
Verrel berusaha menahan diri agar tidak tertawa melihat istrinya yang makan dengan lahap. Tingkah istrinya yang sedang hamil itu selalu menarik perhatiannya, mungkin karena ini adalah pengalaman pertamanya menghadapi istri yang lagi ngidam.
“Hum......”
“Kenapa, sayang?” tanya Verrel yang melihat istrinya tak jadi bicara.
“Aku mau makanan lagi, boleh?” kata deandra dengan menundukkan wajah yang merona malu. Ini yang ketiga kalinya dia minta tambah makanan, ia merasa malu karena terlalu banyak makan.
“Ha? Kau belum kenyang, sayang?”
“Pffff.....aku mau makan yang itu,” katanya seraya menunjuk kearah pelayan yang sedang membawa makanan ke meja lain.
“Aku mau es krim sama pizza juga ya.”
“What? Sayang, itu kebanyakan.” kata Verrel yang heran melihat nafsu makan istrinya. 'Kemana perginya semua makanan itu?
“Ya, sudah kita pulang. Kau menyebalkan.” kata Deandra merajuk.
“Sayang, jangan marah. Aku tidak melarangmu. Tapi jangan kebanyakan, nanti kau sesak kasihan anak kita,” kata Verrel menjelaskan.
“Kau mau anakmu nanti ileran? Kalau tidak mau beli ya sudah.” deandra bangkit dari duduknya dan berjalan diikuti kedua pelayan. Verrel memberi isyarat pada para pengawalnya.
Didalam kamar hotel, Deandra meringkuk di tempat tidur dengan menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut. ‘Menyebalkan. Punya suami kaya tapi pelit. Mau makan saja tidak dibelikan, huh......tapi kenapa aku makan banyak? Kalau aku gendut nanti suamiku tidak mau lagi. Kalau aku gendut pasti tidak menarik lagi, suamiku pasti melirik wanita lain.....ihhhh menyebalkan’ Hatinya gundah gulana.
Terdengar suara pintu terbuka, derap kaki yang tegas memasuki kamar itu perlahan mendekati ranjang. Melihat istrinya yang bersembunyi didalam selimut. Dia meletakkan kotak makanan diatas meja. Dengan sengaja dia membuka kotak berisi pizza, seketika aroma wangi memenuhi ruangan itu.
‘Hmmm....wangi sekali. Sepertinya enak’ gumam deandra. Tapi dia enggan untuk bangun.
“Bangun sayang. Ada makanan untukmu,” kata Verrel, tangannya hendak menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya. Mendengar kata ‘makanan’ deandra pun langsung menepis selimut dan duduk diatas ranjang.
"Makanan? Ya ya aku mau. Mana makanannya?"
Verrel kembali menahan senyum, rambut istrinya yang berantakan, pipinya mengelembung karena merajuk. Bagi Verrel ekspresi istrinya sangat menggemaskan.
“Kau mau makan apa? Aku belikan pizza, es krim, shepperd pie.”
“Bawa kesini, aku mau makan semua,” jawabnya tak sabar, karena semua itu adalah makanan kesukaannya.
Verrel menggelengkan kepala heran. ‘Kenapa makannya banyak?
Deandra hanya memakan sedikit dari semua makanan yang dibawa suaminya.
“Sudah,” katanya.
“Kau cuma makan sedikit, sayang?”
__ADS_1
“Iya. Sudah kenyang.” ujarnya enteng lalu membaringkan diri.
"Sikat gigi dulu, sayang. Jangan langsung tidur."
"Baiklah. Gendong," kata Deandra merentangkan kedua tangannya.
"Mau mandi bareng?" tanya Verrel iseng.
Mata deandra langsung mendelik dan menggelengkan kepala.
"Aku sudah mandi," jawabnya singkat. Verrel menggendong istrinya ke kamar mandi. Dia pun membersihkan diri setelah deandra menyuruhnya segera mandi karena aroma tubuhnya membuatnya mual.
Deandra memberikan semua makanan itu pada kedua pelayan. Membaringkan tubuhnya di ranjang dan meraih ponsel dari atas nakas.
“Istirahatlah, sayang. Besok kita pulang.” kata Verrel mengelus punggung istrinya. Tangannya ditarik oleh Deandra yang langsung mengecup tangan kekar suaminya. Matanya terpejam seiring dengan dengkuran halus yang terdengar menandakan dia sudah tertidur pulas.
“Ya, ampun. Baru saja tergeletak langsung pulas?” kata Verrel yang beranjak naik keatas ranjang dan berbaring disamping istrinya.
... **...
“Halo,”
“Maaf, Tuan. Sudah dua kali Tuan Rico datang kerumah mencari Nyonya Besar,” kata petugas keamanan dirumahnya. Rahangnya tiba-tiba mengeras, mendadak dia merasa panas seperti bara api yang berkobar. ‘Dasar brengsek!’
“Perketat penjagaan!” perintah Verrel memutus panggilan.
"Iya, Tuan. Sudah saya kerjakan." kata Verrel.
