
“Me—mengapa bisa sampai begini?” gumam Olivia dengan suara bergetar. Runtuh sudah sekat ego yang membentengi hatinya selama ini. Olivia terhenyak, menatap nanar pada layar ponsel yang masih dipegang oleh Ezha.
“Kau sudah lihat kan sekarang? Kau bukan siapa-siapa lagi, Olivia. Sadarlah!” kata Ezha seraya menyimpan ponselnya kedalam saku celananya, lalu dia berdiri siap untuk kembali ke kamar.
“Ezha, tunggu!” cegat Olivia. Kedua tangannya kini melingkar di paha Ezha yang berotot, emncegah pria itu beranjak dari tempatnya berdiri.
“Ada apa lagi? Kau masih mau menyombongkan diri dan kekayaan keluargamu itu?”
Olivia menggeleng, didalam hatinya tumbuh rasa benci yang sangat besar pada Luke dan Verrel sehingga membuatnya sesak, sulit untuk bernapas.
“Semua ini terjadi gara-gara Verrel dan Luke! Mereka yang menyebabkan kehancuran keluargaku! Sampai matipun aku tidak akan membiarkan mereka menikmati kebahagiaan.Tolong bantu aku untuk membalaskan dendam ini Ezha. Plisss,” pinta Olivia memohon di kaki Ezha. Hilang sudah semua ego dan harga diri yang selama ini dia banggakan. Dia sudah tidak punya apa-apa lagi, entah bagaimana bisa ayahnya tertangkap.
Ezha berjongkok mensejajarkan tubuhnya agar bisa melihat Olivia. Di dalam hatinya dia merasa ikut sedih melihat betapa kacaunya penampilan Olivia. Namun saat dia ingat bagaimana sifat angkuh wanita itu, rasa benci kembali menjalar didadanya. Ezha sudah tidak bisa menerima sikap sombong Olivia lagi. “Kau masih ingin balas dendam?” tanya Ezha.
Olivia mengangguk dengan mata yang sudah basah dengan airmata.
“Boleh saja. Aku bisa membantumu tapi kau harus berjanji padaku bahwa kau tidak akan pernah membantah perkataanku lagi,” ujar Ezha. Suaranya melunak sementara tangannya mengelus wajah Olivia yang mulai tampak kusam tak terawat.
“Apapun yang kau katakan, aku akan mematuhinya,” janji Olivia.
“Apapun?”tanya Ezha mengulang.
“Iya, apapun itu.” jawab Olivia dengan mantap.
Senyum diwajah Ezha langsung melebar, sekarang tangannya berpindah keatas kepala Olivia dan mengelusnya lembut menenangkannya.
“Bagus! Kalau begitu bersiaplah. Mulai malam ini kau harus menghasilkan uang untukku!”
...********...
Semburat senja masih menghiasi langit malam itu, udara yang berhembus pelan diiringi suara musik yang mengalun lembut dari pemutar musik membuat Verrel dan Deandra larut dalam romansa yang tercipta. Deandra duduk di sofa sedangkan Verrel berbaring dengan kepala dipangkuan istrinya.
“Aku bersyukur sekali kau dan anak-anak baik-baik. Anak-anak semua sehat dan tumbuh menjadi anak yang menggemaskan dan pintar.” ujar Verrel merapikan helaian rambut yang menjuntai diwajah Deandra.
__ADS_1
“Apalagi aku, senang sekali meskipun sedikit kerepotan juga mengurus lima anak. Pas ketiganya menangis, aku jadi kelabakan mau menyusui siapa dulu. Untung saja Nathan dan Naomi tidak terlalu cengeng minta perhatian terus, mungkin karena ada opa juga ya yang selalu menemani mereka main jadi mereka tidak kesepian karena mamanya sibuk ngurus ketiga bayi.”
“Tahu tidak? Kakiku kadang rasanya lemas bagai berubah jadi jelly kalau anak-anak pada nangis dan hanya mau diam kalau ku gendong.” kata Deandra.
Verrel tertawa membayangkan istrinya itu berubah jadi jelly. “Bisa-bisanya kau bikin perumpamaan seperti itu? Sejak kapan kaki lemas diibaratkan seperti jelly? Setahuku perumpamaannya itu seperti ini, ‘Kakiku lemas bagai tak bertulang’ bukannya kakiku lemas bagai berubah jadi jelly,” kata Verrel sambil menahan tawa.
“Iiihhh…...tidak gaul! Itu pepatah lama nah kalau anak muda sekarang kalau membuat perumpamaan pasti ke sesuatu yang terdengar lebih realistis.” jawab Deandra.
“Memangnya berubah jadi jelly….dimana realistisnya?” tanya Verrel lagi.
