TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 253. OLIVIA DIBUANG DIJALAN


__ADS_3

Olivia mulai merasa ketakutan, dia berlari kearah jendela dan membukanya. Dia mencoba mendorong pintu balkon dan ternyata tak dikunci. Dia membukanya lalu berjalan keluar, dia menatap sekeliling dari balkon kamar itu. “Aneh! Kenapa pintunya dikunci dan pintu ini malah tidak? Apa pelayan itu tak sengaja mengunci pintu atau bagaimana?”


Dia melihat kebawah dan setelah berpikir sejenak dia memutuskan untuk melarikan diri dari sana. Olivia kembali masuk ke kamar dan mengambil tasnya tapi dia menyadari jika ponselnya padam.


“Ah sialan! Sudahlah, nanti aku cas kalau sudah sampai dirumah. Aku harus segera pergi dari sini.” Begitu dia sudah berada dipintu menuju balkon, tiba-tiba pintu kamarnya dibuka. Dia menoleh dan melihat seorang pengawal menatapnya.


“Maaf nona. Tadi pelayan tak sengaja mengunci pintunya. Tuan berpesan anda bisa pulang sekarang.”


“Dimana dia?” tanya Olivia mendongakkan dagunya.


“Tuan ada di urusan pekerjaan ke luar kota untuk beberapa hari.” jawab penjaga itu.


“Kapan dia pulang?”


“Saya tidak tahu nona. Tuan hanya memerintahkan saya untuk menyampaikan pesannya pada anda. Supir akan mengantar anda. Kembali.”


“Aku mau bicara dengan Verrel! Cepat hubungi dia!”


‘Verrel? Siapa Verrel?’ penjaga itupun bingung karena dia tidak mengetahui siapa yang dimaksud.


“Maksudnya?”


“Dasar bodoh! Telepon Tuan mu sekarang aku mau bicara dengannya.”


“Oh itu. Tuan saat ini tidak bisa menerima telepon karena sedang ada rapat. Kalau anda tidak mau pergi sekarang itu terserah anda. Karena saya akan menyusul Tuan dan disini tidak ada siapapun.”


“Apa? Kemana perempuan tadi yang membersihkan kamar?”


“Dia hanya bekerja paruh waktu disini! Tempat ini jarang dikunjungi Tuan. Anda mau ikut atau mau tinggal disini? Jangan membuang waktuku.” ujar penjaga itu.


“Eh kau pikir kau siapa? Tidak ada sopannya bicara denganku! Kau tidak tahu aku siapa, ha? Aku ini calon istri Tuan Verrel.” teriak Olivia.


Penjaga itu tiba-tiba menarik tangan Olivia. “Berisik sekali jadi perempuan!” bentaknya. Lalu seorang temannya tiba-tiba memakaikan penutup wajah pada Olivia.


“Apa-apaan ini?”


“Ikut saja! Jangan berisik! Kami hanya menjalankan perintah Tuan saja.” keduanya menyeret Olivia keluar dan mendorongnya masuk kedalam mobil lalu pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Olivia yang ketakutan mulai meronta, kedua tangannya diikat dan kepalanya ditutup kain hitam sehingga dia tidak bisa melihat apapun.


Bug…..dia menendang pria disampingnya. Tapi salah satu pria itu langsung memukul tengkuknya cukup keras sehingga dia pingsan.


“Dasar perempuan liar! Menyusahkan saja.”


“Apa perintah bos tadi?”


“Membuang perempuan ini dipinggir jalan. Hapuskan jejak dan berikan perempuan ini obat yang dari Tuan supaya dia tidak mengingat tempat itu.”


“Dia sudah pingsan bagaimana caranya?”


“Suntik dia lalu masukkan obat itu dalam botol air.” jawab pria itu. "Nanti pas dia kehausan pasti akan meminum air itu."


Salah satu pria itu langsung melakukan seperti perintah temannya. Botol air itupun dimasukkannya kedalam tas Olivia. Setelah berjalan cukup jauh meninggalkan daerah perbukitan dan menuju ke kota. Sepanjang jalan sudah terlihat deretan rumah-rumah. “Dimana kita membuang perempuan ini?”


“Nanti di kelokan itu kita buang dia dipinggir jembatan. Tidak akan ada orang yang melihat kita.”


Tak lama mobil mereka mencapai sebuah jembatan dan setelah memastikan tidak ada orang, mereka membuka pintu mobil dan mendorong Olivia keluar dari mobil. Lalu meninggalkannya disana.


