TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 203. MELISSA VS FRANS


__ADS_3

“Maaf, Tuan. Meeting segera dimulai dalam sepuluh menit. Semua sudah hadir diruangan.”


“Baiklah,” Verrel bergegas meninggalkan ruang kerjanya dan meninggalkan tumpukan dokumen untuk proyek-proyek baru. Saat memasuki ruang meeting, mata Frans terbelalak menatap seorang wanita yang duduk dibarisan kedua, wanita itu mengenakan setelan formal duduk disebelah seorang pengusaha yang akan menjadi rekan bisnis Verrel.


“Buat apa perempuan itu ada disini?” tanya Verrel. “Itu Melissa, bukan?”


“Iya, Tuan. Kenapa dia duduk disebelah Tuan Erlangga?”


“Biarkan saja Frans, jangan terpengaruh anggap saja dia tak ada. Kau suruh orangmu untuk pantau mereka.”


“Baik,”


Rapat pagi itu berlangsung dengan presentasi dari departemen pengembangan dan departemen pemasaran tentang rancang model hotel dan resort terbaru yang merupakan kerjasama antara Ceyhan Group dan Inti Global. CG Cement adalah salah satu perusahaan dibawah Ceyhan Group yang khusus memproduksi semen kualitas tinggi. Inti Global telah menandatangani proyek kerjasama dengan Ceyhan Group minggu lalu untuk pembangunan hotel dan resort mewah diluar kota, CG cement akan memasok kebutuhan semen dalam jumlah besar untuk proyek itu.


Di lobi gedung Ceyhan Group sudah ada Deandra dengan kedua anaknya dan babysitter. Tingkah aktif kedua anak itu memancing perhatian semua karyawan yang tersenyum melihat kelucuan mereka yang berjalan tertatih-tatih. “Selamat pagi Nyonya,” sapa resepsionis.


“Pagi. Apa suamiku ada dikantor?”


“Ada Nyonya, Tuan Besar sedang ada rapat, mungkin sebentar lagi selesai.”


“Alya dan Tami…..kalian temani anak-anak dan babysitter. Bawa mereka ke lantai teratas, disana ada lounge dan kalian tunggu saya disana.”


“Baik, Nyonya.”


Deandra melangkah memasuki lift khusus menuju kelantai 20 dimana ruang meeting berada. Tanpa basa basi wanita itu mendorong pintu terbuka dan seketika semua menoleh kearah pintu. Verrel tersenyum melihat kehadiran istrinya yang tiba-tiba masuk saat rapat berlangsung. Melissa terlihat mengeryitkan kening dan menatap tak suka pada Deandra. Semua yang hadir disana berdiri sebagai tanda hormat pada istri sang CEO. Kecuali Melissa yang tak mengenali siapa Deandra.


“Sini sayang, duduk disebelahku,” Verrel menuntun istrinya duduk dikursi disebelahnya. “Mungkin kalian sudah kenal dengan istriku. Dia adalah pemilik perusahaan ini selain saya.”


Mata Melissa terbeliak mendengar ucapan Verrel. ‘Istri? Pemilik perusahaan? Bukankah perusahaan ini milik keluarga Ceyhan? Apa mungkin semua perusahaan dan kekayaan keluarga Ceyhan diberikan pada wanita itu? Beruntung sekali’ pikirnya.

__ADS_1


“Maaf kalau saya datang terlambat,” ucap Deandra.


Rapat yang sempat tertunda pun dilanjutkan dengan membahas biaya operasional dan besarnya investasi untuk proyek tersebut.


Deandra fokus membaca dokumen didepannya dan sesekali melirik ke arah Melissa. ‘Siapa perempuan itu? Aku belum pernah melihatnya sebelum ini.’


Rapat berlangsung selama dua jam dan semua orang keluar meninggalkan ruang meeting. Hanya Frans yang terakhir keluar dari ruangan itu. Saat Frans keluar dari ruang meeting, tangannya ditarik seseorang dan menyeretnya ke sudut.


“Apa-apaan kau?” kata Frans marah melihat Melissa yang menariknya ke sudut.


“Ada hal yang perlu dibicarakan.”


“Berhenti menggangguku dan istriku. Jangan pernah lagi kau coba celakai mereka atau kau akan menyesal,”


“Kenapa kau emosi? Aku tidak ada maksud untuk mengganggumu, Frans. Hanya ingin memberitahukan sesuatu padamu,”


“Huh! Kau pikir aku percaya? Cepat katakan apa mau mu, aku sibuk dan tidak punya waktu.”


