
Udara mulai terasa dingin, bulan september mulai memasuki musim gugur. Disalah satu rumah yang terletak di Hillegersberg dikota Rotterdam Belanda terlihat Iva sedang menyusui anaknya sambil duduk didekat jendela memandang keluar. Halaman depan rumah itu ada taman dengan bunga tulip warna warni, rumah berlantai dua dengan desain modern Belanda itu dihuni hanya tiga orang. Wanita itu baru melahirkan seorang anak laki-laki seminggu yang lalu. Bayi itu diberi nama Riva Marcelino, wajahnya sangat mirip dengan Rico.
“Kak Rico, anak kita sudah lahir. Wajahnya sangat mirip denganmu, semua kerinduanku terobati setiap aku memandang wajah anak kita. Semoga kau baik-baik saja disana Kak. Aku masih mencintaimu.” airmatanya menetes membasahi wajahnya. Sejak dia dan ibunya memutuskan pindah ke Belanda untuk melupakan Rico namun semakin dia berusaha untuk melupakan pria itu, justru dia semakin merindukannya. Pria yang sedang menjalani hukuman selama lima belas tahun itupun sampai hari ini tak tahu alasan kenapa Iva tak pernah lagi mengunjunginya.
“Kenapa menangis Iva?” tanya Ibunya saat mendekati Iva yang sedang melamun sambil menangis.
“Eh….tidak apa-apa mama.”
“Kau rindu sama Rico?”
“Hiks…..hiks…..hiks…...iya Ma. Salahkah Iva jika masih merindukannya?”
Tangan wanita itu mengelus punggung putri semata wayangnya, dia paham bagaimana perasaan putrinya apalagi sudah memiliki anak dengan Rico. Seburuk apapun pria itu adalah ayah dari cucunya.
“Tidak ada yang salah sayang. Bersabarlah, ingat sekarang ada Riva yang jadi tanggung jawabmu. Jika takdir mempertemukanmu kembali dengan Rico, itu berarti kalian memang berjodoh tapi pikirkanlah masa depanmu. Mama dan papa semakin tua, suatu hari nanti kau yang akan mengambil alih Baratha Group.”
“Iva tau, ma. Kalau bisa, aku ingin melanjutkan S2 disini.”
“Bagus sekali itu, mama setuju. Kau sabar ya tunggu sampai Riva berumur satu tahun, mama akan bantu menjaganya selagi kau kuliah.”
“Iya, ma. Terimakasih ya selalu mendukung Iva. Rasanya aku berdosa sekali sudah mengecewakan mama dan papa.”
__ADS_1
“Jangan bicara begitu, sayang. Semua ini sudah takdir yang harus dijalani, supaya kau semakin dewasa dan kuat dalam menghadapi kehidupan kedepannya. Mama harap suatu hari nanti kau bisa membuka hatimu untuk orang lain dan menemukan seseorang yang mencintaimu.”
“Ma…..untuk sementara aku tidak mau menjalin hubungan dengan siapapun. Rico memang sudah membuat kesalahan besar tapi aku masih sangat mencintainya.”
“Buka mata dan pikiranmu Iva! Apa kau mau menunggunya sampai lima belas tahun? Jangan gila Iva! Hidupmu masih panjang untuk dijalani.”
“Jangan paksa Iva! Aku belum sanggup melupakan Rico.”
“Sudahlah! Mama pusing kalau bicara denganmu, entah kapan otakmu itu benar. Jangan sampai papa tahu soal itu kau bisa dimarahin papamu habis-habisan. Kalau kau memang mau kuliah lagi, lebih baik kau fokus saja untuk kuliah.” ujar wanita itu kesal dan pergi meninggalkan putrinya.
“Aku akan lanjutkan kuliahku. Jika waktunya tiba aku akan membawa anakku kembali ke tanah air dan menemui Rico. Dia berhak untuk melihat anaknya.” gumam Iva lirih sambil memperhatikan wajah putranya.
...*...
“Apakah papa sudah yakin akan menjual semuanya dan kembali ke Indonesia?” tanya Darma pada mertuanya itu.
“Iya. Papa ingin menghabiskan masa tua bersama cucu dan cicit. Jika kita menjual semua perusahaan dan properti papa di Eropa, uangnya tidak akan habis tujuh turunan. Deandra dan cicitku bisa menikmati uang itu, kau fokuskan saja mengurusi perusahaan yang di Indonesia saja. Jangan terlalu memaksakan diri Darma, kau pun sudah tidak muda lagi. Bertahun-tahun waktumu terbuang, kini kau bisa menghabiskan waktu bersama anak dan cucumu, sama seperti papa. Kita bisa pergi main golf dengan Yahya. Kalau kau bosan, mungkin kau bisa mulai pikirkan untuk menikah lagi.”