Sementara itu, dirumah utama kediaman keluarga Ceyhan. Verrel sedang berbincang dengan Deandra membahas rencananya keberangkatannya ke Swiss besok pagi. Meskipun berat tapi Deandra tidak bisa menahan suaminya untuk tidak pergi. “Aku janji dalam satu atau dua hari sudah kembali. Aku mau kau jaga diri baik-baik selama aku tidak ada ya, sayang.”


“Frans dan beberapa orang kantor juga ikut. Ini urusan pekerjaan saja, kau tidak perlu khawatir.”


“Baiklah, kalau kau bilang begitu aku percaya.”


“Ayo kita turun kebawah untuk sarapan.”


Verrel membantu Deandra berdiri dan menggendongnya turun ke ruang makan.


“Selamat pagi Opa! Selamat pagi anak papa!” ujar Verrel menyapa Yahya dan Viktor yang sudah duduk dimeja makan siap untuk sarapan. Naomi langsung membuka tangannya ingin dipeluk oleh Verrel.


“Selamat pagi semuanya.” sapa Deandra yang sudah didudukkan Verrel dikursi makan.


“Makan dulu ya sayang. Nanti Naomi ikut papa ya?” ucap Verrel.


“Kau serius mau membawanya ke kantor?” tanya Yahya.

__ADS_1


“Yakin, Opa. Kalau tidak, dia bakalan mengamuk lagi karena dicuekin. Nathan mau ikut papa ke kantor?” tanya Verrel pada putranya. Nathan menatap ayahnya dengan tajam lalu mengangguk, kembali fokus pada makanannya. Verrel hanya menatap putranya yang tak banyak bicara itu.


“Dia itu persis sepertimu, dingin dan tak banyak bicara.” ujar Yahya tersenyum.


Perbincangan dimeja makan terasa hangat disertai tawa. “Aku akan berangkat ke Swiss besok.” ujar Verrel memberitahukan kedua kakeknya.


“Ke Swiss? Urusan apa disana?” tanya Yahya mengeryitkan dahi.


“Ada sedikit urusan pekerjaan Opa. Tidak akan lama, hanya satu atau dua hari saja.”


“Deandra sudah tahu?” tanya Viktor.


“Sudah. Tadi aku sudah membicarakan soal itu dengannya. Itu alasanku kenapa aku membawanya pulang kerumah secepatnya. Selama aku pergi setidaknya dia tidak bosan dan kesepian kalau dirumah.”


“Baiklah kalau begitu. Lagian ada kami disini yang menjaganya. Segera selesaikan urusanmu disana dan cepatlah pulang. Deandra selalu merasa khawatir dan tidak tenang kalau kau tidak ada.”


“Iya Opa. Paling lama dua hari aku sudah kembali.”


“Aku berangkat ke kantor dulu ya Opa.” ujar Verrel menggendong kedua anaknya. “Baik-baik dirumah ya sayang.” ucap Verrel mengecup kening istrinya. “Yuna! Suruh pelayan memasukkan semua kebutuhan anakku ke mobil.”


“Tuan muda dan Nona muda ikut kekantor, tuan?” tanya Yuna.


“Iya. Kalian cepat masuk ke mobil. Jangan lupa bawa semua keperluan mereka.” perintah Verrel pada kedua babysitter sambil berjalan keluar rumah menuju mobil yang sudah menunggu didepan pintu utama.


“Bye uyut!” teriak Naomi melambaikan tangan pada kedua kakek buyutnya yang mengantar sampai didepan. Wajah Naomi berbinar bahagia pergi ke kantor ayahnya hari ini.


“Bye Naomi! Bye Nathan! Baik-baik dikantor papa ya? Jangan nakal.”


Mobil SUV mewah warna hitam itu melaju meninggalkan kediaman Ceyhan. Seperti biasa jalanan dipagi hari pasti macet. Nathan dan Naomi duduk di babyseat disebelah Verrel. Sedangkan babysitter berada dimobil terpisah bersama pengawal yang mengikuti dari belakang. “Papa! Tu apa?” tanya Naomi menunjuk keluar jendela.


“Oh itu taman bermain. Lain kali papa bawa kalian kesana ya.”


“Horeee! Becok papa?”


“Tidak besok, sayang. Minggu depan ya. Besok papa tidak bisa.” ujar Verrel mengelus rambut anaknya.


“Napa dak bisa?” tanya Naomi lagi, sedangkan Nathan fokus menonton film kartun di layar monitor didepannya.

__ADS_1


“Besok papa sibuk, jadi tidak bisa. Minggu depan saja ya?”


“Oke!” Naomi mengacungkan dua jempolnya sambil tersenyum.


__ADS_2