya. Saya bantu menyembunyikannya,” jawab Yuna tersenyum. Dia paham betul sifat sang tuan besar.


Tok. Tok. Tok


“Masuk.”


Seorang pelayan khusus tuan besar masuk dan memberitahukan kalau tuan besar sudah menunggu nyonya diruang kerjanya. Wajah gadis itu langsung berbinar, dia selalu senang jika Verrel pulang cepat.  “Ayo bibi Yuna, cepat dandani aku. Aku mau ketemu Tuan,”


Selesai dengan penampilannya yang tampak elegan dan anggun mengenakan dress warna pink dipadukan dengan sepatu warna senada.  Yuna menuntun Deandra menuju ruang kerja Verrel yang berada tak jauh dari kamar utama sang tuan besar.


*Visual baju warna pink yang dipakai Deandra

__ADS_1



__ADS_2