
Deandra mulai bertanya dan menyebutkan nama suaminya tanpa ada airmata. Hal itu membuat Yuna tersenyum dan mengiyakan.
“Pasti sangat lucu jika ada malaikat kecil yang baik hati, tapi suka ngambek.”
Ucapan Yuna mampu membuat deandra tertawa terbahak-bahak. “Kau bisa saja Bibi Yuna.”
“Bukankah itu terdengar lucu nyonya? Bisa anda bayangkan wajah kedua malaikat kecil itu kalau mengambek, pasti lucu sekali. Pasti banyak yang gemas melihat mereka,” ucap Yuna yang terus menyuapkan makanan kemulut Deandra. Tanpa sadar semua makanan pun habis.
“Verrel. Dia….dia akan menjadi papa yang paling bahagia didunia ini.”
Yuna menggenggam tangan Deandra untuk memberinya kekuatan supaya bisa lebih tegar. “Ini sangat sulit Bibi Yuna,” Deandra menunduk. “Tapi demi kedua janin ini, aku akan berusaha untuk kuat dan menjaganya sekuat tenaga. Jika suatu saat Verrel pulang, aku bisa bangga menceritakan bagaimana melalui masa kehamilan tanpa sosok suami dan aku bisa tunjukkan padanya kalau aku kuat menjalani ini semua.”
“Saya akan membantu nyonya dan mengabdikan seluruh hidup saya untuk membantu nyonya membesarkan bayi ini.” ucap Yuna.
Akhirnya Deandra bisa tersenyum kembali meskipun gurat-gurat kesedihan masih terpampang nyata diwajahnya. Setidaknya, itu bisa menjadi kemajuan mengingat kehilangan memang selalu menjadi hal terburuk. “Terimakasih, Bibi Yuna.”
Yahya nampak serius saat mendnegarkan penjelasan dari seseorang diseberang sana. Dahi yang mulai keriput itu mengeryit beberapa kali dengan raut berubah-ubah. Helaan napasnya yang berat terdengar hingga ia menurunkan ponselnya yang sudah berubah gelap. Ingin sekali dia bertanya, apa kesalahan orang tuanya dimasa lalu hingga ia harus mengalami kejadian yang tak terduga didalam hidupnya.
“Berikan keajaibanmu ya, Tuhan.. Hanya anak nakal itu yang aku miliki sekarang.” gumam Yahya lirih. Bukan tanpa alasan Yahya mengeluhkan hal itu. Dia bertahan selama ini hanya karena ingin memperbaiki garis keturunan yang telah dirusak oleh putranya sendiri. Janji yang pernah ia ucapkan dulu membuat sosok pria paruh baya itu tak mampu untuk marah. Jangankan marah, memandang terlalu lama ia pun tak mampu.
“Tuan Besar?” suara Yuna membuyarkan lamuna Yahya yang sedang melanglang buana entah kemana. Pria itu membalikkan badannya dan memandang Yuna.
“Ada apa Yuna?” tanya Yahya dengan dahi mengerut. Kepala pelayan itu mendekat “Nyonya ingin dibawakan baju milik Tuan Verrel.”
Mendengar itu, Yahya menghembuskan napas lega. Ia sempat merasa sangat khawatir jika cucu mantunya itu akan rewel seperti kemarin.
__ADS_1
“Bukankah Tuan akan segera pulang?”
“Ya, aku akan pulang sekarang,” Yahya terdiam sejenak dan memasukkan benda pipih kedalam saku celananya. “Katakan pada Deandra kalau aku akan membawakan pesanannya.”
Yuna menggangguk dan membungkukkan badan. “Baik, Tuan.”
Setelah memastikan sang tuan besar telah pergi, Yuna masuk kembali ke kamar dimana Deandra dirawat. Namun Yuna terkejut melihat sang nyonya yang tengah terisak dalam keadaan telungkup diatas ranjang.
Dengan perasaan yang tidak menentu, Yuna mendekat “Nyonya?” ucap Yuna dengan suara pelan saat ia sudah berada disampingnya. Tangannya menyentuh bahu sang nyonya yang bergetar, namun calon ibu muda itu tak bergeming sedikitpun. Dengan penuh kesabaran Yuna mengelus punggung Deandra. “Kenapa nyonya menangis?”
Isakan Deandra pun semakin menjadi-jadi dan terdengar menyesakkan. Kalau sudah seperti ini sulit bagi siapapun menenangkan hatinya.
