TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 90. MENJAGA KELUARGA


__ADS_3

Verrel sempat khawatir saat dokter romeo mengatakan kalau Deandra mengalami benturan keras dikepala, namun tidak berakibat fatal. Serangkaian pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak ada cedera berat ditubuh Deandra. Dia masih terbaring lemah dengan wajah pucat.


“Dengan pengobatan intensif maka dia akan segera sembuh. Sedangkan kandungannya aman, tidak ada gangguan apapun.  Verrel menghela napas lega, dia sangat takut jika kehilangan istri dan anaknya.


“Tuan Verrel, kedua bayinya sangat kuat. Tidak perlu khawatir,” kata dokter romeo.


“Syukurlah.” ucap Verrel singkat.


Mendengar pernyataan itu, Verrel sangat senang dan wajahnya tidak sesuram tadi.


“Kau harus kuat, sayang. Demi aku dan anak kita. Demi keluarga kita,” ucap Verrel.


“Katakan itu langsung pada istrimu, bukan padaku.” kata Romeo yang langsung mendapat tatapan tajam dari Verrel.


“Apa sudah kau periksa semua? Jangan sampai tubuh istriku ada lecet sedikitpun,”


“Kalau lecet tinggal kau oplas saja nanti, uangmu banyak.” ejek dokter romeo yang heran melihat sikap sahabatnya yang posesif.


“Pfff….kepalaku sakit kalau bicara denganmu.”ujar Verrel seraya bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan dokter romeo.  Setibanya didepan kamar perawatan istrinya, dia membuka pintu perlahan tidak ingin mengganggu istrinya. Melihat kedua pelayan masih berada didalam. “Kalian pergilah. Biar aku yang menjaganya.”


Kedua pelayan itupun langsung keluar dari ruangan. Verrel membaringkan tubuhnya diatas ranjang, disamping istrinya. Tangannya memeluk pinggang istrinya, dan tak lama ia pun tertidur.


“Verrel, Verrel jangan tinggalkan aku.”


Desisan lirih dari bibir deandra meluncur memanggil nama suaminya. “Aku takut, tolong aku….mereka mengambil bayiku. Tolongggg….Verrel!!”


Verrel yang tertidur mengeryit mendengar suara teriakan dan pukulan didadanya.  Ia membuka mata dan melihat istrinya gelisah sambil berteriak, ia segera bangkit dan duduk ditepi ranjang menepuk pipi Deandra bergantian.  Terlihat airmata membasahi wajah Deandra.


“Sayang bangun….hei bangun, bangun sayang”


Perlahan Deandra membuka matanya dan terengah-engah. “Verrel?”


“Ya, sayang. Ini aku.”


Deandra langsung memeluk tubuh suaminya “Jangan tinggalkan aku,” ucapnya lirih dengan terisak-isak. Verrel membalas pelukan istrinya dan mengecup keningnya.


“Aku ada disini, sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu,”


Verrel mengusap punggung istrinya dan membisikkan kata-kata untuk menenangkannya.


“Verrel, aku mencintaimu,”

__ADS_1


“Ya, sayang. Aku juga mencintaimu.”


Satu kecupan lembut mendarat di bibir Deandra yang terbuka.  “Tidurlah biar sehat kembali.”


“Aku tidak mau tidur, aku takut saat membuka mataku, kau tidak ada,” kata Deandra menatap wajah Verrel tanpa berkedip.  Mimpi buruknya membuatnya sangat ketakutan kehilangan suami yang sangat dicintainya.


...*...


Seminggu Deandra dirawat dirumah sakit.  Tak sekalipun Verrel meninggalkannya, semua urusan pekerjaan diserahkannya pada sang asisten, Yahya memutuskan kembali ke perusahaan karena Verrel berada dirumah sakit menjaga istrinya.


Frans yang selalu datang memberikan laporan padanya.  Tuan Yahya semakin memperketat pengamanan dan pemeriksaan bagi setiap orang yang datang ke rumah sakit, kantor maupun dirumah. Perhatian dan sikap lembut Verrel membuat Deandra terkesima, Verrel begitu sabar mengurusi semua kebutuhannya. 


“Kau sedang memikirkan apa sayang?” Verrel menyusupkan tangannya memeluk Deandra.  Sebuah kecupan mendarat di leher deandra diikuti ******* yang meninggalkan tanda kepemilikan. Selama seminggu dirawat, Verrel tak pernah minta dilayani, tak sedetikpun dia meninggalkan istrinya. Untuk seorang pria yang dikenal sebagai penguasa ranjang, dia bisa menahan diri untuk tidak melampiaskan pada wanita lain.


Ponselnya berdering nyaring.


“Halo.”


“……...”


Kapan? Dimana?”


“………….”


Setelah panggilan terputus, Verrel meletakkan ponselnya diatas nakas dan mendekati Deandra.  “Apa kau lelah, sayang?” gumamnya lirih.  Deandra yang belum  tidur membuka matanya perlahan dan menggeleng.