“Jelly itu kan realistis, sayang. Coba kalau sayang bayangkan bentuknya meskipun kenyal tapi bentuknya jelas kan? Ada yang bentuknya seperti bunga, panda dan banyak lagi. Tapi kalau kaki tanpa tulang itu yang tidak relaistis. Bagaimana disebut kaki jika didalamnya tidak ada tulangnya? Kalau cuma daging namanya tumpukan daging, sayangku!” jawab Deandra panjang lebar.
“Oh begitu ya?”
“Iya begitu!”
“Terserah saja. Yang waras yang mengalah!” jawab Verrel cuek.
“Bukan, sayang. Aku cuma tidak mau kita berdebat hal sepele seperti itu. Mending kita melakukan hal yang lain saja, yang lebih penting!” jawav Verrel. Sebelah matanya berkedip memberikan tatapan menggoda pada Deandra.
“Melakukan apa? Kalau bicara itu yang jelas.” tanya Deandra pura-pura tidak mengerti.
“Ya apa lagi, sayang. Itu…..melakukan hal-hal yang menyenangkan.”
“Contohnya?”
“Contohnya ini…..”
Verrel mengangkat kepalanya lalu mencium bibir Deandra.
“Cuma itu? Ah, tidak asyik lah!” protes Deandra.
“Kalau yang ini?” Verrel kembali mengangkat kepalanya lalu mengucap puncak dada Deandra yang menantang dihadapannya.
__ADS_1
“Lumayan lah...tapi masih kurang!” rengek Deandra manja.
“Hmmm….apalagi ya. Coba kau kasih ide.” kata Verrel tersenyum menggoda.
“Bagaimana kalau ini?” Deandra mendorong Verrel duduk lalu dia duduk diatas pangkuan suaminya itu, memposisikan diri mereka saling berhadapan. Kedua tangannya yang ramping melingkari leher Verrel.
“Boleh juga. Tapi kalau cuma begini saja juga masih kurang.” balas Verrel.
Deandra tersenyum, dengan perlahan dia menurunkan kepalanya lalu melabuhkan ciuman dibibir Verrel. Tidak hanya menciumnya singkat, Deandra mengulum bibir suaminya dengan lembut. Mata Verrel terpejam meresapi permainan Deandra yang sedang bermain-main dibibirnya.
“Bagaimana? Masih kurang juga?” tanya Deandra sesaat setelah dia melepaskan ciumannya.
“Hmmm…..masihlah. Aku mau yang lebih hot!” jawab Verrel dengan sepasang matanya yang sudah mulai berkabut karena gairah. Deandra pun paham maksud suaminya, dia kembali menautkan bibirnya dengan bibir beraroma mint milik suamiya.
Kali ini Verrel membalas ciuman sitrinya dengan ******* demi ******* yang mengundang hasrat yang semakin membara. Pergumulan lidah mereka terhenti karena Deandra melepaskan pagutannya. Dengan wajah merona dan napas tersengal dia merengkuk kepala Verrel lalu memeluknya dengan erat. Jantungnya berdebar kencang, sementara bagian bawahnya terasa berkedut minta perhatian lebih.
‘Sayang…..aku mau,” pinta Deadnra malu-malu.
“Aku juga sayang, tapi aku masih khawatir. Bagaimana kalau kita lakukan cara lain seperti yang kemarin? Bagaimana? Kau menyukainya kan?”
Deandra mengangguk dan memainkan jarinya dipundak Verrel. Dia sudah merindukan sentuhan suaminya itu dan dia pun mengatakan apa yang dia inginkan.
Deandra pun turun dari pangkuan suaminya lalu menarik tangan Verrel itu masuk kekamar mereka. Keduanya pun kembali saling berciuman dan menyentuh. Sepasang suami istri itu sudah melepaskan pakaiannya, Verrel sudah siap memuaskan istrinya dengan cara paling aman karena dia masih mengkhawatirkan bekas operasi caesar istrinya.
Sebelumnya mereka sudah konsultasi dengan dokter dan karena bekas lukanya juga sudah sembuh, mereka sudah diizinkan melakukannya tapi tetap memperhatikan posisi teraman. Saat Verrel akan mulai melancarkan serangannya, tiba-tiba……
Tok tok tok tok……
“Papa! Papa! Papa!” suara kecil nan imut milik Naomi berteriak sambil memukul pintu kamar. Dia memanggil Verrel berulang-ulang tanpa henti memukul pintu.
“Aduh! Si monster kecil mengganggu saja.” ujar Verrel sedikit kesal karena dia sudah sangat siap bertempur. Tangannya memijat pelipisnya sedangkan Deandra menahan tawa melihat ekspresi wajah suaminya yang tampak kesal dan menahan hasrat.
“Sudah biarin saja, sayang. Nanti dia bakal diam.” kata Deandra.
__ADS_1