“Baguslah kalau begitu. Aku juga tidak perlu bersikap baik padamu hanya gara-gara proyek ini. Belajarlah bersikap profesional jika bertemu denganku.”


“Harusnya kau katakan itu pada dirimu sendiri Frans. Well….kurasa banyak yang berubah dari dirimu sejak menikahi perempuan kampung itu ya.”


“Cukup Melissa! Jangan pernah kau hina istriku, dia jauh lebih baik darimu, camkan itu.” Frans melangkah pergi namun berhenti dan berkata “Ingat Melissa…..kau yang membuat aku hampir kehilangan istri dan anakku. Jika kau coba-coba mengulangi lagi, kau akan kubuat menyesal.”


“Let see!” kata Melissa tenang dengan nada sinis.


Frans pergi sambil mengerutu, bertemu dengan Melissa membuat suasana hatinya gelap. Saat pintu lift terbuka di lantai teratas, dia tersenyum melihat Rosa dan bayinya duduk di sofa menunggunya, Deandra sedang menggendong Naomi yang terlihat habis menangis.


“Loh….kalian sedang apa disini?”

__ADS_1


“Aku sudah janjian ketemu Dea disini, kami rencananya mau pergi belanja selepas makan siang.”


“Ayo kita masuk kedalam.” ajak Deandra. Kini ruang kerja Verrel rame dengan kedua anaknya. Terlihat Naomi yang sesenggukan dipelukan sang ayah.


“Cupp….cupp…..sayang jangan nangis, siapa yang nakal?”


“Ngadu terus sama daddy…...tadi aku marahin dia,” ujar Deandra tersenyum melihat putrinya yang sangat manja pada Verrel.


“Kenapa anakku dimarahi? Jangan begitu sayang, mereka masih kecil,”


“Biarin…..abis mau ASI. Dikasi yang didalam botol tidak mau, Dia maunya langsung, lihat bajuku bagaimana aku mau kasih dia ASI dengan baju begini? Dia tarik-tarik bajuku ya aku marah. Eh Naomi malah nangis,”


Tok Tok Tok


“Masuk,”


Melissa masuk keruang kerja Verrel, matanya terbeliak melihat Verrel duduk dengan memeluk putrinya, apalagi ada Rosa duduk di sofa memangku anaknya. Rasa cemburu Melissa membara melihat pemandangan itu.


“Maaf mengganggu,”


“Ada apa?” tanya Verrel ketus.


Rosa yang bangkit dari duduk saat melihat Melissa, langsung duduk kembali setelah tangannya ditarik oleh Frans. “Biarkan saja. Dia disini urusan kerjaan, bukan hal lain,” bisik Frans pada Rosa.


“Saya ingin memberikan ini pada Anda. Ini jadwal yang sudah saya susun untuk kunjungan ke proyek dan peletakan batu pertama serta proses lainnya selama proyek ini berjalan.” sebisa mungkin Melissa tenang meskipun hatinya sangat panas melihat kemesraan Frans yang memangku anaknya. ‘Sialan kau Frans! Seharusnya kau menggendong anak kita bukan anak perempuan kampung itu.’


“Baiklah, saya terima. Jika tidak ada hal lain silahkan keluar.” Deandra meraih map coklat dari tangan Melissa sambil menatapnya tajam. Entah mengapa Deandra tidak menyukai wanita itu.


“Saya juga akan turun ke lapangan langsung untuk mengecek proyek ini, jika anda tidak keberatan untuk menemani saya,” ucap Deandra tenang.

__ADS_1


“Oh tentu saya tidak keberatan. Tapi anda sedang hamil, sebaiknya tidak usah pergi ke lokasi proyek. Takutnya nanti akan menghambat.”


“Maksudnya? Menghambat? Huh…...saya biasa bekerja dan mengurus perusahaan. Anda tidak perlu khawatirkan saya. Meskipun saya sedang hamil tapi saya masih kuat bekerja. Oh...iya ini kehamilan kedua saya jadi tidak ada yang menghambat dan terhambat jika saya turun ke lapangan untuk mengecek langsung.” tangan Deandra terulur ke depan memberi isyarat pada Melissa untuk segera keluar dari ruangan itu.


__ADS_2