“Apa suaraku mengganggumu?” tanya Verrel lagi, Deandra hanya menggeleng.


“Siapa yang barusan menelepon?” tanya Deandra penasaran.


“Opa, ada hal penting yang menungguku di kantor. Aku harus kembali masuk kerja besok,” kata Verrel menjelaskan. Berita yang baru diterimanya dari sang kakek membuatnya gelisah dan hatinya bergejolak menahan amarah.


Keduanya saling menatap dan tak mengucapkan sepatah kata. Pria itu berusaha menahan agar tidak mengumpat. Namun ia butuh peredam amarahnya agar rasa itu tidak berlarut-larut.  Sebagai istri, Deandra tahu jika suaminya sedang tidak baik-baik.  Ia pun berusaha memberikan pelayanan sebagai seorang istri untuk membuat suaminya merasa nyaman.


“Katakan apa yang bisa kulakukan untukmu,” kata Deandra padanya sambil menatapnya.


“Tidak ada, sayang. Tak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja.”


“Aku tahu kau gelisah. Mau cerita?”


“Aku akan ceritakan padamu, tapi bukan sekarang.”

__ADS_1


“Janji! Aku istrimu, aku mau meringankan bebanmu,”


“Aku tahu. Aku hanya khawatir padamu. Jaga dirimu, selalu berhati-hati ok?”


“Ya, aku janji.”


...**...


Diruang kerja Verrel dan Frans terlibat pembicaraan yang sangat serius.  Verrel memperhatikan semua dokumen dan meneliti sebelum menandatangani. “Bagaimana dengan peluncuran produk baru kita? Apakah jadwal istriku sudah diatur untuk photo shoot?”


“Semua sudah diatur sesuai jadwal, Tuan. Untuk pengamanan dilokasi pemotretan dan di gedung nanti juga sudah dirancang khusus untuk keamanan dan kenyaman.” kata Frans menjelaskan dengan detail rancangan peluncuran produk baru mereka.


“Apa ada hal lain yang anda butuhkan, Tuan?”


“Lakukan sesuatu untukku. Kosongkan jadwalku di hari sabtu.”


“Untuk apa Tuan?” tanya Frans bingung karena biasanya Verrel menyukai bekerja di hari sabtu.


“Aku ingin mengajak istriku berkencan.” kata Verrel lalu menjelaskan apa yang ingin dia lakukan untuk istrinya pada hari sabtu nanti. Dia meminta sang asisten untuk mempersiapkan sesuatu. Hal itu membuat sang asisten terkejut.


"Baik, tuan. Akan saya siapkan semua." Lalu Frans menoleh saat pintu terbuka dan melihat Tuan Yahya melangkah masuk dengan wajah tegang. Frans pun segera meninggalkan ruangan itu.


Yahya duduk di sofa sambil menghela napas panjang. Verrel bangkit dari duduknya dan melangkah kearah sofa, duduk disebelah sang kakek.


"Jadi wanita itu kembali, huh?" mendengus kesal.


"Iya, opa."


"William yang mengatakan padaku. Dia bahkan sudah menemukan dimana persembunyiannya. Lalu apa rencanamu? Ingat, Opa tidak mau melihat kehancuran keluarga ini."


"Akan kuselesaikan. Opa jangan khawatir."


"Enak saja kau bicara! Kalau kau tidak berulah, semua ini tak mungkin terjadi!" kata Yahya gusar, kini dia harus mencari jalan untuk menyelamatkan keluarganya. Dia tahu Verrel bisa mengatasi masalah ini, tapi ada hal lain yang harus dia pikirkan untuk keselamatan calon cicitnya kelak.


"Aku tidak tahu kalau akan seperti ini, opa. Siapa yang menyangka dia akan kembali dan mengganggu hidup keluargaku."


"Aku tegaskan padamu sekali lagi! Kalau kau benar-benar mencintai istrimu, jaga dia dengan baik! Aku tahu alasan kau menikahinya. Tanyakan pada hatimu seberapa penting istrimu didalam hidupmu,” ucap Yahya pada Verrel dengan nada suara tegas.


“Ingat satu hal, kalau kau tidak bisa menjaga janin didalam kandungan istrimu maka aku sendiri yang akan mengurusnya dan mengambil alih hak asuh bayi itu setelah lahir.”


Verrel sudah tak mampu berkata-kata. Ia hanya diam dan membeku.  “Kau ingat itu! Aku pastikan kau tidak akan memiliki hak apapun atas anak itu nanti.  Dan cicitku yang akan menjadi pewarisku kelak.

__ADS_1


Aku mau lihat masih seberapa besar egomu untuk tetap tidak berubah, monolog Yahya dalam hatinya. Yahya tidak ingin jika Verrel akan kembali ke kebiasaannya saat Deandra hamil muda, bukan tidak mungkin Verrel berulah lagi karena tidak bisa mengendalikan gairah liarnya.


...*...


__ADS_2