Yuna hanya diam dan tak mengucapkan sepatah katapun hingga akhirnya suara isak tangis itu terdengar mereda. Tak lama Deandra pun bangkit dari ranjang, matanya sembab dan masih beurai airmata. Hati Yuna terasa sakit memandang sang nyonya, melihat deandra yang dalam keadaan terpuruk seperti itu seakan ia melihat kembali ke masa-masa dimana sang nyonya diperlakukan dengan tidak wajar oleh sang tuan.
“Nyonya?”
“Sudah?” tanya Yuna dengan penuh kelembutan. Ia harus menjaga nadan bicaranya agar tak menyinggung perasaan labil sang majikan.
“Aku lapar, Bibi Yuna.” suara Deandra persis seperti anak umur sepuluh tahun yang baru saja menangis dan kelaparan. Mendengar permintaan itu, Yuna bernapas lega, setidaknya ini hal yang snagat mudah baginya untuk dikabulkan. “Mau makan apa?” Wajah Deandra terlihat manyun saat memikirkan makanan yang ia inginkan. Yuna yang peka pun menawarkan beberapa jenis makanan namun ditolak. “Nyonya maunya apa?”
Deandra tersenyum manis dan itu menjadi sinyal untuk Yuna untuk mengantisipasi.
“Bibi Yuna?”
“Iya.”
__ADS_1
“Bolehkah aku makan makanan yang pedas? Boleh ya?” tanyanya dengan lirih. Raut wajah Deandra sangat menggemaskan yang ditujukan pada Yuna. Sebenarnya Yuna ingin menolak mengingat kondisi sang nyonya namun ia pun tak hilang akal segera memberikan beberapa penawaran, namun Deandra malah merajuk.
“Bagimana kalau makan bakso atau soto, nyonya?” ternyata pilihan Yuna membuat hati Deandra cukup puas.
“Iya. Pokoknya makanan berkuah ya, Bibi Yuna. Belikan saja untukku dua porsi. Sekalian dengan jus jeruk dan cheesecake.”
Yuna menghela napas kemudian menggangguk. “Saya pergi sekarang, nyonya. Beristirahatlah sementara saya pergi.”
“Iya, aku tahu.”
Bersamaan dengan Yuna yang keluar dari area rumah sakit,sebuah mobil mewah berwarna silver memasuki area parkir yang tak jauh dari pintu masuk. Tak lama pemilik mobil itupun keluar dari mobilnya dengan sangat percaya diri.
Dia mengenakan jas berwarna merah maroon, tampak merapikan pakaiannya lalu berjalan memasuki rumah sakit. Dengan tangan didalam saku celana, ia memasuki lift dan menuju ke lantai dimana ruang VVIP berada. Setelah keluar dari lift dan melihat situasi aman ia pun melangkah masuk kesalah satu kamar. Sesuai dengan perkiraannya, tak ada satupun penjaga yang berdiri didepan ruangan itu jadi ia bisa masuk tanpa memancing keributan. Seperti mendapati kemudahan yang berutbi-tubi, ia mendorong pintu dan matanya melihat punggung wanita yang sangat ia rindukan.
“Bibi Yuna, kenapa cepat se---”
Pandangan Rico dan Deandra bertemu, saling mengunci. Masih dengan rasa percaya diri yang tinggi Rico mendekati ranjang Deandra dan berhenti tepat didepan wanita itu. “Rico?” gumamnya lirih. Deandra masih ingat saat terakhir kali bertemu. Pria dengan tatapan penuh kerinduan itu mengulurkan tangannya, berniat menyentuh wajah yang tampak tirus itu. Namun deandra menghindar.
“Mau apa kau kesini?” tanya deandra ketus tanpa berniat memandang pria itu yang tak lain adalah adik iparnya.
“Sayang, ini aku Rico.”
Deandra merasa perih, namun ia telah berjanji bahwa ia telah melupakan pria dari masa lalunya itu dan hanya setia pada Verrel suaminya pun tak mengindahkan Rico.
“Mau apa kau kes ini!” bentak Deandra mengulangi pertanyaannya, namun Rico tak merespon bahkan dia tak berniat menjawab.
__ADS_1
“Kalau tidak ada yang ingin kau katakan, lebih baik kau pergi sekarang. Aku sedang tidak dalam keadaan baik dan tak ingin berbicara dengan orang lain.” ucapnya. Ia pun memutar badannya agar tak melihat pria itu.