“Tidak, pa. Aku sudah tidak ingin menikah lagi, aku mencintai Berliana selamanya. Takkan ada yang bisa menggantikannya di hatiku. Bertemu kembali dengan Deandra sudah bisa mengobati kerinduanku pada almarhumah istriku.” sahut Darma dengan pandangan kosong. Dulu dia memang pernah bersumpah takkan menikah lagi setelah kematian istrinya.
“Baiklah kalau itu keputusanmu. Ayo kita cari makan dulu, bagaimana kalau kita ke restoran Van De Leur saja atau kau mau makan di Sate Lounge?”
__ADS_1
“Terserah papa, saja mau makan dimana yang penting makanannya enak.”
“Kalau begitu kita pergi ke Van De Leur saja.” kata Viktor. Kedua pria beda generasi itu memasuki mobil hitam yang akan membawa mereka ke restoran pilihan Viktor. Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di restoran tujuan, di meja paling sudut dan agak tertutup oleh hiasan tanaman sudah duduk pengacara Viktor yang sudah siap dengan beberapa dokumen yang diminta. “Maaf Jade sudah membuatmu menunggu.” ujar Viktor “Kau masih ingat Darma, bukan?” sambil mengenalkan Darma pada Jade. Jade adalah pengacara Viktor yang sudah bekerja padanya bertahun-tahun. Pria itu sepuluh tahun lebih muda dari Viktor.
“Senang bertemu anda Tuan Darma.” kata Jade menyalami Darma.
“Tuan Viktor ini semua dokumen penjualan saham perusahaan milik anda, coba diperiksa jika sudah sesuai. Mereka juga sudah mentransfer uangnya ke rekening anda.”
“Iya, Terimakasih Jade. Saya sudah terima uangnya. Ini cek untukmu, sebagai ucapan terimakasihku padamu yang sudah sekian lama bekerja untukku.” kata Viktor menyodorkan selembar cek bernila besar yang membuat mata pengacara itupun berbinar.
“Tuan Viktor bukankah ini terlalu banyak? Anda sudah begitu baik padaku dan keluargaku selama ini.” ucap Jade. Baginya Viktor adalah keluarganya, pria itu sudah banyak membantu karir Jade hingga dia bisa menjadi salah satu pengacara terkenal di negeri kincir angin itu.
“Itu tidak seberapa dibandingkan dengan pengorbananmu selama ini Jade. Aku dan menantuku akan kembali ke negara kami, jika kau punya waktu luang datanglah mengunjungiku disana. Aku sudah tua dan ingin menghabiskan waktuku bersama keluarga.”
“Saya janji pasti akan datang mengunjungi anda, Tuan. Keputusanmu menjual perusahaan dan semua properti milikmu sudah tepat. Keluarga jauh lebih penting, lagipula total kekayaan anda sangat banyak bisa menjamin kehidupan cucu dan cicit anda nantinya.”
Ketiga pria itu terlibat dalam percakapan berhubungan bisnis dan hal lainnya. Viktor merasa lega, akhirnya dia bisa pensiun dan menghabiskan hari tua bersama cicitnya. Keputusannya untuk menjual semua hartanya dirasa sudah tepat. Dia hanya menyisakan sebuah rumah besar di Amsterdam, rumah yang dulu dibelinya sebagai hadiah pernikahan untuk istrinya. Dia tak berniat menjual rumah itu dan mewariskannya pada Deandra. Rumah berukuran besar dengan desain klasik dan halaman luas yang berlokasi di kawasan elit Bloemendaal di kota Amsterdam. Viktor mewariskan rumah mewah itu pada cucunya Deandra Ailsie yang memiliki nama yang sama seperti istri Viktor. “Dulu rumah itu kubeli sebagai hadiah untuk istriku Deandra Ailsie dan kini rumah itu ku wariskan pada cucuku Deandra Ailsia yang bernama sama seperti neneknya. Aku akan meminta cucuku untuk berlibur dan menginap dirumah itu nanti.” kata Viktor pada Darma.
* Hai.....mohon maaf 🙏🙏lama update ya karna author lg gak fit. Baru bisa update lagi hari ini.
__ADS_1