"Kau suruh Yuna untuk mempersiapkan villa istriku. Kirim beberapa pelayan kesana, kalau perlu kami akan tinggal disana sementara." kata Verrel pada asistennya yang tadi melaporkan perkembangan terbaru. "Sepertinya mereka mulai menjalankan rencananya, aku harus memastikan keselamatan istriku."
"Benar, Tuan. Saya sudah memperketat pengamanan dirumah utama dan di kantor. Sistem keamanan terbaru dengan sensor juga sudah dipasang, Tuan."
"Bagus. Aku suka hasil kerjamu." kata Verrel.
...***...
"Wah....hebat banget Dea. Hidupnya seperti cerita dongeng, gadis miskin yang menikahi seorang jutawan, hidupnya berubah seketika. Senangnya melihat dia bahagia. Kenapa Tuan Verrel bisa seromantis itu? Ya, Tuhan lindungi sahabatku. Semoga mereka selalu bahagia selamanya."
Semoga aku juga bisa seperti dia. Ah...jangan halu rosa, mana ada laki-laki yang mau sama loe, perempuan kok tidak ada lembut-lembutnya, gumamnya pada dirinya sendiri.
"Aku baru ingat si om mesum. Apa dia sudah membayar tagihan servis motorku di bengkel ya?"
"Mendingan aku telepon dia. Tapi---issshhh buat apa aku hubungi si om mesum, yang ada dia malah mikir yang aneh-aneh."
Tangannya meraih ponsel yang berada diatas nakas. Membuka inst@gr@am dan melihat notifikasi ada komentar baru disalah satu fotonya.
__ADS_1
"What! Si om mesum komentarin fotoku? Sejak kapan dia follow akun ku? Isshhhh ini orang benar-benar keterlaluan. Awas loe ya om mesum." dengusnya meletakkan kembali ponselnya.
Tiba-tiba dia teringat kejadian tadi sore, ketika tak sengaja dia bertemu Rico. Pria itu mengejar Rosa yang lari menghindarinya tapi Rico berhasil menangkap tangannya. Rico menanyainya tentang Deandra, dimana keberadaan Deandra sekarang.
Apakah aku harus beritahukan Dea soal Rico? Bagaimana kalau Rico sampai menemui Dea? Ada Tuan Verrel disana, aku tidak perlu cemas. Tapi dalam hatinya Rosa merasa khawatir pada sahabatnya itu. Dia ingat ucapan Rico padanya tadi sore. Rosa tahu kalau Rico bisa saja bertindak nekat, dari dulu dia memang tak pernah menyukai Rico tapi tak bisa melarang sahabatnya yang saat itu sudah jatuh cinta.
"Aku harus menelepon Dea besok. Dia harus tahu tentang Rico supaya dia bisa hati-hati."
...***...
"Verrreeellll.."
Verrel yang tertidur pulas langsung terbangun mendengar suara istrinya memanggilnya. Sejak Deandra hamil, pria itu seperti punya sensor tubuh yang langsung bereaksi cepat setiap kali istrinya membutuhkannya.
"Iya, sayang. Ada apa?" melihat istrinya yang masih pulas. 'Apa dia mimpi?
Dia masih memandangi wajah istrinya yang tak meresponnya.
"Verrreeelll....tolong aku! Tolong!" Tiba-tiba Deandra berteriak minta tolong dan dadanya bergerak naik turun, napasnya terengah-engah.
"Sayang bangun....ayo bangun." tangannya menepuk-nepuk pipi istrinya, lalu dia langsung menarik tubuh Deandra dan merengkuhnya dalam pelukan.
"Sayang, aku disini. Bangun sayang."
Mata Deandra terbuka cepat saat dia berteriak ketakutan. Begitu matanya menatap wajah tampan suaminya, dia menangis.
"Sssttt....jangan menangis. Aku disini bersamamu. Sudah ya, sayang." ia berusaha menenangkan istrinya yang menangis.
"Kau mimpi buruk ya? Jangan takut, ada aku disini sayang."
"Aku takut. Mimpiku seperti nyata. Aku tidak mau kehilanganmu,"
"Semua baik-baik saja. Coba lihat, tidak ada apa-apa, bukan?" kata Verrel sambil menyodorkan segelas air pada istrinya. "Minumlah agar kau tenang."
Deandra mengedarkann pandangannya ke sekeliling kamar, napasnya mulai teratur setelah menyadari jika mereka ada dikamar hotel. 'Kenapa mimpiku seperti nyata sekali? Ya, Tuhan semoga tidak terjadi apa-apa. Aku tidak mau kehilangan suamiku.'
"Apakah kau sudah merasa baikan?"
Deandra hanya mengangguk, dia masih syok mengingat mimpinya. Entah kenapa dia merasa mimpi itu sungguh nyata dan perasaannya cemas. Insting seorang istri yang bisa merasakan jika ada bahaya yang sedang mengincar suaminya.
"Jangan tinggalkan aku. Berjanjilah." kata Deandra memeluk erat suaminya.
"Aku janji akan selalu bersamamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Kau sudah tenang sekarang?"
__ADS_1
"Iya," jawabnya singkat namun hatinya belum tenang.